Welcome Home, Yvonne!

Sepeda motor saya, Marley alias Yvonne, sekarang sudah sembuh. Setelah direstorasi selama beberapa bulan, Honda C70 bikinan tahun 1980 itu, akhirnya bisa jalan dengan normal. Tidak begitu normal sih sebenarnya, tapi cukuplah untuk ukuran sepeda motor yang sudah lebih 30 tahun lebih umurnya.

Akhirnya ada juga hasilnya, dengan bantuan Pak Kendro (bapak-bapak di kantor yang juga senang sepeda motor tua, terima kasih banyak untuknya), saya menata kembali hati ini, eh, menata si Yvonne. Dimulai dengan mengganti velg dan jeruji, menggosok tromol dan mesin dengan langsol (ini membutuhkan waktu dua minggu), mengecat standar dan foot step, mengganti lampu-lampu, dan memasang spion, legshield, tutup rantai, dan stikernya sebagai pemanis. Sebenarnya, semua itu tidaklah membutuhkan waktu lama. Tapi, setelah dua tahun tidak dipakai, mesinnya benar-benar mati suri. Tidak ada artinya sepeda motor bila mesinnya tidak menyala. Sudah tiga bengkel yang menyerah angkat tangan, bila tetap mempertahankan bentuk asli mesinnya.

Kemudian saya menemukan bengkel dekat Simpang Polda yang bisa memperbaiki. Pemilik sekaligus teknisinya, Pak Darwin, sepertinya cukup paham dengan penyakit motor-motor lama. Cukup dua hari dan biayanya tidak mahal, Si Yvonne sudah bisa dibawa pulang. Lagi, meskipun bangunan bengkelnya kecil dan tidak permanen, kerennya, dia punya kartu nama. Mungkin dia termasuk orang yang menghargai pelanggan dan keahlian yang ia miliki. Saya ingin mengusulkan kepadanya, agar menambah namanya di kartu nama menjadi: Darwin D Fixer.

Berikut ini beberapa foto Yvonne.

Si Yvonne sedang dirawat.

Si Yvonne sedang dirawat.

Yvvone, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

Yvonne, si Honda C70.

IVON is a four letter word. :)

IVON is a four letter word. 🙂

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.50 WIB

“Dia boleh dipanggil nama mana saja, Marley atau Yvonne. Yvonne artinya gadis yang cantik.”

Mencari Pempek 10 Ulu

Ini adalah tahun kelima saya merayakan Idul Adha di Sumatera Selatan. Tapi, bila diingat-ingat, belum sekalipun saya salat Id di Masjid Agung Palembang. Jadi, pagi-pagi sekali di hari Idul Adha, saya bersepeda ke masjid tua itu. Udara terasa segar, karena kendaraan bermotor hanya sesekali saja lewat.

Jamaat salat telah mulai memenuhi kawasan masjid, di jalan-jalan, bahkan di atas Jembata Ampera. Walikota dan gubernur membacakan sambutan. Di akhir salat, beberapa keluarga berfoto di depan kolam air mancur masjid. Seorang tukang foto tua mengabadikan gambar mereka, dan langsung dicetak dengan mesin printer portabel, dengan hasil foto yang bagus-penuh pengalaman.

Habis salat, saya biasanya ke kantor untuk memotong-motong daging kurban atau sekedar membantu memasukkannya dalam kantung plastik. Tapi saya jadi ingat dengan tim kami yang penasaran dengan  Pempek 10 Ulu. Beberapa minggu ini, karena ada rekan tim kami yang akan pindah dari Sumatera Selatan, kami rajin mencoba berbagai macam pempek yang terkenal di Palembang, dari Vico, Tince, Eek, juga Saga. Agar bisa bercerita,  setelah meninggalkan Palembang. Hasilnya, pempek-pempek itu enak semua. Ukuran enak mungkin subjektif, tapi bila makanan dari ikan itu kondisinya masih baik dan tidak amis, itu sudah cukup menjadi syarat disebut enak .

