Bali Tiga November

Pantai Kuta Bali, 3 November 2008

Pantai Kuta Bali, 3 November 2008

Hamparan sawah selayak permadani, bertingkat-tingkat, bergradasi hijau muda-tua. Tebing karang berdiri kokoh menantang ombak dari Samudera Indonesia. Bukit-bukit hijau, ada pula yang menjadi tambang kapur, yang terbelah sebelah sisinya. Bangunan-bangunan indah tempat pesiar berbagai macam rupa. Dari ketinggian ribuan kaki; pulau yang terkenal di berbagai belahan dunia ini; telah menyampaikan sedikit kesan keindahannya.

Ada tiga jam waktunya untuk transit di NRIA Bali. Saya menimbang, mungkin bisalah saya berjalan-jalan sebentar saja. Aha, bukanlah ide yang buruk. Beberapa kali saya melewati Pulau Bali; tapi hanya sekedar menjejakkan kaki di pelabuhan, bandara, atau di tempat makan untuk para penumpang bus malam. Tidak pernah saya duduk di tepi pantai berpasir putihnya—yang jelas bukan pantai pelabuhan—untuk sekedar memandang horizon langitnya.

Kepada bapak tukang ojek yang menawarkan jasanya, saya minta diantarkan ke pantai yang paling dekat saja. “Iya, pantai Kuta. Cuma sepuluh menit saja dari sini…”, katanya dengan logat khas Bali; dengan pengucapan huruf “T” yang unik. “Ok, kita berangkat ke sana!”, kata saya, setelah tawar menawar harga. Sebelum meninggalkan bandara, saya sempat melambaikan tangan kepada Sandra Dewi. Tapi, karena Sandra Dewi yang saya temui hanya berupa gambar pada iklan SimPati, dia hanya tersenyum terus dan diam saja, tidak membalas lambaian tangan saya. Tidak mengapa, setidaknya senyumnya sangat manis hari itu. 🙂

Di atas motor, saya mengajak ngobrol bapak yang namanya Suwita itu. Tentang Bali, juga tentang daerah saya yang dia tanya-tanya. Tentang keluarga dia, atau juga tentang saya yang dia tanya-tanya. Tapi tidak sedikit pun saya menyinggung masalah Bom Bali, Amrozi, Imam Samudera, atau hal-hal yang menuju ke arah ingatan itu. Padahal, topik akan eksekusinya para pelaku Bom Bali itu adalah topik yang sedang marak-maraknya menjadi bahan pembicaraan: pada obrolan warung kopi, di koran, di televisi, hingga dunia maya. Saya rasa, ada banyak hal menarik lainnya yang bisa dibicarakan; tanpa menimbulkan kekecewaan, kesedihan, bahkan mungkin—kebencian.

Saya minta untuk diantarkan ke bagian pantai yang tidak banyak orangnya; kebetulanpun hari itu bukanlah hari libur. Pantai terlihat lengang.

“Tunggu sebentar ya, Pak, saya hanya sebentar saja di sini”. Saya segera ke arah laut, menuju pinggiran ombak untuk menyentuh airnya. Inilah Kuta Bali; pantai terkenal yang turut mengenalkan nama Indonesia di luar negeri sana. Di salah satu titik pada garis pantai itu; pernah terjadi tragedi dahsyat yang membawa pengaruh buruk kepada perekonomian Bali, hingga kepada kepercayaan dunia kepada Indonesia. Banyak yang terhenyak, tidak percaya; namun tragedi tersebut benarlah adanya.

Banyak teori-teori tentang tragedi tersebut diutarakan. Tentang terlibatnya pihak asing. Tentang bom mikronuklir. Tentang keahlian para pembom yang diperoleh dari Taliban. Juga–yang lebih utama– tentang pro kontra tindakan para pelaku pemboman. Apakah ini benar Jihad atau bukan? Apakah ini benar sesuai dengan ajaran agama atau tidak? Sesuaikah dengan hukum syariat? Apakah mereka syuhada atau tidak? Masuk surgakah mereka? Bagaimanakah hubungan antar umat beragama seharusnya, yang telah diajarkan al Quran? Bagaimanakah dengan nasib anak-anak dari korban yang ditinggal mati? Bolehkan menghalalkan cara demi sebuah tujuan?

Saya membasuh wajah dan tangan dengan air laut. Angin yang berhembus memaksa air di wajah untuk menguap pergi. Sebelum perginya; diambilnya sejumlah energi panas dari kulit wajah untuk menguapkan dirinya sendiri; menjadikan wajah saya sejuk walaupun di bawah sengatan terik matahari.

Segera saya beranjak ke tempat Pak Suwita menunggu. Sempat saya mengabadikan foto sambil berjalan ke tempatnya. Pantai ini memang bagus, tapi saya harus beranjak pergi. Tidak apalah saya hanya mampir sebentar; agar saya benar tahu bahwa inilah pantai yang putih pasirnya, tinggi gelombangnya, dan terik mataharinya mengundang banyak orang datang ke sini.

Palmerah, 11 November 2008

“Saya sangat percaya akan kasih sayang dan damai Agama ini…” [di saat orang-orang ramai membicarakan eksekusi…]

-) (3 November 2008)

tupai liar yang cukup jinak, bergaya pula dia di foto 🙂 (3 November 2008)

Advertisements