Pagar Alam

“Pagar Alam”

Seorang ibu yang sedang menanam padi

Di punggungnya tidur nyenyaknya seorang bayi

Wajahnya bulat menggemaskan

Dibelit kain batik panjang

Seperti kepompong di dahan pohon

 

Aku berjalan di pematang,

                                             memandang keduanya

Dan damai mengalir lembut,

                                             menentramkan dada

—Palembang , Maret 2013

Kau bisa membayangkan, bagaimana sebuah kota telah familiar denganmu, kau temui di saat malam menyelimutinya. Ketika jalanan telah sepi dan cahaya lampu jalan membuat ruang untuk mata memandang. Apakah memang selalu begitu, setiap kota yang telah kita singgahi selalu memberi kesan tertentu. Kadang saya bertanya, apakah di alam setelah mati, adakah sepotong tempat di dunia ditempatkan di sana? Ya, seandainya, bila rindu dengan suatu tempat di dunia: sebuah rumah semasa kecil, atau kota tempat mencari nafkah, atau taman tempat lari pagi, adakah kita bisa melepaskan rasa rindu dengan memandang atau merasakan suasananya di alam sana? (Namun dunia adalah air yang membasahi ujung jari, jelas kita tidak akan merindukannya bila berenang di samudera).

Saat menuju Gunung Dempo beberapa pekan yang lalu, saya tiba saat lewat tengah malam di Pagar Alam. Pagar Alam sebuah kota yang saya rasa yang paling indah di Sumatera Selatan. Pusat kotanya sebenarnya kecil saja dan tidak terlalu rapi. Namun, udaranya sejuk dan pemandangan alamnya bagus.  Di sana kita bisa menemukan sungai untuk berarung jeram, air terjun, jurang-jurang yang dalam, hutan yang masih perawan, lahan yang ditanam sayur mayur, persawahan hijau, kebun-kebun kopi dan teh, rumah-rumah panggung tua, beberapa peninggalan megalit, dan tentu saja, Gunung Dempo sebagai latarnya.

Saya pernah melewati pematang di beberapa persawahannya dan menyusuri jalan dengan kiri kanan kebun kopi serta lembah. Pemandangannya bagus. Ya, saya akan melampirkan beberapa foto agar kita bisa lihat sama-sama. :)

Suatu hari, saya sampai di sebuah kampung kecil di sebelah timur Gunung Dempo. Tempatnya benar-benar damai. Ada seorang petani yang tinggal dengan istri dan anaknya yang masih balita, serta beberapa ekor anjing, di sebuah rumah panggung kecil. Halaman rumahnya di tanami palawija dan sayur mayur serta terdapat beberapa kolam ikan lele. Katanya, dia akan pergi ke kota sekali sepekan untuk menjual hasil taninya itu.

Bila sempat di akhir pekan, saya berlari pagi menuju taman kotanya. Di sana hanya berkeliling sebentar, melihat masyarakat kotanya, mendengar mereka berbincang dengan bahasa Besemah, dan berbicara dengan penjual keliling. Dan sehabis berolah raga, siap-siaplah berhadapan dengan air dingin yang menusuk tulang saat mandi. Tapi, lama-lama, bisa terbiasa juga. Bila tidak mandi, justru dinginnya udara lebih terasa.

Suatu hari, saat meninggalkan Pagar Alam menuju Palembang, mobil yang kami tumpangi tidak sengaja melindas seekor kucing. Dengan rasa sangat bersalah, bapak yang menyopiri kami menepikan mobil dan menghampiri kucing yang tergeletak malang. Si bapak segera membuka baju yang dikenakannya, digunakan untuk membungkus kucing tersebut, dan menitipkan kepada seorang ibu di tepi jalan untuk dikuburkan. Ada kepercayaan orang Besemah, bila menabrak hewan dan meninggalkannya begitu saja, akan ada kecelakaan yang akan mereka alami nantinya. Saya mengesampingkan pembuktian untuk hal ini, namun kearifan lokal seperti itu mungkin untuk mengajarkan kita agar menyayangi dan bisa berlaku adil kepada sesama makhluk ciptaan-Nya.

