Mencoba Buku Sket Baru

Masjid Agung Palembang

Masjid Agung Palembang

Buku sket saya yang ukuran A5 hilang. Saya berulang kali ke toko buku Gramedia untuk mencari, semoga ada stok buku sket dengan kertas Canson ukuran yang sama. Karena belum ada, saya coba cari di internet, kalau-kalau ada yang menjual buku sket yang bagus. Ketemu, pembuatnya ada di Jogja, Riphy Sketchbook. Saya lalu memesan buku sket dengan kertas Canson 300 gsm ukuran A5 dan dengan kertas hawai ukuran 100 x 190 mm.

Karena bukunya tiba hari Sabtu, saya jemput paketnya di kantor pos. Ternyata, kantor pos hanya terlihat sepi di luar saja, tapi di bagian dalamnya begitu sibuk. Beberapa petugas sibuk memilah-milah tumpukan paket dan menaruhnya di lemari-lemari kayu atau kantung-kantung besar. Seorang Bapak menanyakan dengan bersahabat apa gerangan maksud saya datang. Tidak butuh waktu lama, paket itu ditemukan, dan saya takjub dengan ringan tangannya beliau.

Sebenarnya saya tidak mengerti dengan kertas apa yang terbaik untuk menggambar. Dari artikel di internet yang saya baca, kertas terbaik itu tergantung siapa yang menggambar, mana kertas yang dia rasa paling cocok. Contohnya, Lapin, dia menggambar dengan kertas buku akunting. Gambarnya jangan ditanya bagusnya.

Dari beberapa referensi di internet, kertas yang bagus salah satunya adalah Canson. Buku sket saya yang hilang itu kertasnya bermerek Canson dengan berat 110 gsm. Kertas ini bagus, bersih, halus, dan tidak mengelupas bila menggunakan cat air. Namun, mungkin karena tipis, tinta pena gambar akan merembes, bila goresan pena berhenti sebentar di satu titik. Cat air juga bisa tembus karena memang tidak untuk jenis pewarna itu.

Kata penjual buku sket yang saya pesan, kertas Canson 300 gsm Watercolor adalah yang paling bagus untuk pena gambar dan cat air. Setelah saya coba, saya mesti setuju dengan pendapatnya ini. Awalnya saya sedikit terkejut dengan tebalnya, tapi kinerja kertasnya bisa diandalkan. Tinta pena gambar tidak merembes dan cat air menyerap dengan baik. Bahkan saya coba membuat gambar dengan cat air pada dua sisi di selembar kertasnya, warnanya tidak tembus. Ya, buku sketnya patut menjadi rekomendasi.

Oh ya, saya mulai menggambar tanpa menggunakan pensil sekarang dan langsung menggunakan pena gambar. Sebenarnya, pada beberapa sket saya pernah langsung menggunakan pena gambar, tapi khusus bila waktunya tidak banyak (karena bila menggunakan pensil dan pena, meskipun lebih rapi, namun lebih lama). Nah, saya mencoba konsisten untuk langsung menggunakan pena. Dengan langsung menggunakan pena, kita dipaksa jujur atas goresan yang telah kita buat.

Lama-lama, saya jadi menemukan kesamaan antara akuntansi dan sketching, sama-sama tidak boleh menggunakan pensil! 😀

Palembang, 11 Maret 2014

“Padahal kan laki-laki susah bila harus jujur :D”

Sketching Masjid Agung Palembang

Sketching Masjid Agung Palembang

Sketching Masjid Agung Palembang Sumsel

Sketching Masjid Agung Palembang Sumsel

Advertisements

Jogging Menyusuri Sungai Sekanak

Karena berlari di taman atau tepi jalan sudah terlalu sering, saya berpikir untuk lari menyusuri jalan-jalan kecil di perkampungan atau menyusuri sungai di Kota Palembang. Suasananya pasti berbeda. Nah, di suatu sore saya memilih untuk menyusuri Sungai Sekanak. Sungai Sekanak adalah sebuah sungai kecil yang bermuara di Sungai Musi, terletak dekat dengan kawasan Benteng Kuto Besak dan gedung waterleideng, serta terkenal dengan pasar dan pindangnya. Saya penasaran saja, ke mana saja sungai kecil itu mengalir.

Pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Sekanak

Pertemuan antara Sungai Musi dan Sungai Sekanak

Titik awal adalah di pertemuan Sungai Sekanak dan Sungai Musi, di tepi jalan dari BKB menuju Tanggo Buntung. Di titik itu, air Sungai Sekanak sudah terlihat hitam dan aroma tidak enak menguar di udara. Namun, sepertinya warga yang tinggal di tepi sungai sudah biasa dengan keadaan seperti itu. Mereka beraktivitas biasa saja, seperti umumnya di sore hari, ada yang duduk mengobrol dan bermain layang-layang di tanggul sungai (dengan alat bermain layangan yang lengkap, ada tas selempang dari kulit sistetis untuk menyimpan layangan dan benang gelasan).

