Film Laskar Pelangi

“Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” (Pak Harfan, Laskar Pelangi)

Bila boleh memberi pendapat tentang film Laskar Pelangi, bisalah diwakili dengan satu kata, ditambah satu tanda seru: bagus! Film garapan Riri Riza (sutradara) dan Mira Lesmana (produser) ini tidaklah mengecewakan; setidaknya menurut saya dan kawan-kawan yang menonton tadi malam. Saya rasa, penonton dan pembaca novel Laskar Pelangi yang lainpun berpendapat demikian. Penonton dapat dibuat tertawa saat melihat tingkah polah tokoh-tokohnya yang kocak, dan terdiam ketika menyaksikan kesedihan dan kata-kata bijak di sana.

Settingnya mengambil suasana Belitong di tahun 1974, 1979, dan 1999. Suasananya benar-benar dibikin retro; mobil-mobil dan truk keluaran jaman itu, dandanan ala orang-orang jaman itu, bahkan lagu latarnya ada yang diambil dari lagunya Rhoma Irama jaman itu. Kita bisa melihat suasana pertambangan timah yang sedang jaya-jayanya, dengan mesin-mesin besar, material tambang yang menggunung, anak-anak Laskar Pelangi yang bekerja sambilan sebagai buruh tambang, dan plang tulisan—tentu saja—Dilarang Masuk Bagi Yang Tidak Memiliki Hak. Juga suasana PN Timah setelah kolaps, dengan mobil-mobil yang teronggok berkarat, dan gedung-gedung yang tertinggal reruntuhannya saja.

Satu hal yang tidak hilang dan menjadi ciri khas novelnya, adalah kekuatan bahasa dan dialog para tokohnya. Misalnya, di awal-awal, kita dibuat tertawa saat Kucai—sang ketua kelas tak tergantikan—mengadu kepada Ibu Muslimah, “Ibunda Guru, bagaimanalah aku bisa bertahan? Kelakuan anak-anak tu macam setan!” Atau ketika Pak Harfan bercerita tentang perahu Nabi Nuh, Ikal berbisik kepada Samson, “Bila kau tak rajin sholat, baiknya kau pintar-pintar berenang. Tidak berguna kau punya otot besar macam tu”.

Bila melihat anak-anak Laskar Pelangi, tokoh yang paling kocak tentu saja si Mahar. Tingkah polah dan gaya bicaranya yang bebas dan sok dewasa membuat dia menonjol dibanding tokoh-tokoh lain. “Mungkin Tuk Bayan Tula bisa membantu masalahmu… Masalahmu dan A Ling…”, ajakannya ini membuat Ikal tidak kuasa menolak untuk bertemu dengan seorang dukun di pulau terpencil itu. Tapi, selain Mahar, tokoh yang lainpun cukup hidup–kecuali Trapani dan Syahdan yang nyaris sebagai pemeran figuran. Lintang yang pikirannya begitu matang di usianya yang masih sangat muda. Flo yang baik hati namun menggemari kebathinan. Harun yang memberi warna tersendiri, yang kadang menenangkan kawan-kawannya. A Kiong yang bertampang lucu. Serta Ikal sendiri, yang hatinya berbunga-bunga tak terkira saat melihat wajah A Ling pertama kali.

Tokoh lain, Pak Harfan dan Ibu Muslimah, benar-benar luar biasa. Kedua pejuang ini mengabdikan hidupnya untuk pendidikan yang tentu saja tidak memberikan keuntungan materi kepada mereka. Pak Harfan yang berprinsip bahwa sekolahnya bukanlah sekolah yang menjadikan pendidikan agama sebagai pelajaran tambahan; karena pelajaran agama adalah yang utama. Bahwa kecerdasan murid tidaklah diukur dengan materi dan angka-angka semata. Bahwa kecerdasan itu sesungguhnya ada di hati. Juga Ibu Muslimah yang keihklasannya patutlah menjadi tauladan, “Aku bercita-cita menjadi guru. Bukan menjadi istri seorang saudagar”.

Secara keseluruhan, film ini bagus dan cocok masuk ke dalam daftar yang layak ditonton. Ada tentang perjuangan guru-guru luar biasa yang tidak mengajarkan materi melainkan dengan hati, ada tentang semangat dan persaudaraan anak-anak miskin Belitong, ada tentang pendidikan, cinta, bahkan tentang ketimpangan sosial dan eksploitasi alam. Bila selama ini semangat sedang menurun dan harapan begitu samar, baiknya kita menyimak perkataan Ikal saat kembali bertemu Lintang, “Aku ke sini ingin berterima kasih kepada kalian semua. Aku akan ke Sorbonne!”

Posko Stapala, Jumat 26 September 2008, 15:34
“Menonton bareng Laskar Pelangi Pendaki: Pak Dosko, Kadal, Udik, Gobog, Uhe, Mas Tompy dan Mbak Endah (ini suami-istri yang inspiratif) cukup menghibur diri yang terpaksa tidak mudik karena kampung halaman yang kejauhan…”

Advertisements

17 Agustus 2008: Kita Belumlah Merdeka 100%

jenderal sudirman

Patung Jenderal Soedirman; Siapakah yang diberi hormat?

Turunkan tanganmu Jenderal!

Siapa yang kau beri hormat, Jenderal?

Turunkan tanganmu Jenderal!

(Nagabonar, dalam Nagabonar Jadi 2)

Berdirilah di ujung belokan halte busway Dukuh Atas; tepat segaris di belakang patung Jenderal Sudirman. Di posisi itu, bisalah kita merasakan sudut pandang patung Sang Jenderal, seandainya patung itu makhluk hidup dan bisa melihat. Tapi, ada yang aneh di sana. Kepada siapakah Panglima Besar itu memberi hormat? Kepada gedung-gedung tinggi menjulang dan orang-orang yang ada di dalamnya? Kepada kendaraan yang berlalu lalang, juga orang-orang yang ada di dalamnya? Termasuk kita yang kebetulan lewat di depannya?

