Man Jadda Wajada

Alhamdulillah…

Mimpi terwujud

Puncak Mahameru terekam di hati

Sungguh suatu perjalanan terhebat

Menguras fisik mental emosi

Makasih doanya…

Salam dari Isma, Rian, Nez, Ren, dkk

Itu pesan dari Selly ”Geri” Kuntiardini yang masuk ke ponsel saya kemarin sore. Suara rusuh house music dari sistem audio bus kota yang pecah trebelnya seperti menjauh samar, tidak terhiraukan. Saya terdiam, menghayati isi pesan itu. Selamat, Kawan-kawan, kalian berhasil.

Padahal sepekan ini berita mengatakan, Mahameru ditutup untuk pendaki. Pendakian hanya diperbolehkan hanya sampai pos Kalimati saja. Kabar yang sungguh menggoyah niat. Juga bisa memupuskan mimpi dan harapan. Sebab orang-orang pasti bertanya, untuk apa ke Semeru kalau tidak ke Mahameru? Untuk apa naik gunung kalau tidak sampai ke puncaknya?

Tidak, tidak, itu bukanlah pikiran para pendaki. Sebab yang menyenangkan itu bukannya puncaknya, tapi perjalanannya, seperti kata Ren ”Grandong” Refli Kurniawan saat kami mendaki Merapi dan Merbabu, 2008 silam. Atau, mencapai puncak adalah pilihan dan keselamatan adalah yang utama, yang entah kata siapa, yang menjadi pertimbangan ketika puncak begitu merayu dan keselamatan menjadi taruhannya.

Selamat, Kawan-kawan, pasti sangat mengharukan bisa sampai ke puncaknya. Betapa niat kalian tidak tergoyahkan. Mimpi dan harapan kalian juga tidak bisa terpupuskan.

Sedang, saya sendiri malah tidak beranjak dari Palembang. Ingin mendaki Dempo, tapi tidak ada teman. Ingin ke Belitung, seperti usul sobat saya Heidy yang tinggal di Makassar, tapi Gantong dan Manggar itu di ujung timurnya Belitung. Artinya itu sangat jauh dari Palembang. Saya sudah mencari-cari alternatif paling mungkin untuk ke sana, dan alternatif paling mungkin untuk libur empat hari itu adalah naik pesawat dari Jakarta. Sungguh mahal dan tidak punya cita rasa seni.

Dan yang paling menentukan, Sabtu kemarin ada ujian mid semester susulan di kampus yang pastinya akan susah untuk mencari waktu yang tepat lagi.

Jadinya, selain mencuci pakaian, mengepel lantai kamar, mencuci sepeda sampai mengkilap, membersihkan kamar mandi, kegiatan sedikit bermakna mungkin hanya menonton film Sang Pemimpi. Menonton bareng Cholis, Puput, dan Zumi di PIM, Palembang Indah Mall. Oh ya, Puput itu bukan perempuan. Dia laki-laki, badannya selebar pintu, dan beratnya 120 kilogram. Hebatnya, rasa-rasanya dia seperti tidak pernah mengenal rasa sedih. Suara tawanya terdengar paling jelas dan keras di antara para penonton bioskop.

Tentang film itu, menurut saya bagus filmnya. Suasananya benar-benar Melayu; dengan rawa-rawa, sungai-sungai, dan rumah-rumah itu. Dialek para tokohnya juga Melayu nian. Lelucon-leluconnya juga.

Tapi, ada juga tapinya. Saya menunggu adegan Arai yang mengatakan kalimat-kalimat optimisnya, tapi ternyata adegan itu tidak ada. Kalimat-kalimat itu kalau di novelnya itu begini:

”Nurmala adalah tembok yang kukuh, Kal…

Dan usahaku ibarat melemparkan lumpur ke tembok itu.

Kau sangka tembok itu akan roboh dengan lemparan lumpur?

Tidak akan! Tapi lumpur itu akan membekas di sana, apapun yang kulakukan, walaupund ditolaknya mentah-mentah, akan membekas di hatinya”.

Sungguh kata-kata yang bertenaga. Ah, sayang sekali tidak ada adegannya!

Kemudian juga, tidak diperdengarkan lagu apa yang dimainkan Nurmi untuk Arai di tepi sungai. Pasti lebih syahdu kalau diperdengarkan. Lagunya kan Juwita Malam. Dimainkan dengan biola pula.

Kalau Ghea si Gadis Macan bilang dia kecewa karena Zaskiyah Nurmala bukan dia yang perankan dan kecewa karena Arai terlalu tampan, saya malah senang karena Arai beruntung nasibnya di film itu. Sebab Zazkiyah di film tidak seangkuh Zazkiyah di novelnya. Hatinya pun luruh saat Arai menyanyikan lagu Melayu dengan suara yang merdu. Diantarnya pula Arai dari tepi pantai, saat Arai dan Ikal berangkat ke Jakarta. Arai tidak tembus pandang lagi di mata Nurmala.

Tapi, biarpun ada tapinya, tetap saja film itu bagus. Bermakna. Positif. Punya nilai. Juga ada motivasinya. Kalau Ghea si Gadis Macan mengutip kata-kata Pak Balia, saya juga ingin ikut mengutip kata-kata itu. Begini kata-katanya:

“Yang terpenting bukanlah seberapa besar mimpi kita, melainkan seberapa besar kita untuk mimpi kita”.


Demang Lebar Daun, Palembang, 28 Desember 2009

”Kangen nian mendaki gunung lagi”

Advertisements

No Woman No Cry*

Apa yang membuat kamu suka? Saya tidaklah tampan…

Ah, tampan hanyalah nomor kesekian…

Lalu apa sebabnya?

Sebab, pertama, …

Kedua, …

(Aku mendengar kata-katanya yang pelan dengan kepala tertunduk tentang dua alasannya, seakan-akan dia telah lama mengenalku)

Dan ketiga…

Apa ketiganya?

Aku tak mengerti. Hatiku mengatakan kakak lah orangnya.


Demang Lebar Daun, Palembang, 13 Desember 2009

”Kau tahu, ada rasa yang nyaman oleh sebab kau mengagumi aku yang terlalu biasa. Tapi, kau pun harus tahu, betapa khawatirnya aku bila ada lagi yang terkecewakan hatinya. Ya, hati kamu itu. Sebab gadis manis berparas oriental, dengan mata cokelat berbinar, dan berambut hitam panjang sepertimu haruslah hidup bahagia.

Maafkan aku, karena aku tidak bisa.

Dan janganlah menangis, aku pinta”.

Catatan:

*)The title and main refrain, “No Woman, No Cry”, in Jamaican patois would be “No, woman, nuh cry”. The “nuh”, which makes a shorter vowel sound for “no”, is the equivalent of the contraction “don’t”.(wikipedia)

Tahun Ini Saya Tidak Berangkat Ke Semeru

Ernest bilang kalau catatan-catatan di facebook dan tulisan-tulisan saya di blog sarat dengan kegelisahan. Terima kasih, Nest. Saya sadari juga, akhir-akhir ini saya merasa terlalu banyak berpikir yang terlalu serius. Atau mungkin, sayanya ini yang menganggap terlalu serius. By the way, Ernest ini bukanlah Ernest suaminya Nirina. Tapi dia Ernest, sobat saya, anak Stapala, dia perempuan, yang kostnya dulu di daerah PJMI. Kalau dulu kami ramai-ramai mengantar Ernest pulang, biasanya kami mampir dulu di Mamat—warung indomie—dan di sana kami makan indomie.

Baiklah, saya ingin bercerita tentang apa ya, kali ini?

Ehm

Begini. Akhir-akhir ini saya merasa diawasi oleh seseorang. Awalnya sih senang ada yang perhatian. Orang itu bilang kagum sama saya. Apa itu istilahnya orang yang kagum sama orang lain?

Masiver?

Bukan. Itu mah kelompok orang-orang yang senang sama D’Masiv.

FBCL?

Bukan juga. Itu kepanjangan dari Fans Berat Cinta Laura. Cahyo Ari Wibowo alias Mbah Terong, kawan saya juga di Stapala, katanya dia bergabung di FBCL.

Duhai, anak muda jaman sekarang. Yang disukai D’Massif lah. Idolanya Cinta Laura lah.

Jadi, awalnya, SMS-nya itu ucapan-ucapan pemberi semangat. Juga ucapan selamat: misal selamat makan, selamat tidur, selamat apa-apa saja. Itu khas orang-orang yang lagi senang sama orang lain. Tapi, sebab saya tidak tahu siapa dia, saya jadi cuek saja. Maaf untuk siapa kamu itu, maaf bila saya tidak membalas SMS dari kamu.

Lama-lama, jadi agak serem juga. Dia tahu nama saya. Dia tahu kapan saya berangkat ke kantor. Tahu kapan saya pulang dari kantor. Kapan saya berangkat kuliah. Kapan saya balik dari depan, tempat saya makan malam. Kapan saya makan siang.

Dia tahu kalau jam lima lebih saya pulang dari kantor. Dia tahu kalau saya berangkat kuliah jam enam sore. Dia juga tahu, kalau saya pulang dari kuliah jam sembilan malam.

Saya pikir, mungkin dia salah orang. Jadi, saya telpon dia itu, dan benar ada yang angkat. Suaranya pakai logat Palembang Metropolis. Dia bilang, dia tahu, kalau saya pulang-pergi kantor dan kuliah pakai sepeda warna kuning! Siapa lagi yang pakai sepeda warna kuning bolak-balik Demang Lebar Daun-Lorong Gembira di tiap pagi dan petang! Merinding saya. Tapi, syukurlah suaranya perempuan. Kalau laki-laki, lebih merinding lagi pasti.

Oh, siapakah kamu itu? Saya sudah terlalu tua untuk seperti ini; seperti di masa-masa dulu di SMA atau kisah-kisah dalam komik serial cantik.

Demang Lebar Daun, 10 Desember 2009

“Kawan-kawan baik angkatan 2007 bulan Desember ini akan berangkat ke Mahameru. Duhai Ren, Ernest, Selly, Hendy, Isma, dan Rian, titipkan salam hangat saya untuk puncak itu. Hati-hatilah di jalan.”