Jogjakarta

Kota sedang hujan rintik ketika saya tiba. Saya menunggu sebentar abang saya yang datang menjemput, sambil berbincang dengan Ragil, junior saya di kampus dulu yang secara kebetulan bertemu. Abang saya ada pekerjaan di Solo, tapi malam hari dia bisa kembali ke Jogjakarta. Sekalian besok pagi  bisa mengantar saya ke tempat teman baik saya, Huda, yang menikah di kampus UII.

Saya tidak sempat membeli oleh-oleh. Hanya bisa membawakan kopi Pagar Alam untuknya.

Kami menembus benang-benang hujan dengan sepeda motor, menuju kawasan Pogung. Setelah menyimpan ransel, kami keluar untuk makan mie di sebuah warung kopi. Malam semakin dingin. Mie instan berkuah selalu bisa menjadi bagian kombinasi yang cocok untuk suasana seperti itu. Selain segelas kopi atau teh hangat, dan mengobrol tentunya.

Di pagi hari, kami sarapan di dalam kompleks kampus UGM, dan setelahnya melihat lokasi resepsi. Di Gedung Multipurpose itu, tampak orang-orang berbatik dan berpakaian adat Jawa yang sedang mempersiapkan acara siang nanti. Setelah memastikan ancer-ancernya, kami kembali ke kost. Saya mandi dan sempat tidur sebentar karena masih terasa kantuk.

Setelah agak siang, saya bersepeda motor ke acara resepsi. Saya bertemu dengan kawan-kawan kantor yang datang, beberapa kawan kuliah dulu, dan berbincang sedikit. Huda tampak kaget sambil ketawa-ketawa melihat saya datang, karena sebelumnya memang saya tidak berencana dan tidak mengabarkan akan hadir. Terlihat dia sangat sumringah bersanding dengan wanita pujaannya, boru berparas manis berdarah Batak. Semoga samara, Bro.

Siang harinya, saya diajak abang saya bersepeda motor ke kawasan Candi Borobudur (Sempat kami berencana untuk mampir di Museum Affandi, tapi waktunya tidak cukup). Dia ada janji dengan seseorang untuk mengambil sebuah maket bangunan bambu dan dibuatkan gambar. Orang itu, seorang bapak-bapak, yang sangat tertarik dengan bambu dan bangunan dari bambu (yang belakangan saya baru tahu kalau beliau arsitek). Sangat menarik mendengarkan mereka berdiskusi, meskipun saya tidak begitu paham. Dunia engineering dan arsitektur memang menarik. Dunia mereka adalah dunia seni. Tidak seperti orang ekonomi yang akan melihat bangunan dari angka-angka rupiah. Item-item bangunan adalah item biaya yang menyusun rencana anggaran biaya, bukan bagaimana manusia berkreasi agar serasi dengan lingkungannya.

Kami ditawari menginap di tempat yang begitu-Jawa-sekali itu, tapi besok pagi-pagi sekali, saya mesti kembali ke Palembang. Sebenarnya saya ingin tinggal, setidaknya sampai malam saja, pasalnya di situ akan ada pergelaran wayang kulit. Melihat deretan tokoh wayang kulit yang sedang disiapkan, siapa yang tidak penasaran.

Men-setting wayang kulit.

Men-setting wayang kulit.

Agak sore, kami ke sebuah desa yang asri di sekitar candi. Desa Tegal Wangi namanya. Di mana kami bertamu di sebuah rumah yang ditinggali seorang lanjut usia. Abang saya pernah berkegiatan di desa itu dan dia kenal baik, meskipun tidak tahu nama beliau. Kami berbincang lumayan lama dan empunya rumah tidak memperbolehkan kami pulang sebelum kami makan.

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Kami juga bertemu dengan seorang pengrajin batu bata. Dia bilang, dia dulu pernah diwawancara sama abang saya , difoto, dan di-shootingjuga pakai kamera, sampai membuatnya malu karena seperti artis. Ada-ada saja.😀

Menjelang malam kami mampir sebentar untuk makan di sebuah warung tongseng di sekitar kawasan candi. Warung tongseng ini tidak biasa, karena yang diolah menjadi tongseng bukanlah daging kambing atau ayam. Bahannya dari jamur. Teksturnya mirip dengan daging, rasanya juga tidak kalah enak.

Malam hari kami kembali ke Jogjakarta. Hujan turun sepanjang jalan Magelang-Jogjakarta. Menjelang larut malam, kami mencari angkringan, sesuatu yang wajib bila berkunjung ke kota itu. Juga duduk beralas tikar sambil minum kopi di alun-alun keraton. Sekarang di alun-alun, ada kereta-keretaan yang bisa disewa, berlampu warna-warni, dan digerakkan dengan kayuh sepeda. Alun-alun menjadi semarak dengan kehadiran mereka.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.35 WIB

“Terhayut aku akan nostalgia. Saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama. Suasana Jogja…-Jogjakarta, Kla”

3 Responses to “Jogjakarta”

  1. heidy Says:

    keren… proyek rumah bambunya kak iyek pernah sy nonton di tipi, ris.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: