Seandainya Warteg Tidak Ada…

Ruangan sederhana itu dipenuhi dengan aroma masakan. Meja etalase dari kaca atau plastik bening, jejeran piring-piring berisi lauk serta sayur berkuah, meja-meja dan bangku-bangku panjang menjadi properti wajib di dalamnya. Juga termasuk kaleng berisi kerupuk dengan jendela kaca di salah satu sisinya, lengkap dengan merek kerupuk yang ditulis dengan cat semprot. Dindingnya bisa dipastikan terpajang kalender promosi, juga lap tangan. Sederhana saja. Tapi jangan pernah meremehkan perannya, Kawan. Perannya tidaklah sesederhana nama dan tampilan fisik bangunannya.

Disebut warteg, yang merupakan akronim dari warung tegal. Sekarang istilah warteg mungkin telah diterima umum, tidak hanya bagi warung yang pemiliknya orang Tegal. Kata warteg juga telah berarti berarti warsun (warung Sunda) dengan masakan-masakan khas Sunda-nya, warjaw (warung Jawa) dengan masakan khas Jawa, warung Betawi dengan masakan khas Betawi dan warung-warung lain yang pemiliknya dari suku mana-mana. Kecuali untuk masakan Padang, tetap tidak disebut warteg. Juga untuk masakan Menado yang tidak pernah ada bentuk warungnya; karena selalu berbentuk Restauran Menado.

Mendengar kata warteg, tentu langsung terbayang pada sebuah warung makan yang begitu sederhana, dengan masakan-masakan yang terjangkau harganya. Warteg memang lekat dengan kesederhanaan, tempat makan para pekerja, kuli, mahasiswa, pegawai negeri, orang-orang dalam perjalanan, hingga anak-anak sekolah yang mampir untuk makan siang. Belakangan sering diberitakan, aktor-aktrispun sering makan di warteg, juga para calon pejabat dan pejabat; dari para peserta kampanye pemilihan kepala daerah hingga para menteri dan negarawan—yang membuat para pelayan warteg kebingungan untuk berpakaian seperti apa bila mereka datang.

Entah bagaimana bila warteg tidak ada. Saya sendiri pasti sangat bingung untuk memenuhi tuntutan perut yang rutin minta diisi. Alih-alih dapat membuat masakan seperti di rumah, pastinya nanti lebih sering memasak mie instan saja. Paling rumit mungkin memasak sayur sop; cukup membeli paket sayur sop di swalayan dan bumbu masak instan beraroma ayam. Belum lagi dengan waktu yang dibutuhkan, bisa-bisa saya jadi lebih sering tidak mandi untuk berangkat kuliah karena menunggu nasi matang terlebih dahulu. Dan pulangnya mesti menahan lapar dahulu berpuluh-puluh menit hingga perut serasa menempel di punggung, karena lamanya menanak nasi. Belum lagi harus mencari gas atau minyak tanah—bila tidak ingin membuat listrik satu kost padam karena banyak kompor listrik, setrika, dan komputer yang menyala. Sungguh, betapa repotnya bila warteg tidak ada.

Bisa-bisa saja makan di rumah makan atau di foodcourt. Tapi harganya itu yang kurang bersahabat untuk dikonsumsi tiga kali sehari. Untuk satu porsi makanan paling murah dua puluh-tiga puluh ribu. Sedangkan fastfood, satu porsinya belasan ribu. Memang telah lengkap porsinya: ada nasi, potongan ayam, dan segelas minuman bersoda. Tapi porsinya itu, Kawan, kalaulah tidak ada minuman bersoda, tentulah tidak bikin kenyang. Belum lagi bila dilihat dari nilai gizinya. Sedangkan bila di warteg, dengan uang belasan ribu bisa memesan dua porsi, lengkap dengan sayuran, es teh manis, buah, dan bisa memesan segelas Ovaltine hangat.

Di dekat kampus saya, diantara sekian banyak warung makan, setahu saya ada dua warteg yang bisa dibilang sangat murah untuk ukuran daerah seramai ini. Warteg pertama disebut Vegas, singkatan dari Las Vegas. Mengapa disebut Las Vegas? Karena saban hari ada saja orang-orang yang main kartu dan main catur di depan warung itu. Kesannya seperti pusat judi saja. Entah, apakah pemiliknya tahu bahwa warungnya terkenal dengan sebutan nyentrik seperti itu.