Dan bila sekali waktu sempat ke Pagar Alam, cobalah pempek kulit kuah model di dekat Simpang Telaga Biru, fettucini carbonara di Warung Tenda Chef Dadang, masakan cina di dekat Simpang Manna, pindang kerupuk di Karjak, atau ikan bumbu kuning di depan Karjak. Rasa adalah relatif dan saya bukan pemuja makanan yang bisa memberi nilai sebuah masakan, namun sebuah tempat selalu memiliki makanan khas di tempat itu. Cobalah, untuk mencicipi rasanya dan mengenal cita rasa masyarakatnya.

Prabumulih, Sumatera Selatan, 29 Januari 2014, 22:30 WIB

“Meski lumayan lama di Pagar Alam dan objek sketching sangat banyak, tapi tidak sempat. Ya, biasa saya, sok sibuk. Gantinya, ini beberapa foto yang sempat saya ambil di sana. Beberapa foto akan menyusul :)”.

Pagar Alam. Sepotong pemadangan kota dengan latar Gunung Dempo.

Pagar Alam. Sepotong pemadangan kota dengan latar Gunung Dempo.

Pagar Alam. Kebun teh di Gunung Dempo.

Pagar Alam. Kebun teh di Gunung Dempo.

Pagar Alam. Air Terjun Mangkok.

Pagar Alam. Air Terjun Mangkok.

Pagar Alam. Sebuah rumah panggung tradisional orang Pagar Alam.

Pagar Alam. Sebuah rumah panggung tradisional orang Pagar Alam.

Pagar Alam. Gubug petani kopi. Didiami oleh petani untuk menjaga tanaman kopi yang akan dipanen.

Pagar Alam. Gubug petani kopi. Didiami oleh petani untuk menjaga tanaman kopi yang akan dipanen. Setelah panen, gubug-gubug ini biasanya tidak didiami lagi.

Beguyur

Pelan-pelan, sedikit demi sedikit

Selangkah demi selangkah

Tidak  usah tergesa-gesa

 

Nikmati setiap usaha

Setiap susah-senang, sulit-gampang, sempit-lapang

Asalkan terus bergerak menuju harapan

 

Seperti mengayuh sepeda

Lihatlah setiap pemandangan

Kendaraan lalu lalang, pepohonan, orang-orang

Jalan bagus, beton, tanah, pasir kerikil, atau banjir

Orang-orang memberi senyum atau caci tak sabaran

 

Kalau jalanan menanjak, cukup sesuaikan gir

Atau kalau tak jua kuat, sepeda bisa dituntun

Tak perlu terlalu dipaksa

 

Beguyur bae

Untuk apapun yang ingin kau tuju

Cita-cita ataupun cinta

Memperbaiki ataupun mengobati

Mengenal ataupun melupa

 

(Palembang, 13 Januari 2014)

Palembang, 13 Januari 2014, 18:08 WIB, sambil menunggu hujan reda

“Beguyur adalah kata dalam bahasa Palembang, arti terjemahan bebasnya: berusaha pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Sebuah kata yang saya suka dari kota ini”.

Sungai Ogan

Urat nadi kehidupan

Di sepanjang dia berpeluh mengalir

Untuk siapapun yang lahir, berbunga, berlari

tersenyum, ditiup angin

 

Duku, durian, karet, kopi, kelapa sawit

Daun-daunnya hijau tua dan hijau muda

Mengkilap seperti lukisan cat minyak

Sehabis hujan dan matahari bersinar di sisa senja

 

Ikan bermacam nama dan gemuk-gemuk

Juga ternak kambing, sapi, dan kerbau

Betapa subur tanah ini

Di Baturaja dan sekitarnya

Baturaja, 18 Desember 2012, 00:07 WIB

“Hari-hari terakhir kembali ke Palembang. Hai, Palembang, jangan cemburu, saya sepertinya mulai betah di Baturaja :)

Pemandangan sepotong Kota Baturaja dari lantai 3. Asap dan cerobong asap dikejauhan itu adalah kepunyaan pabrik Semen Baturaja. (di-sket saat pertama kali ke Baturaja, 2011 silam)

Pemandangan sepotong Kota Baturaja dari lantai 3. Asap dan cerobong asap dikejauhan itu adalah kepunyaan pabrik Semen Baturaja. (di-sket saat pertama kali ke Baturaja, 2011 silam)

Suatu Pagi di Kaki Gunung Dempo

Secangkir kopi yang hitam dan wangi

Menemaniku duduk di sini

Apa yang ingin aku sampaikan?

Hari-hari ini terasa aneh

 

Padahal ingin aku bercerita tentang semua yang aku lalui

Tentang hijau kebun teh di kaki Gunung Dempo

Tentang puncaknya yang bila menjelang siang akan tertutup kabut

Tentang sungai-sungai besar dan jurang-jurang yang dalam

Tentang kopi ini, yang mungkin saja bubuknya kan kukirim padamu,

melalui jasa juru pos

 

Kau tahu, aku seperti jatuh hati pada Sumatera Selatan

Aku tak tahu, apakah karena aku telah siap

Ataukah karena kesepian

Aku memang terlalu gampang untuk jatuh hati

 

Apa yang ingin aku sampaikan?

Aku tak tahu

 

-Pagar Alam, November 2011

Palembang, Sumatera Selatan, 5 Juni 2012

“Siapa yang sabar, beruntunglah dia :)”

Honda C70 Itu Bernama Marley (Puisi untuk Marley)

marley

Terima kasih, Marley
Karena bersedia aku kendarai tiap hari
Demang Lebar Daun-Plaju
Senin sampai Sabtu
Mengantarku bekerja dan menuntut ilmu

Terima kasih, Marley
Karena konsumsi bensinmu yang hemat
Juga kenalpotmu yang tidak berasap
Dan mesinmu yang tidak berisik
Mendesau-desau seperti angin membelai rimbun bambu
Sengau seperti kekasih terserang flu

Terima kasih, Marley
Dahulu telah bersedia aku bawa pulang
Tiga-empat bulan yang lalu dari bengkel Mas Pur
Walau lampu sein belakangmu hilang satu
Spion dan legshieldmu entah di mana
Bensin menetes dari karburatormu
Jokmu terlalu tipis
Tapi tidak mengapa
Semuanya bisa diperbaiki sama-sama
Pelan-pelan
Tidak ada yang sempurna, bukan?

Terima kasih, Marley
Karena lampu depanmu yang bundar
teduh jelita
Juga bentukmu yang sederhana namun cantik
Desainmu bergaris halus ternyata tangguh
Terbukti oleh waktu
sejak 1980, tahun pembuatanmu

Terima kasih, Marley
Tidak salah aku memilihmu
Walau karena terbatas kemampuan dompetku
Tapi apalagi yang aku cari?
Benar kau tidak sefuturistik sepeda motor terkini
Benar kapasitas mesinmu hanya 79 cc saja
Benar lajumu maksimal kira-kira 50 km/jam saja

Tapi apalagi yang aku cari?
Kau tidak perlu aku cicil pembayarannya tiap bulan
Kau hemat bahan bakar
Tanjakan Jembatan Ampera bisa kau lalui, pelan tapi pasti
Kau tidak banyak meminta

Terima kasih, Marley
Akan aku rawat dirimu sampai puluhan tahun lagi
Bila umur ini diberi

Palembang, 25 Juli 2010, dari melihat-lihat Kampung Kapitan 7 Ulu
Kuberi dia nama Marley, sebab C70 adalah legenda, seperti Uncle Bob. Tangguh. Dan juga cantik; menurut saya. Cantik kan relatif ya”.

Gunung Gede: Sampahnya Bukan Main (25 Juli)

Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Senja di Suryakencana

Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini

Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku

Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:

Alun-alun Surya Kencana

Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki

Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku

Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan pangeran pujaannya

Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak henti-henti berdecak kagum

Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati

dan tak sepenuhnya aku mengerti

Air bening mengalir di tengah lembah

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada harmoni

yang partiturnya masih menjadi rahasia besar manusia

Desir angin tenang menyapu dedaunan

Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis putih

dan buah arbei merah segar yang menjuntai gemulai

Kita tak segera ke puncak bukan?

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini

Kita tak segera ke puncak bukan?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di sana

M N Juna Putra

Alun-Alun Suryakencana, Juni 2007

Alun-Alun Surya Kencana basah oleh hujan, air mengalir di tengah-tengah lembah, Eidelweiss-Eidelweiss seakan menyambut kedatangan para pendaki, arbei-arbei sedang ramai berbuah dengan buatnya yang asem-segar, gemericik air di pancuran di tengah lembah, dan cahaya sore terbiaskan oleh awan-awan. Saya rasa, orang yang hatinya paling kasar, liar, bebal, dan tidak sensitif sama sekalipun akan termenung kagum saat itu.

Begitulah suasana saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede, kurang lebih satu tahun yang lalu. Perjalanan bersama Reman-796, Andika-799, Akbar-819, dan Rian-820 saat itu adalah pengalaman naik gunung yang cukup berkesan buat saya. Jumat lalu, untuk ketiga kalinya saya mendaki Gede. Sabtu sore, saya kembali melihat Alun-Alun Surya Kencana. Syukurlah hari tidak hujan. Langit cerah dan matahari bersinar hangat.

Untuk pendakian kali ini, Mas Iyok-736, Reza-836, dan saya, bertugas menjadi pendamping (guide) bagi peserta Pendakian Umum STAPALA. Pesertanya ada 60-an orang. Kelompok kami pesertanya tujuh orang: Mas Taufik, Mbak Dian, Kanda Ardi (Kanda, karena orang Makassar), Guntur (anak Mafos—komunitas fotografi di STAN), Ana (kawan di KSR Over), Diaz, dan Mas (Kanda?) Yoyon-591 (orang Jogja, tapi lima tahun penempatan di Makassar). Walaupun banyak peserta yang kesulitan menghadapi trek pendakian, namun perjalanan dapat dibilang begitu menyenangkan karena pemandangan yang indah, serta semangat para peserta yang pantang berpatah arang.

Apalagi bila saatnya istirahat dan memasang tenda. Acara masak-masak adalah yang paling ditunggu-tunggu; ramai, penuh joke, dan dengan cerita-cerita menarik yang bisa menghangatkan suasana. Kopi, teh, susu coklat hangat begitu lezat di tengah udara yang begitu dingin. Karena saya tidak begitu suka makanan kaleng, saya begitu senang ketika mengetahui Kanda Ardi membawa satu stoples teri tempe yang disambal goreng.

Acara masak dan makan menjadi ramai ketika Reza-836 a.k.a Carok mengajak bermain Truth or Dare. Dan dia sukses menjadikan saya sebagai korban yang patut dicencengin sepanjang malam. Tapi, syukurlah, ada juga Mas Iyok yang turut menjadi korban, bahkan saya rasa lebih parah karena diberi pertanyaan—yang menurutnya—begitu memalukan.

Mungkin beginilah menariknya naik gunung. Hubungan pertemanan, kalaulah berlebihan bila disebut persaudaraan, akan terjalin semakin erat. Kita bisa tahu lebih tentang kawan kita; apa kesukaannya, bagaimana pengalaman-pengalamannya, hingga siapa gadis tidak beruntung yang dia taksir hingga bertahun-tahun. Belum lagi bila tolong-menolong; membuat minuman hangat untuk kawan yang baru bangun tidur, sekedar meringankan beban ransel, berbagi air minum, atau membantu kawan lain ketika melewati sebuah pijakan yang licin. Kesemua ini menciptakan tali hubungan yang mungkin bisa dijadikan kenangan bertahun-tahun kemudian.

Gunung Gede tetap indah. Pemandangannya tetap menabjubkan. Namun, sangat disayangkan, banyaknya sampah anorganik membuat lukisan alam ini seperti terkena percikan tinta noda. Di Alun-Alun Suryakencana, sampah yang bertumpuk-tumpuk tersebar pada camping ground. Di Puncak Gede, saya seperti melihat Tempat Pembuangan Sampah di mulut gang kost saya. Di sepanjang jalur pendakian; sampahnya tidak usah ditanya. Hampir bisa dikata, tidak ada semeterpun jalur yang bebas dari sampah plastik dan semacamnya.

Untuk apa naik gunung kalau tidak pandai menjaganya? Bila dosa merusak trek, membuat jalur-jalur di hutan, dan membuat para hewan menyingkir, sebegitu membuat kita merasa bersalah; begitu susahkah untuk tidak menambah dosa kepada alam dengan membawa turun kembali sampah yang kita bawa?

”Ah, Rik, percuma saja sepertinya kerjaan kita ini”, ucap saya sambil berselojor kaki. Beristirahat sejenak.

Ga’ masalah, Je. Biarpun sedikit, yang penting ada”. Erik, dengan tidak mengenal mengeluh, terus memungut sampah sepanjang jalur turun. Sudah setengah trashbag sampah yang dia kumpulkan sedari puncak. Sampah yang saya pungut hanya setengah dari plastik sedang saja. Tidak sampai seperlima dari yang dia bawa.

Seperti menggarami air laut, perumpamaan itu mungkin cocok ditujukan pada pekerjaan memungut sampah sepanjang jalur pendakian. Hampir tidak ada pengaruhnya. Sampah yang berhasil dipungut tidak sebanding dengan sampah yang masih tercecer. Apalagi letaknya tersebar. Punggung jadi pegal-pegal karena sebentar-sebentar harus berjongkok untuk memungut sampah.

Kadang teringat kata-kata Bang Jauhari, senior saya di kampus, ”Seandainya Gede ditutup sepuluh tahun saja, betapa indahnya gunung itu”. Memang, pendaki adalah salah satu faktor yang membuat hutan rusak dan habitat hewan terganggu. Padang edelweiss di Alun-Alun Suryakencana pernah terbakar hebat dan melenyapkan banyak vegetasi, dikarenakan oleh ulah pendaki yang membuat api unggun. Owa Jawa, sudah jarang terlihat lagi di habitatnya di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Hal ini dicurigai karena akitivitas pendaki yang semakin ramai. Beberapa pendaki malah sangat bangga karena berhasil membawa pulang bunga edelweiss (Anaphalis Javanica) ; yang saya tidak melihat letak kebanggaannya ada di mana.

Tidak semua pendaki memang. Saya menyaksikan Erik yang mau repot memungut sampah untuk dibawa turun. Juga Reman—kawan, angkatan di atas saya—yang begitu ketat tentang masalah lingkungan. Mendaki bersama dia harus siap-siap untuk memungut sampah dan teliti terhadap jumlah bungkus plastik, kaleng, tali, dan semacamnya yang harus dibawa turun kembali. Juga kawan-kawan lain yang tidak berkeberatan untuk melakukan Operasi Semut, memungut sampah sepanjang jalur pendakian.

Kalau melihat sampah di gunung-gunung, saya jadi menyadari sifat-sifat manusia. Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Kamis, Agustus 2008, Kalimongso

“aku tak tega memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

sepatu di puncak gede

Sepatu All Star bulukan di Puncak Gede. Karena percaya isu bahwa All Star makin keren kalau semakin bulukan, saya pakai terus sepatu ini. Naik gunung (sudah 4 puncak gunung), juga buat kuliah. Rencananya, kalau lulus kuliah, sepatu warisan Jabay ini mau saya bawa ke tempat penempatan. Fisiknya sangat memiriskan hati siapapun yang melihatnya.

ini di sumber mata air panas Cibodas

ini di sumber mata air panas Cibodas

Konsekuensi Cinta

Kau ingat saat-saat itu?

