Ternyata Ini Posting ke-100 :)

Karena kemarin tiba-tiba kabarnya Kiki harus berangkat internship tanggal 5, padahal tanggal 14 awalnya. Setelah mengeprint beberapa berkas yang harus dibawa ke Sambas, kami menyalakan vespa cupu kami. Mengendarainya pelan-pelan ke kota, di sekitar Bundaran Selaparang. Ada warung kopi di sana, belum pernah kami coba.

Sambil menikmati minuman rasa teh hijau dan kopi susu, serta kentang yang digoreng juru masak, beberapa hal tidak penting kami bincangkan. Besok Kiki akan ke Dompu untuk pamitan.

Kami pulang sambil memutar sebentar, membelah kota sampai di Pajang. Kota Mataram telah hening dan lampu-lampu lalu lintas berkedip melulu kuning. Pohon-pohon di Catur Warga, jalan untuk kembali ke barat kota, sudah banyak yang ditebang karena pelebaran jalan. Kita warga kota akan merindukan mereka, pohon-pohon peneduh itu, walau sebentar. Yang kemudian sibuk kembali dengan urusan kita masing-masing: tiada habis-habisnya.

Perumnas Ampenan, pagi hari di 30 September 2015

How many lonely days are there waiting for me? How many seasons will flow over me?” – Daniel Sahuleka

Advertisements

Beguyur

Pelan-pelan, sedikit demi sedikit

Selangkah demi selangkah

Tidak  usah tergesa-gesa

 

Nikmati setiap usaha

Setiap susah-senang, sulit-gampang, sempit-lapang

Asalkan terus bergerak menuju harapan

 

Seperti mengayuh sepeda

Lihatlah setiap pemandangan

Kendaraan lalu lalang, pepohonan, orang-orang

Jalan bagus, beton, tanah, pasir kerikil, atau banjir

Orang-orang memberi senyum atau caci tak sabaran

 

Kalau jalanan menanjak, cukup sesuaikan gir

Atau kalau tak jua kuat, sepeda bisa dituntun

Tak perlu terlalu dipaksa

 

Beguyur bae

Untuk apapun yang ingin kau tuju

Cita-cita ataupun cinta

Memperbaiki ataupun mengobati

Mengenal ataupun melupa

 

(Palembang, 13 Januari 2014)

Palembang, 13 Januari 2014, 18:08 WIB, sambil menunggu hujan reda

“Beguyur adalah kata dalam bahasa Palembang, arti terjemahan bebasnya: berusaha pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Sebuah kata yang saya suka dari kota ini”.

Hari terakhir kuliah di Bukit

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Kuliah di hari terakhir, bersama teman-teman Palembang yang baik.

Sudah satu setengah tahun, hari Sabtu saya tersita untuk ini. Mungkin hanya untuk tambahan gelar akademis di belakang nama. Sekedar gaya. Padahal, bertambahlah juga tanggung jawab di tempat bekerja, juga tanggung jawab kepada ilmu pengetahuan. Itu tentu saja bukan hal yang ringan.

Sudah kepalang tanggung saya memasuki dunia akuntansi. Jadi sekalian saja mendaftar di Bukit, mumpung di Palembang ada sekolahnya. Kalaupun sampai di sini, dan beberapa jangka waktu di masa depan, saya merasa akuntansi bukan dunia saya, tidaklah mengapa. Tidaklah ada kata rugi dalam mencari ilmu. Bukankah begitu?

Palembang, 23 Desember 2013, 01:08 WIB, sambil menunggu Derby della Madonnina

“Selamat datang hari-hari Sabtu! Saya merindukan tidur di hari siangmu :D”

93 million miles

Sketsa Kota Jambi

Atap sebuah hotel dan dept. store di Kota Jambi. Pemandangan ini terlihat dari jendela lantai empat tempat saya menginap, sore tadi. Jambi adalah matahari yang berwarna nila karena asap, masjid tanpa dinding, dan Sungai Batanghari yang membelah kota. Menggambar, seringkali bisa membantumu memperbaiki banyak hal.

