Bukittinggi: Perjalanan ke Sana

Cuti bersama di akhir tahun ini adalah saatnya menggalau untuk para perantau yang jauh dari rumah. Misalnya saya. Apakah pulang ke rumah atau di Palembang? Kalau pulang, kalau tidak pas lebaran seperti ada yang kurang. Kalau tidak pulang, sayang juga waktunya bila dihabiskan di Palembang saja. Mungkin ada pilihan yang lain. Oke, bagaimana bila kita menyingkirkan Dompu dan Palembang dari nominasi?

Saya sebenarnya ingin ke Jogjakarta, ke tempat abang saya. Tapi, di musim liburan, tiket pesawat sedang langka-langkanya, dan abang saya tentu sibuk dengan pekerjaannya. Saya ingin ke nikahnya Welly, tapi acaranya pas sekali di hari terakhir tugas kantor, jadi tidak bisa. Saya juga ingin naik Dempo, tapi tidak ada teman dan tenda sedang dipakai Bramus dan Asig ke Gunung Kerinci. Saya ingin ikut ke Kerinci, tapi saat mereka berangkat, tugas dari kantor baru selesai hari Sabtu. Manusia memang banyak sekali keinginannya.

Akhirnya saya memutuskan ke Bukittinggi, pilihan satu-satunya, saran dari abang saya juga; karena letaknya yang tidak begitu jauh dan nilainya untuk dikunjungi. Bukittinggi tidak begitu jauh dari Palembang, hanya sekitar 20 jam perjalanan naik bus. Sejak dulu, saya ingin sekali barkunjung ke kota itu. Kota yang sering sekali disebut dalam buku-buku sejarah. Tempat lahirnya tokoh-tokoh nasional: Moh. Hatta (akan sulit bila tidak kagum dengan tokoh ini), Agus Salim, Tulis Sutan Sati, Petrus Kanisius Ojong, dan lainnya. Kota yang cantik, tempat berdirinya Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, dan banyak bangunan tua lainnya, yang harmoni dengan bangunan tradisional Minang. Kota yang sejuk, berdiri tinggi di tepi Ngarai Sianok.

Jadi, di pagi Minggu (23/12), saya ke agen Bus Yoanda Prima, sesuai dengan saran Mbak Rina, teman sekantor yang orang Bukittinggi. Masih ada tiket yang tersisa, tentu saja kelas ekonomi non AC, karena banyak yang ke Bukittinggi karena musim liburan. Itu juga di deretan paling belakang. Tapi tidak ada pilihan lain, karena hari Senin pun kondisinya sama. Lagipula, sepertinya kurang afdol ya, kalau saya naik bus tidak di kursi paling belakang. Hehe.

Sekitar jam 12.45, saya kembali ke agen bus itu, sudah siap dengan ransel dan tas selempang. Serius sekali kelihatannya. Padahal, bus tidak jadi berangkat jam 13.00, karena ada sedikit kerusakan, molor dua jam lamanya. Okesip, bagus sekali kedengarannya.

Jam 15.30, bus mulai berangkat. Magrib, bus sudah tiba di sekitar Musi Rawas, dan pengemudi bus mengingatkan untuk salat magrib dulu. Salatlah kami serombongan bus, di sebuah masjid tepi jalan. Dan di sinilah, sendal saya hilang. Sial. Sedang di perjalanan begini, ada-ada saja kejadiannya. Jadilah saya menyeker di atas bus, dan baru membeli sendal jepit skyway di tempat pemberhentian makan malam. Sendal skyway itu masih saya pakai sekarang ini.

Oh ya, besok saya lanjutkan lagi tulisan ini. Pasalnya, penjaga warnet di sini bilang: “Bang, mau tutuik”. Artinya mau tutup kan warnetnya.

Oke.

Bukittinggi, 24 Desember 2012. Di sebuah warnet yang nyaman.

“Sudah ditutup nih setengah pintunya :D”

Advertisements

Sungai Ogan

Urat nadi kehidupan

Di sepanjang dia berpeluh mengalir

Untuk siapapun yang lahir, berbunga, berlari

tersenyum, ditiup angin

 

Duku, durian, karet, kopi, kelapa sawit

Daun-daunnya hijau tua dan hijau muda

Mengkilap seperti lukisan cat minyak

Sehabis hujan dan matahari bersinar di sisa senja

 

Ikan bermacam nama dan gemuk-gemuk

Juga ternak kambing, sapi, dan kerbau

Betapa subur tanah ini

Di Baturaja dan sekitarnya

Baturaja, 18 Desember 2012, 00:07 WIB

โ€œHari-hari terakhir kembali ke Palembang. Hai, Palembang, jangan cemburu, saya sepertinya mulai betah di Baturaja ๐Ÿ™‚โ€

Pemandangan sepotong Kota Baturaja dari lantai 3. Asap dan cerobong asap dikejauhan itu adalah kepunyaan pabrik Semen Baturaja. (di-sket saat pertama kali ke Baturaja, 2011 silam)

Pemandangan sepotong Kota Baturaja dari lantai 3. Asap dan cerobong asap dikejauhan itu adalah kepunyaan pabrik Semen Baturaja. (di-sket saat pertama kali ke Baturaja, 2011 silam)