Mencari Pempek 10 Ulu

Ini adalah tahun kelima saya merayakan Idul Adha di Sumatera Selatan. Tapi, bila diingat-ingat, belum sekalipun saya salat Id di Masjid Agung Palembang. Jadi, pagi-pagi sekali di hari Idul Adha, saya bersepeda ke masjid tua itu. Udara terasa segar, karena kendaraan bermotor hanya sesekali saja lewat.

Jamaat salat telah mulai memenuhi kawasan masjid, di jalan-jalan, bahkan di atas Jembata Ampera. Walikota dan gubernur membacakan sambutan. Di akhir salat, beberapa keluarga berfoto di depan kolam air mancur masjid. Seorang tukang foto tua mengabadikan gambar mereka, dan langsung dicetak dengan mesin printer portabel, dengan hasil foto yang bagus-penuh pengalaman.

Habis salat, saya biasanya ke kantor untuk memotong-motong daging kurban atau sekedar membantu memasukkannya dalam kantung plastik. Tapi saya jadi ingat dengan tim kami yang penasaran dengan  Pempek 10 Ulu. Beberapa minggu ini, karena ada rekan tim kami yang akan pindah dari Sumatera Selatan, kami rajin mencoba berbagai macam pempek yang terkenal di Palembang, dari Vico, Tince, Eek, juga Saga. Agar bisa bercerita,  setelah meninggalkan Palembang. Hasilnya, pempek-pempek itu enak semua. Ukuran enak mungkin subjektif, tapi bila makanan dari ikan itu kondisinya masih baik dan tidak amis, itu sudah cukup menjadi syarat disebut enak .

Pempek 10 Ulu terkenal enak, tapi tidak seorangpun di antara kami yang pernah mencobanya.  Jadi, di hari Idul Adha itu, dari Masjid Agung sebelum ke kantor, saya mengayuh sepeda ke Seberang Ulu. Seorang ibu-ibu penjual makanan di bawah Jembatan Ampera menunjukkan arah ke 10 Ulu. Saya segera menyusuri jalan yang ditunjukkan, melewati pasar, sambil melihat kiri-kanan, barangkali ada warung pempek yang buka. Tapi, tidak ada sebuah warung pun yang bertuliskan pempek 10 Ulu. Saya terus mengayuh, bahkan sampai 14 Ulu, dan terpaksa kembali karena warungnya tidak ketemu. :’D

Tapi di kawasan Seberang Ulu, banyak bangunan rumah panggung tua. Mereka terlihat masih cantik dan mengagumkan. Itu menjadi pemandangan menarik selama mengayuh sepeda-tanpa-hasil itu.

Sampai kembali di Pasar 10 Ulu, saya kemudian bertanya pada seorang bapak yang baru membuka sebuah toko kelontong. Dia kemudian menunjukkan sebuah warung pempek, di gang samping pasar. Saya kemudian ke sana, memesan beberapa potong pempek, dan mencicipinya. Hasilnya, seperti pempek yang lain, pempek 10 Ulu juga enak. Jadi apa bedanya dengan pempek yang lain? Hampir tidak ada bedanya di lidah saya yang bukan chef ini. Kan, bagi saya, syarat enaknnya sederhana saja.😀

Sumatera Selatan, di sebuah kabupaten yang dilewati Sungai Komering, 12 November, 22.40 WIB

“Kapan-kapan, ingin menulis tentang directory pempek di Palembang”

One Response to “Mencari Pempek 10 Ulu”

  1. ayuanindita Says:

    Thank you for one more most important post. Where else may folks acquire finish sort info composed so? i’ve a presentation incoming week, and I am upon the try to find this kind of info
    jual jaket kulit original garut


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: