20 Mei, Hari Ini

Ini postingan karikatur pertama saya. Sebenarnya niatnya sudah dari dulu, apalagi sejak menggandrungi komik “Benny & Mice” yang lucunya bukan main; bikin sakit perut dan senyum-senyum sendiri di toko buku. Sinting memang dua orang itu.

Tadi pagi, sebelum Ernest kembali ke Liwa, sempat mengobrol tentang komik strip di blog. Kembali lagi niat ini bergelora untuk membuat komik strip atau karikatur; satu keisengan sejak di SMP dulu. Akhirnya saya putuskan untuk segera merealisasikannya, hingga hilanglah waktu tidur siang di hari libur yang damai ini. Temanya tentu saja tentang 20 Mei–hari ini.

Tadi sempat nonton bareng acara yang disiarkan serentak di tivi-tivi nasional; Indonesia Bisa: Seratus Tahun Kebangkitan Nasional. Terlepas dari kenyataan bahwa sudah terlalu lama kita bangkit tapi masih saja jalan di tempat–dan pendapat sejarah mengenai pendirian Syarikat (Dagang) Islam atau Boedi Oetomo yang harusnya menjadi moment kebangkitan nasional, acaranya memang bagus. Lagi pula ini sebenarnya acara langka: mungkin setengah atau satu abad sekali. Saya tidak yakin masih hidup di tahun 2058 dan 2108 nanti.

Melihat keberagaman budaya dan atraksi yang ditampilkan di Stadion Gelora Bung Karno itu; kembali menimbulkan kesadaran di sanubari bahwa negara kita memang kaya akan khasanah budaya dan potensi yang harusnya bisa dikembangkan. Sudah terlampau bosan memang untuk berbicara dan mendengar hal tersebut. Tapi, semoga saja nasionalisme yang terbakar sejenak tadi masih menyimpan bara semangat di dada kita; rakyat negeri ini. Semoga saja.

karikatur

karikatur

Advertisements

Berkunjung ke Tebing Siung, Jogjakarta

“Semua orang yang ke sini, bilang begitu. Tebing Siung memang yang paling indah”, Bapak pemilik rumah tempat kami menginap sempat memberikan pengumuman kecil tentang indahnya Tebing Siung. Saya tidak tahu apakah benar seperti itu. Di salah satu dinding rumah terdapat poster besar: foto seorang climber yang sedang memanjat di Uluwatu. Kau tahu, Kawan? Pose seperti di poster itu, bisa juga tercipta di Tebing Siung. Seorang pemanjat yang rambutnya melambai-lambai, dengan latar belakang biru air laut. Seperti itulah Tebing Siung, mirip tebing-tebing di Uluwatu, deretan tebing yang langsung menghadap samudera luas: Samudera Indonesia.

Sebenarnya saya tidak berencana ke Tebing Siung. Saya ke Jogja hanya ingin menengok adik yang sedang ujian. Tapi berhubung, kawan-kawan yang lain—Gatot, Uka, Udik, Di’i, Bon Bon, dan Depek bersama lima orang dari KPA Arkadia (UIN Syarif Hidayatullah)—sudah di sana lebih dulu, saya terbujuk rayu mereka untuk ke sana. Toh, perjalanan Jogja-Wonosari-Pantai Siung hanya kurang dari lima jam saja. Saya menyusul dari Jogja, bersama Sebastian Napitupulu, kawan—orang Mentawai—yang biasa dipanggil dengan nama Kadal Jr.

Dari Jogja kami naik bus jurusan Wonosari, kemudian bus Wonosari-Pertigaan Siung, dari jalan besar ke pantai kami naik ojek. Tentang ojek di sana, mereka terima saja berapa yang diberi penumpang. ”Terserah”, kata mereka. Tidak ada tawar-menawar, ini benar-benar mendobrak tradisi antara ojek dan calon penumpang. Usut punya usut, ternyata pengunjung pantai sedang sepi, mungkin lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali.

