Dari Dompu ke Dempo

Gunung Dempo, dari Pabrik PTPN 7

Gunung Dempo, dari Pabrik PTPN 7

Bagi saya, naik gunung adalah sebuah rekreasi. Seperti halnya pergi ke pantai atau ke taman. Gunung adalah di mana kita melihat pemandangan alam, menghirup segarnya udara, menyegarkan pikiran yang sedang suntuk, dan mendapat teman. Pikiran bahwa naik gunung adalah menaklukkan gunung selalu saya singkirkan dari kepala. Kita naik gunung, bukan pergi berkelahi. Lagipula, bagaimana mungkin manusia bisa menaklukkan gunung? Sedangkan selama ini, betapa kita sering merasa tak berdaya apabila gunung berapi aktif sebentar saja, mengeluarkan lava dan abunya serta menggetarkan wilayah sekitar dengan dentumannya, memaksa manusia mengungsi menjauh dari rumah dan harta benda yang mereka miliki.

Libur Natal tahun ini saya manfaatkan untuk mendaki Gunung Dempo di Pagar Alam, Sumatera Selatan, dari ajakan ketiga teman: Erwin, Evan, dan Asep. Erwin adalah junior saya di Stapala, tapi bila pengalaman naik gunung, saya tentu saja kalah dengan dia, dengan 20 puncak gunung yang sudah dia daki (dan ini adalah pendakian Dempo ketiga). Evan dan Asep bukanlah dari organisasi pegiat alam, bahkan Asep baru kali ini mendaki gunung. Namun, Evan sudah beberapa kali naik gunung sebelumnya dan dia merasa ketagihan. Sedangkan Asep, dia anak Bea Cukai, jadi jangan remehkan fisik dan mentalnya.

Kami berangkat ke Pagar Alam Kamis malam jam 19.00 WIB dengan menaiki travel Sinar Dempo. Di rumah makan Bintang Sumatera di Prabumulih, kami mampir untuk makan, dan di sinilah tas selempang saya berisi kamera saku, cokelat untuk selama pendakian, pisau survival, dan alat sketch tertinggal. Saya berusaha agar kehilangan mereka tidak mempengaruhi mood mendaki kali ini. Benda paling berharga dalam rupiah adalah kamera saku, tapi masih ada kamera 2 MP dari ponsel cupu saya untuk mengabadikan momen selama pendakian nanti. 😀

Kami tiba sekitar jam 03.30 WIB di pabrik teh PTPN 7 di Gunung Dempo. Kami akan kulo nuwun dengan Pak Anton, penjaga Gunung Dempo.  Sebelumnya, kami tidur sampai subuh di posko belakang rumah Pak Anton dan di masjid PTPN. Paginya, Pak Anton menelepon truk teh untuk mengantar kami bersama beberapa rombongan lainnya (anak-anak UMP dan mapala FT Unsri Layo) ke Tangsi 4, perkampungan kecil tempat titik awal pendakian.

Erwin bilang, Pak Anton punya versi lain sejarah kerajaan Sriwijaya. Erwin sempat memancing agar kapan-kapan Pak Anton mau bercerita lagi tentang itu. Sial, beliau bilang, “Ah, wawancara kan mahal”, sambil terkekeh jual mahal. Sejak rombongan mereka melihat siluet penari dengan pakaian kerajaan mengelilingi tenda mereka di Puncak Gunung Kerinci, Erwin tertarik dengan sejarah Kerajaan Sriwijaya. Ah, saya akan ke Pagar Alam lagi untuk mengorek informasi penting itu. Mungkin dengan membawakan madu Sumbawa, Pak Anton akan berbaik hati menceritakannya lagi.

Perjalanan dari pabrik PTPN 7 sampai dengan Tangsi 4 ditempuh kira-kira 45 menit, dengan melewati perkebunan teh. Kami packing ulang di warung Pak RT (yang akrab dipanggil ayah dan emak untuk istrinya) mengurangi beberapa alat dan logistik yang bisa ditinggal, sarapan, dan memesan nasi bungkus untuk makan siang di perjalanan. Kami berempat akan mendaki bersama lima orang mahasiswa UMP (kampus S1 saya nih! :D), hingga rombongan kami berjumlah sembilan orang.

Memasuki Pintu Rimba Gunung Dempo

Memasuki Pintu Rimba Gunung Dempo

Rombongan kami mulai mendaki jam 10.00 WIB, tiba di Shelter 1 jam 12.00, dan Shelter 2 jam 15.00. Jalur Gunung Dempo bisa dikatakan cukup berat, karena terus mendaki, sedikit sekali jalan mendatar, dan keadaan jalur yang basah serta licin. Apalagi di shelter 2 hujan turun dengan sangat deras. Empat orang anak UMP dalam rombongan baru saja mendaki gunung, hingga perjalanan tidak bisa dipaksa cepat. Sebenarnya yang sedikit bikin kami geleng-geleng kepala adalah, persiapan alat mereka yang sangat minim. Tenda yang mereka bawa adalah tenda untuk anak-anak yang bergambar kartun (yang tiang-tiangnya tertinggal pula sebelum shelter 2 :tepok jidat:), raincoat yang berbahan mirip plastik kresek yang gampang rusak, dan mereka tidak membawa matras serta sleeping bag. Bagaimana bisa mereka berani naik gunung di musim hujan dengan alat seperti itu? :jedotin jidat:

Shelter 1 Gunung Dempo

Shelter 1 Gunung Dempo

Kami sampai puncak Dempo jam 19.30 WIB dan sampai di pelataran (lembah antara Puncak Dempo dan Puncak Merapi) setengah jam setelahnya. Kami segera mendirikan tenda serta memasak minuman hangat dan makan malam. Menu malam itu adalah nasi, sayur sop, mie instan, dan sarden. Menjelang tidur, Erwin mengajak saya untuk memperbaiki tenda anak-anak UMP dan memasangkan flysheet, sambil terus berdoa agar tidak turun hujan malam itu. Dua orang dari mereka kami ajak untuk tidur di tenda kami.

Pagi harinya, tiga orang yang tidur di tenda kartun itu ternyata sehat wal afiat! 😀 Kami segera membersihkan alat masak dan segera membuat sarapan. Kami memasak nasi, menggoreng pempek yang dibawa dari Palembang, membuat omelet, tempe dan dendeng goreng, serta kentang tumbuk (sarapan berenergi yang sebenarnya  cocok di gunung, karena gampang dibuat dari kentang, susu cair, keju, garam, dan bubuk merica)

Sarapan

Sarapan

Sekitar jam 10.00 WIB, rombongan kami mendaki Puncak Merapi. Cukup setengah jam hiking dari Pelataran. Jalur berupa tumbuhan kayu yang pendek di awal pendakian dan bebatuan. Puncak Merapi berupa kawah dengan air yang berwarna hijau (warnanya konon berubah-rubah, antara hijau dan putih). Kami merasa takjub atas pemandangan kawah dan tidak lupa mengambil gambar. Teman seperjalanan kami, anak-anak UMP bertenda kartun, terlihat sangat gembira karena pendakian mereka sukses sampai ke puncak, seperti tidak percaya atas apa yang mereka alami. Selamat ya, Bro. 😀

Kabut beberapa kali menutupi kawah, sehingga kesempatan mengambil gambar harus cepat-cepat dimanfaatkan. Oh ya, di sini, mengusir kabut dilakukan dengan cara melantunkan azan, tentu saja ini sifatnya percaya atau tidak.

Kawah Puncak Merapi, Gunung Dempo

Kawah Puncak Merapi, Gunung Dempo

Pelataran Gunung Dempo

Pelataran Gunung Dempo, lereng seberang adalah Puncak Merapi

Kami berkemas dan mulai turun jam 13.00 WIB dan tiba di shelter 2 jam 15.00 WIB. Di Shelter 2 inilah saya berpisah dengan rombongan, karena ingin mengejar waktu ke Palembang. Setidaknya saya harus tiba di tangsi 4 jam 18.00 WIB, agar bisa menelepon travel dan bisa dijemput jam 20.00 WIB. Besoknya ada seminar di kampus dan ini sangat penting. Jadi, dari shelter 2 saya mempercepat langkah dan sering berlari menuruni gunung. Syukurlah, bisa tiba jam 17.30 di Tangsi 4.

Saya beristirahat sebentar, memesan kopi, dan berbincang dengan anak-anak mapala FT Unsri. Mereka sangat ramah, sesama pendaki gunung memang selalu begitu (seperti halnya saat bertemu di jalur pendakian, di mana para pendaki saling menyapa). Dari Tangsi 4 saya naik ojek ke pabrik PTPN 7, tempat menunggu travel. Saya ingin pamitan dengan Pak Anton, tapi tidak bertemu dengannya. Tapi di posko, karena waktu itu saya pakai kaos Anniv 114-nya Milan, saya disapa dan mengobrol dengan seorang Milanisti dari Bengkulu. Kesamaan kegemaran, bahkan sekedar tim bola, memang bisa membuatmu akrab, meskipun tidak pernah bertemu sebelumnya.

Akhirnya sampai juga keinginan naik Gunung Dempo. Tidak terbayang sebelumnya bila jalur Gunung Dempo semenantang itu, dan lebih tidak terbayang lagi adalah Puncak Merapi-nya yang ternyata bagus. Ini yang membuat pendaki manapun akan ingin kembali ke sana lagi. Ya, sampai jumpa di lain waktu, Dempo.

Terima kasih banyak untuk Erwin yang menjadi leader pendakian kali ini, mengkoordinir teman-teman, dan mempersiapkan pelbagai macam yang diperlukan. Juga Evan yang kocak dan Asep yang pendiam, rekan sepanjang perjalanan, kapan kita mendaki lagi?

Palembang, 31 Desember 2013

“Kabar baiknya, tas selempang saya tidak jadi hilang. Adalah seorang pelayan rumah makan yang menemukannya dan mengembalikan ke sopir travel. Terima kasih banyak untuknya”.

Enjoy Palembang

Dari segi pariwisata, Palembang sebenarnya termasuk kota yang tidak begitu istimewa. Ini dengan penilaian sederhana, seperti dari jumlah dan macam objek wisata. Wisata keindahan alam tidak banyak di sini, misalnya bila menghitung Pulau Kemaro, Sungai Musi, dan taman Punti Kayu. Bukit Siguntang, Taman Kambang Iwak, dan Taman Purbakala juga bolehlah dimasukkan dalam daftar ini. Selebihnya, ada beberapa objek wisata sejarah, seperti Museum Balaputera Dewa (yang sekarang berubah nama menjadi Museum Sumatera Selatan), Museum dr AK Gani, Museum Tekstil, Benteng Kuto Besak dengan bangunan-bangunan tua di sekitarnya: monpera, rumah burgemeester (walikota) Palembang yang sekarang menjadi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, gedung waterleideng yang sekarang digunakan sebagai kantor walikota, gedung societiet, serta gedung schouburg (keduanya menjadi balai prajurit dan kantor Satpol PP). Selain itu, tentu saja ada Jembatan Ampera sebagai landmark kota (jembatan dan Sungai Musi-nya yang bagi saya selalu indah, meskipun ratusan kali saya lihat).

Bagi penduduk lokal, wisata Palembang adalah wisata belanja. Saban akhir pekan, maka mal-mal ramai sekali dipenuhi pengunjung dari kota Palembang sendiri, juga dari kota-kota lain di Sumatera Selatan. Warga kota dan wisatawan memang tidak punya banyak pilihan tempat dan macam wisata di kota ini, lebih-lebih yang kurang menyukai wisata alam dan wisata sejarah yang ada. Tapi, hal baiknya, Palembang sudah terkenal dengan wisata kuliner. Pempek, makanan terkenal ini, serta beberapa turunannya, sangat mudah sekali ditemukan di kota ini. Di mata saya yang perantau, warga Palembang sangatlah menggemari makanan khas mereka sendiri. Mereka makan pempek nyaris setiap hari, hampir-hampir seperti makan nasi!

Jadi, saat Ronron, teman saya di Stapala, datang ke Palembang kira-kira dua bulan yang lalu bersama seorang teman untuk menghadiri pernikahan teman mereka, saya sampaikan terlebih dahulu bahwa Palembang adalah kota yang biasa. Takutnya di bawah ekspektasi temannya itu (kalau anak Stapala yang memang suka ngebolang sih, saya tidak ambil pusing). Tapi dia bilang, temannya suka traveling dan suka dengan hal-hal tentang budaya dan sejarah. Oke, aman.

Dan setelah bertemu mereka, saya menyadari betapa serba kebetulan hubungan kami bertiga. Ini of the record karena kalau dijelaskan bisa jadi panjang. Tapi ujungnya, kami punya minat dan pandangan yang sama mengenai, misalnya, Sungai Musi sangat indah di malam hari.

Saya masih menyelesaikan pekerjaan di kantor sampai sore, jadi di malam hari baru bisa menjemput Ronron dan Mbak Lanny. Di hari pertama mereka datang, siang hari mereka sampai, langsung mengunjungi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II dan pergi ke Pulau Kemaro. Dasar traveler. :geleng-geleng

Beberapa tempat yang kami kunjungi, saya buatkan pointer saja, adalah sebagai berikut (aidah, serasa bahasa laporan).

Martabak HAR di depan Masjid Agung

HAR adalah akronim dari nama pemilik usaha martabak india ini, yang didirikan di sekitar tahun 1930-an. Martabak HAR berupa martabak yang berisi dua buah telur ayam atau telur bebek (bisa dipilih), disajikan dengan kuah kari kentang, dan potongan cabai keriting dalam kecap asin. Tidak semua orang setulu’an (bahasa Plembang, artinya cocok) dengan rasa martabak ini. Tapi, kalau ke Palembang, makanan ini wajib dicoba.

Pindang Musi Rawas di Angkatan 45

Pindang di pulau Jawa adalah ikan yang diungkep dalam periuk atau kuali dan biasanya digoreng kembali bila ingin disajikan sebagai lauk. Tapi di Sumatera Selatan, pindang adalah semacam sop ikan. Ikan yang dijadikan pindang seperti ikan patin, ikan baung, ikan gabus salai, dan ikan semah. Tapi tidak saja ikan yang dijadikan bahan utama, bisa juga daging, udang, ayam, burung (seperti di Jejawi), dan bahkan di sebuah lesehan di Kota Pagar Alam, ada pindang kerupuk. Pindang rasanya asem pedas. Di Sumatera Selatan, ada beberapa pindang yang terkenal seperti pindang Sekanak, pindang Pegagan, pindang Meranjat, pindang Rupit, dan pindang Musi Rawas, yang dinamakan seperti nama daerah asalnya.

Kami mengobrol lama di sini, dan yang menyenangkan itu karena keduanya suka dengan citarasa Pindang Musi Rawas. Mbak Lanny orangnya sangat supel dan ramai. Bahkan sebelum kami meninggalkan tempat makan, Mbak Lanny dan Ronron sempat berfoto dengan para pramusaji. Mereka akrab seperti pernah saling kenal sebelumnya. Atau mungkin, para pramusajinya mengira kami awak media yang sedang mengulas kuliner di Palembang. 😀

Bunderan Stadion Jakabaring dan Jembatan Ampera

Malam belumlah begitu larut saat kami mampir di Bunderan Stadion Jakabaring di kawasan Ulu. Bunderan Stadion Jakabaring berupa bunderan kolam, dengan patung daun pohon aren dari alumunium bergaya futuristik, air mancur, rumput dan tanaman hias, serta lampu sorot yang berganti-ganti warna. Bunderan ini baru saja direnovasi untuk menyambut ISG ketiga yang diselengarakan di Palembang. Suasana bunderan ramai dengan warga kota yang datang, serta atlet atau offisial negara luar peserta ISG. Dari kawasan Jakabaring, kami mampir di Jembatan Ampera untuk mengambil foto. Anda tidak perlu bercerita pernah ke Palembang, bila punya foto dengan latar tulisan AMPERA warna hijau pada sebuah jembatan warna merah, kan?

