93 million miles

Sketsa Kota Jambi

Atap sebuah hotel dan dept. store di Kota Jambi. Pemandangan ini terlihat dari jendela lantai empat tempat saya menginap, sore tadi. Jambi adalah matahari yang berwarna nila karena asap, masjid tanpa dinding, dan Sungai Batanghari yang membelah kota. Menggambar, seringkali bisa membantumu memperbaiki banyak hal.

Pertama adalah, ternyata sangat sedikit waktu yang saya luangkan untuk melihat kembali diri sendiri. Seharusnya saya beri jeda sedikit, mungkin sebelum tidur, dari selepas saya melamun atau main playstation sepulang dari kantor. Ya, sedikit saja untuk kembali memikirkan tujuan hidup, beserta rencana-rencana dan pencapaiannya selama ini. Atau sekedar untuk mencari inspirasi. Ini mungkin tidaklah sulit, namun memulai suatu rencana dari awal (setelah tertidur bertahun-tahun) sangatlah membutuhkan keinginan kuat dan keputusan tepat yang harus dipertimbangkan masak-masak.

Kedua adalah, saya rasa beberapa tahun belakangan hidup saya begitu stagnan. Bukan karena saya terlalu santai. Saya suka sifat saya itu dan saya menikmatinya. Bukan juga karena diukur dari segi materi. Namun, betapa saya merasa sangat nyaman dengan keadaan sekarang. Cita-cita pun seringkali mereduksi menjadi sekedar seperti: punya keluarga kecil dan bisa menyicil rumah. Di saat para pemuda lain bercita-cita berbuat banyak hal untuk orang banyak, saya di sini hanya menyia-nyiakan 1.300-1.500 cc volume otak pemberian Tuhan dan seringkali membiarkannya membeku.

Tapi rasa malas ini begitu kuat. Dia seperti sakit gigi yang membuatmu tidak bisa tidur dan asam mefenamat yang biasa dijual bebas di apotek tidak bisa berbuat banyak.

Jambi, 18 September 2012, 23.50 WIB

“Ketiga adalah, saya ingat Bapak dan Mamak. Memikirkan mereka di rumah jauh di sana, membuat suara-suara kota ini sejenak hening. Semoga Allah menjaga, menyayangi, dan  memberi kesehatan selalu untuk keduanya”.