17 Agustus 2008: Kita Belumlah Merdeka 100%

jenderal sudirman

Patung Jenderal Soedirman; Siapakah yang diberi hormat?

Turunkan tanganmu Jenderal!

Siapa yang kau beri hormat, Jenderal?

Turunkan tanganmu Jenderal!

(Nagabonar, dalam Nagabonar Jadi 2)

Berdirilah di ujung belokan halte busway Dukuh Atas; tepat segaris di belakang patung Jenderal Sudirman. Di posisi itu, bisalah kita merasakan sudut pandang patung Sang Jenderal, seandainya patung itu makhluk hidup dan bisa melihat. Tapi, ada yang aneh di sana. Kepada siapakah Panglima Besar itu memberi hormat? Kepada gedung-gedung tinggi menjulang dan orang-orang yang ada di dalamnya? Kepada kendaraan yang berlalu lalang, juga orang-orang yang ada di dalamnya? Termasuk kita yang kebetulan lewat di depannya?

Seorang kawan pernah menulis tentang perkataan temannya,”Kau lihat gedung-gedung itu? Di atas sana ada orang yang penghasilannya dua ratus juta perhari, di bawah sini banyak orang-orang yang dua puluh ribu saja perhari susahnya bukan main”. Saya setuju dan terkesan dengan kata-kata itu. Bukan karena bersikap anti terhadap gedung-gedung tinggi menjulang, yang seperti melambangkan kedigdayaan kapitalisme. Bukan pula iri karena bukan termasuk orang-orang yang ada di atas sana. Tapi karena, mengapa jurang antara yang kaya dan miskin begitu dalam, bahkan di antara tempat yang tidaklah jauh-jauh jaraknya?

Enampuluh tiga tahun kita merdeka dari peluru, tank, pedang samurai, dan pesawat tempur. Sekarang, semuapun tahu, giliran kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan, menjajah negeri ini. Banyak pula ekonom, politikus, aktivis, akademisi, wartawan, dan lain-lain rupa profesi yang berpendapat bahwa penjajah negeri kita yang lamapun tetap menjajah negeri ini. Bukan dengan mitraliur, tank, atau pesawat tempur; tapi dengan kuku-kuku kekuatan ekonomi yang mampu mengendalikan negeri ini manasuka mereka.

Bila para tokoh negeri, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, atau mantan pejuang merasa jiwa menghargai kemerdekaan negeri ini semakin menurun; tentulah bukan salah siapa-siapa. Bukan karena tidak menghargai kemerdekaan. Atau tidak menghargai jasa-jasa pejuang kemerdekaan. Tapi mungkin karena; sampai sekarang rakyat kita masih belum merasa merdeka seutuhnya. Belumlah Merdeka 100%. Karena merasa belum merdeka sepenuhnya (dari kemiskinan, kebodohan, kemalasan dan cengkraman asing yang menguasai sektor ekonomi negeri ini); jadilah peringatan kemerdekaan seperti angin lalu saja.

Kamis, 14 Agustus 2008 (Tiga hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia)

”Bila kemerdekaan telah digenggam sepenuhnya; tanpa diminta pun, rakyat akan memasang panji merah-putih di mana-mana. Bahkan mungkin sampai di dalam dompet mereka; bersanding dengan foto kekasih hati. Tapi lihatlah sekarang; begitu tinggi semangat rakyat ini dengan peringatan kemerdekaan ini. Mungkin patutlah kita semua bersyukur; karena masih ada harapan di hati mereka akan kemerdekaan negeri ini yang sebenar-benarnya”

Dari Lomba Orienteering Brahmahardika XIV: Semangat, Stamina, dan Adrenalinmu, Kawan! (Solo, 9-10 Agustus)

Ini kali pertama saya ikut lomba orienteering. Stapala (kelompok pencinta alam di kampus saya) mengirimkan dua tim. Sebenarnya saya sebagai peserta cadangan saja. Tapi, berhubung beberapa rekan tim inti berhalangan ikut, saya yang iseng ini, diberangkatkan juga. Lumayan, kapan lagi bisa jalan-jalan ke Solo tanpa membayar biaya apa-apa?

Saya satu tim dengan Brilian a.k.a Chekong, sebagai tim kedua. Tim pertama Stapala diemban oleh Reza a.k.a Reman dan Antonius a.k.a Semut. Selain dua tim, ada seorang offisial yang dipegang oleh Cahyo a.k.a Mbah Terong. Kami ke Solo menumpang kereta Senja Utama yang tiba jam 7 pagi di Stasiun Balapan Solo. Kami tidak mendapatkan tiket bernomor kursi, jadilah kami duduk berhimpit-himpitan di bordes kereta. Tapi tidak masalah, karena menganut prinsip ”bisa tidur kapanpun dan di manapun”, kami yang semuanya bergolongan darah B ini, tetap tidur lelap walaupun sesekali saya sendiri terbangun karena jari-jari kaki terinjak sepatu boot seorang polisi yang menjaga gerbong kereta.

Sebelum menuju sekretariat Brahmahardika (Mapala FKIP UNS Solo), kami sempatkan sarapan nasi liwet di depan stasiun. Rasanya enak dan gurih. Mbah Terong sepertinya hafal benar dengan letak warung nasi liwet itu. Agaknya, dia punya kenangan tersendiri di kota yang damai itu.

Setelah mendaftar, kami istirahat di sektetariat Brahmahardika di Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret. Tidur dua-tiga jam. Siangnya ada technical meeting yang diadakan secara resmi dengan mengundang jajaran kampus dan dari Bidang Topografi TNI setempat. Dilakukan pengundian untuk menentukan nomor dada dan nomor urut tim. Tim Chekong dan saya dapat nomor dada 46, nomor yang bagi kami sangat berat karena sudah dikenal seantero dunia sebagai nomor motor tunggangan Valentino Rossi.

ini petanya

ini petanya

Oh ya, mungkin orinteering belum banyak dikenal. Orienteering adalah salah satu cabang olah raga yang mempertandingkan kecepatan dan ketepatan waktu untuk mencapai titik-titik yang telah ditentukan dalam peta. Tidak jarang, titik-titik tersebut harus digambar (di-plot) sendiri oleh peserta karena hanya disediakan petunjuk angka titik koordinatnya saja. Dalam lomba ini dibutuhkan fisik yang prima karena medan yang digunakan umumnya berbukit-bukit, lembah, danau, hutan, ladang, sungai, persawahan hingga perkampungan. Karena waktu adalah sangat penting, peserta dituntut untuk bergerak cepat, artinya berlari melewati medan hingga berjam-jam. Peserta hanya dibolehkan membawa kompas prisma/silva, peta dan jam tangan, tentu saja dengan air minum dan logistik secukupnya.

Lomba dilaksanakan di Tawangmangu, kecamatan yang terkenal sebagai objek wisata, kira-kira 2,5 jam dari kota Solo. Tim 1 Stapala start pada urutan 2 bersama tim-tim lainya. Sedangkan saya dan Chekong start pada urutan 7, juga dengan peserta lainnya. Jumlah peserta laki-laki kurang lebih 34 tim. Sedangkan perempuan, belasan tim saja. Peta diberikan beberapa detik sebelum bendera start dikibarkan. Jadi, peserta tidak bisa langsung berlari karena harus menentukan posisi saat itu dan titik-titik manakah yang ingin dicapai terlebih dahulu.

semangat, Bro!

semut, chekong, dan reman: semangat, Bro!

Setelah sebentar mempelajari peta untuk menentukan posisi dan jalur titik-titik, Chekong dan saya segera berlari menuju titik terdekat. Titik 22. Letaknya disebuah persimpangan jalan kecil perkampungan. Tidak terlalu susah menemukannya. Kami segera mengisi kartu kontrol yang ada di titik tersebut dengan informasi nama tim, waktu tiba, tanda tangan, dan tidak lupa dibubuhi stempel tim. Kami juga membubuhi stempel titik tersebut pada kartu kontrol yang kami bawa.

Titik kedua yang kami incar adalah titik 18, di jembatan di tengah lembah. Ke sananya kami harus menuruni lembah yang kemiringannya lumayan. Prosedur pada titik 22 yang sama kami lakukan pada titik tersebut.

Setelahnya adalah titik 16 yang ada di perkampungan puncak bukit. Artinya setelah tadi menuruni lembah, sekarang harus menaiki bukit, dengan jalan panjang berkelok-kelok. Ya Tuhan, sebenarnya ngapain saya ikut lomba ini?

medan orienteering

medan orienteering di kaki Gunung lawu

Titik di tengan perkampungan dapat kami raih. Setelahnya di pekuburan di puncak bukit sebelah. Kami segera berlari ke bukit itu. Beberapa tim lain ada di sana, tapi tidak ada tanda-tanda sebuah tanda titik. Ternyata, ada dua pekuburan dan hanya satu yang tergambar di peta. Pekuburan yang sebenarnya adalah di bukit yang sebelahnya lagi. Ya Tuhan, berikanlah ketabahan pada kaki-kaki ini…

Dapat titiknya. Kepuasan di hati ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kemudian ke titik 5 jauh di tengah lembah sebelah. Nilainya lumayan, 150. Letaknya dipinggir tikungan jalan, mudah saja terlihat. Tapi titik-titik setelahnya yang lumayan tinggi, Kawan. Titik-titik 3, 4, 6 memang dekat saja terlihat dari titik lima tapi beda ketinggiannya sampai 100 meter. Tim kami memutuskan mengambil titik 6 saja, walau harus menaiki puncak bukit, karena sebelahnya ada titik-titik 7,8,9, dan 10.

Titik 7 yang sedikit ekstrim. Letaknya di tepi jurang dalam. Dan kami harus menaiki sisi jurang untuk mencapainya. Memandang keasrian hutan di sana, membuat kami sedikit melupakan lelah yang membuat kaki bergetar seperti jarum mesin jahit Butterfly. Pemandangannya benar-benar indah. Sungai kecil mengalir di tengah dan bendera titik 7 yang melambai-lambai di puncak tebing di atas sana begitu merayu-rayu.

Aha, bila saya ceritakan semuanya, tentu butuh banyak halaman. Hasil akhir kami memang kalah, walaupun berhasil mengambil 9 titik. Tim satu berhasil mendapatkan 10 titik, dari 23 titik. Tapi, puas rasanya setelah 4,5 jam berlari-lari ke sana kemari; naik turun bukit, menerobos semak-semak, meniti punggungan bukit dan menyusuri lembah. Setidaknya kami sudah berusaha dengan keras, sampai kami tidak sanggup berlari lagi. Juaranya, Dinamik FT UMS Solo, berhasil mendapatkan 18 titik. Sungguh fantastis. Setelah mencari-cari rahasianya, kabarnya atlit mereka terbiasa berlatih berlari endurance paling sedikit dua jam.

Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?

Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?

Kami pulang kembali ke Tangerang, dengan pengalaman baru yang membuat kami penasaran. Minggu depan ada Makopala Orienteering, 16-17 Agustus, di Bogor. Chekong yang masih sangat penasaran sudah digadang-gadang untuk ikut lagi. Reman dan Semut pun agaknya turun lagi. Saya? Entah, tapi saya sepertinya masih penasaran juga.

Kalimongso, Senin, 11 Agustus 2008

“Terima kasih buat rekan-rekan Brahmahardika yang telah menyelenggarakan kompetisi ini. Kapan-kapan datanglah ke Bintaro, ke posko kami tercinta. Pasti kami sambut dengan tangan terbuka :-)”

Gunung Gede: Sampahnya Bukan Main (25 Juli)

Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Senja di Suryakencana

Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini

Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku

Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:

Alun-alun Surya Kencana

Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki

Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku

Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan pangeran pujaannya

Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak henti-henti berdecak kagum

Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati

dan tak sepenuhnya aku mengerti

Air bening mengalir di tengah lembah

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada harmoni

yang partiturnya masih menjadi rahasia besar manusia

Desir angin tenang menyapu dedaunan

Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis putih

dan buah arbei merah segar yang menjuntai gemulai

Kita tak segera ke puncak bukan?

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini

Kita tak segera ke puncak bukan?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di sana

M N Juna Putra

Alun-Alun Suryakencana, Juni 2007

Alun-Alun Surya Kencana basah oleh hujan, air mengalir di tengah-tengah lembah, Eidelweiss-Eidelweiss seakan menyambut kedatangan para pendaki, arbei-arbei sedang ramai berbuah dengan buatnya yang asem-segar, gemericik air di pancuran di tengah lembah, dan cahaya sore terbiaskan oleh awan-awan. Saya rasa, orang yang hatinya paling kasar, liar, bebal, dan tidak sensitif sama sekalipun akan termenung kagum saat itu.

Begitulah suasana saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede, kurang lebih satu tahun yang lalu. Perjalanan bersama Reman-796, Andika-799, Akbar-819, dan Rian-820 saat itu adalah pengalaman naik gunung yang cukup berkesan buat saya. Jumat lalu, untuk ketiga kalinya saya mendaki Gede. Sabtu sore, saya kembali melihat Alun-Alun Surya Kencana. Syukurlah hari tidak hujan. Langit cerah dan matahari bersinar hangat.

Untuk pendakian kali ini, Mas Iyok-736, Reza-836, dan saya, bertugas menjadi pendamping (guide) bagi peserta Pendakian Umum STAPALA. Pesertanya ada 60-an orang. Kelompok kami pesertanya tujuh orang: Mas Taufik, Mbak Dian, Kanda Ardi (Kanda, karena orang Makassar), Guntur (anak Mafos—komunitas fotografi di STAN), Ana (kawan di KSR Over), Diaz, dan Mas (Kanda?) Yoyon-591 (orang Jogja, tapi lima tahun penempatan di Makassar). Walaupun banyak peserta yang kesulitan menghadapi trek pendakian, namun perjalanan dapat dibilang begitu menyenangkan karena pemandangan yang indah, serta semangat para peserta yang pantang berpatah arang.

Apalagi bila saatnya istirahat dan memasang tenda. Acara masak-masak adalah yang paling ditunggu-tunggu; ramai, penuh joke, dan dengan cerita-cerita menarik yang bisa menghangatkan suasana. Kopi, teh, susu coklat hangat begitu lezat di tengah udara yang begitu dingin. Karena saya tidak begitu suka makanan kaleng, saya begitu senang ketika mengetahui Kanda Ardi membawa satu stoples teri tempe yang disambal goreng.

Acara masak dan makan menjadi ramai ketika Reza-836 a.k.a Carok mengajak bermain Truth or Dare. Dan dia sukses menjadikan saya sebagai korban yang patut dicencengin sepanjang malam. Tapi, syukurlah, ada juga Mas Iyok yang turut menjadi korban, bahkan saya rasa lebih parah karena diberi pertanyaan—yang menurutnya—begitu memalukan.

Mungkin beginilah menariknya naik gunung. Hubungan pertemanan, kalaulah berlebihan bila disebut persaudaraan, akan terjalin semakin erat. Kita bisa tahu lebih tentang kawan kita; apa kesukaannya, bagaimana pengalaman-pengalamannya, hingga siapa gadis tidak beruntung yang dia taksir hingga bertahun-tahun. Belum lagi bila tolong-menolong; membuat minuman hangat untuk kawan yang baru bangun tidur, sekedar meringankan beban ransel, berbagi air minum, atau membantu kawan lain ketika melewati sebuah pijakan yang licin. Kesemua ini menciptakan tali hubungan yang mungkin bisa dijadikan kenangan bertahun-tahun kemudian.