Bunderan Stadion Jakabaring

Bunderan Stadion Jakabaring

Jogging di Taman Kambang Iwak

Pagi hari adalah saat yang tepat untuk menggerakkan badan dan mengisi paru-paru dengan udara segar. Diputuskanlah untuk jogging di Taman Kambang Iwak Besak, tempat biasanya penduduk kota Palembang berolahraga dan bersosialisasi (kata kakak saya yang lulusan arsitektur, taman kota sangatlah diperlukan bagi sebuah kota, agar masyarakat bisa saling kenal dan mencegah konflik horisontal). Taman Kambang Iwak adalah taman yang dibuat mengelilingi kambang (bahasa Plembang, artinya kolam), dengan jogging track dan tempat-tempat bercengkrama. Kolam itu sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari drainase perumahan Talang Semut bikinan Belanda. Di Sabtu pagi itu, Taman Kambang Iwak tidak begitu ramai. Sambil berjalan santai, kami berbincang mengenai kota dan budaya masyarakatnya. Mbak Lanny terlihat mengagumi suasana taman: orang-orang yang senam SKJ, pepohonan yang rindang, termasuk pohon bambu di sebuah kelokan yang tertata rapi.

Museum Sumatera Selatan

Dulunya, Museum Sumatera Selatan bernama Museum Bala Putera Dewa. Museum ini baru saja selesai direnovasi, bagian lobby-nya telah dibuka untuk umum, dengan ukiran relief kehidupan masyarakat Sumatera Selatan, dan lukisan motif bunga matahari pada dinding lainnya.

Ruang display Museum Sumatera Selatan terdiri dari beberapa ruang. Terdapat tiga ruangan besar dengan pembagian per zaman. Ruangan pertama untuk artefak dan fosil di zaman prasejarah. Ruangan kedua untuk masa prasasti dari zaman Sriwijaya (berisi cerita kedatangan Yang Dipertuan Hiyang, doa-doa yang puitis, hingga prasasti berisi kutukan bagi siapa yang berbuat dosa), arca-arca, tulisan dengan aksara Ulu pada bambu dan kulit kayu, kitab undang-undang yang berlaku di masa Kesultanan Palembang Darussalam, hingga senjata pada masa perjuangan kemerdekaan. Ruangan ketiga untuk kehidupan sosial masyarakat Sumatera Selatan, berisi perkakas yang digunakan sehari-hari, berbagai macam songket dan kain tenun, serta pakaian pengantin. Terdapat juga tempat display arca dan patung display di luar ruangan. Oh ya, jangan lupakan dua rumah limas di bagian belakang museum, yang sudah sangat familiar karena tergambar di uang kertas pecahan 10.000 rupiah.

Mbak Lanny bercerita mengenai pengalamannya mengunjungi museum-museum di Jepang, bagaimana di sana kunjungan museum dibuat menarik, seperti menyelesaikan misi, dengan stempel-stempel menarik yang dapat didapatkan pengunjung bila memasuki ruangan dan dapat ditukarkan dengan hadiah di akhir kunjungan. Ide demikian mungkin bisa diterapkan di museum di Indonesia, agar pengunjung (khususnya anak-anak) antusias, yang tentu saja membuat kunjungan museum bukanlah sesuatu yang membosankan lagi.

Museum Sumatera Selatan

Museum Sumatera Selatan. Ruangan display-nya rapi dan nyaman.

Museum Sumatera Selatan

Museum Sumatera Selatan. Ronron dan Mbak Lanny melihat kain songket.

Meseum Sumatera Selatan

Meseum Sumatera Selatan. Rumah Bari, rumah limas khas Palembang, di bagian belakang museum.

 

Hutan Wisata Punti Kayu

Dari Museum Sumatera Selatan, kami mengunjungi Hutan Wisata Punti Kayu. Hutan yang dikelola oleh Kementerian Kehutanan ini terletak di dalam kota, berisi pohon-pohon cemara, wahana permainan sederhana, dan kebun binatang mini. Kami menikmati suasana hutan kota dengan mengobrol di gazebo sambil menikmati es kelapa muda. Juga berfoto dengan gajah yang dapat dinaiki oleh pengunjung.