Pertama adalah, ternyata sangat sedikit waktu yang saya luangkan untuk melihat kembali diri sendiri. Seharusnya saya beri jeda sedikit, mungkin sebelum tidur, dari selepas saya melamun atau main playstation sepulang dari kantor. Ya, sedikit saja untuk kembali memikirkan tujuan hidup, beserta rencana-rencana dan pencapaiannya selama ini. Atau sekedar untuk mencari inspirasi. Ini mungkin tidaklah sulit, namun memulai suatu rencana dari awal (setelah tertidur bertahun-tahun) sangatlah membutuhkan keinginan kuat dan keputusan tepat yang harus dipertimbangkan masak-masak.

Kedua adalah, saya rasa beberapa tahun belakangan hidup saya begitu stagnan. Bukan karena saya terlalu santai. Saya suka sifat saya itu dan saya menikmatinya. Bukan juga karena diukur dari segi materi. Namun, betapa saya merasa sangat nyaman dengan keadaan sekarang. Cita-cita pun seringkali mereduksi menjadi sekedar seperti: punya keluarga kecil dan bisa menyicil rumah. Di saat para pemuda lain bercita-cita berbuat banyak hal untuk orang banyak, saya di sini hanya menyia-nyiakan 1.300-1.500 cc volume otak pemberian Tuhan dan seringkali membiarkannya membeku.

Tapi rasa malas ini begitu kuat. Dia seperti sakit gigi yang membuatmu tidak bisa tidur dan asam mefenamat yang biasa dijual bebas di apotek tidak bisa berbuat banyak.

Jambi, 18 September 2012, 23.50 WIB

“Ketiga adalah, saya ingat Bapak dan Mamak. Memikirkan mereka di rumah jauh di sana, membuat suara-suara kota ini sejenak hening. Semoga Allah menjaga, menyayangi, dan  memberi kesehatan selalu untuk keduanya”.

mudik

Sebenarnya, pulang kampung itu lumayan melelahkan. Misalnya berangkat dari Palembang itu di pagi saat matahari tampak malu-malu, siangnya baru tiba di Mataram. Nah, dari kota itu, saya naik bus malam jurusan Bima, sekitar 10 jam perjalanan lagi. Busnya bagus-bagus. Tapi jalan aspalnya tidak selalu mulus. Beberapa ruas jalan nasional di Pulau Sumbawa ada yang rusak parah: sudah tidak ada lagi lapisan aspalnya.

Tapi, sebuah tas kain jinjing produksi Joger bilang begini: “Ayo pulang kampung, selagi masih ada kampung!”. Tidak terbayang kalau kampung saya hilang.

Dan juga, karena kangen.

Kebetulan di hari pertama perjalanan mudik, Kadafi, teman sedaerah yang kuliah di ITS juga baru tiba di Mataram. Kami berdua, tapi bus malam terakhir sore itu hanya menyisakan satu kursi. Jadinya kami duduk gantian. Awalnya, duduk di bagian depan, di area samping supir. Tapi rasanya jauh dari nyaman, karena tidak ada sandarannya. Barulah kami sadar ada tempat di samping kamar kecil bus, di depan kaca belakang. Di situ bisa rebahan dan tidur sepuasnya. Tapi, tentu saja, goncangannya lebih  besar dibanding bagian bus yang lain. Kepala saya sempat kejedot atap bus saat melewati jalan rusak di sekitar Plampang, Sumbawa. Saya meringis tapi tertawa sendiri; aneh-aneh saja pengalaman pulang kampung ini.

Dompu tidak banyak berubah. Di kabupaten kecil itu, waktu seperti tidak ingin tergesa-gesa. Mungkin dia ingin memberi kesempatan orang-orang untuk tidak kehilangan jejak nostalgia: pada sudut-sudut kota, persawahan, latihan pacuan kuda, dan bukit-bukit sekeliling. Itu menyenangkan bagi sebagian orang dan mungkin membosankan bagi sebagian lainnya.

Bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan baik adalah yang menyenangkan. Mungkin, melihat ketidakrapian kota adalah yang membosankan. (Selalu heran dengan keadaan kota yang tidak rapi. Seakan-akan penduduknya tidak pernah melihat kota orang lain untuk dicontoh. Sumbawa Besar misalnya, yang selalu bersih dan enak dipandang).

Di malam hari, saya biasanya menyelinap ke BCB FM (bukan BBC :)), sebuah radio lokal yang kini dikelola oleh Farhan, Boe, Yanuar, Fauzi, Teguh, Imam, Ito, dan lain-lain. BCB FM adalah radio legenda di kalangan anak-anak Dompu tahun 90-an. Sempat berhenti beberapa tahun, dan kembali mengudara di tangan kawan-kawan tadi, meski dengan sumber daya seadanya dan penyiar yang tidak digaji. Tapi, radio ini tetap sangat menghibur, dengan acara beragam dan aneh, serta penyiar yang kocak-kocak. Penyiar radio memang selalu menyenangkan.

Bapak senang sekali mengajak kami, anak-anaknya, ke kebunnya di Ginte. Yang disebut kebun ini adalah bidang tanah kering karena sedang kemarau dengan rumah panggung kecil di pojokannya. Tanaman yang ditanam tidaklah banyak. Ada beberapa pohon buah dan sayuran. Ada juga beberapa ekor ayam dan seekor kuda pacu yang masih kecil. Kuda itu dipelihara oleh Papa Rano, kolega kami. Saya lupa nama aslinya, tapi beliau dipanggil demikian karena punya anak namanya Rano.

Tapi sekali waktu kami diajak ke Lanci. Di sana, Bapak menanam beberapa tomat ceri. Buahnya imut-imut. Memetiknya harus sabar karena satu pohon buahnya bisa banyak. Oh ya, juga karena matahari teriknya minta ampun. 🙂

Kami juga pergi ke Kilo, sebuah kecamatan di sisi Laut Flores. Di sana, pantainya bagus dan berpasir putih dengan latar Gunung Tambora di kejauhan. Tapi kami ke sana bukan sengaja untuk ke pantai, tapi ke rumah Aba Heda, kolega keturunan Arab yang punya beberapa kuda. (Aba adalah panggilan orang sana untuk keturunan Arab. Kalau untuk keturunan Tionghoa, biasa dipanggil baba). Sudah dua kali kami ke sana, dan selalu bawa pulang ikan kering dan buah kelor untuk sayur asam.

Selain itu, tentu saja lihat latihan pacuan kuda. Berbeda dengan Bapak dan abang saya, saya sebenarnya tidak hobi melihat pacuan kuda. Tapi, menonton pacuan kuda di kampung tentulah sayang untuk dilewatkan.

Dan di akhir pekan terakhir itu, saya dengan abang dan adik, pergi ke La Key, sebuah pantai berpasir putih di selatan Dompu. Saya yang menyetir, sebuah “kemampuan” yang saya peroleh di Sumatera Selatan. Di waktu yang sedikit itu, kami mengobrol, membicarakan banyak hal, cerita hal-hal lampau yang kami ingat, karena jarang-jarang bisa berkumpul bersama. Dulu saya pernah belajar menyetir di sekitar La Key, dan kijang super keluaran tahun 90-an yang saya pinjam masuk ke selokan. Kiki yang menceritakan itu tampaknya senang sekali membicarakan kesialan abangnya. Dia sampai ingat di selokan mana kejadian itu terjadi.