Pempek 10 Ulu terkenal enak, tapi tidak seorangpun di antara kami yang pernah mencobanya.  Jadi, di hari Idul Adha itu, dari Masjid Agung sebelum ke kantor, saya mengayuh sepeda ke Seberang Ulu. Seorang ibu-ibu penjual makanan di bawah Jembatan Ampera menunjukkan arah ke 10 Ulu. Saya segera menyusuri jalan yang ditunjukkan, melewati pasar, sambil melihat kiri-kanan, barangkali ada warung pempek yang buka. Tapi, tidak ada sebuah warung pun yang bertuliskan pempek 10 Ulu. Saya terus mengayuh, bahkan sampai 14 Ulu, dan terpaksa kembali karena warungnya tidak ketemu. :’D

Tapi di kawasan Seberang Ulu, banyak bangunan rumah panggung tua. Mereka terlihat masih cantik dan mengagumkan. Itu menjadi pemandangan menarik selama mengayuh sepeda-tanpa-hasil itu.

Sampai kembali di Pasar 10 Ulu, saya kemudian bertanya pada seorang bapak yang baru membuka sebuah toko kelontong. Dia kemudian menunjukkan sebuah warung pempek, di gang samping pasar. Saya kemudian ke sana, memesan beberapa potong pempek, dan mencicipinya. Hasilnya, seperti pempek yang lain, pempek 10 Ulu juga enak. Jadi apa bedanya dengan pempek yang lain? Hampir tidak ada bedanya di lidah saya yang bukan chef ini. Kan, bagi saya, syarat enaknnya sederhana saja. 😀

Sumatera Selatan, di sebuah kabupaten yang dilewati Sungai Komering, 12 November, 22.40 WIB

“Kapan-kapan, ingin menulis tentang directory pempek di Palembang”

Jogjakarta

Kota sedang hujan rintik ketika saya tiba. Saya menunggu sebentar abang saya yang datang menjemput, sambil berbincang dengan Ragil, junior saya di kampus dulu yang secara kebetulan bertemu. Abang saya ada pekerjaan di Solo, tapi malam hari dia bisa kembali ke Jogjakarta. Sekalian besok pagi  bisa mengantar saya ke tempat teman baik saya, Huda, yang menikah di kampus UII.

Saya tidak sempat membeli oleh-oleh. Hanya bisa membawakan kopi Pagar Alam untuknya.

Kami menembus benang-benang hujan dengan sepeda motor, menuju kawasan Pogung. Setelah menyimpan ransel, kami keluar untuk makan mie di sebuah warung kopi. Malam semakin dingin. Mie instan berkuah selalu bisa menjadi bagian kombinasi yang cocok untuk suasana seperti itu. Selain segelas kopi atau teh hangat, dan mengobrol tentunya.

Di pagi hari, kami sarapan di dalam kompleks kampus UGM, dan setelahnya melihat lokasi resepsi. Di Gedung Multipurpose itu, tampak orang-orang berbatik dan berpakaian adat Jawa yang sedang mempersiapkan acara siang nanti. Setelah memastikan ancer-ancernya, kami kembali ke kost. Saya mandi dan sempat tidur sebentar karena masih terasa kantuk.

Setelah agak siang, saya bersepeda motor ke acara resepsi. Saya bertemu dengan kawan-kawan kantor yang datang, beberapa kawan kuliah dulu, dan berbincang sedikit. Huda tampak kaget sambil ketawa-ketawa melihat saya datang, karena sebelumnya memang saya tidak berencana dan tidak mengabarkan akan hadir. Terlihat dia sangat sumringah bersanding dengan wanita pujaannya, boru berparas manis berdarah Batak. Semoga samara, Bro.

Siang harinya, saya diajak abang saya bersepeda motor ke kawasan Candi Borobudur (Sempat kami berencana untuk mampir di Museum Affandi, tapi waktunya tidak cukup). Dia ada janji dengan seseorang untuk mengambil sebuah maket bangunan bambu dan dibuatkan gambar. Orang itu, seorang bapak-bapak, yang sangat tertarik dengan bambu dan bangunan dari bambu (yang belakangan saya baru tahu kalau beliau arsitek). Sangat menarik mendengarkan mereka berdiskusi, meskipun saya tidak begitu paham. Dunia engineering dan arsitektur memang menarik. Dunia mereka adalah dunia seni. Tidak seperti orang ekonomi yang akan melihat bangunan dari angka-angka rupiah. Item-item bangunan adalah item biaya yang menyusun rencana anggaran biaya, bukan bagaimana manusia berkreasi agar serasi dengan lingkungannya.

Kami ditawari menginap di tempat yang begitu-Jawa-sekali itu, tapi besok pagi-pagi sekali, saya mesti kembali ke Palembang. Sebenarnya saya ingin tinggal, setidaknya sampai malam saja, pasalnya di situ akan ada pergelaran wayang kulit. Melihat deretan tokoh wayang kulit yang sedang disiapkan, siapa yang tidak penasaran.

Men-setting wayang kulit.

Men-setting wayang kulit.

Agak sore, kami ke sebuah desa yang asri di sekitar candi. Desa Tegal Wangi namanya. Di mana kami bertamu di sebuah rumah yang ditinggali seorang lanjut usia. Abang saya pernah berkegiatan di desa itu dan dia kenal baik, meskipun tidak tahu nama beliau. Kami berbincang lumayan lama dan empunya rumah tidak memperbolehkan kami pulang sebelum kami makan.

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Bangunan berstruktur bambu di desa Tegal Wangi

Kami juga bertemu dengan seorang pengrajin batu bata. Dia bilang, dia dulu pernah diwawancara sama abang saya , difoto, dan di-shootingjuga pakai kamera, sampai membuatnya malu karena seperti artis. Ada-ada saja. 😀

Menjelang malam kami mampir sebentar untuk makan di sebuah warung tongseng di sekitar kawasan candi. Warung tongseng ini tidak biasa, karena yang diolah menjadi tongseng bukanlah daging kambing atau ayam. Bahannya dari jamur. Teksturnya mirip dengan daging, rasanya juga tidak kalah enak.

Malam hari kami kembali ke Jogjakarta. Hujan turun sepanjang jalan Magelang-Jogjakarta. Menjelang larut malam, kami mencari angkringan, sesuatu yang wajib bila berkunjung ke kota itu. Juga duduk beralas tikar sambil minum kopi di alun-alun keraton. Sekarang di alun-alun, ada kereta-keretaan yang bisa disewa, berlampu warna-warni, dan digerakkan dengan kayuh sepeda. Alun-alun menjadi semarak dengan kehadiran mereka.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.35 WIB

“Terhayut aku akan nostalgia. Saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama. Suasana Jogja…-Jogjakarta, Kla”

Gili Trawangan

Saya lahir dan menghabiskan masa SMA di Pulau Lombok, pulau yang tidak habis-habisnya diceritakan tentang keindahannya. Ada budaya masyarakat yang luhur, pantai-pantai yang indah, persawahan hijau dan hutan yang sejuk, serta Gunung Rinjani yang cantik. Tapi, banyak sekali tempat di pulau itu yang belum pernah saya kunjungi. Misalnya, saya belum pernah mengunjungi Gili Trawangan. Padahal, Gili Trawangan itu dekat saja dari Mataram. Sedekat jarak Mataram dari Gili Trawangan, tentu saja kan.

Nah, berangkat dari hal itu, di masa lebaran tahun 2012, saya mempunyai waktu satu hari sebelum berangkat ke Palembang dari Mataram. Kiki, adik saya, berjanji untuk menemani. Minggu pagi, setelah kami menumpang bus PO Dunia Mas semalaman dari Dompu, kami segera berkemas. Karena sepeda motor Kiki masih di Dompu, jadinya kami meminjam sepeda motor dari Reny. Reny adalah teman kuliah Kiki, mereka sudah bersama sejak jadi mahasiswa tingkat satu.

Ada dua rute menuju Gili Trawangan dari Mataram. Pertama, ke arah utara lewat pegunungan di Pusuk, yang nanti akan tembus ke Lombok Utara. Kedua, lewat garis pantai sebelah barat Pulau Lombok, jajaran pantai-pantai berpasir putih, termasuk Senggigi di dalamnya. Kami memutuskan untuk ke Gili Trawangan dengan melewati rute Pusuk, dan kembali ke Mataram lewat Senggigi.

Kami berangkat dari Mataram sekitar jam sebelas pagi. Pemandangan sepanjang jalan cukup menarik, apalagi setelah memasuki kawasan wisata Pusuk. Kiri kanan jalan berupa hutan yang terjaga keasriannya. Ruas jalan menanjak, berkelok, dan cukup sempit, sehingga perlu lebih berhati-hati.  Di puncak punggungan bukit, sebelum jalan menurun, kami mampir sebentar. Dari tempat itu, kita bisa melihat pemandangan lembah, garis pantai, hingga pulau-pulau kecil di seberang. Udara terasa dingin. Di tepi-tepi jalan, banyak dijumpai kera-kera yang duduk menunggu, barangkali ada pengendara lewat yang berbaik hati memberi makanan.

Pusuk, Lombok Utara

Pusuk, Lombok Utara

Setelah melewati kawasan yang sejuk, kami memasuki dataran rendah yang panas. Baiknya, cuaca sedang cerah-cerahnya. Pemandangan persawahan dan perbukitan di tepinya terlihat seperti di lukisan, dengan langit biru terang. Tidak lama kami sampai di Bangsal, menitipkan sepeda motor, dan membeli karcis perahu di loket yang tersedia. Sambil menyantap makanan ringan, kami menunggu panggilan dari petugas yang memberi pengumuman lewat pengeras suara. Perahu akan jalan apabila batas jumlah penumpang untuk sebuah perahu telah terpenuhi.

Perjalanan perahu dari Bangsal ke Gili Trawangan menempuh waktu sekitar 30 menit.  Perahu yang kami tumpangi berisi berpuluh orang, ada wisatawan lokal dan mancanegara, juga penduduk lokal yang tampaknya membawa barang dagangan. Di tengah-tengah perjalanan, gelombang laut agak meninggi, menyebabkan perahu bergoyang kencang. Beberapa penumpang yang panik, mengambil baju pelampung seakan-akan saat itu keadaan darurat. Sedang penumpang yang lainnya, tidak begitu ambil pusing. Mungkin sudah terbiasa.

Di samping kami duduk, ada seorang bule (bule, kata yang sangat rasial dari bahasa Indonesia :D), mungkin masih belasan umurnya, sepanjang perjalanan perahu terlihat sangat gembira. Wajahnya bulat jenaka dengan pipi yang merah. Berulang kali dia mengambil gambar pemandangan dengan kameranya dan senyum-senyum sendiri. Belakangan, saat perahu menepi, kami perhatikan senyumnya melebar. Antusias sekali.

Perahu menepi di pantai yang berpasir putih dengan air laut yang jernih, terkesan hijau toska.  Terlihat papan yang bertuliskan “Welcome to Gili Trawangan”, menyambut wisatawan yang datang.

Menepi di Gili Trawangan

Menepi di Gili Trawangan

Saya dan Kiki berjalan kaki di ruas jalan yang mengelilingi pulau. Sepanjang jalan, terlihat wisatawan yang berjalan kaki, bersepeda, juga naik cidomo, delman khas suku Sasak. Seperti yang kita tahu, di kawasan Gili, kendaraan darat bermotor dilarang. Aturan yang diberlakukan untuk sedikit mengobati rasa bersalah manusia, untuk menjaga keasrian lingkungan.

Kami mampir sebentar di sebuah warung makan untuk makan siang, juga di sebuah warung es krim. Beberapa macam dan rasa es krim gelato tersedia, mengobati haus di bawah sinar matahari yang terik. Tidak jauh berjalan, juga terdapat juga kolam yang berisi anak-anak penyu. Sebuah sarana eco-wisata bagi wisatawan dan anak-anaknya, untuk mengenal lebih dekat dengan penyu. Termasuk mengenal betapa susahnya mereka beranak pinak di alam dan sifat sensitif mereka terhadap perubahan lingkungan.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Melihat tukik, anak-anak penyu.

Kami tidak lama di pulau. Saya sedikit flu akibat AC yang terlalu dingin di bus semalam, membuat tidak bisa menikmati angin pantai dan teriknya matahari. Kami segera pulang, menyeberang kembali ke Bangsal, dan bersepeda motor menyusuri kawasan pantai di sebelah barat Pulau Lombok. Jalan aspal begitu mulus, berkelak-kelok mengikuti kontur pantai, dan naik turun bila melewati bukit. Cuaca masih cerah dan membuat pemandangan pantai begitu cantik. Senja yang turun memancarkan garis-garis keemasan di sela-sela dedaunan kelapa. Air laut begitu biru, tenang seperti biasa, menyimpan rahasia. Suatu suasana yang kadang kala tidak dikira, suasana seperti itu ternyata tidak begitu jauh dari kota.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Pantai sepanjang jalan pulang.

Sumatera Selatan, 12 November 2013, 22.30 WIB

“Mengisi waktu, memposting tulisan-tulisan yang lama. :D”