Seorang kawan pernah menulis tentang perkataan temannya,”Kau lihat gedung-gedung itu? Di atas sana ada orang yang penghasilannya dua ratus juta perhari, di bawah sini banyak orang-orang yang dua puluh ribu saja perhari susahnya bukan main”. Saya setuju dan terkesan dengan kata-kata itu. Bukan karena bersikap anti terhadap gedung-gedung tinggi menjulang, yang seperti melambangkan kedigdayaan kapitalisme. Bukan pula iri karena bukan termasuk orang-orang yang ada di atas sana. Tapi karena, mengapa jurang antara yang kaya dan miskin begitu dalam, bahkan di antara tempat yang tidaklah jauh-jauh jaraknya?

Enampuluh tiga tahun kita merdeka dari peluru, tank, pedang samurai, dan pesawat tempur. Sekarang, semuapun tahu, giliran kemiskinan, kebodohan, dan kemalasan, menjajah negeri ini. Banyak pula ekonom, politikus, aktivis, akademisi, wartawan, dan lain-lain rupa profesi yang berpendapat bahwa penjajah negeri kita yang lamapun tetap menjajah negeri ini. Bukan dengan mitraliur, tank, atau pesawat tempur; tapi dengan kuku-kuku kekuatan ekonomi yang mampu mengendalikan negeri ini manasuka mereka.

Bila para tokoh negeri, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, atau mantan pejuang merasa jiwa menghargai kemerdekaan negeri ini semakin menurun; tentulah bukan salah siapa-siapa. Bukan karena tidak menghargai kemerdekaan. Atau tidak menghargai jasa-jasa pejuang kemerdekaan. Tapi mungkin karena; sampai sekarang rakyat kita masih belum merasa merdeka seutuhnya. Belumlah Merdeka 100%. Karena merasa belum merdeka sepenuhnya (dari kemiskinan, kebodohan, kemalasan dan cengkraman asing yang menguasai sektor ekonomi negeri ini); jadilah peringatan kemerdekaan seperti angin lalu saja.

Kamis, 14 Agustus 2008 (Tiga hari menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia)

”Bila kemerdekaan telah digenggam sepenuhnya; tanpa diminta pun, rakyat akan memasang panji merah-putih di mana-mana. Bahkan mungkin sampai di dalam dompet mereka; bersanding dengan foto kekasih hati. Tapi lihatlah sekarang; begitu tinggi semangat rakyat ini dengan peringatan kemerdekaan ini. Mungkin patutlah kita semua bersyukur; karena masih ada harapan di hati mereka akan kemerdekaan negeri ini yang sebenar-benarnya”

23 Juli: Hari Anak Nasional, Bukan? (bagian pertama)

Ini cerita setahun yang lalu. Seorang kawan baik baru saja pulang dari Bukit Sentul, Bogor. Sehabis cari duren katanya. Duren? Mungkin benar dia baru saja mencari duren, di tivi-tivi juga diberitakan Presiden SBY berwisata sejenak menikmati kekhasan rasa durian Bogor. Beberapa saat kemudian, saya sadar kalau dia hanya bercanda *ah, kapan dia serius?*.

Ternyata duren yang dia maksud adalah ”kupu-kupu malam”–yang dia pun tidak menyangka awalnya, hingga akhirnya diberitahu oleh supir angkot di sana.

Cantik-cantik, Ois. Saya rasa mereka masih seumuran anak SMP”.

Kenapa nggak diajak jalan-jalan? Satu saja. Daripada jomblo begini terus…”

Eh, kamu kira saya orang apaan?”, detik itu tawa kami meledak bersamaan.

Kasihan…”

”Ya, kasihan…”

”Malam begini, harusnya mereka sibuk dengan PR sekolah…”

Saya, walaupun tidak dan belumlah pantas masuk ke dalam golongan manusia baik dan mulia, tentulah punya sedikit rasa sedih. Demikian pula kawan saya, tentu rasa simpatinya tidaklah kecil mengenai hal ini. Kami berdua sama-sama punya adik perempuan. Bahkan, saya tahu betul, kawan saya ini begitu sayang dengan kedua adiknya. Kenyataan memiriskan hati bahwa anak-anak perempuan telah dijadikan barang dagangan menimbulkan rasa cemas di hati.

Jagapu ari siwemu re…”, katanya dengan tampang terbijak yang pernah saya lihat. Jagalah adik perempuanmu, artinya.

Ah, itu hanya satu potret anak-anak di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang makmur, hingga orang tua tega menjual anaknya. Negeri yang sentosa, hingga sejak kecil, anak-anak perempuan didoktrin untuk tidak takut menjadi PSK. Negeri yang damai, hingga tidak ada yang berani mengganggu gugat atas kekeliruan akibat lingkaran setan kemiskinan ini. Negeri yang beradab, hingga laki-laki pun sesuka hati menghianati kesetiaan kepada agama dan keluarga.

Ayo kita teriak tentang komersialisasi anak-anak perempuan dan saya yakin mulut ini akan terbungkam saat melihat mereka berdiri-berderet di pinggir jalan. Dengan make up tebal dan lipstick merah menyala. Dengan lambaian tangan kepada laki-laki yang membuat remaja-remaja berumur belasan ini semakin terjebak dan tidak terbebaskan. Dengan tekanan kemiskinan yang memaksa mereka pulang dengan sejumlah uang di tangan. Apa yang bisa kita lakukan? Ingat, mereka tidak bisa disalahkan, Kawan.

Semoga kita bersama menyadarinya. Agar segera menyelamatkan tiang-tiang negara ini. Menyelamatkan kuntum-kuntum mawar negeri ini. Menyelamatkan pucuk-pucuk melati bangsa ini. Bagaimana caranya? Jujur, saya sendiri tidak mengetahuinya.

Kalimongso, Ahad, 21 Juli 2008
Saya hanya pernah melihat di sepanjang Jalan Raya Parung dan Cikarang. Ah, saudariku, belilah sebuah belati. Untuk menjaga diri dari laki-laki yang menghampirimu. Agar tidak ada lagi yang datang. Agar tidak lagi membuat wajahmu pucat karena terus begadang. Tidakkah bangku sekolah merayumu? Ah, aku tahu, biaya sekolah begitu mahal, ya aku tahu. Bahkan untuk menghidupi dirimu, keluargamu–khususnya saudara laki-lakimu yang pemalas itu–adalah sangat berat untukmu.

Antara Kopaja 613 dan D 09

deretan angkot D 09 yang mogok beroperasi

Di seberang: deretan angkot D 09 yang mogok beroperasi

“…Early in life, I had learned that if you want something, you had better make some noise”

(Malcolm X)

Entah ada angin apa yang berhembus di Sabtu siang itu; kelakuan supir angkot D09 sedikit berbeda. Sombongnya bukan main. Biasanya dengan isyarat alis saja, supirnya pasti langsung berhenti untuk mengangkut penumpang. Namun, hari itu lain dari biasanya. Beberapa angkot malah lewat begitu saja dan banyak yang menutup pintu tengahnya rapat-rapat. Ada apa ini? Mungkin angkot-angkot itu telah dicarter untuk mengangkut undangan nikahan tetangga sebelah; yang malam sebelumnya memasang layar tancap film India?

Ternyata dugaan saya itu meleset jauh sekali. Sopir angkot D 09 sedang menggelar aksi menolak masuknya Kopaja 613 pada trayek mereka. Seorang kawan mengatakan aksinya berpusat di depan Bintaro Plasa, kira-kira 700 meter dari tempat saya melambai-lambaikan tangan tanpa hasil untuk menyetop sebuah angkot. Hari itu siang begitu panas, hawa udaranya sungguh tidak enak. Panasnya seperti berada di ladang huma yang maranggas karena ganasnya musim kemarau di Pulau Sumbawa, walaupun tentu saja hawa udara di sana lebih segar terasa.

Di antara Kopaja 613 dan angot D 09 memang terjadi konflik mengenai masalah pembagian trayek. Supir D 09 menganggap hadirnya (lagi) Kopaja 613 dalam trayek mereka akan mengurangi pendapatan sehari-hari mereka. Sedang Kopaja yakin bahwa mereka tidak mengambil hak D 09 karena mereka terlebih dahulu melalui trayek itu sebelum D 09 ada; walaupun kemudian Kopaja 613 sempat mengalah. Kopaja memang sempat dilarang untuk masuk sampai ke Sektor 9 Bintaro sekitar pertengahan 2007 yang lalu dan sekarang dibolehkan kembali untuk beroperasi pada trayek tersebut.

Saya sebagai konsumen akan setuju bila Kopaja 613 diijinkan masuk lagi. Kalau diijinkan, biaya transportasi– misalnya ke Blok M–pasti lebih murah. Tidak perlu naik dua kali; tidak harus ke Sektor 2 dengan D 09 dan menunggu lama-lama sampai Kopaja 613 yang ngetem di sana bergerak lambat-lambat. Cukup langsung naik Kopaja saja, langsung di depan kampus. Walaupun saya tahu, dari masalah sederhana tentang nama saja, Kopaja jelas tidak sesuai. Kopaja berarti Koperasi Angkutan Jakarta, sedangkan Sektor 9—juga kampus saya—bukanlah lagi wilayah DKI Jakarta.

Namun dukungan saya kepada Kopaja mungkin karena saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang tidak tertulis dalam koran manapun. Seperti dari percakapan dengan seorang bapak di tempat parkir depan Plasa Bintaro.

”Bukannya, Kopaja lebih dulu masuk di sini, Pak?”

”Ya, iya, memang dia lebih dahulu masuk. Tapi inikan trayeknya D 09, trayek mereka (Kopaja) sono tuh, suma sampe Sektor Dua”

”Dari dulu di Sektor Dua?”

“Iya, baru kemarin (tahun-tahun sebelum 2007 maksudnya) Kopaja masuk ke mari”.

Sambil menunjuk deretan angkot D 09 yang berderet melakukan aksi mogok, Bapak itu bilang, ”Yang begini nih yang mesti kita bela. Supirnya orang-orang sini. Supir-supir ini orang-orang susah semua, mobilnya mobil orang atau mobil kredit. Mereka (Kopaja) mah enak, orang perusahaan…”

Benarlah kata bapak itu. Tanpa bermaksud meremehkan kesusahan yang juga dialami supir Kopaja, setoran supir angkot biasanya 75 ribu rupiah kepada pemilik mobil. Kalau mereka ingin membawa sejumlah uang untuk orang di rumah, mereka harus bisa mendapatkan pemasukan di atas 75 ribu, belum termasuk bensin yang juga harus mereka tanggung. Dalam posisi ini, adalah salah untuk diam saja bila merasa ada hak yang harus diteriakkan.

Peraturan orang-orang atas malah membolehkan Kopaja masuk kembali. Sempat membaca di Media Indonesia, seorang pejabat yang berwenang mengatakan bahwa masuknya Kopaja tidak akan mempengaruhi pendapatan D 09. Ah kalau pejabat itu tahu kalau saya pribadi akan memilih naik Kopaja 613 walaupun untuk sekedar ke Bintaro Plasa. Harganya hanya seribu perak saja, atau bahkan bisa tidak bayar karena kondekturnya baru menagih di depan Bintaro Plasa, berbeda dengan angkot yang harus seribu limaratus atau dua ribu perak. Tentulah penumpang lain banyak yang berpikiran sama.

Saya sampaikan ke Bapak tadi perihal apa yang tertulis di koran, bahwa Kopaja diijinkan masuk lagi ke Sektor 9 dan itu tidak menyalahi peraturan. Bapak itu bilang, sambil terkekeh, ”Ah, itu akal-akalan orang koran saja. Koran itu mah sudah dibeli (dibeli, mungkin maksudnya: disogok)”.

Saya tidak menyangkal dugaan Bapak tadi. Saya hanya senyum dan menyengir saja. Pendapatnya mungkin benar, mungkin salah. Mungkin juga bukan korannya saja yang dibeli, tapi orang-orang atas yang mengeluarkan peraturan tersebut juga bisa dibeli.

Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, saya kendarai sepeda motor pinjaman, kembali ke kampus setelah mengambil uang bulanan. Tidak sedikit orang-orang berdiri sepanjang jalan, berharap D 09 kembali mengantar mereka ke tempat tujuan. Ah, Ris, masalah begini kok dijadikan beban pikiran…

Senin, 14 Juli 2008

”Tidak jauh dari deretan angkot, terdapat pecahan kaca berserakan di atas jalan aspal. Sebuah Mitsubishi Kuda yang mengawal sebuah Kopaja dibuat penyok dan dipecahkan kaca-kacanya..”

Kehidupan Sederhana (21 Juni, Baduy Dalam)

Cahaya bulan lembut bersinar,

aku telurusi jalan bebatuan dengan mata nanar

Bintang-bintang saling berkelip,

mencoba menjadi yang paling menarik

Aku temui orang-orang yang sederhana di sini

Orang-orang yang hidupnya dari alam

Lelaki-perempuan sahabat alam

Lelaki-perempuan penopang alam

Aku temui orang-orang sederhana di sini

Lelaki-lelaki kekar berambut panjang,

berikat kepala putih

Perempuan-perempuan perkasa,

dengan keanggunan alami

Aku temui kehidupan sederhana di sini

Kehidupan tanpa hiruk-pikuk nafsu tiada mengenal kecukupan

Kehidupan tanpa noda kerakusan

Kehidupan tanpa polusi

Kunang-kunang terbang di atas aliran sungai,

sinar ajaibnya berpijar

Cendawan-cendawan kecil berfosforus turut menghiasi malam,

sinar hijaunya berpendar,

Malam ini begitu damai, Kawan

M N Juna Putra

Sabtu Malam, 21 Juni 2008, Cibeo, sebuah perkampungan Suku Baduy Dalam

”dalam ketakjuban pada irama hidup yang berharmoni dengan nada-nada alam”

Sudah setahun kawan-kawan Stapala tidak berkujung ke Cibeo, sebuah perkampungan suku Baduy Dalam. Padahal, setahun ini, dua kali kami mendapat kunjungan dari orang-orang sana. Adalah saat yang tepat sekarang, karena kawan-kawan angkatan baru banyak yang belum pernah ke sana, juga termasuk saya. Ini memang pertama kalinya saya ke Kanekes.

Kami bersebelas: Koh Tepi, Udik, Anton, Wira, Refly, Noe, Isma, Gery, Rian, Ernest, Uka, Dyan, dan saya, Dari Stasiun Pondok Ranji Bintaro, kami menaiki kereta ekonomi jurusan Rangkasbitung. Keretanya sungguh bukan main; gelap tidak berlampu, penumpangnya berdesak-desakan, dan sirkulasi udaranya yang tidak manusiawi. Saya sempat mendengar bisik seorang penumpang, “(Kereta) ini kayak kereta kamp konsentrasi Nazi saja”. Di tengah gelap dan pengap bau keringat orang-orang, saya tersenyum lebar mendengarnya.

Apapun jeleknya kereta itu; toh bisa mengantarkan kami sampai ke Lebak, alhamdulillah. Dari stasiun kereta sampai ke alun-alun kota, kami berjalan kaki saja. Saat menyusuri jalan-jalan kota itu di malam hari, saya jadi ingat Max Havelaar. Di kota inilah, Multatuli—penulis novel itu—pernah bertempat tinggal. Mungkin jalan-jalan lebar yang kami langkahi pernah pula dilangkahi oleh beliau—Douwes Dekker—orang Belanda yang tulisan-tulisan tajamnya membela nasib bangsa ini.

Karena masjid Lebak sedang direnovasi, kami tidur di lapangan alun-alun kota. Tidak begitu buruk karena kebetulan ada tenda-tenda yang dipasang untuk sebuah acara di sana esok harinya. Kami pun tidur di bawah tenda-tenda itu. Syukurlah; semuanya bisa memegang prinsip bisa tidur kapan dan di mana saja. Jadi tidaklah ada keluhan tidak nyenyak tidur atau sekedar punggung yang pegal-pegal.

Setelah sholat shubuh di mushola RSU Lebak, kami segera mencari angkutan umum untuk mengantarkan kami ke Kanekes. Tidak susah bagi Koh Tepi untuk menawar harga yang cocok dengan kantong mahasiswa. Setelah mendapat kesepakatan harga yang saling menguntungkan, angkutan umum yang kami carter segera melaju ke tempat tujuan. Di jalan, kami sempat berhenti sebentar untuk membeli bekal makan siang dan sempat-sempatnya minum teh. Juga di beberapa tempat, van Suzuki Carry yang kami tumpangi berhenti sebentar karena kepayahan mengangkut dua belas penumpangnya melewati tanjakan.

Sebelum tengah hari kami sampai di Kanekes. Kami banyak melihat orang-orang suku Baduy Luar yang sedang mengangkut bahan bangunan dari pick up Mitsubishi Colt. Sepertinya sedang ada pembangunan di dalam.

Orang-orag Baduy Luar dapat dikenali dengan pakaian mereka yang serba hitam dengan ikat kepala batik berwarna biru. Sedang orang-orang Baduy Dalam mengenakan pakaian serba putih dengan ikat kepala putih. Mereka berkulit putih dan tampak mirip satu sama lainnya.

Kami bertemu dengan Kang Sanip, seorang Baduy Dalam, yang bersedia mengantarkan kami masuk ke Kampung Cibeo. Jalan menuju Cibeo merupakan jalan setapak yang dapat ditempuh dalam waktu empat jam jalan kaki. Lumayan juga; apalagi matahari begitu terik memancarkan sinarnya. Namun, pemandangan sepanjang perjalanan setidaknya cukup menghibur untuk melupakan teriknya matahari.

Kami melewati tiga perkampungan suku Baduy Luar sepanjang jalan. Perkampungan- Perkampungan itu terdiri dari puluhan rumah dan puluhan lumbung padi yang biasanya terpisah dari rumah-rumah. Sepertinya sedang ada hajatan, orang-orang Baduy Luar: laki-laki dan prerempuan, anak-anak dan orang tua, terlihat berpakaian dan berdandan rapi.

Sore hari kami sampai di kampung Cibeo. Oh ya, sejak masuk ke kawasan Baduy Dalam, segala peralatan elektronik wajib dimatikan. Ini merupakan peraturan adat setempat untuk menjaga keaslian adat istiadat masyarakat Baduy Dalam. Kamera digital, MP3 player, dan handphone harus dipastikan dalam kondisi off.

Kami ditampung dalam dua rumah. Rumah-rumah di sana indentik satu sama lain. Bentuknya sama. Letak balok-balok kayunya pun sama. Bahkan, botol air minumnya dan bentuk gelas bambunyapun sama. Setelah makan malam di rumah Kang Ardi, saya kaget ketika memasuki rumah Kang Sanip untuk bersitirahat. Pasalnya itu tadi, interior rumah-rumah di sana sangat mirip! Saya seperti memasuki rumah yang sama namun beda letaknya.

Di sana, para lelakinya dapat berbahasa Indonesia, sehingga komunikasi pun lancar. Namun, kaum perempuannya biasanya (Atau semuanya? Saya tidak tahu pasti) tidak mengerti bahasa Indonesia. Alhasil, untuk berkomunikasi, bahasa tangan, tubuh, mimik wajah, menjadi satu-satunya cara. Namun, semuanya lancar-lancar saja. Biarpun kami tidak mengerti bahasa mereka, dan mereka tidak mengerti bahasa kami, toh tidak menghalangi terjalinnya keakraban selama di sana.

Letak kampung Cibeo di pinggir aliran sungai kecil berair jernih. Untuk mandi danmengambil air minum, terdapat pancuran di sudut perkampungan. Airnya benar-benar dingin. Saya mencuci muka, tangan, dan kaki saja, tidak berani mengguyur air ke semua badan saat membersihkan diri; saking tidak tahan dengan dinginnya.

Malam harinya, sebelum istirahat, kami berkumpul di alun-alun kampung, untuk memandang langit dan mengobrol dengan penduduk setempat. Unik saja rasanya. Tidak ada penerangan listrik. Tidak ada suara radio. D’Massif tidak sampai di sini, walaupun di Jakarta lagunya dinyanyikan di mana-mana. Tidak juga ada suara tivi. Yang terdengar hanya suara-suara orang bicara dari dalam rumah. Juga ada suara sedikit ramai dari sebuah rumah di samping rumah tempat kami istirahat. ”Pemuda-pemuda itu sedang mengapel”, kata Kang Sanip, saat saya menanyakan apakah ada hajatan di sebelah.

Mungkin karena capai, mungkin juga karena suasana yang hening, kami tidur dengan sangat nyenyak. Saya bemimpi indah dalam tidur, tapi tak ingat mimpi apa. Paginya, kami harus segera bersiap-siap untuk balik ke Bintaro; mengejar kereta jam tiga dari Rangkasbitung. Beberapa kawan ada yang kuliah Senin besok, sehingga kalau tidak dapat kereta jam tiga, tidak ada lagi kereta setelahnya.

Kalimongso, Jurang Mangu, Juni 2008

Ingin rasanya kembali lagi. Mungkin suatu hari nanti untuk bersilaturahim ke sana. Menimati keasrian alam dan kesederhanaan orang-orangnya.

Seandainya Warteg Tidak Ada…

Ruangan sederhana itu dipenuhi dengan aroma masakan. Meja etalase dari kaca atau plastik bening, jejeran piring-piring berisi lauk serta sayur berkuah, meja-meja dan bangku-bangku panjang menjadi properti wajib di dalamnya. Juga termasuk kaleng berisi kerupuk dengan jendela kaca di salah satu sisinya, lengkap dengan merek kerupuk yang ditulis dengan cat semprot. Dindingnya bisa dipastikan terpajang kalender promosi, juga lap tangan. Sederhana saja. Tapi jangan pernah meremehkan perannya, Kawan. Perannya tidaklah sesederhana nama dan tampilan fisik bangunannya.

Disebut warteg, yang merupakan akronim dari warung tegal. Sekarang istilah warteg mungkin telah diterima umum, tidak hanya bagi warung yang pemiliknya orang Tegal. Kata warteg juga telah berarti berarti warsun (warung Sunda) dengan masakan-masakan khas Sunda-nya, warjaw (warung Jawa) dengan masakan khas Jawa, warung Betawi dengan masakan khas Betawi dan warung-warung lain yang pemiliknya dari suku mana-mana. Kecuali untuk masakan Padang, tetap tidak disebut warteg. Juga untuk masakan Menado yang tidak pernah ada bentuk warungnya; karena selalu berbentuk Restauran Menado.

Mendengar kata warteg, tentu langsung terbayang pada sebuah warung makan yang begitu sederhana, dengan masakan-masakan yang terjangkau harganya. Warteg memang lekat dengan kesederhanaan, tempat makan para pekerja, kuli, mahasiswa, pegawai negeri, orang-orang dalam perjalanan, hingga anak-anak sekolah yang mampir untuk makan siang. Belakangan sering diberitakan, aktor-aktrispun sering makan di warteg, juga para calon pejabat dan pejabat; dari para peserta kampanye pemilihan kepala daerah hingga para menteri dan negarawan—yang membuat para pelayan warteg kebingungan untuk berpakaian seperti apa bila mereka datang.

Entah bagaimana bila warteg tidak ada. Saya sendiri pasti sangat bingung untuk memenuhi tuntutan perut yang rutin minta diisi. Alih-alih dapat membuat masakan seperti di rumah, pastinya nanti lebih sering memasak mie instan saja. Paling rumit mungkin memasak sayur sop; cukup membeli paket sayur sop di swalayan dan bumbu masak instan beraroma ayam. Belum lagi dengan waktu yang dibutuhkan, bisa-bisa saya jadi lebih sering tidak mandi untuk berangkat kuliah karena menunggu nasi matang terlebih dahulu. Dan pulangnya mesti menahan lapar dahulu berpuluh-puluh menit hingga perut serasa menempel di punggung, karena lamanya menanak nasi. Belum lagi harus mencari gas atau minyak tanah—bila tidak ingin membuat listrik satu kost padam karena banyak kompor listrik, setrika, dan komputer yang menyala. Sungguh, betapa repotnya bila warteg tidak ada.

Bisa-bisa saja makan di rumah makan atau di foodcourt. Tapi harganya itu yang kurang bersahabat untuk dikonsumsi tiga kali sehari. Untuk satu porsi makanan paling murah dua puluh-tiga puluh ribu. Sedangkan fastfood, satu porsinya belasan ribu. Memang telah lengkap porsinya: ada nasi, potongan ayam, dan segelas minuman bersoda. Tapi porsinya itu, Kawan, kalaulah tidak ada minuman bersoda, tentulah tidak bikin kenyang. Belum lagi bila dilihat dari nilai gizinya. Sedangkan bila di warteg, dengan uang belasan ribu bisa memesan dua porsi, lengkap dengan sayuran, es teh manis, buah, dan bisa memesan segelas Ovaltine hangat.

Di dekat kampus saya, diantara sekian banyak warung makan, setahu saya ada dua warteg yang bisa dibilang sangat murah untuk ukuran daerah seramai ini. Warteg pertama disebut Vegas, singkatan dari Las Vegas. Mengapa disebut Las Vegas? Karena saban hari ada saja orang-orang yang main kartu dan main catur di depan warung itu. Kesannya seperti pusat judi saja. Entah, apakah pemiliknya tahu bahwa warungnya terkenal dengan sebutan nyentrik seperti itu.

Warung kedua, sering disebut Warung Kuli, dengan masakan khas Sunda. Diberi julukan Warung Kuli karena porsi yang disediakan adalah porsi kuli, porsi bagi orang-orang yang telah lelah bekerja dan memerlukan banyak energi. Jarang ada yang memesan porsi setengah nasi di warung ini. Paling banyak justru yang memesan nasinya atau sayurnya yang diperbanyak. Selain disebut Warung Kuli, juga disebut PLG (baca: pe el ge), yang merupakan singkatan dari “pa lagi?” (maksudnya: apa lagi?). Pelayan warungnya selalu menanyakan “pa lagi?” kepada pembeli. Bukannya apa-apa, di warung ini, pembeli bisa mendapatkan lebih dari satu jenis lauk dan sayur lengkap dengan es teh manis dengan dana yang minim. Makanya, selalu ditanyakan: “Pa lagi? Pa lagi?”, hingga piring terisi penuh dan terlihat crowded. Di warung ini masih ada harga makanan semisal 2800 perak, 3300 perak, atau 3700 perak—berbeda dengan warung lain, logam seratus-dua ratus perak masih berguna di sini.

Memang rasa menjadi nomor dua di kedua warung itu, tapi bagi banyak orang, rasa hanyalah urusan lidah yang hanyalah kesan sekejap saja. Oleh sebab itu, pelanggannya memang kalangan yang tidak terlalu mendewakan cita rasa. Kalangan yang terdiri dari pekerja proyek padat karya, mahasiswa hemat, dan para pedagang kecil yang rutin lewat. Pelanggannya pun bertambah bila akhir bulan; beberapa rekan berpindah tempat makan favoritnya di kedua warung itu bila telah tanggal tua. Tidak mengapalah rasanya bercampur aduk, kurang bumbu dan tidak nendang, lagipula perutlah yang mengaturnya.

Tidaklah berlebihan bila berpendapat bahwa warteg berperan sangat penting bagi perekonomian masyarakat kita. Bahkan kabarnya, warteg adalah usaha yang terus menemani masyarakat dan bertahan di masa krisis. Bisa dibayangkan bagaimana peranannya. Silakan juga mengandai-andai bagaimana nasibnya para mahasiswa, para pekerja proyek berupah minim hingga pedagang keliling, bila warteg tidak ada. Demikian juga halnya pada tukang ojek, supir angkot hingga supir truk ekspedisi, yang biasanya bekerja jauh dari rumah.. Warteg—betapapun sederhananya—telah memberikan peran penting bagi negeri ini dengan caranya sendiri. Bayangkan bila warteg tidak ada, Kawan.

Kalimongso, 15 Juni 2008

“Ucapkan terima kasih setulus2nya setelah makan di bangku panjangnya…”

BBM dan APBN: Benarkah kenaikan harga BBM untuk rakyat kecil?

“Get up stand up
Get up for your right
Get up stand up
Don’t give up your fight”

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Saat mulai menulis tentang masalah ini, saya sadar bahwa saya tidak memiliki kompetensi apa-apa, bukanlah pakar ataupun ahli yang sangat mengerti. Namun, betapapun bukan siapa-siapa, setidaknya saya adalah warga negara ini yang turut merasakan dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Merasakan tarif angkutan yang rata-rata naik lima ratus rupiah, merasakan kenaikan harga makanan di warteg yang naik tiba-tiba, sampai kebutuhan apapun yang hampir semua naik harganya.

Saya bukanlah termasuk orang-orang miskin atau orang-orang yang mengaku miskin untuk mendapatkan Bantuan Langsung Tunai. Hingga tidaklah pantas rasanya menulis atas nama rakyat karena untuk kenaikan harga setiap kebutuhan lima ratus hingga seribu perak, saya masih bisa mencukupinya. Masih ada kiriman uang dari rumah. Masih ada pekerjaan sampingan yang biarpun sedikit namun cukup membantu untuk membiayai kegemaran jalan-jalan murah saya. Saya mungkin masih bisa membeli buku dan pakaian tiap bulan, juga menonton film di twenty one sekali-kali. Saya bukan di antara orang-orang miskin yang menjerit tercekik lehernya akibat harga-harga yang semakin tinggi.

Namun, ketika mendengar pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM, sungguh terserbak aroma ketidakadilan yang semena-mena. Di sini saya berkedudukan sebagai rakyat; jadi wajar bila berpendapat demikian. Saya sebagai rakyat tentu tidak harus mengerti alasan apa gerangan hingga pemerintah menaikkan harga BBM. Terlalu rumit dan terlalu ditutup-tutupi. Saya sebagai rakyat, hanya perlu tahu pembelaan yang seharusnya didengar pemerintah; untuk tidak mengambil keputusan tidak populis itu. Naluri merasa dihianati begitu membuncah saat mendengar pendapat-pendapat para ekonom-ekonom pro rakyat: bahwa kenaikan BBM tidaklah perlu! Itu hanya semakin menyusahkan rakyat yang hidupnya telah susah!

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya—mungkin ada ekonom-ekonom pemerintah yang membaca tulisan ini—dan ingin mendapatkan jawaban yang terasa kian samar ini. Saya hanya ingin tanyakan kebenaran alasan-alasan pemerintah, dengan argumen-argumen yang saya kutip dari ekonom-ekonom pro rakyat dan juga dari nalar sederhana saya. Bila argumen-argumen ini salah, tolong luruskan dan dicerahkan. Memahami alasan kenaikan harga BBM terlalu sulit bagi saya yang apalah ini.

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel)? Bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?, dan

Ketiga, untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Dan agar saya tidak sekedar bertanya, saya akan lampirkan argumen-argumen dari para cerdik pandai juga dari nalar sederhana saya, di tiap pertanyaan tersebut:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel atau bahkan diperkirakan lebih nantinya)? Dan bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359-360 disebutkan:

”Harga minyak ICP mempengaruhi APBN pada sisi pendapatan negara dan sisi belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, kenaikan harga minyak ICP akan mengakibatkan kenaikan pendapatan negara dari kontrak production sharing (KPS) minyak dan gas melalui PNBP. Peningkatan harga minyak dunia juga akan meningkatkan pendapatan dari PPh Migas dan penerimaan lainnya. Pada sisi belanja negara, peningkatan harga minyak dunia akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke Pemerintah daerah. Untuk tahun 2007, apabila harga minyak dunia meningkat sebesar US$1, maka defisit APBN diperkirakan akan berkurang sekitar Rp48 miliar sampai dengan Rp50 miliar, yaitu sebagai akibat peningkatan pendapatan negara sekitar Rp3,24 triliun sampai dengan Rp3,45 triliun dan peningkatan belanja negara sekitar Rp3,19 triliun sampai dengan Rp3,4 triliun.”

Jadi memang benar, bila harga minyak dunia meningkat maka akan meningkatkan pula anggaran subsidi. Akan tetapi, pendapatan pemerintah turut meningkat dari hasil ekspor minyak bumi. Selisih antara pendapatan dan beban sebesar 48-50 miliyar setiap satu dollar kenaikan harga minyak, yang akan mengurangi defisit APBN. Jelas, negara tidak merugi, malah untung sebesar 48-50 milyar. Di tahun 2007 ketika pemerintah telah menjadi net importer minyak. Ingat, ini informasi dari pemerintah sendiri.

Dalam RINGKASAN APBN 2007, RAPBN-P 2007 dan RAPBN 2008, halaman II-49 dapat dilihat bahwa anggaran seluruh subsidi sejumlah 92,6 trilyun rupiah dan PNBP dari sektor migas sejumlah 112,3 trilyun rupiah. Jadi lebih besar pendapatannya. Ingat, belanja subsidi di sini tidak hanya subsidi BBM, namun juga subsidi lain-lain (misalnya pupuk dan obat-obatan pertanian).

Lalu, sebenarnya dimanakah letak ruginya pemerintah?

Mengenai hal ini Kwik Kian Gie mengatakan, ”Tak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu”.

Logika sederhananya, misalkan saya seorang pedagang kemudian membeli barang seharga 10 ribu dan menjualnya dengan harga 20 ribu kepada sanak famili saya. Namun, di tempat lain barang semisal yang saya jual dibeli orang dengan harga 40 ribu. Bila saya serakah maka saya akan merasa rugi sejumlah 20 ribu (selisih 40 ribu dengan 20 ribu). Padahal biarpun saya menjualnya seharga 20 ribu saja, saya telah untung 10 ribu, apalagi kepada sanak famili saya.

Untuk rakyat, kita tentu tidak patut berbicara tentang opportunity cost (biaya peluang yang hilang) di sini.

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?

Tarif angkutan kota di sekitar kampus saya telah naik rata-rata 500 perak sejak sehari kenaikan BBM. Kopaja dan metrominipun demikian. Padahal kita semua sama-sama paham, penumpang kendaraan publik ini bukanlah orang-orang kaya. Lagipula, lebih banyak mana antara BMW dan bajaj? Lebih banyak mana Mercy dengan Metromini?

Bagaimana dengan tukang ojek (bukan orang kaya)? Bagaimana dengan supir taksi (bukan orang kaya)? Nelayan apalagi; sungguh sangat memiriskan hati bila mendengar kabar golongan ini. Harga solar yang melambung semakin tinggi membuat banyak nelayan tidak bisa melaut. Bagaimana mereka memberi makan anak istri mereka?

Biaya-biaya distribusi semakin tinggi karena jasa trukpun bergantung pada harga BBM. Kita mungkin tidak pernah merasakan bagaimana beratnya orang miskin menghadapi harga-harga kebutuhan yang naik karena biaya distribusi barang yang semakin meningkat. Kita mungkin tidak bisa merasakan karena tidak pernah berada dalam posisi mereka.

Pertanyaan tadi cobalah dibalik menjadi: bukankah kenaikan BBM menguntungkan orang-orang kaya?

Belajarlah dari pengalaman tahun 2005: Sampai dengan 31 Desember 2005, nilai SU-002 dan SU-004 setelah diindeks dengan inflasi telah meningkat menjadi masing-masing sebesar Rp31,23 triliun (naik ±56% dari nilai nominal awal) dan Rp80,48 triliun (naik ±50% dari nilai nominal awal) akibat inflasi yang tidak terkendali pada beberapa tahun sebelumnya. Sedangkan tunggakan bunga sampai dengan 31 Desember 2005 telah mencapai Rp16,9 triliun, dengan rincian tunggakan bunga untuk SU-002 sebesar Rp4,6 triliun dan tunggakan bunga untuk SU-004 sebesar Rp12,3 triliun.

Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359 menyebutkan: Tingkat suku bunga yang dijadikan dasar dalam asumsi APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 Bulan. Perubahan tingkat suku bunga SBI 3 bulan hanya akan berdampak pada sisi belanja negara. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku bunga SBI 3 bulan akan berakibat pada peningkatan belanja pembayaran bunga utang domestik. Untuk tahun 2007, apabila tingkat suku bunga SBI 3 bulan lebih tinggi 1 persen dari yang diasumsikan, maka defisit APBN akan meningkat sekitar Rp1,6 triliun sampai dengan Rp2 triliun sebagai akibat peningkatan belanja pembayaran bunga utang.

Adakah orang miskin yang membeli surat utang negara? Adakah tukang ojek, supir angkot, hingga penjual sayuran di pasar tradisional memilki surat utang negara? Bukankah hanya orang-orang kayalah yang mampu membelinya?

Jangan pernah dilupakan, kenaikan harga BBM telah membuat jumlah orang miskin di Indonesia semakin meningkat. Dalam Suara Islam Edisi 44 disebutkan pada tahun 2005 jumlah orang miskin 31,1 juta jiwa, di tahun 2006 kemudian meningkat menjadi 39,3 juta jiwa. Inipun masih menggunakan standar Indonesia bahwa orang miskin adalah orang yang pendapatan perharinya kurang dari 0,6 dollar perhari. Belum bila menggunakan versi Bank Dunia sebesar 2 dollar perhari. Bisakah Anda bayangkan menghidupi diri dan keluarga perhari dengan sejumlah uang 4800 perak?

Ketiga, lalu untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Mungkin ini terlalu menduga-duga. Mengapa pemerintah menaikkan harga BBM hingga mendekati (dan nantinya akan sama dengan harga internasional)? Bukankah pemerintah hanya menjual kepada rakyat sendiri. Tidak perlu dijual dengan harga 77 dollar perbarel, sedang biaya produksi minyak kita hanya 10 dollar perbarel (tentu harus dengan ditambah kompensasi impor minyak), pemerintah telah untung?

Kalaupun pendapatan per kapita kita sebesar warga AS yang sebesar Rp 37 870, tentulah tidak mengapa untuk menaikkan harga bensin hingga Rp 8464 seperti di AS. Namun, pendapatan perkapita kita hanya Rp 810 dan bensin dijual dengan harga Rp 4500 (tahun 2005). Kita mungkin tidak tahu bahwa di Iran harga bensin sebesar Rp 828 perliter dengan GNP per kapita sebesar Rp 2010 (tahun 2005). Atau seperti di Malaysia dengan GNP perkapita sebesar Rp 3880 dan harga bensin sebesar Rp 4876 (tahun 2005). Akankah kita harus mengikuti harga internasional sana di tengah keadaan kita yang seperti ini?

Saya (dan kita) menjadi sangat cemas bila alasan kenaikan harga BBM benar-benar untuk liberalisasi di sektor hilir migas. Bukan tidak mungkin nantinya pemerintah akan menaikkan harga BBM lagi bila beralasan dengan ini.

Di dekat kampus, Bintaro Sektor 9, bahkan tidak lebih dari 58 kali kayuhan sepeda dari SPBU Pertamina, baru mulai dibangun SPBU Petronas (Malaysia). Letaknya berdekatan. SPBU-SPBU asing lainpun telah banyak yang bermunculan, bak cendawan di musim hujan.

Saya dulu sempat tidak habis pikir dengan manajemen SPBU-SPBU asing, termasuk juga Shell (Belanda), yang menjual minyak jauh lebih tinggi dari harga premium di SPBU Pertamina. Mereka memang tidak menjual Premium, namun menjual minyak sekelas Pertamax dengan harga Pertamax pula. Saya jadi curiga bahwa manajernya baru saja patah hati hingga tidak bisa berpikir jernih; bagaimana mungkin barangnya laku bila harganya jauh lebih mahal dari Pertamina? SPBU-SPBU asing lebih sering terlihat kosong, kontras dengan bangunannya yang megah, terang benderang, terdiri dari belasan pompa, dan lengkap dengan minimarket mewah. Namun dugaan saya salah, itulah hebatnya orang asing, Kawan. Bahkan keputusan apa yang akan dikeluarkan oleh presiden sebuah negeri mampu diramalkannya.

Tengoklah perkataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro: ‘Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Kompas, 14 Mei 2003).

Jadi untuk mengundang para perusahaan asing untuk bermain di sektor hilir, pemerintah harus menyamakan harga BBM bersubsidi dengan harga internasional. Alasan liberalisasi migas ini sungguh sangat sulit dipahami. Sedang kita semua tahu, 84% minyak Indonesia di sektor hulu dikuasai oleh asing, dan sisanya berupa sumur-sumur tua yang dikelola Pertamina (Media Indonesia, 3 Juni 2008). Entah bagaimana nasib Pertamina, setelah sektor hulu didominasi asing, sektor hilirpun demikian pula nasibnya nanti. Kita tidak yakin Pertamina akan menang dalam persaingan ini. Perusahaan minyak kebanggaan rakyat Indonesia ini pasti kalah. SPBU Petronas, SPBU Shell dan puluhan perusahaan minyak asing lain terlalu megah untuk dilawan. Melihat hal ini, saya jadi takut bila kabar burung yang mengatakan bahwa negeri ini sedang dijual ke pihak asing adalah benar adanya.

You can fool some people sometimes,
But you cant fool all the people all the time.
So now we see the light (what you gonna do? ),
We gonna stand up for our rights! (yeah, yeah, yeah!)

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Sampai sekarang, saya masih tidak mengerti mengapa pemerintah kita mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Terlalu gelap. Namun, tolong luruskan dan cerahkan atas kesalahan saya dalam mengambil argumen orang dan berpendapat sekenanya terlalu parah, serta terlalu jauh dari sifat ilmiah. Wallahu a’lam.

Kalimongso 00.30 am, 1 Juni 2008
”Sudah uzur begini, gigi geraham saya malah baru ada yang mau tumbuh. Rasanya sungguh tidak nyaman”