Punti Kayu

Punti Kayu. Berfoto bersama gajah. 😀

Mie Celor Pasar 26

Mie celor (bahasa Plembang, celor artinya rebus) adalah mie gemuk-gemuk yang direbus, disajikan dengan siraman kuah gurih, rebusan tauge, dan telur rebus. Kuahnya itu yang biasanya rasanya aneh bagi para pelancong; karena rasanya yang tidak begitu kuat. Seperti Mbak Lanny dan Ronron yang merasa kesulitan untuk mendefinisikan rasa dari mie ini. Tapi percayalah, bila telah lama di Palembang, kita mungkin bisa-bisa menjadi penggemarnya. 😀

Pempek Saga Sudi Mampir

Pempek yang terkenal di luar Palembang ada beberapa, sebut saja Candy, Vico, Nony, dan Beringin, tapi ada satu lagi pempek enak yang jarang sekali disebut. Adalah Pempek Saga Sudi Mampir, yang ada di depan kantor walikota (yang sekarang juga punya outlet baru yang modern di Demang Lebar Daun). Saya sengaja mengajak Mbak Lanny dan Ronron ke sini, agar bisa mencicip pempek yang paling enak di Palembang, menurut saya sih. Mungkin karena pempeknya disajikan selalu hangat. Hanya saja, harga pempek di sini lebih mahal dibandingkan para pesaingnya. Mengenai enaknya pempek ini, sepertinya keduanya setuju, dan belakangan Mbak Lanny memesan beberapa kotak pempek yang dikirim ke Bali dan rumahnya di Jakarta. 😀

Menghadiri Resepsi di Bukit Golf

Tujuan utama kedatangan Mbak Lanny dan Ronron ke Palembang adalah untuk menghadiri pernikahan teman mereka di Palembang. Saya mengantar mereka berdua dan baru menyadari bahwa pengantin laki-lakinya saya kenal namanya dan anak Jurangmangu juga. Ini sebuah kebetulan lagi.

Makan Durian di Rajawali

Setelah acara pernikahan, mobil kami dapat tambahan dua orang tamu. Rencananya kami akan mencari buah durian. Saya menyarankan di Jalan Rajawali, karena pengalaman di sini duriannya bagus-bagus. Sebenarnya ada tempat satu lagi, dengan harga yang lebih murah, yaitu di Pasar Kuto. Tapi karena sudah malam, dipilihlah di Jalan Rajawali saja. Duriannya memang enak-enak, dan kami mengambil beberapa foto yang lucu di antara durian-durian yang digantung pada gerobak.

Pulang

Minggu pagi, tiba saatnya Mbak Lanny dan Ronron untuk pulang ke Jakarta. Saya menyempatkan untuk membeli cindera mata untuk keduanya. Sebenarnya tokonya belum benar-benar dibuka, namun dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin, akhirnya mbak-mbak penjaganya luluh juga (padahal, mbak-mbaknya sebenarnya merasa kasihan :D).

Selama tiga hari mengantarkan mereka berdua, rasanya sebenarnya lumayan capai. Tapi, karena dasarnya saya senang jalan-jalan, tidak begitu terasa jadinya. Apalagi, Mbak Lanny dan Ronron adalah tipe yang bisa merasakan keindahan dan kekhasan kota di balik Kota Palembang yang biasa, seperti teman-teman saya yang pernah datang sebelumnya, pada suasana dan pemandangan kota yang sepertinya biasa.

Mungkin juga karena bukanlah yang paling penting apa yang kita kunjungi, namun dengan siapa kita kunjungi. Seperti halnya bukan apa yang kita makan, tapi dengan siapa kita makan. Ya, begitulah kira-kira.

Palembang, 31 Desember 2013

“Sudah empat tahun di sini, mungkin ini adalah tahun terakhir di kota ini. Harus sudah siap mengangkat ransel dan bertualang lagi”.

Hari terakhir kuliah di Bukit

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Sudah satu setengah tahun, hari Sabtu saya tersita untuk ini. Mungkin hanya untuk tambahan gelar akademis di belakang nama. Sekedar gaya. Padahal, bertambahlah juga tanggung jawab di tempat bekerja, juga tanggung jawab kepada ilmu pengetahuan. Itu tentu saja bukan hal yang ringan.

Sudah kepalang tanggung saya memasuki dunia akuntansi. Jadi sekalian saja mendaftar di Bukit, mumpung di Palembang ada sekolahnya. Kalaupun sampai di sini, dan beberapa jangka waktu di masa depan, saya merasa akuntansi bukan dunia saya, tidaklah mengapa. Tidaklah ada kata rugi dalam mencari ilmu. Bukankah begitu?

Palembang, 23 Desember 2013, 01:08 WIB, sambil menunggu Derby della Madonnina

“Selamat datang hari-hari Sabtu! Saya merindukan tidur di hari siangmu :D”

Welcome Home, Yvonne!

Sepeda motor saya, Marley alias Yvonne, sekarang sudah sembuh. Setelah direstorasi selama beberapa bulan, Honda C70 bikinan tahun 1980 itu, akhirnya bisa jalan dengan normal. Tidak begitu normal sih sebenarnya, tapi cukuplah untuk ukuran sepeda motor yang sudah lebih 30 tahun lebih umurnya.

Akhirnya ada juga hasilnya, dengan bantuan Pak Kendro (bapak-bapak di kantor yang juga senang sepeda motor tua, terima kasih banyak untuknya), saya menata kembali hati ini, eh, menata si Yvonne. Dimulai dengan mengganti velg dan jeruji, menggosok tromol dan mesin dengan langsol (ini membutuhkan waktu dua minggu), mengecat standar dan foot step, mengganti lampu-lampu, dan memasang spion, legshield, tutup rantai, dan stikernya sebagai pemanis. Sebenarnya, semua itu tidaklah membutuhkan waktu lama. Tapi, setelah dua tahun tidak dipakai, mesinnya benar-benar mati suri. Tidak ada artinya sepeda motor bila mesinnya tidak menyala. Sudah tiga bengkel yang menyerah angkat tangan, bila tetap mempertahankan bentuk asli mesinnya.

Kemudian saya menemukan bengkel dekat Simpang Polda yang bisa memperbaiki. Pemilik sekaligus teknisinya, Pak Darwin, sepertinya cukup paham dengan penyakit motor-motor lama. Cukup dua hari dan biayanya tidak mahal, Si Yvonne sudah bisa dibawa pulang. Lagi, meskipun bangunan bengkelnya kecil dan tidak permanen, kerennya, dia punya kartu nama. Mungkin dia termasuk orang yang menghargai pelanggan dan keahlian yang ia miliki. Saya ingin mengusulkan kepadanya, agar menambah namanya di kartu nama menjadi: Darwin D Fixer.

Berikut ini beberapa foto Yvonne.

Si Yvonne sedang dirawat.

Si Yvonne sedang dirawat.

Yvvone, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

IVON is a four letter word. :)

IVON is a four letter word. 🙂

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.50 WIB

“Dia boleh dipanggil nama mana saja, Marley atau Yvonne. Yvonne artinya gadis yang cantik.”

Mencari Pempek 10 Ulu

Ini adalah tahun kelima saya merayakan Idul Adha di Sumatera Selatan. Tapi, bila diingat-ingat, belum sekalipun saya salat Id di Masjid Agung Palembang. Jadi, pagi-pagi sekali di hari Idul Adha, saya bersepeda ke masjid tua itu. Udara terasa segar, karena kendaraan bermotor hanya sesekali saja lewat.

Jamaat salat telah mulai memenuhi kawasan masjid, di jalan-jalan, bahkan di atas Jembata Ampera. Walikota dan gubernur membacakan sambutan. Di akhir salat, beberapa keluarga berfoto di depan kolam air mancur masjid. Seorang tukang foto tua mengabadikan gambar mereka, dan langsung dicetak dengan mesin printer portabel, dengan hasil foto yang bagus-penuh pengalaman.

Habis salat, saya biasanya ke kantor untuk memotong-motong daging kurban atau sekedar membantu memasukkannya dalam kantung plastik. Tapi saya jadi ingat dengan tim kami yang penasaran dengan  Pempek 10 Ulu. Beberapa minggu ini, karena ada rekan tim kami yang akan pindah dari Sumatera Selatan, kami rajin mencoba berbagai macam pempek yang terkenal di Palembang, dari Vico, Tince, Eek, juga Saga. Agar bisa bercerita,  setelah meninggalkan Palembang. Hasilnya, pempek-pempek itu enak semua. Ukuran enak mungkin subjektif, tapi bila makanan dari ikan itu kondisinya masih baik dan tidak amis, itu sudah cukup menjadi syarat disebut enak .

Pempek 10 Ulu terkenal enak, tapi tidak seorangpun di antara kami yang pernah mencobanya.  Jadi, di hari Idul Adha itu, dari Masjid Agung sebelum ke kantor, saya mengayuh sepeda ke Seberang Ulu. Seorang ibu-ibu penjual makanan di bawah Jembatan Ampera menunjukkan arah ke 10 Ulu. Saya segera menyusuri jalan yang ditunjukkan, melewati pasar, sambil melihat kiri-kanan, barangkali ada warung pempek yang buka. Tapi, tidak ada sebuah warung pun yang bertuliskan pempek 10 Ulu. Saya terus mengayuh, bahkan sampai 14 Ulu, dan terpaksa kembali karena warungnya tidak ketemu. :’D

Tapi di kawasan Seberang Ulu, banyak bangunan rumah panggung tua. Mereka terlihat masih cantik dan mengagumkan. Itu menjadi pemandangan menarik selama mengayuh sepeda-tanpa-hasil itu.

Sampai kembali di Pasar 10 Ulu, saya kemudian bertanya pada seorang bapak yang baru membuka sebuah toko kelontong. Dia kemudian menunjukkan sebuah warung pempek, di gang samping pasar. Saya kemudian ke sana, memesan beberapa potong pempek, dan mencicipinya. Hasilnya, seperti pempek yang lain, pempek 10 Ulu juga enak. Jadi apa bedanya dengan pempek yang lain? Hampir tidak ada bedanya di lidah saya yang bukan chef ini. Kan, bagi saya, syarat enaknnya sederhana saja. 😀

Sumatera Selatan, di sebuah kabupaten yang dilewati Sungai Komering, 12 November, 22.40 WIB

“Kapan-kapan, ingin menulis tentang directory pempek di Palembang”

Jogjakarta

Kota sedang hujan rintik ketika saya tiba. Saya menunggu sebentar abang saya yang datang menjemput, sambil berbincang dengan Ragil, junior saya di kampus dulu yang secara kebetulan bertemu. Abang saya ada pekerjaan di Solo, tapi malam hari dia bisa kembali ke Jogjakarta. Sekalian besok pagi  bisa mengantar saya ke tempat teman baik saya, Huda, yang menikah di kampus UII.

Saya tidak sempat membeli oleh-oleh. Hanya bisa membawakan kopi Pagar Alam untuknya.

Kami menembus benang-benang hujan dengan sepeda motor, menuju kawasan Pogung. Setelah menyimpan ransel, kami keluar untuk makan mie di sebuah warung kopi. Malam semakin dingin. Mie instan berkuah selalu bisa menjadi bagian kombinasi yang cocok untuk suasana seperti itu. Selain segelas kopi atau teh hangat, dan mengobrol tentunya.

Di pagi hari, kami sarapan di dalam kompleks kampus UGM, dan setelahnya melihat lokasi resepsi. Di Gedung Multipurpose itu, tampak orang-orang berbatik dan berpakaian adat Jawa yang sedang mempersiapkan acara siang nanti. Setelah memastikan ancer-ancernya, kami kembali ke kost. Saya mandi dan sempat tidur sebentar karena masih terasa kantuk.

Setelah agak siang, saya bersepeda motor ke acara resepsi. Saya bertemu dengan kawan-kawan kantor yang datang, beberapa kawan kuliah dulu, dan berbincang sedikit. Huda tampak kaget sambil ketawa-ketawa melihat saya datang, karena sebelumnya memang saya tidak berencana dan tidak mengabarkan akan hadir. Terlihat dia sangat sumringah bersanding dengan wanita pujaannya, boru berparas manis berdarah Batak. Semoga samara, Bro.

Siang harinya, saya diajak abang saya bersepeda motor ke kawasan Candi Borobudur (Sempat kami berencana untuk mampir di Museum Affandi, tapi waktunya tidak cukup). Dia ada janji dengan seseorang untuk mengambil sebuah maket bangunan bambu dan dibuatkan gambar. Orang itu, seorang bapak-bapak, yang sangat tertarik dengan bambu dan bangunan dari bambu (yang belakangan saya baru tahu kalau beliau arsitek). Sangat menarik mendengarkan mereka berdiskusi, meskipun saya tidak begitu paham. Dunia engineering dan arsitektur memang menarik. Dunia mereka adalah dunia seni. Tidak seperti orang ekonomi yang akan melihat bangunan dari angka-angka rupiah. Item-item bangunan adalah item biaya yang menyusun rencana anggaran biaya, bukan bagaimana manusia berkreasi agar serasi dengan lingkungannya.

Kami ditawari menginap di tempat yang begitu-Jawa-sekali itu, tapi besok pagi-pagi sekali, saya mesti kembali ke Palembang. Sebenarnya saya ingin tinggal, setidaknya sampai malam saja, pasalnya di situ akan ada pergelaran wayang kulit. Melihat deretan tokoh wayang kulit yang sedang disiapkan, siapa yang tidak penasaran.

Men-setting wayang kulit.

Men-setting wayang kulit.

Agak sore, kami ke sebuah desa yang asri di sekitar candi. Desa Tegal Wangi namanya. Di mana kami bertamu di sebuah rumah yang ditinggali seorang lanjut usia. Abang saya pernah berkegiatan di desa itu dan dia kenal baik, meskipun tidak tahu nama beliau. Kami berbincang lumayan lama dan empunya rumah tidak memperbolehkan kami pulang sebelum kami makan.

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Kami juga bertemu dengan seorang pengrajin batu bata. Dia bilang, dia dulu pernah diwawancara sama abang saya , difoto, dan di-shootingjuga pakai kamera, sampai membuatnya malu karena seperti artis. Ada-ada saja. 😀

Menjelang malam kami mampir sebentar untuk makan di sebuah warung tongseng di sekitar kawasan candi. Warung tongseng ini tidak biasa, karena yang diolah menjadi tongseng bukanlah daging kambing atau ayam. Bahannya dari jamur. Teksturnya mirip dengan daging, rasanya juga tidak kalah enak.

Malam hari kami kembali ke Jogjakarta. Hujan turun sepanjang jalan Magelang-Jogjakarta. Menjelang larut malam, kami mencari angkringan, sesuatu yang wajib bila berkunjung ke kota itu. Juga duduk beralas tikar sambil minum kopi di alun-alun keraton. Sekarang di alun-alun, ada kereta-keretaan yang bisa disewa, berlampu warna-warni, dan digerakkan dengan kayuh sepeda. Alun-alun menjadi semarak dengan kehadiran mereka.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.35 WIB

“Terhayut aku akan nostalgia. Saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama. Suasana Jogja…-Jogjakarta, Kla”

Gili Trawangan

Saya lahir dan menghabiskan masa SMA di Pulau Lombok, pulau yang tidak habis-habisnya diceritakan tentang keindahannya. Ada budaya masyarakat yang luhur, pantai-pantai yang indah, persawahan hijau dan hutan yang sejuk, serta Gunung Rinjani yang cantik. Tapi, banyak sekali tempat di pulau itu yang belum pernah saya kunjungi. Misalnya, saya belum pernah mengunjungi Gili Trawangan. Padahal, Gili Trawangan itu dekat saja dari Mataram. Sedekat jarak Mataram dari Gili Trawangan, tentu saja kan.

Nah, berangkat dari hal itu, di masa lebaran tahun 2012, saya mempunyai waktu satu hari sebelum berangkat ke Palembang dari Mataram. Kiki, adik saya, berjanji untuk menemani. Minggu pagi, setelah kami menumpang bus PO Dunia Mas semalaman dari Dompu, kami segera berkemas. Karena sepeda motor Kiki masih di Dompu, jadinya kami meminjam sepeda motor dari Reny. Reny adalah teman kuliah Kiki, mereka sudah bersama sejak jadi mahasiswa tingkat satu.

Ada dua rute menuju Gili Trawangan dari Mataram. Pertama, ke arah utara lewat pegunungan di Pusuk, yang nanti akan tembus ke Lombok Utara. Kedua, lewat garis pantai sebelah barat Pulau Lombok, jajaran pantai-pantai berpasir putih, termasuk Senggigi di dalamnya. Kami memutuskan untuk ke Gili Trawangan dengan melewati rute Pusuk, dan kembali ke Mataram lewat Senggigi.

Kami berangkat dari Mataram sekitar jam sebelas pagi. Pemandangan sepanjang jalan cukup menarik, apalagi setelah memasuki kawasan wisata Pusuk. Kiri kanan jalan berupa hutan yang terjaga keasriannya. Ruas jalan menanjak, berkelok, dan cukup sempit, sehingga perlu lebih berhati-hati.  Di puncak punggungan bukit, sebelum jalan menurun, kami mampir sebentar. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan lembah, garis pantai, hingga pulau-pulau kecil di seberang. Udara terasa dingin. Di tepi-tepi jalan, banyak dijumpai kera-kera yang duduk menunggu, barangkali ada pengendara lewat yang berbaik hati memberi makanan.

Pusuk, Lombok Utara

Pusuk, Lombok Utara

Setelah melewati kawasan yang sejuk, kami memasuki dataran rendah yang panas. Baiknya, cuaca sedang cerah-cerahnya. Pemandangan persawahan dan perbukitan di tepinya terlihat seperti di lukisan, dengan langit biru terang. Tidak lama kami sampai di Bangsal, menitipkan sepeda motor, dan membeli karcis perahu di loket yang tersedia. Sambil menyantap makanan ringan, kami menunggu panggilan dari petugas yang memberi pengumuman lewat pengeras suara. Perahu akan jalan apabila batas jumlah penumpang untuk sebuah perahu telah terpenuhi.

Perjalanan perahu dari Bangsal ke Gili Trawangan menempuh waktu sekitar 30 menit.  Perahu yang kami tumpangi berisi berpuluh orang, ada wisatawan lokal dan mancanegara, juga penduduk lokal yang tampaknya membawa barang dagangan. Di tengah-tengah perjalanan, gelombang laut agak meninggi, menyebabkan perahu bergoyang kencang. Beberapa penumpang yang panik, mengambil baju pelampung seakan-akan saat itu keadaan darurat. Sedang penumpang yang lainnya, tidak begitu ambil pusing. Mungkin sudah terbiasa.

Di samping kami duduk, ada seorang bule (bule, kata yang sangat rasial dari bahasa Indonesia :D), mungkin masih belasan umurnya, sepanjang perjalanan perahu terlihat sangat gembira. Wajahnya bulat jenaka dengan pipi yang merah. Berulang kali dia mengambil gambar pemandangan dengan kameranya dan senyum-senyum sendiri. Belakangan, saat perahu menepi, kami perhatikan senyumnya melebar. Antusias sekali.

Perahu menepi di pantai yang berpasir putih dengan air laut yang jernih, terkesan hijau toska.  Terlihat papan yang bertuliskan “Welcome to Gili Trawangan”, menyambut wisatawan yang datang.

Menepi di Gili Trawangan

Menepi di Gili Trawangan

Saya dan Kiki berjalan kaki di ruas jalan yang mengelilingi pulau. Sepanjang jalan, terlihat wisatawan yang berjalan kaki, bersepeda, juga naik cidomo, delman khas suku Sasak. Seperti yang kita tahu, di kawasan Gili, kendaraan darat bermotor dilarang. Aturan yang diberlakukan untuk sedikit mengobati rasa bersalah manusia, untuk menjaga keasrian lingkungan.

Kami mampir sebentar di sebuah warung makan untuk makan siang, juga di sebuah warung es krim. Beberapa macam dan rasa es krim gelato tersedia, mengobati haus di bawah sinar matahari yang terik. Tidak jauh berjalan, juga terdapat juga kolam yang berisi anak-anak penyu. Sebuah sarana eco-wisata bagi wisatawan dan anak-anaknya, untuk mengenal lebih dekat dengan penyu. Termasuk mengenal betapa susahnya mereka beranak pinak di alam dan sifat sensitif mereka terhadap perubahan lingkungan.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Kami tidak lama di pulau. Saya sedikit flu akibat AC yang terlalu dingin di bus semalam, membuat tidak bisa menikmati angin pantai dan teriknya matahari. Kami segera pulang, menyeberang kembali ke Bangsal, dan bersepeda motor menyusuri kawasan pantai di sebelah barat Pulau Lombok. Jalan aspal begitu mulus, berkelak-kelok mengikuti kontur pantai, dan naik turun bila melewati bukit. Cuaca masih cerah dan membuat pemandangan pantai begitu cantik. Senja yang turun memancarkan garis-garis keemasan di sela-sela dedaunan kelapa. Air laut begitu biru, tenang seperti biasa, menyimpan rahasia. Suatu suasana yang kadang kala tidak dikira, suasana seperti itu ternyata tidak begitu jauh dari kota.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.30 WIB

“Mengisi waktu, memposting tulisan-tulisan yang lama. :D”