menyusuri Stasiun Medan-Masjid Al Mashun

Dapat panggilan untuk diklat ke Medan tentu membuat saya senang. Otak saya langsung berpikir untuk memanfaatkan waktu di sela-sela diklat untuk jalan-jalan. Tidak penuh empat hari di Medan, dengan dua harinya di ruang kelas, pastinya tidak akan banyak yang bisa dilihat. Namun di siang kemarin, di hari pertama tiba di sini, saya mencoba melihat-lihat suasana kota.

Tempat diklat kami agak jauh dari pusat kota. Namun, akses transportasi umum cukup ramai dan tersedia hingga malam hari. Setelah googling destinasi wajib di Medan danĀ  melihat peta di Google Maps, saya memutuskan untuk memulai perjalanan dari Stasiun Kota Medan, karena supir angkot manapun pasti paham rute menuju ke sana. Nah, bila saya tidak salah melangkah, maka ke arah selatan akan bertemu dengan Merdeka Walk (yang berada di depan stasiun), kawasan Kesawan, Mansion Tjong Afie, Istana Maimun, dan Masjid Raya Al Mashun. Kalau dilihat di peta sih tidak begitu jauh, jadi mungkin saja bisa ditempuh dengan jalan kaki.

Saya jadi berjalan kaki dari Stasiun Medan sampai Masjid Raya Al Mashun. Lumayan berkeringat sangat. Tapi di kawasan Kesawan, ada banyak sekali gedung-gedung tua yang masih terlihat cantik, termasuk Gedung London dan Mansion Tjong Afie. Itu membuat jalan kaki menjadi menyenangkan, ataupun kalau tidak, anggap saja begitu :D. Apalagi di akhir rute ada Istana Maimun dan Masjid Raya, dua bangunan berusia ratusan tahun dengan arsitektur Moor-nya yang membuat kagum (kecuali pada halaman yang sedikit tercecer sampah serta beberapa bagian yang kurang terawat dan rusak). Dari gaya bangunan, ornamen, ukiran, dan lukisan pada kedua bangunan itu, dapat dibayangkan betapa tekun dan telitinya para insinyur, arsitek, tukang, seniman, pengrajin, dan pekerja lainnya saat menyelesaikannya. Betapa nyeninya mereka.

Berikut ini beberapa foto yang bisa saya ambil dengan kamera saku selama berjalan kaki. Oh ya, saat buka puasa, saya berbuka dengan bubur khas Masjid Raya, yang beberapa hari yang lalu saya lihat di tivi. Juga dikerubuti oleh anak-anak kecil yang senang sekali melihat orang menggambar. Bahkan, ada yang bilang dan terus berlari ke arah keran air: “Bang, aku ambilkan airnya, Bang!”, untuk mencairkan warna watercolour cake. Mereka menyebut pewarna atau cat dengan sebutan kelir. Kosakata yang terasa aneh bagi orang luar Medan untuk percakapan sehari-hari, selain kereta untuk sepeda motor, pajak untuk pasar, pasar untuk jalan, dan galon untuk SPBU. Kosakata terakhir saya dapatkan dari sopir angkot nomor 43. Dia adalah sopir medan, yang ditemui langsung di Medan.

Stasiun Medan

Stasiun Medan

Merdeka Walk

Merdeka Walk

Gedung London

Gedung London

Mansion Tjong Afie

Mansion Tjong Afie

Kawasan Kesawan

Kawasan Kesawan

Istana Maimun

Istana Maimun

Sketching Masjid Al Mashun

Sketching Masjid Al Mashun

Jamin Ginting, Medan, pagi di 25 Juli 2013

“Fyi, 24 Juli kemarin adalah hari terakhir beroperasinya Polonia sebagai bandar udara komersial Kota Medan”

Belitang

Lumbung padi Sumatera Selatan

Pemilik duku dan durian Rasuan

Kota Terpadu Mandiri demikian adanya

Pasar, sekolah standar nasional, gedung perbankan

rumah sakit yang baru dibangun, dan dealer kendaraan beroda empat

 

Hamparan sawah seluas pandangan

Irigasi mengalir jauh dari Perjaya

Disekat-sekat oleh Bendungan Komering

Sebutlah Bendungan Komering nomor berapa, disitulah alamatnya

 

Orang-orang dari Jawa, transmigran sejak zaman Belanda

Mengolah tanah dengan tekun dan ulet bekerja

Bersama penduduk asli, orang-orang Komering

Membangun kampungnya

Maju berkembang seiring karet melambung di dunia

 

Kalaulah jalan beraspal ke Martapura menjadi mulus

Atau antrian di depan pom bensin tidak mengular panjang

Bertambahlah pula kemakmuran

dengan Sungai Komering yang tetap dijaga

dan tidak lupa sesama

MP Mangkunegara, Palembang, 2013

“April 2013 lalu, hanya sepuluh hari di Martapura, tidak begitu banyak yang bisa dilihat. Apalagi lebih banyak di dalam kantor saja. Tapi di suatu hari, kami pergi ke sebuah instalasi kesehatan di Belitang dan sore di tengah perjalanan pulang, Mbak Yenni, teman kantor mengajak mampir di Sate Bu Rita. “Biar nanti ditanya orang sudah pernah ke sini, Ris. Kalau ke Belitang, harus mampir di sini”. Hoho, grazie!”