Pantainya memang indah. Pantai-pantai di selatan Jogjakarta dikenal dengan ombak tinggi, dengan tebing-tebing karang, dan merupakan daerah karst (kapur). Pantai Siung seperti terselip di sepanjang pantai curam yang panjang. Seperti sebuah pantai rahasia, pantai di mana pesawat nomer 2 Thunderbird disembunyikan. Pasirnya putih. Masih asri. Terlebih lagi, belum banyak sampah-sampah berserakan.

Di samping-samping Pantai Siung itulah letak tebing-tebing panjat. Bagus-bagus. Jalurnya sudah jelas dan menantang (salah satu perintis jalur ini, sejak tahun 1999, adalah Mas Lombok. Setelah mengobrol lama, baru saya sadar kalau climber itu memang asalnya dari Lombok. Maka, mulailah kami mengobrol tanya-tanya keadaan kampung). Posisinya yang langsung menghadap laut inilah sebagai nilai tambahnya. Tebing-tebing lain biasanya di tengah ladang atau di pinggir hutan. Saya cuma pernah ke Tebing Tajur, Tebing Ciampea—dua-duanya di Bogor—juga pernah ke Tebing Parang, Purwakarta. Pemandangan dari puncak Tebing Tajur memang indah, sawah-sawah, ladang, bukit, dan deretan rumah penduduk begitu indah. Memandang aura senja dari lereng Tebing Parang juga tidak kalah menabjubkannya. Tapi adanya laut ini yang jauh membedakan, tebing-tebing itu jadi tidak seindah Tebing Siung.

Ini beberapa foto-fotonya. Sayang, saya tidak sempat memanjat, karena pagi-pagi benar mesti kembali ke Jogja, menjemput adik saya. Lain kali, mungkin bisa ke Siung lagi. Insya Allah.

Ini difoto di senja hari

Ini pantai Siung

Dari atas tebing

pantai rahasia

Gatot dan Udik sedang beraksi

Gatot-ketum-stapala-beraksiUdik Beraksi

Alivia

Alivia

“Aku tidak mungkin mengubah warna perasaan yang sudah ada ini ke warna lain. Aku bukan jenis orang yang tidak memiliki prinsip. Jika aku tidak bisa memiliki kamu, akan menjadi siksaan setiap kali aku bertemu”

Judul: Alivia

Penulis: Langit Kresna Hariadi

Penerbit: Tinta Jogjakarta

Tahun: 2004

Harga: – (pinjaman dari Denny)

Sudah terlalu lama sebenarnya, tapi berhubung kelas saya di kuliahan lagi senang-senangnya baca novel dan ini dianggap novel yang lumayan bagus hingga dipinjam-pinjam, jadi saya tulis saja di sini. Ini salah satu novel karya Langit Kresna Haryadi. Alivia diangkat dari kisah nyata, berkisah mengenai seorang gadis dari Kepulauan Riau yang merantau ke Jogjakarta untuk melanjutkan pendidikan. Novel tentang perasaan, idealisme sebagai perempuan, dan keniscayaan bahwa perempuan dan laki-laki memang ditakdirkan untuk saling melengkapi.

Daripada membaca novel-novel penuh kebencian, kisah penghianatan perempuan, atau ketidaksetiaan laki-laki, saya lebih suka membaca novel yang seperti ini. Walaupun kisah-kisah memiriskan hati itu sering terjadi dan menunjukkan fakta sebenarnya dalam masyarakat kita. Di luar sifat-sifat buruk manusia—perempuan dan laki-laki—saya lebih suka memperhatikan kenyataan bahwa perempuan itu banyak sekali yang mampu bersikap anggun, dan laki-laki itu tidak sedikit yang baik hati. Berpikir tentang kebaikan sifat manusia akan menjauhkan prasangka berlebihan, meringankan beban pikiran.