Tanggul Sungai Sekana

Tanggul Sungai Sekana

Dari kawasan dekat Gedung Walikota, jalur sungai terus menuju Pasar 26 Ilir, melewati kawasan rumah susun sederhana, Palembang Indah Mall, dan mengalir sejajar Jalan Radial. Di titik Jalan Radial dan Sungai Sekanak berpisah, tanggul tidak bisa dilewati, tapi kita bisa memutari gang kecil samping Ramayana untuk kembali ke tanggul. Ulu sungai berlanjut melintangi Jalan Radial, Jalan Kapten Rivai, di samping kantor DPRD provinsi, dan tembus kawasan kampus. Tidak begitu jauh lagi berlari, di tepi sungai terdapat dinding yang mengelilingi kampus Unsri Bukit. Bila kampus Unsri sudah berdiri di masa kesultanan, keluarga sultan cukup menaiki perahu dari Benteng Kuto Besak bila ingin belajar di sana. 🙂

Tangkul, alat penangkap ikan khas Sumatera Selatan

Tangkul, alat penangkap ikan khas Sumatera Selatan

Jogging menyusuri Sungai Sekanak dari Sungai Musi sampai Demang Lebar Daun kira-kira menempuh waktu satu jam. Seperti umumnya sungai-sungai kecil di kota kita, kondisi sungai cukup memprihatinkan, dengan airnya yang kotor dan berbau, dan rumah-rumah tepi sungai yang terkesan kumuh. Seandainya kondisi airnya bagus, mungkin Sungai Sekanak bisa menjadi pilihan bagus bagi wisatawan untuk disusuri. Wisatawan dapat bertemu dengan penduduk kota, yang menyapa ramah bila kita melempar senyum, atau yang sedang menangkap ikan sepat dengan alat tangkul. Atau kalaupun tidak bagi wisatawan, penduduk kota bisa menjadikannya alternatif untuk berolahraga lari di kala senggang, di tengah berkurangnya lebar trotoar kota.

Palembang, 14 Maret 2014

“Hari menjelang gelap ketika saya tiba di samping Bengkel Pas, Demang Lebar Daun. Saya mampir sebentar di sebuah pom bensin dekat situ dan juga membeli minuman di Rie Mart, sambil memikirkan naik apa untuk pulang ke Kenten. Sebabnya, bis bukit ke Simpang Polda biasanya sudah tidak lewat lagi bila hari telah malam”.  

Rumah Kapitan

Rumah Kapitan, Palembang

Rumah Kapitan, Palembang

Lokasinya di kawasan 7 Ulu, tidak begitu jauh dari Jembatan Ampera. Rumah kapitan adalah rumah kediaman pemimpin orang-orang  Tionghoa yang mulai mendiami Palembang di masa lalu. Dulunya, kawasan 7 Ulu bisa dibilang sebagai kawasan pecinan di Palembang. Namun sekarang, peninggalan yang bernuansa Cina di sana tidak banyak. Yang tersesisa salah satunya adalah rumah kapitan itu, yang terdiri dari dua rumah besar memanjang, satu berupa rumah panggung kayu, dan satunya berupa rumah berdinding bata tebal. Keduanya sekarang berfungsi rumah kediaman keturunan sang kapitan dan rumah untuk menyimpan abu leluhur.

Bangunan rumah kapitan bergaya campuran Eropa, Cina, dan Palembang.  Dinding dan tiang-tiangnya tebal dengan atap limas khas Palembang.

Saya beberapa kali ke sana. Sehari setelah Imlek tahun ini, saya berkunjung kembali. Di salah satu rumah, terlihat beberapa gadis remaja yang sedang berlatih tari tradisional. Sedang di halamannya, anak-anak yang lebih kecil tampak ramai bermain. Saya mengisi waktu dengan membuat sket salah satu rumah. Dan biasa, anak-anak kecil itu datang mengerubuti. Anak-anak kecil memang selalu tertarik dengan orang yang sedang menggambar, seperti laron yang tertarik dengan cahaya lampu teplok. 🙂

Saya sempat berbincang dengan seorang keturunan India yang sedang mengunjungi adiknya yang tinggal di sekitar rumah kapitan. Juga beberapa orang beretnis Tionghoa yang datang berziarah di rumah itu. Palembang yang merupakan kota pelabuhan sungai memang didiami oleh etnis yang beragam.

Sket yang saya bikin ini dibuat dengan pensil terlebih dahulu. Sebenarnya cara seperti ini tidak populer, karena tidak jujur atas garis-garis yang mungkin salah dibuat. Men-sket seharusnya tidak takut atas kesalahan itu. Lagipula, membuat sket dengan pensil terlebih dahulu seperti  bekerja dua kali, karena goresan pensil akan ditimpa lagi dengan tinta pena.

Palembang, 11 Maret 2014

“Anak-anak kecil di situ juga seperti terheran-heran melihat Ivon. Mereka bahkan bilang, semisal: “Napo motornyo cak itu, Kak?”, atau,”Cak motor Mister Bin”, dan tertawa-tawa saat Ivon tak langsung menyala meski disela tiga-empat kali. Dasar anak-anak.”

Rumah Kapitan, Palembang

Rumah Kapitan, Palembang