Pagar Alam

“Pagar Alam”

Seorang ibu yang sedang menanam padi

Di punggungnya tidur nyenyaknya seorang bayi

Wajahnya bulat menggemaskan

Dibelit kain batik panjang

Seperti kepompong di dahan pohon

 

Aku berjalan di pematang,

                                             memandang keduanya

Dan damai mengalir lembut,

                                             menentramkan dada

—Palembang , Maret 2013

Kau bisa membayangkan, bagaimana sebuah kota telah familiar denganmu, kau temui di saat malam menyelimutinya. Ketika jalanan telah sepi dan cahaya lampu jalan membuat ruang untuk mata memandang. Apakah memang selalu begitu, setiap kota yang telah kita singgahi selalu memberi kesan tertentu. Kadang saya bertanya, apakah di alam setelah mati, adakah sepotong tempat di dunia ditempatkan di sana? Ya, seandainya, bila rindu dengan suatu tempat di dunia: sebuah rumah semasa kecil, atau kota tempat mencari nafkah, atau taman tempat lari pagi, adakah kita bisa melepaskan rasa rindu dengan memandang atau merasakan suasananya di alam sana? (Namun dunia adalah air yang membasahi ujung jari, jelas kita tidak akan merindukannya bila berenang di samudera).

Saat menuju Gunung Dempo beberapa pekan yang lalu, saya tiba saat lewat tengah malam di Pagar Alam. Pagar Alam sebuah kota yang saya rasa yang paling indah di Sumatera Selatan. Pusat kotanya sebenarnya kecil saja dan tidak terlalu rapi. Namun, udaranya sejuk dan pemandangan alamnya bagus.  Di sana kita bisa menemukan sungai untuk berarung jeram, air terjun, jurang-jurang yang dalam, hutan yang masih perawan, lahan yang ditanam sayur mayur, persawahan hijau, kebun-kebun kopi dan teh, rumah-rumah panggung tua, beberapa peninggalan megalit, dan tentu saja, Gunung Dempo sebagai latarnya.

Saya pernah melewati pematang di beberapa persawahannya dan menyusuri jalan dengan kiri kanan kebun kopi serta lembah. Pemandangannya bagus. Ya, saya akan melampirkan beberapa foto agar kita bisa lihat sama-sama. 🙂

Suatu hari, saya sampai di sebuah kampung kecil di sebelah timur Gunung Dempo. Tempatnya benar-benar damai. Ada seorang petani yang tinggal dengan istri dan anaknya yang masih balita, serta beberapa ekor anjing, di sebuah rumah panggung kecil. Halaman rumahnya di tanami palawija dan sayur mayur serta terdapat beberapa kolam ikan lele. Katanya, dia akan pergi ke kota sekali sepekan untuk menjual hasil taninya itu.

Bila sempat di akhir pekan, saya berlari pagi menuju taman kotanya. Di sana hanya berkeliling sebentar, melihat masyarakat kotanya, mendengar mereka berbincang dengan bahasa Besemah, dan berbicara dengan penjual keliling. Dan sehabis berolah raga, siap-siaplah berhadapan dengan air dingin yang menusuk tulang saat mandi. Tapi, lama-lama, bisa terbiasa juga. Bila tidak mandi, justru dinginnya udara lebih terasa.

Suatu hari, saat meninggalkan Pagar Alam menuju Palembang, mobil yang kami tumpangi tidak sengaja melindas seekor kucing. Dengan rasa sangat bersalah, bapak yang menyopiri kami menepikan mobil dan menghampiri kucing yang tergeletak malang. Si bapak segera membuka baju yang dikenakannya, digunakan untuk membungkus kucing tersebut, dan menitipkan kepada seorang ibu di tepi jalan untuk dikuburkan. Ada kepercayaan orang Besemah, bila menabrak hewan dan meninggalkannya begitu saja, akan ada kecelakaan yang akan mereka alami nantinya. Saya mengesampingkan pembuktian untuk hal ini, namun kearifan lokal seperti itu mungkin untuk mengajarkan kita agar menyayangi dan bisa berlaku adil kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.

Dan bila sekali waktu sempat ke Pagar Alam, cobalah pempek kulit kuah model di dekat Simpang Telaga Biru, fettucini carbonara di Warung Tenda Chef Dadang, masakan cina di dekat Simpang Manna, pindang kerupuk di Karjak, atau ikan bumbu kuning di depan Karjak. Rasa adalah relatif dan saya bukan pemuja makanan yang bisa memberi nilai sebuah masakan, namun sebuah tempat selalu memiliki makanan khas di tempat itu. Cobalah, untuk mencicipi rasanya dan mengenal cita rasa masyarakatnya.

Prabumulih, Sumatera Selatan, 29 Januari 2014, 22:30 WIB

“Meski lumayan lama di Pagar Alam dan objek sketching sangat banyak, tapi tidak sempat. Ya, biasa saya, sok sibuk. Gantinya, ini beberapa foto yang sempat saya ambil di sana. Beberapa foto akan menyusul :)”.

Pagar Alam. Sepotong pemadangan kota dengan latar Gunung Dempo.

Pagar Alam. Sepotong pemadangan kota dengan latar Gunung Dempo.

Pagar Alam. Kebun teh di Gunung Dempo.

Pagar Alam. Kebun teh di Gunung Dempo.

Pagar Alam. Air Terjun Mangkok.

Pagar Alam. Air Terjun Mangkok.

Pagar Alam. Sebuah rumah panggung tradisional orang Pagar Alam.

Pagar Alam. Sebuah rumah panggung tradisional orang Pagar Alam.

Pagar Alam. Gubug petani kopi. Didiami oleh petani untuk menjaga tanaman kopi yang akan dipanen.

Pagar Alam. Gubug petani kopi. Didiami oleh petani untuk menjaga tanaman kopi yang akan dipanen. Setelah panen, gubug-gubug ini biasanya tidak didiami lagi.

Advertisements

Beguyur

Pelan-pelan, sedikit demi sedikit

Selangkah demi selangkah

Tidak  usah tergesa-gesa

 

Nikmati setiap usaha

Setiap susah-senang, sulit-gampang, sempit-lapang

Asalkan terus bergerak menuju harapan

 

Seperti mengayuh sepeda

Lihatlah setiap pemandangan

Kendaraan lalu lalang, pepohonan, orang-orang

Jalan bagus, beton, tanah, pasir kerikil, atau banjir

Orang-orang memberi senyum atau caci tak sabaran

 

Kalau jalanan menanjak, cukup sesuaikan gir

Atau kalau tak jua kuat, sepeda bisa dituntun

Tak perlu terlalu dipaksa

 

Beguyur bae

Untuk apapun yang ingin kau tuju

Cita-cita ataupun cinta

Memperbaiki ataupun mengobati

Mengenal ataupun melupa

 

(Palembang, 13 Januari 2014)

Palembang, 13 Januari 2014, 18:08 WIB, sambil menunggu hujan reda

“Beguyur adalah kata dalam bahasa Palembang, arti terjemahan bebasnya: berusaha pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Sebuah kata yang saya suka dari kota ini”.