Ah, cerita mudik saya semuanya terdengar biasa saja. Karena memang begitu. Mudik yang kemudian mungkin begitu juga, biasa, insya Allah. Tapi entah selalu saja, mudik adalah hal yang paling saya tunggu, selain misalnya, bermain futsal setiap pekan di Momea. Mudik adalah saat kau begitu kuat mengangkat gunung, meskipun tubuhmu kecil atau kurus. Karena gunung itu bukan gunung berbatu, tapi gunung rindu #eaaaaaa.

Kenten, Palembang, 16 Juli 2012

“Ini tulisan sebenarnya saya bikin setahun yang lalu, untuk cerita mudik tahun lalu. Tapi tidak kunjung selesai dan diposting. Nah, dari pada telat lebih dari setahun, diposting saja sekarang :D.”

senin.

Ini pagi hari Senin dengan langit yang sedang mendung. Mungkin sebentar lagi hujan. Bagi sebagian orang, cuaca seperti ini artinya cuaca yang tidak bagus. Dulu waktu kecil, kita selalu heran dengan anggapan seperti itu. Mengapa orang dewasa bilang cuaca hujan itu tidak bagus? Padahal kita bisa mandi hujan, berlari sepanjang jalan, dan berteriak-teriak kegirangan.

Obrolan saya dengan Huda kemarin, membuat saya sedikit berpikir kembali. Apa iya saya tidak bisa menghargai sebuah perasaan? Bukan perasaan Huda, tapi. Huda kan laki-laki.

Pikiran ini melayang ke kota dengan masjid dua menara, sarapan di pojok sebuah simpang jalan, dan potongan pizza.

Mungkin nanti penyesalan akan datang. Sesuatu yang entah kenapa selalu datang belakangan. Waktu selalu berlari, dan kita tidak sanggup bahkan untuk menjegalnya sekalipun.

Palembang, 26 Maret 2012, tiba lebih awal dari hari biasanya

“What is there to know? All this is what it is…”-Eirik Boe dan Erlend Oye

Selamat Hari Mamak

Dulu, waktu kecil-kecil, sore hari kami sering berkumpul di ruang tamu. Ada yang bikin PR, baca buku cerita, atau dipotongkan kuku oleh Mamak. Sambil memotongkan kuku kami, Mamak selalu bercerita, mendongeng. Dongengnya banyak, tidak habis-habis. Kami tahu dongengnya dibuat sendiri. Tapi itu sangat menghibur kami. Apalagi Kiki, yang lebih kecil. Dia selalu antusias mendengar cerita Mamak.

***
Kalau kami malas mandi, maka siap-siaplah kena sabetan sapu lidi oleh Mamak. Hehehe. Saya kangen dipukul sapu lidi kalau menunda-nunda mandi sore.

***
Abang saya, Iyek, dulu senang sekali memelihara ayam. Ayamnya banyak. Dari ayam kampung biasa sampai ayam jawa atau ayam bangkok.
Kalau Mamak masak pelecing ayam, sangat besar kemungkinan itu ayamnya Iyek. Nah, kalau kami pulang sekolah dan menemukan ada daging ayam yang sedang dimasak, maka Iyek akan sibuk menanyakan itu ayam siapa. Mamak tentu saja bilang itu ayam dibeli di pasar, atau ayam dibawakan uwak atau paman-paman kami. Kalau sudah dibilang begitu, Iyek akan tenang. Sedang saya dan Kiki, tidak peduli itu ayam siapa. Pelecing ayam buatan Mamak adalah yang terenak di Indonesia.

***
Minuman favorit Mamak adalah fanta merah. Tapi Mamak selalu bilang panta merah. Sebab Mamak orang Sumbawa yang tidak bisa bilang huruf “f”.

***
Cerita yang lucu itu saat Mamak simpan minuman sprite botolan di kulkas. Nah, saat minum itu, Mamak kaget karena rasanya hambar seperti air putih biasa. Ternyata itu ulah Iyek yang menghabiskan isi botol dan menggantinya dengan air putih. Hehehe.

***
Kalau ada teman perempuan yang datang ke rumah, Mamak selalu memuji ke saya kalau teman itu cantik. Siapapun itu. Hehehe.

***
Mamak senang bernyanyi. Kalau lagi beres-beres rumah juga sambil nyanyi. Kalau ada acara nikahan, Mamak maju ke depan untuk bernyanyi. Lagunya lagu-lagu lama; seperti lagunya Erny Johan, Titiek Puspa, Dian Pishesa, atau Dewi Yul. Sering sekali saya dengar Mamak nyanyikan lagu yang liriknya begini:

Tunggu saja kiriman hasil panenku
Daku orang dusun pandai bertani
Hanya pesanku kawan jaga negerimu
Sampai berjumpa nanti salam manisku

Tahu kan itu lagu siapa?

***
Dulu Mamak sering membuat jamu. Nah, ada salah satu bahan bakunya semacam tanaman liar yang sering tumbuh di pinggir jalan. Kami, anak-anaknya, akan mencari tanaman itu sesorean dan pulang dengan ikatan yang besar.

***
Mamak juga sering membuat kopi. Maksudnya, memproses kopi mentah sampai menjadi kopi bubuk. Biji kopi akan digoreng dengan wajan besar, dengan potongan kelapa, buah pala kering, kayu manis, dan jahe, dan ditumbuk dengan lesung. Kopi buatan Mamak rasanya khas.

***
Kampung halaman Mamak adalah Melalo, sebuah dusun kecil di Kecamatan Empang, Sumbawa. Mamak sering bercerita kalau dulu bersekolah dengan jalan kaki berkilo-kilo meter di pagi buta ke ibukota kecamatan. Ini membuat kami malu kalau malas ke sekolah.

***
Kakek kami, H. Ismail, ayah Mamak adalah seorang guru sekolah di Melalo. Kata Bapak yang orang Dompu, untuk mendapatkan Mamak itu susah sekali. Banyak yang ingin menjadikan Mamak, yang baru lulus sekolah keguruan, sebagai menantunya. Saat mendengar Mamak dilamar oleh Bapak, ada orang kampung yang tidak setuju. Bapak pernah menunjukkan sebuah jendela di rumah kakek di Melalo yang pecah kacanya. Itu katanya bekas lemparan orang karena tidak setuju Mamak dilamar oleh Bapak. Bapak sedang tidur di kursi di bawah jendela dan syukurlah pecahan kaca itu tidak mengenai Bapak.

***
Waktu itu musim hujan dan persawahan yang baru panen di samping rumah penuh dengan air, seperti danau. Maka Iyek dan saya mengambil ban dalam truk yang diisi angin dan menempatkan papan di atasnya seperti rakit. Dengan itu kami menyabit pucuk-pucuk padi yang masih tersisa untuk makanan kuda. Kami sering tercebur di sawah dan itu asyik sekali bagi anak-anak. Pulang dari situ badan kami gatal-gatal hebat. Sepertinya, karena di sawah itu ada sekawanan itik yang dipelihara dan kotorannya membuat alergi. Mamak tidak marah dan menaburkan herocyne di badan kami dan menyuruh kami pakai sarung saja semalaman. Paginya, gatal-gatal mereda.

***
Yang paling saya kangenin saat pulang kampung adalah sepat buatan Mamak. Sepat adalah semacam kuah yang dibuat dari air, dengan bumbu: cabai rawit, bawang merah, kemiri yang semuanya dibakar terlebih dahulu, dan dicampur dengan rajangan daun-daunan beraroma wangi serta terong yang dibakar. Sepat yang khas Sumbawa ini adalah teman makan ikan atau ayam bakar.

Sumatera Selatan, 22 Desember 2011
“Kemarin saya telepon Mamak. Saya kira kemarin hari ibunya, ternyata hari ini :hammer”.