Gili Trawangan

Saya lahir dan menghabiskan masa SMA di Pulau Lombok, pulau yang tidak habis-habisnya diceritakan tentang keindahannya. Ada budaya masyarakat yang luhur, pantai-pantai yang indah, persawahan hijau dan hutan yang sejuk, serta Gunung Rinjani yang cantik. Tapi, banyak sekali tempat di pulau itu yang belum pernah saya kunjungi. Misalnya, saya belum pernah mengunjungi Gili Trawangan. Padahal, Gili Trawangan itu dekat saja dari Mataram. Sedekat jarak Mataram dari Gili Trawangan, tentu saja kan.

Nah, berangkat dari hal itu, di masa lebaran tahun 2012, saya mempunyai waktu satu hari sebelum berangkat ke Palembang dari Mataram. Kiki, adik saya, berjanji untuk menemani. Minggu pagi, setelah kami menumpang bus PO Dunia Mas semalaman dari Dompu, kami segera berkemas. Karena sepeda motor Kiki masih di Dompu, jadinya kami meminjam sepeda motor dari Reny. Reny adalah teman kuliah Kiki, mereka sudah bersama sejak jadi mahasiswa tingkat satu.

Ada dua rute menuju Gili Trawangan dari Mataram. Pertama, ke arah utara lewat pegunungan di Pusuk, yang nanti akan tembus ke Lombok Utara. Kedua, lewat garis pantai sebelah barat Pulau Lombok, jajaran pantai-pantai berpasir putih, termasuk Senggigi di dalamnya. Kami memutuskan untuk ke Gili Trawangan dengan melewati rute Pusuk, dan kembali ke Mataram lewat Senggigi.

Kami berangkat dari Mataram sekitar jam sebelas pagi. Pemandangan sepanjang jalan cukup menarik, apalagi setelah memasuki kawasan wisata Pusuk. Kiri kanan jalan berupa hutan yang terjaga keasriannya. Ruas jalan menanjak, berkelok, dan cukup sempit, sehingga perlu lebih berhati-hati.  Di puncak punggungan bukit, sebelum jalan menurun, kami mampir sebentar. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan lembah, garis pantai, hingga pulau-pulau kecil di seberang. Udara terasa dingin. Di tepi-tepi jalan, banyak dijumpai kera-kera yang duduk menunggu, barangkali ada pengendara lewat yang berbaik hati memberi makanan.

Pusuk, Lombok Utara

Pusuk, Lombok Utara

Setelah melewati kawasan yang sejuk, kami memasuki dataran rendah yang panas. Baiknya, cuaca sedang cerah-cerahnya. Pemandangan persawahan dan perbukitan di tepinya terlihat seperti di lukisan, dengan langit biru terang. Tidak lama kami sampai di Bangsal, menitipkan sepeda motor, dan membeli karcis perahu di loket yang tersedia. Sambil menyantap makanan ringan, kami menunggu panggilan dari petugas yang memberi pengumuman lewat pengeras suara. Perahu akan jalan apabila batas jumlah penumpang untuk sebuah perahu telah terpenuhi.

Perjalanan perahu dari Bangsal ke Gili Trawangan menempuh waktu sekitar 30 menit.  Perahu yang kami tumpangi berisi berpuluh orang, ada wisatawan lokal dan mancanegara, juga penduduk lokal yang tampaknya membawa barang dagangan. Di tengah-tengah perjalanan, gelombang laut agak meninggi, menyebabkan perahu bergoyang kencang. Beberapa penumpang yang panik, mengambil baju pelampung seakan-akan saat itu keadaan darurat. Sedang penumpang yang lainnya, tidak begitu ambil pusing. Mungkin sudah terbiasa.

Di samping kami duduk, ada seorang bule (bule, kata yang sangat rasial dari bahasa Indonesia :D), mungkin masih belasan umurnya, sepanjang perjalanan perahu terlihat sangat gembira. Wajahnya bulat jenaka dengan pipi yang merah. Berulang kali dia mengambil gambar pemandangan dengan kameranya dan senyum-senyum sendiri. Belakangan, saat perahu menepi, kami perhatikan senyumnya melebar. Antusias sekali.

Perahu menepi di pantai yang berpasir putih dengan air laut yang jernih, terkesan hijau toska.  Terlihat papan yang bertuliskan “Welcome to Gili Trawangan”, menyambut wisatawan yang datang.

Menepi di Gili Trawangan

Menepi di Gili Trawangan

Saya dan Kiki berjalan kaki di ruas jalan yang mengelilingi pulau. Sepanjang jalan, terlihat wisatawan yang berjalan kaki, bersepeda, juga naik cidomo, delman khas suku Sasak. Seperti yang kita tahu, di kawasan Gili, kendaraan darat bermotor dilarang. Aturan yang diberlakukan untuk sedikit mengobati rasa bersalah manusia, untuk menjaga keasrian lingkungan.

Kami mampir sebentar di sebuah warung makan untuk makan siang, juga di sebuah warung es krim. Beberapa macam dan rasa es krim gelato tersedia, mengobati haus di bawah sinar matahari yang terik. Tidak jauh berjalan, juga terdapat juga kolam yang berisi anak-anak penyu. Sebuah sarana eco-wisata bagi wisatawan dan anak-anaknya, untuk mengenal lebih dekat dengan penyu. Termasuk mengenal betapa susahnya mereka beranak pinak di alam dan sifat sensitif mereka terhadap perubahan lingkungan.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Kami tidak lama di pulau. Saya sedikit flu akibat AC yang terlalu dingin di bus semalam, membuat tidak bisa menikmati angin pantai dan teriknya matahari. Kami segera pulang, menyeberang kembali ke Bangsal, dan bersepeda motor menyusuri kawasan pantai di sebelah barat Pulau Lombok. Jalan aspal begitu mulus, berkelak-kelok mengikuti kontur pantai, dan naik turun bila melewati bukit. Cuaca masih cerah dan membuat pemandangan pantai begitu cantik. Senja yang turun memancarkan garis-garis keemasan di sela-sela dedaunan kelapa. Air laut begitu biru, tenang seperti biasa, menyimpan rahasia. Suatu suasana yang kadang kala tidak dikira, suasana seperti itu ternyata tidak begitu jauh dari kota.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.30 WIB

“Mengisi waktu, memposting tulisan-tulisan yang lama. :D”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: