beberapa hal lainnya di Medan

Polonia dan Kualanamu

Saya dan Mbak Esty tiba hari Rabu,  yang merupakan hari terakhir Polonia beroperasi, dan kembali ke Palembang hari Sabtu saat Kualanamu beroperasi di hari ketiganya. Kualanamu adalah bandar udara yang baru untuk Sumatera Utara, bergaya modern penuh dengan kaca dan alucopan, terletak di Kabupaten Deli Serdang, kira-kira 30 kilometer dari Kota Medan. Sebenarnya Kualanamu masih dalam tahap finishing, namun telah mulai dipakai. Kereta api menuju ke sana telah beroperasi, tapi stasiunnya yang langsung terhubung dengan bandara masih dikerjakan. Di hari Sabtu itu, banyak pekerja sibuk dengan tugasnya masing-masing, masyarakat yang dibolehkan masuk sampai sebelum ruang tunggu, dan huruf raksasa di bangunan utama bandara yang masih belum lengkap; masih Kualanamu Inter (bukan Kualanamu Internazionale Milan, kan? :D).

Oh ya, tarif kereta api Rp80.000,00 per orang, taksi sekitar Rp160.000,00 sekali jalan, dan bus Rp20.000,00 per orang. Yang menjadi topik yang ramai dibicarakan adalah airport tax sebesar Rp100.000,00 per orang, dan di koran lokal banyak masyarakat yang berpendapat itu terlalu mahal.

Sekali lagi tentang Istana Maimun dan Masjid Almashun

Di jaman masa jayanya, Kesultanan Deli memang menjadi entitas pemerintahan yang makmur. Tanahnya yang luas disewakan kepada perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda, menjadi sumber pemasukan yang luar biasa (ingat kan, tembakau Deli sangat terkenal di Jerman). Walaupun sekarang menjadi cerita kejayaan masa lalu, sejalan dengan hilangnya kekuasaan politik kesultanan dan perusahaan-perusahaan perkebunan Belanda kemudian dinasionalisasi di era Presiden Soekarno, namun bangunan peninggalan Kesultanan Deli tetap mencatat cerita tersebut. Masjid Al Mashun dikabarkan menghabiskan dana satu juta Gulden untuk pembuatannya. Masjid tersebut bergaya campuran India, Turki, dan Spanyol. Kabarnya, kaca patri di jendela-jendelanya dikirim dari Cina, lampu gantung bikinan Prancis, dan batu marmer diimpor dari Italia. Lantai, dinding, dan tiang-tiang dihiasi dengan motif bunga dan tetumbuhan, khas art nouveau. Saya kagum dengan tiang-tiang di tengah bangunan utama, yang tampaknya dibuat dari dua susun batu marmer dan diukir halus seperti bentuk bunga di ujung atasnya, mihrab yang berbentuk separuh kubah, serta mimbar yang dibuat sebagian besar dari batu marmer. Namun, beberapa bagian bangunan, seperti beberapa kaca patri, telah rusak dan seperti belum diganti dalam waktu yang lama. Mungkin sebabnya, biaya perawatan bangunan semegah itu tentu tidaklah sedikit.

Masjid Al Mashun

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun, Medan

Masjid Al Mashun

Masjid Al Mashun, Medan

Sebelas dua belas dengan Masjid Almashun, Istana Maimun juga merupakan bangunan yang cantik. Istana yang berwarna kuning, warna kebesaran Melayu itu, dibuat dengan gabungan bermacam gaya arsitektur. Atapnya bangunan utamanya ceper, dengan jendela kecil-kecil di bagian atas, lengkung-lengkung pada teras dan tangga masuk, dinding yang tebal, jendela dan pintu-pintu utama yang besar, kubah-kubah dengan dasar segi empat, dan lukisan-ukiran corak bunga-tetumbuhan pada ubin lantai, dinding, lubang angin di atas jendela, dan plafon.  Siapapun yang merancang dan membangun istana itu, pasti ingin orang-orang pada kemudian masa tetap dapat melihat keindahan pada bangunan itu.

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun

Istana Maimun, Medan

Istana Maimun

Istana Maimun, Medan

Museum Sumatera Utara

Di Sabtu pagi, saya sempat jalan-jalan ke Museum Sumatera Utara. Meskipun di akhir pekan, suasana museum terlihat sepi. Hanya ada beberapa kelompok anak-anak SD yang datang berkunjung. Tidak ada pengunjung umum. Saya saja dikira mahasiswa oleh mbak-mbak penjaganya (Eh iya, saya kan masih berstatus mahasiswa kan? :D).

Tarif memasuki museum adalah Rp1.000,00. Dengan tidak meremehkan nilai uang seribu rupiah, menurut saya, terasa aneh bila memasuki tempat wisata sejarah dengan hanya seribu perak. Akan lebih berarti bila nilainya sedikit lebih besar. Saya pikir,  pengunjung tentu saja tidak akan keberatan, yang mana di lain sisi, karcis bioskop di hari sekarang (yang telah menjadi kebutuhan hiburan hampir wajib orang kota) bisa mencapai Rp50.000,00 untuk satu-dua jam film Holywood.

Ruang display Museum Sumatera Utara dibagi dalam dua lantai. Lantai pertama, di sayap kanan dari depan, diisi dengan benda-benda di zaman prasejarah, kemudian zaman Hindu-Budha, zaman kedatangan dan perkembangan Islam, dan zaman kolonial. Di sayap kiri, dimulai dengan ruang gubernur, yang memajang foto-foto gubernur yang pernah memimpin Sumatera Utara. Kemudian berlanjut pada ruang yang memajang benda-benda dari zaman perjuangan kemerdekaan. Lantai kedua, lebih ke arah budaya masyarakat Sumatera Utara. Di sayap kiri, dipajang alat dan perlengkapan, termasuk pakaian adat, yang digunakan oleh masyarakat Sumatera Utara sehari-hari, dari masa ke masa. Di sayap kanan, terdapat maket-maket rumah adat dari pelbagai suku asli Sumatera Utara, manekin orang Nias, perlengkapan untuk bertani, menangkap ikan, berburu, dan menenun. Di ujung ruangan, terdapat beberapa gambar dan tulisan mengenai suku-suku yang mendiami wilayah Sumatera Utara. Display di ruangan tersebut memperlihatkan kepada pengunjung, bahwa Medan atau Sumatera tidaklah identik dengan Suku Batak. Terdapat bermacam suku dan etnis lain, yang berbeda adat, budaya, bahkan agama. Suku-suku asli terdiri dari Batak, Melayu, Simalungun, Toba, Mandailing, Karo, Pakpak, dan Nias, serta suku-etnis pendatang seperti Jawa, Cina, Arab, dan India.

Kondisi museum cukup terawat dengan baik, kecuali pada beberapa bagian di lantai dua, yang pada salah satu bagian temboknya dipenuhi dengan coretan vandalisme pengunjung. Selain itu, penerangan di lantai dua juga masih kurang. Termasuk juga aroma apek yang tercium yang membuat tidak nyaman. Seorang anak SD berkata ke saya, “Bang, datang sendiri? Kalau naik di atas ngeri, Bang”. Mungkin suasana lantai dua seram bagi mereka.

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Museum Sumatera Utara

Kuliner Medan

Berkunjung ke Medan tentu saja sayang bila tidak mencicip kulinernya yang terkenal, semacam bika ambon, bolu gulung, pancake durian, buah durian, masakan khas etnis Cina, India, dan Arab di Medan. Kami hanya sempat mencicip masakan untuk berbuka di Ramadhan Fair samping Masjid Almashun, dimsum yang ringan-ringan di Resto Nelayan, dan mie aceh Titi Bobrok. Mie aceh kepitingnya enak (dengan satu ekor kepiting) dan tidak sampai menguras kantong karena cukup ditebus dengan uang Rp17.500,00 per porsinya.

Bubur Masjid Raya

Saya sebenarnya tidak begitu suka makan bubur yang tidak manis. Namun, bubur Masjid Raya Medan sudah cukup dikenal dan amat sayang bila tidak mencicipinya. Bubur tersebut merupakan bubur dari beras yang dicampur dengan daging, dilengkapi sayuran semacam urap, dan beberapa buah kurma. Beberapa orang keturunan Arab membuat bubur tersebut dalam belanga yang besar dan mengihidangkan dalam ratusan piring pada meja panjang. Sebelum berbuka, para pengunjung Masjid Raya dapat mengambil bubur tersebut, dengan segelas teh manis, dan berbuka sama-sama pada karpet serta tikar-tikar yang digelar di halaman masjid.

Bubur Masjid Raya

Bubur Masjid Raya

Angkot dan Supir Medan

Supir yang berasal dari Medan sudah terkenal dengan “kepiawaiannya” mengendarai kendaraan umum di kota-kota besar. Bagaimana bila di daerah asal mereka?

Selama di Medan, alat transportasi yang kami gunakan adalah angkot. Menaiki angkot di Medan adalah sebuah horor tersendiri, bagi siapa yang tidak biasa atau yang jantungan. Angkot dikemudikan dengan kecepatan tinggi, menikung tiba-tiba, dan sering kali hampir menyerempet kendaraan lain. Namun kerennya, tidak terjadi sentuhan fisik antar kendaraan (apa ini bahasanya…). Selain itu, sepertinya penumpang juga mesti terbiasa dengan suasana bila supir angkot dan pengendara lain bersitegang di tengah jalan. Namun tenang saja, seperti tipikal orang Medan yang terkenal itu, mereka kadang keras di ucapan saja, tidak sampai main fisik.

Selain angkot, transportasi di Medan ada taksi, bajaj, becak motor (bentor), dan sudako, semacam oplet khas Medan.

Bentor

Bentor

Sudako

Sudako

Teman-kenalan baru

Karena diklat diikuti peserta dari beberapa kantor perwakilan, mau tidak mau tentu saja saya mendapat kenalan dan teman baru. Selama di Medan, seusai diklat di kelas sampai jam lima, mereka menjadi teman jalan-jalan.  Kami biasanya dalam satu kelompok yang bisa membuat angkot atau sudako menjadi penuh dan cepat menjadi akrab.

Palembang, 19 Agustus 2013. Diposting dulu, sebelum lupa.

“Foto-fotonya menyusul ya”

4 Responses to “beberapa hal lainnya di Medan”

  1. ghea Says:

    Persis! Sepupu saya juga nggak dibolehin bawa mobil satu bulan sama bosanya. Super kali sopir2 medan tuh :’D

  2. rianop Says:

    Serasa ikut jalan-jalan🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: