Catatan Perjalanan: Gunung Tambora, 15-18 September 2010 (Bagian II)

16 September 2010

09.20 WITA

Kebun kopi hanya sebentar kami susuri, sebelum memasuki kawasan hutan dengan pepohonan yang hijau dan rapat. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang di kiri kanan. Terdapat galian pipa air sepanjang jalan setapak yang terlihat jelas. Galian pipa itu menuju Pos I dan kami cukup mengikutinya saja.

Tidak berapa lama berjalan, saya rasakan keringat begitu deras mengalir. Wah, baru sebentar berjalan kok sudah keringatan begini. Padahal saya tidak pakai pakaian tebal. Jalan pun pelan-pelan.

Ternyata teman yang lain juga banjir keringat dan tidak aneh kata mereka. Baru saya sadar bahwa udara di sana memang tidak begitu dingin dan langit sedang cerah-cerahnya. Berbeda dengan gunung-gunung di Jawa (Jawa Barat khususnya) yang biasanya mendung dan berudara dingin.

Kami sempat beristirahat di sebuah balae-bale yang tampaknya dibuat oleh pekerja galian pipa; tampak dari papan proyek di samping pondok. Melemaskan otot-otot sejenak dan minum air. Sudah setahun lebih saya tidak mendaki, dan ini terasa sekali.

11.12 WITA

Pos I

Kami bertemu dengan kelompok pendaki lain di Pos I. Mereka anak-anak Pramuka, junior dari Bang Ji dan Teguh yang aktif di Pramuka.

Pos I ditandai dengan sebuah salaja (bahasa Dompu, artinya pondok) yang terbuat dari kayu dan beratap terpal lusuh. Terdapat jalan kecil di sebelah kiri jalan yang menuju sumber air, kira-kira 20 meter dari Pos I. Kami mengisi botol air kami dengan air jernih melimpah dari pipa air dan ditampung pada gentong plastik besar yang dilapisi semen. Botol minum tampak berembun, itu artinya airnya pasti dingin.

Bang Ji ternyata membawa bibit sayuran dalam kantung plastik kecil-kecil. Ada biji tomat, cabai, dan terong. Kami membuat lubang-lubang kecil di tanah yang lembab dan gembur, dan menaburkan biji-biji tersebut. Semoga biji-biji itu bisa bertunas, tumbuh, dan berbuah nantinya. Di lingkungan sumber air yang lembab, mungkin kecil sekali kemungkinannya biji-biji itu bisa tumbuh. Tapi tidak mengapa, yang penting sudah mencoba.

Teguh mengeluarkan sekantung sosis siap makan dan saya baru tahu cara membuka kemasan sosis secara praktis. Ternyata kemasan itu tidak salah desainnya. Kampungan betul saya ini. :-D.

 

Pos I Tambora

Pos I Tambora

 

 

Sumber Air di Pos I Tambora

Sumber air di Pos I

 

11.40 WITA

Tim beranjak meninggalkan Pos I.

12.10 WITA

Tanjakan Setan

Kata Yanuar, ini namanya tanjakan setan. Kondisinya tidak seperti tanjakan setan di Gunung Gede yang curam, atau tanjakan setan di Gunung Salak yang harus dilalui dengan berpegangan pada tali. Tanjakan setan di sini malah terlihat landai dan lurus namun panjang. Kelihatannya saja landai, tapi ngos-ngosan juga melewatinya.

 

Tambora

Trek menanjak setelah Pos I

 

12.45-12.50 WITA

Kami beristirahat di sebuah sebuah tanah dengan langit terbuka. Budi, yang tampak lemas setelah melewati tanjakan setan, dibikin terkejut luar biasa oleh ulah iseng Bang Ji yang muncul tiba-tiba dari semak-semak. Ada-ada saja. Saya juga kaget sebenarnya. 😀

13.20 WITA

Kami kembali beristirahat di sebuah shelter yang tidak ada namanya. Pos kadui (bahasa Dompu, artinya terong) kata Yanuar, karena ada tanaman terong yang tumbuh di situ. Kami memeriksa pakaian kami, kalau-kalau ada pacet yang hinggap. Sepanjang jalan jalur pendakian Tambora, pacet selalu menghantui para pendaki.

13.57 WITA

Pos II

Di Pos II terdapat sebuah salaja dari kayu. Bila turun sedikit—yang juga nantinya akan dilewati jalur pendakian—pendaki bisa bertemu aliran sungai kecil yang airnya benar-benar dingin. Sungguh, hutan di sini tidak berbeda dengan hutan-hutan di Jawa yang selalu diguyur hujan. Tanah yang basah dan berhumus tebal, bau lumut di batang-batang pohon, dan gemericik air; adalah suasana yang selalu dijumpai di hutan-hutan basah.

Kami bertemu lagi dengan kelompok pendaki lain yang kami jumpai di Pos I tadi. Mereka tampak asyik sekali memasak nasi dan bakar ikan kering yang harumnya ke mana-mana. Membuat membuat perut saya lapar. Tapi, kami putuskan untuk tidak makan siang di pos ini. Kami hanya memanaskan air, makan roti, dan membuat susu manis. Lumayan untuk mengisi tenaga sebelum memulai lagi perjalanan.

Tidak lupa kami sholat Dhuhur dan Ashar. Di saat senang begini, jangan sampai lupa.

 

Pos II Tambora

Pos II Tambora

 

18.05 WITA

Pos III

 

Lereng Tambora tampak dari Pos III

Lereng Tambora tampak dari Pos III

 

 

Ngecamp di Pos III Tambora

Ngecamp di Pos III

 

Pos III ditandai dengan sebuah shelter yang memanjang di punggungan dan sebuah pondok dari kayu. Dari pos ini, pendaki bisa melihat lereng gunung Tambora dengan vegetasi rumput-rumput yang cokelat dan pohon-pohon cemara di bawahnya. Tampak jelas garis batas antara kedua jenis vegetasi tersebut.

Terlihat lereng gunung masih terkena sinar matahari senja yang keemasan.

Bang Ji dan Teguh mengambil air di sumber air melalui jalan kecil di sebelah kanan. Kami, selain mereka berdua, mendirikan dua tenda dome: Consina Magnum dan Lafuma Summertime. Masing-masing berkapasitas 4-5 orang dewasa.

Bang Ji dan Teguh agak lama baru kembali ke shelter. Katanya sumber airnya sangat kecil debitnya.

Logistik makanan dan alat-alat masak sejak dari tadi sudah disiapkan. Inilah saat yang ditunggu-tunggu. Di gunung, hal yang paling menyenangkan itu adalah masak-masak. Sepertinya, makan malam ini dengan porsi yang berat, oleh sebab siangnya kami tidak makan besar.

Kadafi menggoreng tempe. Kalau bekerja, dia biasanya serius sekali, pelan-pelan, dan terlihat sangat menikmati. Budi dan Yanuar sibuk mengiris-iris cabai rawit, tomat, terong, dan pataha (Bahasa Dompu, artinya daun kemangi). Kalau di Dompu, sambal seperti itu disebut doco, sebagai teman makan ikan bakar, ayam bakar, atau ikan kering. Biasanya kurang lengkap bila tidak ada cacahan timun dan mangga muda, serta udang kecil rebus. Tapi, bahan-bahan itu saja sudah sangat nikmat, apalagi bila sudah ditemukan dengan ikan kering yang kami bawa. Saya jadi semakin lapar.

Kalau ada Bang Ji, tenang saja kalau masalah makanan. Begitu kata Yanuar dan Teguh. Bang Ji lah yang mengatur semua menu dan tahap-tahap masak: mana yang dimasak lebih dahulu, mana yang nanti. Bahkan, diobrolan kami di facebook, Bang Ji sudah dinobatkan sebagai koki seumur hidup dalam struktur organisasi Komplid X-Division! (Kapan-kapan saya akan ceritakan mengenai Komplid X-Division ini 😀 )

Saya kenyang sekali malam ini. Ikan kering dan sambal doco itu benar-benar nikmat. Sambalnya pedas pula.

Sebagai teman mengobrol di malam hari, kami menjerang air dan merebus kopi. Kopi harus direbus, sebab lebih nikmat dan lebih keluar aromanya dibandingkan dengan kopi seduh. Oleh Bang Ji, kopi itu diberi irisan jahe dan beberapa batang kayu manis.  Semakin nikmat rasa dan aromanya!

Kami mengobrol tidak lama malam ini. Kelompok pendaki juga ikut bergabung. Kadafi bercerita tentang pengalamannya di Welirang. Kami juga mengobrolkan Tambora. Tentang pendakian Tambora sebelumnya oleh Bang Ji, Teguh, dan Yanuar. Tentang cuaca malam itu yang sangat cerah. Tentang kabut tebal yang biasa datang, yang menghalangi sama sekali pandangan para pendaki. Banyak sekali yang tidak saya ketahui tentang gunung ini.

Tadi, setelah mendirikan tenda, saya meminjam ponsel Yanuar dan mengirim pesan ke rumah, memberi kabar sudah sampai di Pos III dan cuaca cerah. Saya juga mengirim SMS ke adik saya yang berangkat ke Mataram malam ini. Dia kesal karena saya tidak ikut mengantar.

Yanuar, Teguh, dan Budi tidur di tenda Consina. Kadafi tidur di tenda Lafuma. Saya tentu saja tidak ingin tidur di dalam tenda. Hanya semalam saya di sini dan sayang sekali bila tidak tidur langsung beratap langit. Ada Bang Ji juga yang tidur di luar dan katanya di sini aman dari binatang-binatang malam.

Sempat terlihat bintang-bintang yang melesat jatuh, sebelum saya tertidur. Pulas. Seperti biasanya.

17 September 2010

01.40 WITA

Kami bangun setelah tidur sekitar tiga jam. Agar bisa mencapai puncak di waktu matahari terbit, jam segini pendaki harus beranjak dari Pos III. Kami hanya membawa dua ransel berisi alat masak, air, kopi, dan makanan kecil. Tenda dan peralatan lainnya kami tinggalkan di Pos III. Kami akan bergantian memanggul ransel.

02.25-02.40 WITA

Pos IV

Dari Pos III dan Pos IV, jalur mendaki dan harus hati-hati karena di beberapa titik jalurnya curam. Jalur pendakian juga sempit oleh rerumputan dan tanaman perdu yang lebat di sisi kanan kiri. Sepanjang jalur itu, pendaki harus tetap waspada terhadap pacet dan… jelatang! Jelatang, tanaman berjenis perdu ini, ramai di jumpai di sepanjang jalur. Bila tidak hati-hati dan tidak sengaja menyentuh daun dan batangnya, duri-duri tajamnya cepat sekali menusuk kulit. Rasanya seperti disengat serangga. Perih.

Pos IV ditandai dengan shelter di antara pohon-pohon cemara yang tinggi besar. Daun-daun cemara yang kering menumpuk tebal di tanah dan terasa empuk saat diduduki dan dipijak. Hutan perdu jelatang mengelilingi Pos IV dan saya menghayal mungkin ada putri salju di balik hutan jelatang itu, menunggu pangeran datang yang harus menaklukan hutan berduri-duri.

 

Jelatang Tambora

Penampakan jelatang

 

03.20 WITA

Pos V

Melewati Pos IV, vegetasi mulai berubah, pepohonan tinggi semakin jarang dan berganti rerumputan tinggi dan tanaman perdu. Pos V ditandai dengan shelter kecil dengan kerangka pondok kayu. Terdapat bekas tumpukan kayu perapian di tengah shelter. Kami beristirahat sebentar di pos ini.

Kabarnya, di Pos V pernah ada pemburu yang meninggal tertembak peluru. Seorang bapak yang mengobrol dengan kami di atap bus sehari sebelumnya bercerita kalau pemburu tersebut tertembak oleh pelurunya sendiri. Kata dia, lewat Pos III sampai ke puncak, pemburu menjangan seharusnya tidak memakai senapan. Percuma bawa senapan, tambahnya. “Ana bedi tiloa wotu”, katanya lagi, artinya peluru tidak bisa melesat. Entah kenapa begitu. Pemburu yang meninggal tadi tetap bawa senapan dan nekat menggunakannya. Demikian cerita si bapak.

Di sekitar Pos V juga ada makam Ama ….. (Ama apa ya, lupa saya) yang katanya beliau adalah perintis jalur pendakian ini.

03.27 WITA

Kami meninggalkan Pos V. Hamparan rumput pendek telah mendominasi vegetasi sepanjang jalur pendakian. Beberapa pohon cemara menjulang hitam. Langit masih gelap dan bintang-bintang terasa sangat dekat. Angin bertiup pelan. Bintang-bintang jatuh sesekali terlihat. Dari kejauhan terlihat lampu-lampu kapal dan bagan ikan di Teluk Saleh. Bintang-bintang di langit seperti satu kesatuan dengan lampu-lampu di Teluk Saleh. Suasana begitu hening.