Gunung Gede tetap indah. Pemandangannya tetap menabjubkan. Namun, sangat disayangkan, banyaknya sampah anorganik membuat lukisan alam ini seperti terkena percikan tinta noda. Di Alun-Alun Suryakencana, sampah yang bertumpuk-tumpuk tersebar pada camping ground. Di Puncak Gede, saya seperti melihat Tempat Pembuangan Sampah di mulut gang kost saya. Di sepanjang jalur pendakian; sampahnya tidak usah ditanya. Hampir bisa dikata, tidak ada semeterpun jalur yang bebas dari sampah plastik dan semacamnya.

Untuk apa naik gunung kalau tidak pandai menjaganya? Bila dosa merusak trek, membuat jalur-jalur di hutan, dan membuat para hewan menyingkir, sebegitu membuat kita merasa bersalah; begitu susahkah untuk tidak menambah dosa kepada alam dengan membawa turun kembali sampah yang kita bawa?

”Ah, Rik, percuma saja sepertinya kerjaan kita ini”, ucap saya sambil berselojor kaki. Beristirahat sejenak.

Ga’ masalah, Je. Biarpun sedikit, yang penting ada”. Erik, dengan tidak mengenal mengeluh, terus memungut sampah sepanjang jalur turun. Sudah setengah trashbag sampah yang dia kumpulkan sedari puncak. Sampah yang saya pungut hanya setengah dari plastik sedang saja. Tidak sampai seperlima dari yang dia bawa.

Seperti menggarami air laut, perumpamaan itu mungkin cocok ditujukan pada pekerjaan memungut sampah sepanjang jalur pendakian. Hampir tidak ada pengaruhnya. Sampah yang berhasil dipungut tidak sebanding dengan sampah yang masih tercecer. Apalagi letaknya tersebar. Punggung jadi pegal-pegal karena sebentar-sebentar harus berjongkok untuk memungut sampah.

Kadang teringat kata-kata Bang Jauhari, senior saya di kampus, ”Seandainya Gede ditutup sepuluh tahun saja, betapa indahnya gunung itu”. Memang, pendaki adalah salah satu faktor yang membuat hutan rusak dan habitat hewan terganggu. Padang edelweiss di Alun-Alun Suryakencana pernah terbakar hebat dan melenyapkan banyak vegetasi, dikarenakan oleh ulah pendaki yang membuat api unggun. Owa Jawa, sudah jarang terlihat lagi di habitatnya di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Hal ini dicurigai karena akitivitas pendaki yang semakin ramai. Beberapa pendaki malah sangat bangga karena berhasil membawa pulang bunga edelweiss (Anaphalis Javanica) ; yang saya tidak melihat letak kebanggaannya ada di mana.

Tidak semua pendaki memang. Saya menyaksikan Erik yang mau repot memungut sampah untuk dibawa turun. Juga Reman—kawan, angkatan di atas saya—yang begitu ketat tentang masalah lingkungan. Mendaki bersama dia harus siap-siap untuk memungut sampah dan teliti terhadap jumlah bungkus plastik, kaleng, tali, dan semacamnya yang harus dibawa turun kembali. Juga kawan-kawan lain yang tidak berkeberatan untuk melakukan Operasi Semut, memungut sampah sepanjang jalur pendakian.

Kalau melihat sampah di gunung-gunung, saya jadi menyadari sifat-sifat manusia. Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Kamis, Agustus 2008, Kalimongso

“aku tak tega memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

sepatu di puncak gede

Sepatu All Star bulukan di Puncak Gede. Karena percaya isu bahwa All Star makin keren kalau semakin bulukan, saya pakai terus sepatu ini. Naik gunung (sudah 4 puncak gunung), juga buat kuliah. Rencananya, kalau lulus kuliah, sepatu warisan Jabay ini mau saya bawa ke tempat penempatan. Fisiknya sangat memiriskan hati siapapun yang melihatnya.

ini di sumber mata air panas Cibodas

ini di sumber mata air panas Cibodas