Tokoh utama, Novi Wulandari, adalah seorang gadis remaja yang baru saja lulus sekolah menengah. Sosoknya digambarkan sebagai gadis yang pintar, finalis putri kecantikan, dan keras hati. Sebab keanggunan parasnya, dia menjadi idola di fakultasnya, cepat sekali terkenal, dan tidak sedikit mahasiswa hingga dosen laki-laki yang tertarik hati padanya. Pembaca akan dibuat kagum dengan sikapnya terhadap laki-laki yang berniat tidak baik: mahasiswa yang menyombongkan hartanya–yang menganggap cinta bisa dibeli dengan uang– dibuat malu dengan mengembalikan barang-barang hadiah yang satu mobil taksi jumlahnya, dosen yang kurang ajar dibuat kesakitan dan terbanting keras di dinding oleh sebab sebuah jurus bantingan judo . Dia memang bukan gadis biasa.

Berawal dari dosen kurang ajar—yang terbanting di dinding—yang memberikan nilai rendah seenak hati. Novi yang bertekad lulus summa cum laude tentu saja tidak terima, karena merasa telah mengerjakan ujian dengan sebaik mungkin. Tentu hal ini disengaja, bahwa dosen tadi tidak terima atas sikap Novi yang tidak menganggap dirinya. Gadis keras hati ini tidak bisa digertak. Surat protesnya langsung menembus rektorat, dengan dukungan ratusan mahasiswa yang segera saja melakukan unjuk rasa, menuntut dosen tidak tahu diri tadi untuk mundur. Karismanya begitu berpijar; membuat mahasiswi-mahasiswi lain—yang mengalami pengalaman serupa—turut angkat bicara. Kasus ini telah merambat pada masalah perjuangan kaum perempuan.

Semua mengalir begitu saja. Novi kemudian menjadi wakil direktur sebuah LSM pembela hak perempuan. Kedudukannya ini membuat dia sedikit terlalu curiga terhadap laki-laki. Gelorawan Nabastala, seorang pria sopan, baik hati, gagah, bekerja sebagai pilot Garuda Indonesia, dambaan perempuan, dibuat patah hati karena lamarannya ditolak—bahkan caranya sedikit aneh, lewat tulisan Novi di koran. Ini semata-mata karena Nabastala salah mengucapkan—mungkin tidak berpikir sejauh itu—bahwa salah satu kewajiban suami kepada istri adalah memberikan nafkah batin, sebuah jawaban yang menurut Novi merendahkan martabat kaum hawa.

Kisahnya menjadi rumit karena Novi—aktifis pejuang hak perempuan ini—hamil tanpa adanya pernikahan, tanpa adanya suami. Ini berangkat dari sebuah kelemahan wanita, yang terlalu menuruti perasaan, bahkan hanya menuruti mimpi yang berulang-ulang saja. Saya tentu saja tidak mengetahui bagaimana tekanan psikologis dalam posisi seperti ini, tapi untuk sekedar menghindari pertanyaan kerabat dan orang tua di kampung halaman, tentu bukanlah sebuah hal yang sederhana.

Di novel ini pembaca bisa mendapati orang-orang brengsek, juga orang-orang yang berhati mulia tiada terkira. Tentang nafsu semata dan ketulusan cinta. Tentang keburukan pikiran, tentang kemurnian hati. Termasuk juga kata-kata penuh makna dari tokoh-tokohnya; khas Langit Kresna Haryadi.

Novel ini cocok untuk masuk ke dalam daftar bacaan yang sarat pelajaran. Buat saudari-saudari untuk semakin berhati-hati; berhati-hati menjaga diri. Buat saudara-saudara—juga saya sendiri—untuk bisa memilih menjadi laki-laki berhati buaya atau laki-laki yang mulia hatinya.

Tentang Janji

Seperti menghidup udara pegunungan. Layaknya sekor burung yang terlepas dari sangkar. Sebuah kewajiban yang mengejar-ngejar telah saya laksanakan. Sebuah janji yang selalu mendengung-dengung tiap pagi dan petang telah saya tunaikan. Rasanya benar-benar bebas sekarang.

Sebenarnya kewajiban dan janji ini tidak sebegitunya. Biasa saja. Berawal dari keisengan saya mencari-cari objek untuk diabadikan gambarnya.

Sore hari, setengah hari menjelang ujian terakhir, kepala ini rasanya mau pecah saja. Padahal, untuk ujian terakhir seperti ini, harusnya saya merasa lega, tenang, duduk-duduk minum teh di kampus, atau memanjat wall di Plasa Mahasiswa. Tapi itulah, Kawan. Kau tahu, bukan? Kampus saya agak konservatif dan ekstrim dalam hal kelulusan mahasiswa. Tidak ada yang bisa menjamin, seseorang untuk terus mendapatkan indeks prestasi layak untuk lulus. Seringkali, mahasiswa yang punya indeks prestasi 3 ke atas—dalam skala empat—masuk ke dalam daftar drop out (DO) pada semester berikutnya.

Sebenarnya saya tidak ambil pusing tentang DO, saya yakin saya tidak akan DO. Kalau tidak yakin, jawaban apa yang bisa saya berikan buat orang tua saya? Tapi, tetap saja rasa tekanan itu tetap ada. Inilah jeleknya sistem DO yang terlalu ketat, seandainya bukan karena alasan mahasiswa menggunakan APBN (baca: uang rakyat) dan tidak sepantasnya berleha-leha, saya sangat tidak setuju sistem ini. Tekanan seperti ini bisa membunuh daya kreatifitas. Tidak ada jaminan kualitas bisa terjaga dengan sistem seperti ini.

Sore itu, saya berjalan-jalan ke luar kos, untuk meredakan pusing di kepala, tidak lupa kamera saya bawa. Setidaknya udara bebas mungkin bisa membantu. Jalan ke depan gang kosan yang tembus ke tempat pembuangan sampah (TPS). Di TPS itu ada anak-anak yang sedang main bola. Satu-dua hari yang lalu saya melihat beberapa anak yang sibuk membuat gawang dari bambu dan membersihkan sedikit lahan dari TPS itu. Sekarang, gawang bambu itu telah lengkap dengan jaring terbuat dari tali rafia. Seorang anak malah lengkap berkaus kaki dan bersepatu. Agaknya, persiapannya cukup serius untuk pelaksanaan main bola sore itu.

Aha, ini sepertinya bagus untuk difoto. Apalagi, ternyata anak yang memakai kaus kaki dan bersepatu itu adalah seorang anak perempuan. Namanya Bella, tapi kawan-kawannya dan tetangga sekitar itu banyak yang memanggilnya dengan nama Benny. Dipanggil dengan nama laki-laki seperti itu, Bella terlihat cuek-cuek saja dan tidak ambil pusing.

Sadar kamera mengarah pada mereka, anak-anak sadar dan peduli kamera ini semakin semangat mainnya. Seorang anak sebelum menendang bola tiba-tiba berhenti dan mematung, dan memberi isyarat ke saya untuk diambil gambarnya. Dengan hidung kembang kempis, dia sangat senang melihat hasilnya di LCD kamera. ”Kayak pemain bola ya, Om”.

Setelah mengambil gambar beberapa kali, anak-anak itu sempat foto bareng malah, saya beranjak kembali ke kos. Seorang anak ingin meyakinkan hatinya, ”Om, nanti fotonya dicetak, kan?”. Melihat raut wajah penuh harapnya saya tidak kuasa untuk tidak mengangguk. Anak-anak itu sangat senang fotonya akan dicetak, berlari-lari dan memberitahukan teman-temannya, layaknya seorang prajurit di tahun empat lima, mengumumkan kepada orang-orang bahwa Jepang sudah kalah dan Indonesia telah merdeka.

Mulailah saya diteror oleh janji itu. Masalahnya, kamera saya dipinjam dan data-datanya belum sempat saya pindahkan. Maka data foto-foto itu masih di tangan kawan saya berminggu-minggu lamanya.

Hampir tiap hari, selama berminggu-minggu, pertanyaan yang sama selalu ditanyakan kepada saya, ”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

”Om, sudah dicetak belum fotonya?”.

Saya sudah jelaskan bahwa kamera saya dipinjam, tapi ini malah melahirkan pertanyaan baru yang berulang-ulang, ”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”.

”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”

”Om, kameranya sudah dibalikin belum?”

Akhirnya jawaban yang sama dan monoton jadi sering saya berikan, ”Belum, De’”. Berulang-ulang, hingga sebelum mereka bertanya, saya sudah menyiapkan jawaban, ”Belum, De’”.

”Belum, De’”.

”Belum, De’”.

Ingin rasanya menghindar tapi kalau mau ke kos, berangkat dan pulang kuliah, gang itu adalah jalan satu-satunya. Sedang rumah anak-anak itu tepat di samping gang. Akhirnya tiap berangkat dan pulang kuliah, saya selalu bertemu dengan mereka yang sering melontarkan pertanyaan sambil makan di teras rumahnya, atau sambil menonton tivi, dan sering juga berlari-lari menghampiri sambil menanyakan pertanyaan yang monoton itu. Pertanyaan-pertanyaan itu mendengung-dengung di telinga. Rasanya, hari-hari itu tidak beranjak, waktu berhenti, dan kemarin sama rasanya dengan hari ini.

Akhirnya saya, kemarin siang, berhasil mencetak foto mereka. Senang rasanya membayangkan kegembiraan di wajah-wajah merepotkan itu. Saya cetak masing-masing untuk seorang, karena masalah seperti ini biasa sangat sensitif. Saya membayangkan mereka pasti puas, dan saya tidak akan terbeban oleh janji-janji lagi. Saya akan bebas. Tidak ada lagi pertanyaan tentang foto lagi, pasti.

Saya bagikan ke anak-anak itu foto-fotonya. Benar saja, mereka senang mendapati foto mereka telah dicetak. Ada yang tersenyum terus hingga saya curiga keningnya sedikit panas suhunya. Ada yang memandangi fotonya diam-diam saja memandang foto dengan pandangan dalam dan lurus, takjub sepertinya. Ada yang membanggakan fotonya di penjaga konter pulsa dekat situ. Tapi si Benny malah agak kurang kegembiraannya. ”Ada apa?”, tanya saya—sedang baik hati.

”Om, foto Bella yang sendirian mau dicetak juga, kan?”

Dari Merbabu-Merapi (4-6 April)

Puncak Kenteng Songo, Merbabu

Gunung Merbabu dan Merapi memang indah. Walaupun seringkali kabut datang menyelimuti kami dan menghalangi pandangan, keindahannya tidaklah berkurang, bahkan memberi sedikit tantangan. Pemandangan selama pendakian bagaikan slide-slide berisi lukisan-lukisan indah dengan kabut-hujan sebagai jedanya. Jurang-jurang dalam, air terjun, awan-awan putih berkilau, lembah-lembah sejuk-hijau, tebing-tebing curam, citra kota terlihat dari langit, pucuk-pucuk cemara, hamparan sabana, hingga batu-batu kusam muntahan kawah, silih berganti dengan kabut dan hujan deras sebagai selingannya. Benar kata Refly, pendakian kali ini bukan puncaknya yang menjadi tujuan akhir, tapi perjalanannya. Ya, keindahan alam, juga tentang canda tawa, selama perjalanan ini.

Hujan di Merapi

Pundak saya sedikit perih karena sudah lama tidak naik gunung dan memanggul carrier. Sepatu yang saya pakai robek sana-sini. Badan ini rasanya pegal-pegal; di paha, betis, pinggang, bahu, dan telapak kaki. Tapi tentu saja semuanya tidak sebanding dengan keindahan sepanjang perjalanan. Seperti mata air pegunungan yang menghilangkan haus, begitu rasanya. Belum lagi dengan melihat semangat kawan-kawan yang lain; selayak embun pagi yang menyejukkan hati.

Contohnya, Dian Bonasari Simamora atau biasa dipanggil Bob Bon. Cewek Batak ini sebelum mendaki Merbabu-Merapi tidak pernah sekalipun mendaki gunung. Maklum saja, pada kesempatan pertama, kawan yang satu ini—yang mengaku dulunya selalu sakit perut kalau makan nasi uduk—waktu pendakian Ciremai dua bulan lalu tidak bisa ikut karena ibunya datang berkunjung, langsung dari Medan. Lagi pula, dia lebih tertarik mengayuh perahu karet, dibandingkan bawa carrier berat ke atas gunung. Tapi, sekali-sekalinya naik gunung, langsung mendaki dua gunung dalam tiga hari, pun sampai ke puncaknya yang masing-masing setinggi 3142 mdpl dan 2911 mdpl. Dengan ukuran carrier 65 liter yang tidak sebanding dengan posturya yang mini, saya semakin percaya bahwa semangat adalah faktor yang sangat penting untuk mewujudkan keinginan, harapan dan cita-cita.

