bantal ke palembang

Pagi itu pagi yang teduh. Biasanya jam delapan jam sembilan, matahari di langit Palembang sudah mulai terik dan lumayan panasnya. Tapi, hujan merintik semalam, dan masih menyisakan hawa sejuk dan temaram.

Saya menunggu bus Trans Musi di halte depan Istana Nissan. Tapi ditunggu-tunggu, bus yang nyaman itu tidak nampak batang hidungnya. Biasanya atapnya akan muncul sedikit demi sedikit dari balik tanjakan di depan Griya Agung, kediaman gubernur. Seperti kapal api di laut menuju pelabuhan yang dari kejauhan nampak terlebih dahulu cerobong asapnya, baru kemudian berangsur-angsur tampak dek dan anjungannya.

Saya akan menjemput Ana Althafunnisa (maunya… Hehehe), eh, Hudha “Bantal” Nurhani (844/SPA/2008) di Mahmud Badarudin II, bandara kebanggaan wong kito. Jalur Trans Musi ada yang searah dengan jalan menuju bandara. Tapi karena itu tadi, bus Trans Musi tidak muncul-muncul jadilah saya naik angkot Pakjo-Talang Betutu saja. Naik angkot itu sekitar 30 menit dan berhenti di pertigaan ke arah bandara. Dari sana saya naik ojek. Saya tidak pandai menawar, jadi saya hanya bilang: berapa bisa kurangnya? Mang tukang ojek bilang 15 ribu dan saya setuju. Segera saya pakai helm model tentara Nazi dan menuju bandara.

Sekitar satu jam menunggu di bandara sambil minum jus jeruk dalam botol dan online sampai baterai sekarat, terlihatlah Bantal memanggul carrier di tempat pengambilan bagasi. Dia tampak bingung dan menggaruk-garuk kepala. Barulah saya tahu kalau dia bingung karena ponsel saya tidak bisa dihubungi. Padahal, seandainya dia menengok saja keluar, ada saya di sana sedang mengobrol dengan bapak supir taksi.

Akhirnya dia memutuskan keluar dan lega bukan main saat mengetahui dia tidak tersasar sebatang kara di Palembang. ”Oi, selamat datang di Palembang, Tal”. Dia hanya tertawa menyadari sedari tadi dia kebingungan padahal saya ada di depan pintu keluar. ”Saya sampai update status, Je’. Hendy yang bilang kalau kamu sudah di bandara”. Hahaha, fesbuk memang oke.

Naiklah kami taksi sampai Demang Lebar Daun. Istrahat sebentar di kost dan berangkat lagi. Ini hari pertama kali Bantal ke Palembang, dan dia harus kenal ini kota. Sebab dia bukan sehari dua hari di sini, melainkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Ya, Bantal mendapat penempatan di Palembang, satu kantor dengan saya pula.

Oke, kau harus mencoba makanan asli Palembang: pindang!

Kami naik Marley ke Rumah Makan Pindang Musi Rawas di Angkatan 45. Marley adalah sepeda motor Honda C70, dengan kapasitas mesin 79 cc, tiga kecepatan, dan dibikin tahun 1980. Sepeda motor pertama saya yang harganya seharga sepeda kayuh. Marley sudah tua, tapi insya Allah—meskipun masih berantakan—dia cantik dan berdedikasi. Juga irit.

Kami memesan pindang ikan patin dan pindang udang; agar Bantal merasakan kedua-duanya. Saya bilang ke dia, ”Terserah kau suka apa tidak, tapi agar kau sudah mencicipi masakan khas sini”. Tapi dasar anak Stapala, dia bilang, ”Apa saja buat saya enak, Je’. Di hutan saja makan apa saja, apalagi makanan ini”. Hahaha. Iya, iya, Tal. Tapi, memang, masakan di rumah makan itu enak.

Sehabis makan siang, Marley kami kendarai menyusuri Bukit Besar, melewati Universitas Sriwijaya, taman Kambang Iwak, terus sampai ke Kantor Walikota Palembang. Kantor itu di jaman Belanda adalah kantor Ledeng, yang di puncaknya terdapat tandon air bersih untuk penduduk kota Palembang. Hebat sekali arsitek Belanda yang merancang gedung berlantai empat itu, yang masih bertahan sampai sekarang.

Kami sengaja lewat sana agar langsung ke Masjid Agung Palembang, yang juga merupakan bangunan tua tapi cantik. Sholat dhuhur di sana.

Oleh sebab suatu hal, hari itu Bantal gagal saya ajak untuk melihat Jembatan Ampera dan Sungai Musi. Tapi sepekan kemudian, kami ke sana, bersepeda lihat aliran Sungai Musi di malam hari. Bantal tampak semangat sekali, mungkin dia terpengaruh oleh percakapan kami sore harinya:

Saya    : ”Tal, jadi, di Palembang ada pameo yang mengatakan, kalau sesorang sudah minum air Sungai Musi, maka dapat istrinya di sini”.

Bantal : ”Serius, Je’?”

Saya    : ”Ya. Begini… kau kan saya lihat agak susah mendapat jodoh. Nah, nanti kita ke Sungai Musi, biar kau bisa minum sepuasnya air sungainya”.

Bantal : ”Hahaha”.

Saya    : ”Siapa tahu itu beneran, Tal. Namanya juga usaha”.

Bantal : ”Hahaha. Kau sudah minum, Je’?”

Saya     : ”Belum. Butek begitu airnya”.

Bantal : ”Oke. Malam kita ke sana, Je’”.

Agaknya Bantal percaya dengan pameo itu. Tapi sebenarnya bukan masalah ingin minum air Sungai Musi yang membuat kami malam itu ke Jembatan Ampera. Sebab, kepada hembusan angin kencang ke arah utara, ingin kami titipkan salam kami kepada keluarga di rumah. Kepada angin yang menyusuri tepi Sungai Musi menuju muara, menyeberang ke pantai-pantai selatan Bangka Belitung dan Laut China Selatan. Sebagian angin akan menyeberangi Selat Sunda dan menyusuri selatan Pulau Jawa dan tiba di kampungnya Bantal di Jogjakarta. Sebagian lain menyusuri Laut Jawa dan Laut Flores hingga mampir di sebuah kabupaten kecil di tengah Pulau Sumbawa.

Semoga Palembang memberi banyak hikmah dan pelajaran untuk kita, Bro.

Demang Lebar Daun, Palembang, 16 April 2010

”Sekarang sudah dua-tiga minggu Bantal di Palembang. Sudah betah agaknya dia di kota ini. Saya senang ada juga anak Stapala yang ke sini; artinya ada kawan yang bisa diajak naik gunung, misalnya”.

Advertisements