Warung kedua, sering disebut Warung Kuli, dengan masakan khas Sunda. Diberi julukan Warung Kuli karena porsi yang disediakan adalah porsi kuli, porsi bagi orang-orang yang telah lelah bekerja dan memerlukan banyak energi. Jarang ada yang memesan porsi setengah nasi di warung ini. Paling banyak justru yang memesan nasinya atau sayurnya yang diperbanyak. Selain disebut Warung Kuli, juga disebut PLG (baca: pe el ge), yang merupakan singkatan dari “pa lagi?” (maksudnya: apa lagi?). Pelayan warungnya selalu menanyakan “pa lagi?” kepada pembeli. Bukannya apa-apa, di warung ini, pembeli bisa mendapatkan lebih dari satu jenis lauk dan sayur lengkap dengan es teh manis dengan dana yang minim. Makanya, selalu ditanyakan: “Pa lagi? Pa lagi?”, hingga piring terisi penuh dan terlihat crowded. Di warung ini masih ada harga makanan semisal 2800 perak, 3300 perak, atau 3700 perak—berbeda dengan warung lain, logam seratus-dua ratus perak masih berguna di sini.

Memang rasa menjadi nomor dua di kedua warung itu, tapi bagi banyak orang, rasa hanyalah urusan lidah yang hanyalah kesan sekejap saja. Oleh sebab itu, pelanggannya memang kalangan yang tidak terlalu mendewakan cita rasa. Kalangan yang terdiri dari pekerja proyek padat karya, mahasiswa hemat, dan para pedagang kecil yang rutin lewat. Pelanggannya pun bertambah bila akhir bulan; beberapa rekan berpindah tempat makan favoritnya di kedua warung itu bila telah tanggal tua. Tidak mengapalah rasanya bercampur aduk, kurang bumbu dan tidak nendang, lagipula perutlah yang mengaturnya.

Tidaklah berlebihan bila berpendapat bahwa warteg berperan sangat penting bagi perekonomian masyarakat kita. Bahkan kabarnya, warteg adalah usaha yang terus menemani masyarakat dan bertahan di masa krisis. Bisa dibayangkan bagaimana peranannya. Silakan juga mengandai-andai bagaimana nasibnya para mahasiswa, para pekerja proyek berupah minim hingga pedagang keliling, bila warteg tidak ada. Demikian juga halnya pada tukang ojek, supir angkot hingga supir truk ekspedisi, yang biasanya bekerja jauh dari rumah.. Warteg—betapapun sederhananya—telah memberikan peran penting bagi negeri ini dengan caranya sendiri. Bayangkan bila warteg tidak ada, Kawan.

Kalimongso, 15 Juni 2008

“Ucapkan terima kasih setulus2nya setelah makan di bangku panjangnya…”

Advertisements

BBM dan APBN: Benarkah kenaikan harga BBM untuk rakyat kecil?

“Get up stand up
Get up for your right
Get up stand up
Don’t give up your fight”

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Saat mulai menulis tentang masalah ini, saya sadar bahwa saya tidak memiliki kompetensi apa-apa, bukanlah pakar ataupun ahli yang sangat mengerti. Namun, betapapun bukan siapa-siapa, setidaknya saya adalah warga negara ini yang turut merasakan dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Merasakan tarif angkutan yang rata-rata naik lima ratus rupiah, merasakan kenaikan harga makanan di warteg yang naik tiba-tiba, sampai kebutuhan apapun yang hampir semua naik harganya.

Saya bukanlah termasuk orang-orang miskin atau orang-orang yang mengaku miskin untuk mendapatkan Bantuan Langsung Tunai. Hingga tidaklah pantas rasanya menulis atas nama rakyat karena untuk kenaikan harga setiap kebutuhan lima ratus hingga seribu perak, saya masih bisa mencukupinya. Masih ada kiriman uang dari rumah. Masih ada pekerjaan sampingan yang biarpun sedikit namun cukup membantu untuk membiayai kegemaran jalan-jalan murah saya. Saya mungkin masih bisa membeli buku dan pakaian tiap bulan, juga menonton film di twenty one sekali-kali. Saya bukan di antara orang-orang miskin yang menjerit tercekik lehernya akibat harga-harga yang semakin tinggi.

Namun, ketika mendengar pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM, sungguh terserbak aroma ketidakadilan yang semena-mena. Di sini saya berkedudukan sebagai rakyat; jadi wajar bila berpendapat demikian. Saya sebagai rakyat tentu tidak harus mengerti alasan apa gerangan hingga pemerintah menaikkan harga BBM. Terlalu rumit dan terlalu ditutup-tutupi. Saya sebagai rakyat, hanya perlu tahu pembelaan yang seharusnya didengar pemerintah; untuk tidak mengambil keputusan tidak populis itu. Naluri merasa dihianati begitu membuncah saat mendengar pendapat-pendapat para ekonom-ekonom pro rakyat: bahwa kenaikan BBM tidaklah perlu! Itu hanya semakin menyusahkan rakyat yang hidupnya telah susah!

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya—mungkin ada ekonom-ekonom pemerintah yang membaca tulisan ini—dan ingin mendapatkan jawaban yang terasa kian samar ini. Saya hanya ingin tanyakan kebenaran alasan-alasan pemerintah, dengan argumen-argumen yang saya kutip dari ekonom-ekonom pro rakyat dan juga dari nalar sederhana saya. Bila argumen-argumen ini salah, tolong luruskan dan dicerahkan. Memahami alasan kenaikan harga BBM terlalu sulit bagi saya yang apalah ini.

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel)? Bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?, dan

Ketiga, untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Dan agar saya tidak sekedar bertanya, saya akan lampirkan argumen-argumen dari para cerdik pandai juga dari nalar sederhana saya, di tiap pertanyaan tersebut:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel atau bahkan diperkirakan lebih nantinya)? Dan bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359-360 disebutkan:

”Harga minyak ICP mempengaruhi APBN pada sisi pendapatan negara dan sisi belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, kenaikan harga minyak ICP akan mengakibatkan kenaikan pendapatan negara dari kontrak production sharing (KPS) minyak dan gas melalui PNBP. Peningkatan harga minyak dunia juga akan meningkatkan pendapatan dari PPh Migas dan penerimaan lainnya. Pada sisi belanja negara, peningkatan harga minyak dunia akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke Pemerintah daerah. Untuk tahun 2007, apabila harga minyak dunia meningkat sebesar US$1, maka defisit APBN diperkirakan akan berkurang sekitar Rp48 miliar sampai dengan Rp50 miliar, yaitu sebagai akibat peningkatan pendapatan negara sekitar Rp3,24 triliun sampai dengan Rp3,45 triliun dan peningkatan belanja negara sekitar Rp3,19 triliun sampai dengan Rp3,4 triliun.”

Jadi memang benar, bila harga minyak dunia meningkat maka akan meningkatkan pula anggaran subsidi. Akan tetapi, pendapatan pemerintah turut meningkat dari hasil ekspor minyak bumi. Selisih antara pendapatan dan beban sebesar 48-50 miliyar setiap satu dollar kenaikan harga minyak, yang akan mengurangi defisit APBN. Jelas, negara tidak merugi, malah untung sebesar 48-50 milyar. Di tahun 2007 ketika pemerintah telah menjadi net importer minyak. Ingat, ini informasi dari pemerintah sendiri.

Dalam RINGKASAN APBN 2007, RAPBN-P 2007 dan RAPBN 2008, halaman II-49 dapat dilihat bahwa anggaran seluruh subsidi sejumlah 92,6 trilyun rupiah dan PNBP dari sektor migas sejumlah 112,3 trilyun rupiah. Jadi lebih besar pendapatannya. Ingat, belanja subsidi di sini tidak hanya subsidi BBM, namun juga subsidi lain-lain (misalnya pupuk dan obat-obatan pertanian).

Lalu, sebenarnya dimanakah letak ruginya pemerintah?

Mengenai hal ini Kwik Kian Gie mengatakan, ”Tak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu”.

Logika sederhananya, misalkan saya seorang pedagang kemudian membeli barang seharga 10 ribu dan menjualnya dengan harga 20 ribu kepada sanak famili saya. Namun, di tempat lain barang semisal yang saya jual dibeli orang dengan harga 40 ribu. Bila saya serakah maka saya akan merasa rugi sejumlah 20 ribu (selisih 40 ribu dengan 20 ribu). Padahal biarpun saya menjualnya seharga 20 ribu saja, saya telah untung 10 ribu, apalagi kepada sanak famili saya.