Kami berjalan menyusuri jalur pendakian yang meliuk-liuk mengikuti punggungan. Bukit-bukit yang kami lewati seperti tidak ada selesainya. Setelah selesai satu bukit, ada bukit lagi. Bukit-bukit Pengharapan kata para pendaki Tambora. Tapi ada plesetannya, bukit-bukit itu juga sering diberi nama Bukit Putus Asa.

Langit berangsur terang. Lamat-lamat terlihat bukit-bukit yang berderet-deret. Sudah dekat, kata Teguh. Terlihat sebuah puncak yang paling tinggi. Itulah Puncak Tambora. Tidak lama lagi.

Saya kemudian berlari, mengejar waktu agar tidak tertinggal momen matahari terbit. Tapi, puncak-puncak bukit ternyata belum selesai. Puncak yang terlihat dekat, ternyata  letaknya jauh di belakang lagi. Saya sempat pasrah, mungkin belum rejekinya lihat matahari terbit di Tambora. Tapi, beberapa berkas sinar terlihat di langit dari balik bukit. Saya kemudian berlari lagi setidaknya untuk melewati puncak bukit itu.

05.50 WITA

Melewati bukit terakhir itu, saya bergeming takjub. Hamparan luas dan rata di depan mata. Jauh di ujung hamparan, terdapat garis gelap, pasti di sanalah kawahnya. Saya berlari lagi, melewati pohon-pohon edelweiss yang sedang berbunga. Matahari masih di balik gunung, namun sinarnya telah menerangi langit.

Mendekati bibir kawah, saya melangkah pelan-pelan. Seram, Kawan. Kawahnya begitu curam, dalam, dan berukuran masif. Matahari muncul dari balik kawah dan awan. Indah sekali. Saya sujud syukur dan hampir lupa belum sholat Subuh. Sholat Subuh kali itu begitu istimewa, di bibir kawah Tambora. Walau mungkin sudah lewat waktunya dan pikiran saya entah ke mana-mana.

Tampak juga di kejauhan, Kadafi sedang sujud. Terlihat hikmat sekali.

07.10 WITA

Puncak Tambora

Untuk ke titik tertinggi di Puncak Tambora, kami menyusuri hamparan pasir di bibir kawah. Beberapa struktur pasir dan batu berbentuk unik, mungkin karena bentukan angin dan air hujan. Pohon-pohon edelweis menyebar seluas hamparan. Bunga-bunganya sedang mekar, berwana putih dan menghiasi setiap ranting-rantingnya.

Dari Puncak Tambora kami bisa melihat keseluruhan kawah, Teluk Saleh, dan sebagian Laut Flores di bagian utara. Terlihat juga Pulau Satonda yang seperti tapak kaki. Dan di kejauhan, kami bisa melihat puncak Gunung Rinjani, di Pulau Lombok.

Keinginan mendaki Tambora telah genap pagi itu. Langit begitu cerah, udara tidak terlalu dingin, dan angin tidak bertiup kencang. Kami—Fauzi Rahman, Teguh Ardiansyah, Yanuar Arafat, M. Syahbudin, Muammar Khadafi, dan saya—mengeluarkan spanduk Komplid X-Division dan bergambar bersama di sana.

Entah apa yang kami cari hingga sampai di sini. Kaki dan pundak pegal-pegal, pacet mengisap darah seakan kami pernah hutang darah kepada mereka, jelatang yang menyengat padahal kami sama sekali tidak berniat mengganggu,  dan kenyataan bahwa setelah sampai puncak kami turun lagi, malah melemahkan alasan untuk pergi ke gunung.

Bila ingin tahu apa yang dicari hingga sampai di sini; marilah Kawan, mari ke sini. Mari susuri hutan lebat Tambora, mereguk air dinginnya, menghirup segar aroma embun di bunga-bunga edelweis sebelum matahari bersinar terik, dan turun lagi dengan sehat dan semangat. Mungkin… mungkin kau bisa menemukan apa yang bisa kau bawa pulang dari sini.

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

 

Tambora

Tambora

 

Demang Lebar Daun, Palembang, 12 Oktober 2010

“Maaf bila bagian kedua ini lama sekali baru diposting. Baru sempat menulis sekarang. Sok sibuk soalnya. :-D”

Advertisements