Saya pikir, naik gunung mengajarkan kita untuk menggapai mimpi dan harapan. Bahwa, untuk mendaki dan mencapai puncaknya dibutuhkan kesiapan metal, kesehatan fisik, logistik, dan semangat. Kesemuanya mutlak dibutuhkan; tidak hanya fisik dan logsitik saja, namun butuh pula mental dan semangat. Kita tidak ingin seperti zombie, yang loyo, berjalan linglung, dan kehilangan ekspektasi masa depan, walaupun punya kesempatan.

Juga tidak hanya mental dan semangat, namun butuh fisik dan logistik juga. Keadaan gunung tiada bisa ditebak dan dipastikan—panas, dingin, hujan, dan badai bisa datang silih berganti—dibutuhkan fisik dan logistik yang layak; seumpama kehidupan yang penuh dengan ketidakpastian dan dibutuhkan kesanggupan diri. Kita tidak ingin menjadi orang beromong besar, semangat tinggi, namun tiada modal dan aksi.

Seringkali ketika mendaki, saya sadar bahwa untuk menuju puncak, jalan menanjak dan berat mau tidak mau harus dihadapi. Kalau jalannya enak, tidak membuat capai, datar atau bahkan menurun, bahwa sadarlah bahwa kita tidak sedikitpun mendekati ketinggian puncak. Hanya ada dua kemungkinan bila jalannya santai, nyaman, dan tidak membuat napas terengah-engah: keadaan stagnan atau menurun.

Peuncak Garuda, Merapi. Kuat benar ini batu...

Keterangan Foto:

1. Puncak Kenteng Songo, Merbabu. Disebut Kenteng Songo karena di puncak itu terdapat batu berbentuk lesung (kenteng) berjumlah 5 buah. Lho, bukannya harusnya sembilan (songo)? Konon, hanya orang-orang “terpilih” yang bisa melihat kesembilan batu itu. Dari ki-ka: Refly, Dian, Reman, Semut, Ikbal, Bon Bon, Uka, dan saya.

2. Hujan di lereng Merapi

3. Puncak Garuda, Merapi. Ini adalah puncak tertinggi yang bisa diraih manusia di Merapi. Sebenarnya ada puncak lebih tinggi di seberang kawah. Hanya saja, tidak ada jalan untuk meraihnya.

Sedikit Melirik (MayDay)

Kau tahu upah seorang pekerja pembuat sepatu Nike, Adidas, Fila, Converse atau sepatu-sepatu mahal lainnya?

Enam ratus lima puluh ribu

Sebuah jumlah yang jauh dari layak untuk hidup di megapolitan.

Pernah menanyakan honor cleaning service di kampusmu?

Lima ratus empat puluh ribu

Bahkan lebih kecil dari kiriman bulanan sebagian besar mahasiswa; kalangan pintar yang seenaknya menyeret-nyeret lumpur di lantai gedung saat hujan turun.

Lima ratus empat puluh ribu

Untuk menghidupi istri dan anak di rumah

Para penyapu jalanan tentu tidak akan bangga memberi tahu upahnya

Dua ratus lima puluh ribu

Untuk bekerja di bawah terik matahari kota yang begitu menyengat

Tidak pernah peduli kulit menghitam legam—buat apa—sedang untuk makan sehari-hari saja segitu susah

Cukup pekerjaan terselesaikan, jalan-jalan bersih dari sampah,

batu dan paku

Untuk dilewati roda-roda mobil mewah

Tidak tahu harus memberi tahu siapa

Siapa peduli?

Padahal, jika pekerja keras-pekerja keras itu berhenti bekerja

Bayangkan saja apa yang akan terjadi

Negeri ini tentu bisa mati

Posted in sosial. 4 Comments »