Black Hole Grubug

Gua Grubug. Foto diambil dari www.yogyes.com. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta fotonya. Kapan2 upload yang asli...

Gua Grubug. Foto diambil dari http://www.yogyes.com. Tampak flowstone di bawah tirai cahaya. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta foto-foto Grubugnya. Kapan2 dah diupload yang 'asli'... 🙂

Hari belumlah terlalu senja. Sinar matahari masih sanggup menerobos masuk, membias molekul-molekul air yg terperangkap dalam Luweng Grubug sedalam hampir seratus meter. Di dasar gua terdapat aliran sungai deras sepinggang. Di sisi lain, tepat di bawah aven, flowstone berwarna putih tegak berkilau oleh sinar matahari, cahaya headlamp, dan lampu senter.

Di atas kami, puluhan meter tingginya dari flowstone, pintu aven membuka jalan bagi sinar matahari. Bercahaya. Membentuk bulat cahaya. Gelapnya dasar Luweng Grubug seakan menghisap sinar matahari dari atas sana. Juga terhadap seluruh keangkuhan, bahkan kata-kata.

Ini keajaiban, Kawan. Black hole itu tidak hanya ada di luar angkasa. Yang ini, auranya bahkan mampu mengkerutkan segala ke-aku-an. Saya. Kami.

Subhanallah. Semakin saya menyerah.

Demang Lebar Daun, Palembang, 27 Mei 2009

Catatan dari perjalanan bersama kawan-kawan Stapala: Hendy, Fajar, Yusman, Golo, Yeye’, Komaruzzaman, Hatta, Mujur, Ana, dan Denis. Perjalanan menyusuri Gua Seropan, Gua Semuluh, Gua Jlamrong, Gua Sumber Suci, Gua Glatik, Gua Gelung, Gua Jomblang, dan Gua Grubug di Semanu, Gunung Kidul, 30 Maret-1 April 2009.

Perjalanan yang tak terpikirkan sebelumnya. Kawan-kawan yg tak terbayangkan hebatnya. Alam yang tak terkirakan indahnya.

di Gua Jomblang, sebelum menuju ke aven Grubug

Berpose di Gua Jomblang, sebelum menuju aven Grubug (ki-ka: Mujur, Ana, Denis, Hatta, Hendy, Golo, saya, dan Yeyek). Salah satu perjalanan dalam rangkaian 30 titik pengibaran bendera untuk 30 Tahun Stapala. Never ending adventure...

Lihat Palembang, Yuk!

Sudah tiga pekan ini di Palembang. Tidak terasa saja. Mungkin benar saya sudah betah di sini. Tapi, sepertinya memang bisa betah di mana-mana. Jangankan di kota ini; di hutan saja senang rasanya.

Tadi pagi saya lari pagi. Sudah lama tidak olah raga ini. Terakhir kali, kalau tak salah, saat diklat di Kalibata.  Jadinya, badan ini rasanya pegal-pegal sana sini. Badan mestilah fit. Sakit tidaklah enak; makan tak enak, tidur tidak nyaman, dan banyak aturan. Lagipula, siapa tahu dekat-dekat ini bisa naik Dempo. Persiapanlah, setidaknya.

Setelah push up pada hitungan seribu empat puluh, dan badan sudah terasa enak, saya keliling-keliling saja Kota Palembang. Pakai motor pinjaman dari kantor. Kantongi camdig, cuci muka, dan berangkat. Oh ya, saya push up-nya dihitung dari hitungan seribu, Kawan. Jadi, biasa saja kalau saya push up sampai hitungan seribu lebih.

Pertama; mampir ke Taman Kambang Iwak. Ramai sekali. Cocok buat yang ingin cari jodoh di sini. Sebentar saja di sana. Ambil gambarnya, sarapan bubur kacang ijo, bayar seribu di tukang parkir, dan berangkat lagi.

Taman Kambak Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Taman Kambang Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Susuri jalan menuju Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi. Di sana ramai pulo. Sedang ada jalan santai untuk anak sekolah dan para guru, memperingati Hari Pendidikan. Masih kah kau ingat dengan hari Pendidikan, Kawan?

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Di depan benteng, ramai anak-anak yang main bola. Di halaman tepi Sungai Musi, macam-macam lomba diadakan. Yang duduk-duduk saja juga banyak. Yang mengobrol juga hampir semuanya. Tidak ada yang menangis.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu-perahu di tepian menunggu penumpang. Yang di tengah sungai sedang mengangkut penumpang. Hilir mudik di Sungai Musi. Penumpangnya banyak dari anak sekolah dan para guru. Rekreasi kota yang sangat menyenangkan.

menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Bayar seribu lagi di tukang parkir. Kemudian mampir di Masjid Agung Palembang, tak jauh dari Benteng Kuto besak. Masjid yang pembangunan pertamanya pada tahun 1738-1748 ini, arsitekturnya unik, perpaduan gaya China dan Eropa. Bentuk atap yang melengkung mengingatkan kita pada bentuk kelenteng. Bentuk jendela yang besar dan tinggi, serta tiang-tiang yang besar, tentulah ciri dari arsitektur Eropa. Bahkan, pula mendapat pengaruh dari Jawa-Hindu; pada dasar masjid yang berundak-undak.

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

Saat sedang mengambil motor di parkiran, tiba-tiba terdengar ringtone ponsel. SMS masuk. Mbak-mbak yang punya.

Saya: Yu’, itu lagu ST dua belas?

Mbak itu: Ha? Ini kan band itu.

Saya: Oh, ya ya. Ta’ pikir ST dua belas. Malah mirip lagunya Padi, lho, Yu. Bukan lagunya Padi juga?

Mbak itu: Bukan.

Saya: He eh. *nyengir*

Dalam hati saya berucap; saya tahu itu bukan lagunya ST dua belas, apalagi lagunya Padi. Di bus-bus kotanya palembang, di tempat-tempat makan, di counter pulsa, di swalayan, di kantor, di playlist admin warnet, sering benar diputar. Saya hanya becanda saja, Yu‘.

Sampai di kos, Yoga sedang akan menyalakan laptop. Sedang sibuk dia sekarang. Mengurus angka-angka di excel. Tugas auditnya dibawa pulang dari Prabumulih, tempat dia mengaudit. Kasihan dia; sepertinya pikirannya penuh dengan angka-angka. Saya cemas, dia akan lupa dengan nama lengkapnya sendiri.

Saya: Ga, di laptop ada lagunya itu, ga? Ha ha.

Yoga: Oh, ada. Lihat saja, Ris. Muternya pakai windows media player tapi.

Saya: Oke.

Jadi, lirik lagu dari ringtone mbak itu begini:

“Maafkanlah aku lari dari kenyataan.

Bukan karna aku tak punyai rasa sayang.

Maafkan lah aku mencoba tuk berlari.

Karna suatu nanti engkau pasti kan mengerti”

Ha ha, sudah nyambung dengan lagunya? Coba tebak judulnya dan dinyanyikan oleh siapa!

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

Palembang namanya. Inginkah kau sekali waktu berkunjung ke sini, Kawan?”

kamu bilang padang gersang, aku bilang bikin senang

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang ke Sumbawa!

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang di Sumbawa, Kawan!

Alhamdulillah, saya sampai di rumah. Lumayan capai,12 jam di atas bus Mataram-Dompu tanpa AC, di bawah terik langit Pulau Sumbawa. Tapi, semua terbayar. Apalagi yg kurang? Lihat orang-orang rumah sehat wal afiat. Itu kuda juga semakin kekar-kekar badannya, tanda alam untuk sifat ulet, tak pernah menyerah, dan gerak. Bisakah kamu belajar dari mereka, Je’?

Sekarang masih di Dompu untuk pamitan. Kadang berpikir juga, seperti mau ke mana saja saya ini. Padahal Palembang itu dekat saja. Tapi, kalau lihat peta, Dompu-Palembang itu tak kurang empat selat yg harus dilewati. Dan saya harus tinggal di Palembang untuk waktu yang tidak saya ketahui. Dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat. Jauh dekat sama sj, dua ribu rupiah. Loh?

Kemarin-kemarin dari Jogja, pamitan dengan abang saya, dan kawan baik saya, Aang. Terima kasih, Ang. Dari Jogja ke Surabaya, tidak pamitan pada siapa-siapa. Pesawat ke Mataram pagi-pagi soalnya. Sampai Mataram, pamitan sama adik saya, kawan-kawan SMA, dan keluarga-keluarga dekat di sana. Kembali dengar orang mengobrol dengan bahasa Sasak, Mbojo, atau Samawa. Dengar orang bilang lasingan. Mendengar kawan-kawan di Perumnas mengobrol dengan bahasa khas San Murep. Semisal; koya kudud-kudud it inis, Siron. Hadus amal umak kadit ngatad it inis. Kitnat-kitnat kewet-kewet it anas, Ron? Ha ha, ya, itu bahasa Indonesia yang dibalik-balik. Dan hebatnya, itu diucapkan dengan sangat amat lancar. Kana-kana San Murep memang aneh.

Sempat mengobrol dengan kawan-kawan SMA:  Syarif Jago Main Bola, Yogi Calon Dokter, Oky Sedang Susun Skripsi, Halim Petugas Pajak, dan Rudi Anak Akuntansi, empunya rumah yang jadi basecamp semasa SMA dulu. Halim Petugas Pajak sibuk direct selling untuk membujuk kawan-kawan agar mencontreng permen, ehpartai keren sekali, Kamis nanti. Ha ha, PNS mesti netral, Bos. Tapi tak mengapalah, asal kampanyenya tetap damai.

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Ahad siang, jalan-jalan ke Senggigi. Bersepeda motor dengan Kiki, adik saya. Lihat pantai. Jalan-jalan di pasir pantai yang putih. Minum air kelapa muda. Sampai sore.

Pulangnya, Kiki keliatan lelah sekali. Apa sebabnya?

Saya: Ki, kakak punya tebak-tebakan…

Kiki: Apa, Kak?

Saya: Makhluk apa yg badannya kecil kepalanya besar?

Kiki: Hmm, tweety?

Saya: Bukan…

Kiki: Apa dong. Tweetylah…

Saya: Bukan… Hmm, mau tau jawabnya? Ikan teri pake helm!

Kiki: . . .

Saya: Kok nggak ketawa, sih?

Kiki: Kiki lapar…

Saya: Ha ha ha

Kiki: He he he.

Oke, habis pulang ke rumah, kami cari makan. Jalan-jalan dulu sampai Cakranegara, terus berbalik. Makannya di warung ayam taliwang di Gomong. Sedap rasanya. Ayam taliwang plus pelecing kangkung plus beberok. Pedas semua. Pulau Lombok memang berasa Lombok: pedas!

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Aha, kapan-kapan, kalau kakak punya waktu, kita ke Rinjani. Bawa carrier. Bawa jaket tebal. Bawa toblerone yang banyak.

Ini sedang di Dompu. Ingin bertemu kawan-kawan baik di sini; cingi canga, black claw, dan kawan-kawan yang mungkin pulang dari rantau. Kabupaten kecil ini sedang panas-panasnya. Panas karena terik matahari. Panas karena dekat-dekat pemilu. Tapi juga sedang hijau. Adem jadinya lihat pepohonan yang hijau. Kalau sedang kering, tanah ini bisa jadi gersang. Tapi, itulah tanah ini apa adanya. Orang bilang padang gersang, saya bilang bikin senang.

Alhamdulillah.

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

“Ini tulisan dari catatan saya di facebook. Disalin dan disesuaikan sedikit. Ini ditulis saat masih di Dompu, NTB. Tiga hari di sana; tapi sayang tidak sempat ke La Key, pantai di Dompu yang fotonya jadi header blog ini. Kapan-kapanlah ke sana. Ingin lihat pasir putih dan ombak tingginya lagi”.