Untuk rakyat, kita tentu tidak patut berbicara tentang opportunity cost (biaya peluang yang hilang) di sini.

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?

Tarif angkutan kota di sekitar kampus saya telah naik rata-rata 500 perak sejak sehari kenaikan BBM. Kopaja dan metrominipun demikian. Padahal kita semua sama-sama paham, penumpang kendaraan publik ini bukanlah orang-orang kaya. Lagipula, lebih banyak mana antara BMW dan bajaj? Lebih banyak mana Mercy dengan Metromini?

Bagaimana dengan tukang ojek (bukan orang kaya)? Bagaimana dengan supir taksi (bukan orang kaya)? Nelayan apalagi; sungguh sangat memiriskan hati bila mendengar kabar golongan ini. Harga solar yang melambung semakin tinggi membuat banyak nelayan tidak bisa melaut. Bagaimana mereka memberi makan anak istri mereka?

Biaya-biaya distribusi semakin tinggi karena jasa trukpun bergantung pada harga BBM. Kita mungkin tidak pernah merasakan bagaimana beratnya orang miskin menghadapi harga-harga kebutuhan yang naik karena biaya distribusi barang yang semakin meningkat. Kita mungkin tidak bisa merasakan karena tidak pernah berada dalam posisi mereka.

Pertanyaan tadi cobalah dibalik menjadi: bukankah kenaikan BBM menguntungkan orang-orang kaya?

Belajarlah dari pengalaman tahun 2005: Sampai dengan 31 Desember 2005, nilai SU-002 dan SU-004 setelah diindeks dengan inflasi telah meningkat menjadi masing-masing sebesar Rp31,23 triliun (naik ±56% dari nilai nominal awal) dan Rp80,48 triliun (naik ±50% dari nilai nominal awal) akibat inflasi yang tidak terkendali pada beberapa tahun sebelumnya. Sedangkan tunggakan bunga sampai dengan 31 Desember 2005 telah mencapai Rp16,9 triliun, dengan rincian tunggakan bunga untuk SU-002 sebesar Rp4,6 triliun dan tunggakan bunga untuk SU-004 sebesar Rp12,3 triliun.

Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359 menyebutkan: Tingkat suku bunga yang dijadikan dasar dalam asumsi APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 Bulan. Perubahan tingkat suku bunga SBI 3 bulan hanya akan berdampak pada sisi belanja negara. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku bunga SBI 3 bulan akan berakibat pada peningkatan belanja pembayaran bunga utang domestik. Untuk tahun 2007, apabila tingkat suku bunga SBI 3 bulan lebih tinggi 1 persen dari yang diasumsikan, maka defisit APBN akan meningkat sekitar Rp1,6 triliun sampai dengan Rp2 triliun sebagai akibat peningkatan belanja pembayaran bunga utang.

Adakah orang miskin yang membeli surat utang negara? Adakah tukang ojek, supir angkot, hingga penjual sayuran di pasar tradisional memilki surat utang negara? Bukankah hanya orang-orang kayalah yang mampu membelinya?

Jangan pernah dilupakan, kenaikan harga BBM telah membuat jumlah orang miskin di Indonesia semakin meningkat. Dalam Suara Islam Edisi 44 disebutkan pada tahun 2005 jumlah orang miskin 31,1 juta jiwa, di tahun 2006 kemudian meningkat menjadi 39,3 juta jiwa. Inipun masih menggunakan standar Indonesia bahwa orang miskin adalah orang yang pendapatan perharinya kurang dari 0,6 dollar perhari. Belum bila menggunakan versi Bank Dunia sebesar 2 dollar perhari. Bisakah Anda bayangkan menghidupi diri dan keluarga perhari dengan sejumlah uang 4800 perak?

Ketiga, lalu untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Mungkin ini terlalu menduga-duga. Mengapa pemerintah menaikkan harga BBM hingga mendekati (dan nantinya akan sama dengan harga internasional)? Bukankah pemerintah hanya menjual kepada rakyat sendiri. Tidak perlu dijual dengan harga 77 dollar perbarel, sedang biaya produksi minyak kita hanya 10 dollar perbarel (tentu harus dengan ditambah kompensasi impor minyak), pemerintah telah untung?

Kalaupun pendapatan per kapita kita sebesar warga AS yang sebesar Rp 37 870, tentulah tidak mengapa untuk menaikkan harga bensin hingga Rp 8464 seperti di AS. Namun, pendapatan perkapita kita hanya Rp 810 dan bensin dijual dengan harga Rp 4500 (tahun 2005). Kita mungkin tidak tahu bahwa di Iran harga bensin sebesar Rp 828 perliter dengan GNP per kapita sebesar Rp 2010 (tahun 2005). Atau seperti di Malaysia dengan GNP perkapita sebesar Rp 3880 dan harga bensin sebesar Rp 4876 (tahun 2005). Akankah kita harus mengikuti harga internasional sana di tengah keadaan kita yang seperti ini?

Saya (dan kita) menjadi sangat cemas bila alasan kenaikan harga BBM benar-benar untuk liberalisasi di sektor hilir migas. Bukan tidak mungkin nantinya pemerintah akan menaikkan harga BBM lagi bila beralasan dengan ini.

Di dekat kampus, Bintaro Sektor 9, bahkan tidak lebih dari 58 kali kayuhan sepeda dari SPBU Pertamina, baru mulai dibangun SPBU Petronas (Malaysia). Letaknya berdekatan. SPBU-SPBU asing lainpun telah banyak yang bermunculan, bak cendawan di musim hujan.

Saya dulu sempat tidak habis pikir dengan manajemen SPBU-SPBU asing, termasuk juga Shell (Belanda), yang menjual minyak jauh lebih tinggi dari harga premium di SPBU Pertamina. Mereka memang tidak menjual Premium, namun menjual minyak sekelas Pertamax dengan harga Pertamax pula. Saya jadi curiga bahwa manajernya baru saja patah hati hingga tidak bisa berpikir jernih; bagaimana mungkin barangnya laku bila harganya jauh lebih mahal dari Pertamina? SPBU-SPBU asing lebih sering terlihat kosong, kontras dengan bangunannya yang megah, terang benderang, terdiri dari belasan pompa, dan lengkap dengan minimarket mewah. Namun dugaan saya salah, itulah hebatnya orang asing, Kawan. Bahkan keputusan apa yang akan dikeluarkan oleh presiden sebuah negeri mampu diramalkannya.

Tengoklah perkataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro: ‘Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Kompas, 14 Mei 2003).

Jadi untuk mengundang para perusahaan asing untuk bermain di sektor hilir, pemerintah harus menyamakan harga BBM bersubsidi dengan harga internasional. Alasan liberalisasi migas ini sungguh sangat sulit dipahami. Sedang kita semua tahu, 84% minyak Indonesia di sektor hulu dikuasai oleh asing, dan sisanya berupa sumur-sumur tua yang dikelola Pertamina (Media Indonesia, 3 Juni 2008). Entah bagaimana nasib Pertamina, setelah sektor hulu didominasi asing, sektor hilirpun demikian pula nasibnya nanti. Kita tidak yakin Pertamina akan menang dalam persaingan ini. Perusahaan minyak kebanggaan rakyat Indonesia ini pasti kalah. SPBU Petronas, SPBU Shell dan puluhan perusahaan minyak asing lain terlalu megah untuk dilawan. Melihat hal ini, saya jadi takut bila kabar burung yang mengatakan bahwa negeri ini sedang dijual ke pihak asing adalah benar adanya.

You can fool some people sometimes,
But you cant fool all the people all the time.
So now we see the light (what you gonna do? ),
We gonna stand up for our rights! (yeah, yeah, yeah!)

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Sampai sekarang, saya masih tidak mengerti mengapa pemerintah kita mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Terlalu gelap. Namun, tolong luruskan dan cerahkan atas kesalahan saya dalam mengambil argumen orang dan berpendapat sekenanya terlalu parah, serta terlalu jauh dari sifat ilmiah. Wallahu a’lam.

Kalimongso 00.30 am, 1 Juni 2008
”Sudah uzur begini, gigi geraham saya malah baru ada yang mau tumbuh. Rasanya sungguh tidak nyaman”

Muhammad Yunus dan Grameen Bank

”Beri tepuk tangan untuk kawan kita, teladan perjuangan melawan kemiskinan”

—Hugo Chavez, Presiden Venezuela

Sosoknya kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Siapa Muhammad Yunus? Kecuali para akademisi dan aktivis sosial, tidak banyak yang mengenalnya. Namanya mulai terdengar di kalangan lebih luas ketika beliau dan Grameen Bank menerima Hadiah Nobel Perdamaian tanggal 13 Oktober 2006 silam. Terlebih dengan terbitnya buku beliau bulan April 2007 lalu di Indonesia yang berjudul Bank Kaum Miskin: Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan, yang sesungguhnya telah terbit 10 tahun lalu di Perancis dengan judul Vers un monde sans pauvrete. Sejak terbitnya buku ini, nama Muhammad Yunus semakin dikenal.

Dia tidak ada hubungannya dengan Yus Yunus, penyanyi dan pencipta lagu dangdut kawakan itu. Juga tidak ada hubungan darah dengan Hedy Yunus. Dia adalah seorang profesor ekonomi kebanggaan Bangladesh, akademisi sekaligus sebagai praktisi, juga menjadi aktivis kemerdekaan Bangladesh. Muhammad Yunus adalah perintis dan pendiri Grameen Bank, bank yang memberi kredit kepada kaum miskin dan sebagian besar adalah perempuan. Sekarang ini, dengan penerapan, adaptasi, dan modifikasinya di berbagai negara, bank ini telah menjadi lambang keberdayaan kaum miskin di Bangladesh, juga pada lebih dari 100 negara di 5 benua.

Yunus lahir di tengah-tengah keluarga sederhana di kawasan perajin perhiasan, di jantung kawasan niaga lama di Chittagong, kota pelabuhan terbesar di Bangladesh. Ayahnya, Dula Mia, adalah seorang pria muslim yang taat, halus perasaannya namun ketat mengenai jadwal belajar anak-anaknya. Ibunya, Sofia Khatun adalah seorang wanita yang keras dan tegas dalam menegakkan disiplin dalam keluarga. Namun dibalik ketegasannya itu, Sofia Khatun memiliki rasa iba yang tinggi, baik hati dan tak pernah merasa keberatan untuk memberikan uang kepada kerabat miskin yang datang mengunjungi keluarga. Perhatian Sofia Khatun terhadap kaum miskin dan tidak beruntung menjadi pertimbangan yang kuat bagi Yunus untuk memilih ilmu ekonomi dan berminat besar pada perubahan sosial.

Pada umur 21 tahun, yang merupakan tahun kelulusannya di Universitas Chittagong, Muhammad Yunus langsung ditawari sebagai dosen pengajar di almamaternya. Sembari menjadi pengajar, Yunus muda mulai melirik dunia bisnis, belajar dari sang ayah yang menjadi perajin dan pedagang ornamen permata. Pabrik bahan pengepakan dan percetakan denga 100 orang pekerja adalah usaha yang dirintisnya pertama kali, dengan ayahnya sebagai komisaris utama. Usahanya sukses dengan keuntungan tahunan yang menggembirakan.

Tahun 1965, di usianya yang ke-26, Yunus mendapatkan beasiswa Fullbright untuk belajar di University of Colorado dan mendapatkan gelar Ph.D-nya di sana, kemudian mengajar di Middle Tennessee State University. Pada tahun 1971, dari siaran radio, Yunus mengetahui bahwa tentara Pakistan telah bergerak masuk ke wilayah Bangladesh dan memblokir semua oposisi. Sejak itu, Yunus yang di masa kecilnya menyaksikan perjuangan kemerdekaan Pakistan dari India, kemudian menjadi aktivis untuk kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan dan mempunyai peran penting atas kemerdekaan negeri tersebut.

Tahun 1972, Yunus kembali ke Chittagong dan menjadi dekan di fakultas ekonomi Universitas Chittagong. Universitas-universitas di Bangladesh saat itu dibangun sejauh mungkin dari pusat kota atas perintah Marsekal Muda Ayub Khan, presiden Bangladesh, untuk menghindari pembangkangan mahasiswa terhadap pemerintah. Demikian juga Universitas Chitagong yang dibangun di perbukitan tandus dan bersebelahan dengan Jobra, sebuah desa miskin yang kemudian menginspirasi Yunus.

Tahun 1974, Bangladesh mengalami bencana kelaparan. Orang-orang sekurus tengkorak mulai bermunculan di ibukota Dhaka, di stasiun-stasiun kereta api dan di terminal-terminal, dan segera memenuhi ibukota. Begitu parahnya, sehingga ketika mereka duduk terdiam, amat sulit untuk membedakan mereka masih hidup atau sudah mati. Semuanya kelihatan mirip: orang tua terlihat seperti anak-anak, dan anak-anak terlihat seperti orang tua. Merasa tidak bisa tenang dan tidak berbuat apa-apa atas bencana tersebut, Yunus segera bertemu Abu Fazal, seorang pemerhati sosial, untuk membuat seruan kepada seluruh kampus dan tokoh-tokoh nasional untuk melawan kelaparan. Selesai dengan itu, Yunus segera mefokuskan perhatiannya di bidang pangan: pertanian.

Yunus menjalankan sistem bagi hasil yang disebutnya Pertanian Tiga Pihak di desa Jobra. Yunus berandil pada biaya bahan bakar pompa artesis, bibit tanaman unggul, pupuk, insektisida, dan pengetahuan teknis. Pihak kedua buruh tani menyumbangkan tenaganya dan pihak ketiga pemilik lahan. Walaupun sangat sulit meyakinkan semua pihak, dan Yunus sendiri merugi 13.000 taka, program ini berhasil. Untuk pertama kalinya, padi-padi berdiri tegak bagaikan permadani hijau di musim kemarau.

Yunus segera menyadari akan keberadaan pekerja perempuan yang tugasnya mengirik gabah dari batangya. Hanya demi 40 sen dolar, perempuan-perempuan itu memanfatkan bobot tubuh dan gerakan kaki tanpa alas untuk mengirik padi selama 10 jam sehari! Kaum perempuan itu banyak yang janda karena suaminya meninggal, cerai dan ditinggal pergi begitu saja dengan meninggalkan banyak anak. Mereka bahkan terlalu miskin sebagai butuh tani. Program Pertanian Tiga Pihak menyisakan kenyataan bahwa pemilik lahan yang berlahan luas semakin kaya dan kamu buruh yang miskin semakin miskin.

Yunus tidak setuju bahwa orang miskin itu pemalas dan tidak punya keahlian. Dia percaya bahwa orang miskin hanya tidak memiliki kesempatan. Yunus seringkali berjalan-jalan mengelilingi desa dan mencoba untuk lebih dekat dengan kaum miskin desa. Suatu kesempatan dia dia terperanjat atas kenyataan seorang perempuan desa meminjam 5 taka (22 sen dolar) untuk membeli bahan baku membuat bangku dari anyaman bambu dan harus menjualnya kepada rentenir seharga 5 taka 50 poysha. Keuntungannya hanya 50 poysha dan itu setara 2 sen dollar! (coba kita renungi kawan, ini sama halnya menjadikan perempuan itu sebagai budak! Di antara kita pasti tak ada yang merasa kesusahan hanya karena ketiadaan uang senilai 22 sen dollar).

Kemudian Yunus membuat daftar para korban rentenir. Jumlahnya 42 orang dengan total pinjaman 27 dollar dan dikeluarkannya dari kantungnya sendiri untuk membayar 27 dollar ini kepada rentenir. Orang-orang yang dibantu hanya dengan 27 dollar sangat gembira. Dari sinilah lahir ide untuk membuat suatu bank untuk kaum miskin; Bank Grameen (Grameen artinya pedesaan).

Yunus kemudian membicarakan mengenai kredit untuk kaum miskin kepada manajer bank di samping universitas. Usulnya tidak disetujui karena kaum miskin dianggap tidak layak menerima kredit, bahkan keuntungannya pun tidak mampu menutupi biaya administrasi. Yunus mengajukan diri sebagai penjamin kredit. Usulnya disetujui. Suatu hal yang menggembirakan, orang-orang miskin itu membayar pinjamannya tepat waktu. Bagi kaum miskin, kredit itulah menjadi kesempatan untuk mengubah keadaan, dan tidak membayar pinjaman sama halnya untuk tidak mendapat pinjaman selanjutnya. Inilah letak jaminan yang sesungguhnya.

Tahun 1983, Bank Gramenn berhasil berdiri. Penggeraknya adalah mahasiswa-mahasiswi Yunus yang sejak awal telah menjadi sukarelawan. Bagi para mahasiswa-mahasiswi tersebut, menjadi pegawai Bank Grameen adalah menjadi petualang, mereka menjadi biasa jalan berkilo-kilo meter untuk menemui nasabah dan berusaha meyakinkan kaum miskin, khususnya perempuan, untuk meminjam uang dengan bunga yang amat kecil sebagai modal kerja; suatu hal yang sangat baru bagi perempuan Bangladesh saat itu.

 

Banyak tantangan yang dilalui sejak Grameen berdiri. Banjir besar yang melanda

1981, 1985, 1987, dan terutama 1988 yang menimbulkan korban 150 ribu jiwa, juga bencana tornado yang melanda distrik Manikganj 1989. Bencana-bencana ini sangat berpengaruh terhadap kepercayaan diri para peminjam. Untuk itu, para pegawai bank segera manjadi sukarelawan, menyelamatkan orang sebanyak mungkin, menyiapkan tempat perlingdungan, obat, dan makanan. Menyiapkan bibit cadangan untuk ditanam, uang tunai untuk membeli ternak baru dan bentuk pinjaman bencana lainnya.

Pro-kontra mewarnai perkembangan Bank Grameen. Kaum Kiri menuduh Yunus bahwa Grameen konspirasi Amerika untuk menanamkan kapitalisme di antara kaum miskin dan bahwa tujuan riil Grameen adalah menghancurkan setiap harapan bagi sebuah evolusi dengan menghilangkan keputusasaan dan kemaraah kaum melarat. Di Sisi Kanan, ulama konservatif menyatakan bahawa Grameen menghancurkan budaya dan agama.

Apapun kontroversi itu, tahun 2006, Grameen telah mengucurkan pinjaman kredit ke hampir 7 juta orang miskin di 73.000 desa Bangladesh, 97 persen adalah kaum perempuan. Grameen memberikan kredit bebas agunan untuk mata pencaharian, perumahan, sekolah, dana pensiun, asuransi, dan usaha mikro untuk keluarga-keluarga miskin. Sejak diperkenalkan 1984, KPR telah dipakai untuk membangun 640.000 rumah. Secara kumulatif, kredit yang diberikan mencapai angka 6 milyar dollar. Tingkat pengembalian 99 persen. Dan yang lebih membanggakan, Grameen sejak 1995 telah mandiri secara finasial dan tidak lagi mengandalkan donor.

Yunus juga menitik beratkan pada pendidikan, dengan 30.000 beasiswa tiap tahunnya. Terdapat kredit perkuliahan dengan 13.000 mahasiswa yang telah menerima kredit tersebut. Beberapa di antaranya telah bergelar Ph.D dan banyak lagi yang menapaki jenjang pendidikan tinggi; menjadi dokter, insinyur, dosen dan profesi-profesi lain.

Grameen telah melampui kredit mikro, Grameen telah mengembangkan sayap ke bidang-bidang lain. Fisheries Foundation yang nir-laba di bidang perikanan, Grameen Uddog (juga nirlaba) sebagai penghubung penenun tradisional terhadap pasar ekspor, kemudian operator telekomunikasi: GrameenPhone (yang untuk mencari laba. Hasil patungan Telenor Norwegia dan Grameen Telecom) dan Grameen Telecom (nir-laba). Yang menarik adalah Grameen Telecom yang membeli airtime dari GrameenPhone, di mana ibu-ibu di desa menjadi ”ibu-ibu ponsel” (telephone lady) dengan menjual jasa yang namanya ”telpon desa berbayar”, hingga menghubungkan desa ke dunia luar dan memenuhi kebutuhan IT bagi penduduk desa.

Yunus dan Grameen Bank bukanlah pilihan yang salah untuk diberikan Hadiah Nobel Perdamaian. Terlepas dari pro-kontra metodenya, Yunus dan Grameen telah membuktikan andil mereka dalam memberantas kemiskinan dan membuka mata seluruh dunia bahwa kemiskinan bukan mustahil untuk dilawan. Kapan giliran orang Indonesia?

Sumber: Bank Kaum Miskin: Kisah Yunus dan Grameen Bank Memerangi Kemiskinan, 2007, Marjin Kiri