Saat-saat yang kau bilang tak ‘kan pernah terlupa olehmu

Saat-saat ketika kulihat rona merah di pipimu

Saat-saat ketika dadaku membuncah

Karena benih-benih cinta ini begitu indah


Aku tahu kebahagianmu lebih mencemaskanmu

Kau cemas bahwa kebahagiaan ini

akan hilang darimu

Aku maklum,

karena itu adalah naluri alami

dari makhluk anggun sepertimu


Aku hanya bilang:

”Aku cinta padamu”

Namun tidak kah kau sadar,

apakah makna dari kata-kata itu?

Ataukah kau telah menyadari,

hingga inilah yang membuat hatimu cemas?


Aku sendiri tak yakin mampu,

menanggung beban ucapanku


Ketika aku bilang aku cinta padamu

Maka sejak itulah aku harus rela bahwa kedudukanku

menjadi pemberi, yang tidak mengharap pemberian

Sejak itulah aku harus rela untuk memberikan perhatianku kepadamu

Sejak itulah aku harus rela untuk merawatmu dengan segenap kasih sayangku

Sejak itulah aku harus rela untuk selalu melindungimu

Sejak itulah aku harus rela memberikan kesetiaanku kepadamu


Tapi ini begitu berat, Sayangku

Konsekuensi kata-kataku begitu berat

Aku sendiri tak yakin mampu

Menanggung beban ucapanku


M N Juna Putra

13.00 WIB, Kalimongso, Enam September Dua Ribu Enam

Dibuat di siang hari yang panas; yang sanggup membuat kipas angin nyaris tiada berguna, di sebuah kamar kos sempit, oleh pemuda yang berlagak menjadi seniman

Kehidupan Sederhana (21 Juni, Baduy Dalam)

Cahaya bulan lembut bersinar,

aku telurusi jalan bebatuan dengan mata nanar

Bintang-bintang saling berkelip,

mencoba menjadi yang paling menarik

Aku temui orang-orang yang sederhana di sini

Orang-orang yang hidupnya dari alam

Lelaki-perempuan sahabat alam

Lelaki-perempuan penopang alam

Aku temui orang-orang sederhana di sini

Lelaki-lelaki kekar berambut panjang,

berikat kepala putih

Perempuan-perempuan perkasa,

dengan keanggunan alami

Aku temui kehidupan sederhana di sini

Kehidupan tanpa hiruk-pikuk nafsu tiada mengenal kecukupan

Kehidupan tanpa noda kerakusan

Kehidupan tanpa polusi

Kunang-kunang terbang di atas aliran sungai,

sinar ajaibnya berpijar

Cendawan-cendawan kecil berfosforus turut menghiasi malam,

sinar hijaunya berpendar,

Malam ini begitu damai, Kawan

M N Juna Putra

Sabtu Malam, 21 Juni 2008, Cibeo, sebuah perkampungan Suku Baduy Dalam

”dalam ketakjuban pada irama hidup yang berharmoni dengan nada-nada alam”

Sudah setahun kawan-kawan Stapala tidak berkujung ke Cibeo, sebuah perkampungan suku Baduy Dalam. Padahal, setahun ini, dua kali kami mendapat kunjungan dari orang-orang sana. Adalah saat yang tepat sekarang, karena kawan-kawan angkatan baru banyak yang belum pernah ke sana, juga termasuk saya. Ini memang pertama kalinya saya ke Kanekes.

Kami bersebelas: Koh Tepi, Udik, Anton, Wira, Refly, Noe, Isma, Gery, Rian, Ernest, Uka, Dyan, dan saya, Dari Stasiun Pondok Ranji Bintaro, kami menaiki kereta ekonomi jurusan Rangkasbitung. Keretanya sungguh bukan main; gelap tidak berlampu, penumpangnya berdesak-desakan, dan sirkulasi udaranya yang tidak manusiawi. Saya sempat mendengar bisik seorang penumpang, “(Kereta) ini kayak kereta kamp konsentrasi Nazi saja”. Di tengah gelap dan pengap bau keringat orang-orang, saya tersenyum lebar mendengarnya.

Apapun jeleknya kereta itu; toh bisa mengantarkan kami sampai ke Lebak, alhamdulillah. Dari stasiun kereta sampai ke alun-alun kota, kami berjalan kaki saja. Saat menyusuri jalan-jalan kota itu di malam hari, saya jadi ingat Max Havelaar. Di kota inilah, Multatuli—penulis novel itu—pernah bertempat tinggal. Mungkin jalan-jalan lebar yang kami langkahi pernah pula dilangkahi oleh beliau—Douwes Dekker—orang Belanda yang tulisan-tulisan tajamnya membela nasib bangsa ini.

Karena masjid Lebak sedang direnovasi, kami tidur di lapangan alun-alun kota. Tidak begitu buruk karena kebetulan ada tenda-tenda yang dipasang untuk sebuah acara di sana esok harinya. Kami pun tidur di bawah tenda-tenda itu. Syukurlah; semuanya bisa memegang prinsip bisa tidur kapan dan di mana saja. Jadi tidaklah ada keluhan tidak nyenyak tidur atau sekedar punggung yang pegal-pegal.

Setelah sholat shubuh di mushola RSU Lebak, kami segera mencari angkutan umum untuk mengantarkan kami ke Kanekes. Tidak susah bagi Koh Tepi untuk menawar harga yang cocok dengan kantong mahasiswa. Setelah mendapat kesepakatan harga yang saling menguntungkan, angkutan umum yang kami carter segera melaju ke tempat tujuan. Di jalan, kami sempat berhenti sebentar untuk membeli bekal makan siang dan sempat-sempatnya minum teh. Juga di beberapa tempat, van Suzuki Carry yang kami tumpangi berhenti sebentar karena kepayahan mengangkut dua belas penumpangnya melewati tanjakan.

Sebelum tengah hari kami sampai di Kanekes. Kami banyak melihat orang-orang suku Baduy Luar yang sedang mengangkut bahan bangunan dari pick up Mitsubishi Colt. Sepertinya sedang ada pembangunan di dalam.

Orang-orag Baduy Luar dapat dikenali dengan pakaian mereka yang serba hitam dengan ikat kepala batik berwarna biru. Sedang orang-orang Baduy Dalam mengenakan pakaian serba putih dengan ikat kepala putih. Mereka berkulit putih dan tampak mirip satu sama lainnya.

Kami bertemu dengan Kang Sanip, seorang Baduy Dalam, yang bersedia mengantarkan kami masuk ke Kampung Cibeo. Jalan menuju Cibeo merupakan jalan setapak yang dapat ditempuh dalam waktu empat jam jalan kaki. Lumayan juga; apalagi matahari begitu terik memancarkan sinarnya. Namun, pemandangan sepanjang perjalanan setidaknya cukup menghibur untuk melupakan teriknya matahari.

Kami melewati tiga perkampungan suku Baduy Luar sepanjang jalan. Perkampungan- Perkampungan itu terdiri dari puluhan rumah dan puluhan lumbung padi yang biasanya terpisah dari rumah-rumah. Sepertinya sedang ada hajatan, orang-orang Baduy Luar: laki-laki dan prerempuan, anak-anak dan orang tua, terlihat berpakaian dan berdandan rapi.

Sore hari kami sampai di kampung Cibeo. Oh ya, sejak masuk ke kawasan Baduy Dalam, segala peralatan elektronik wajib dimatikan. Ini merupakan peraturan adat setempat untuk menjaga keaslian adat istiadat masyarakat Baduy Dalam. Kamera digital, MP3 player, dan handphone harus dipastikan dalam kondisi off.

Kami ditampung dalam dua rumah. Rumah-rumah di sana indentik satu sama lain. Bentuknya sama. Letak balok-balok kayunya pun sama. Bahkan, botol air minumnya dan bentuk gelas bambunyapun sama. Setelah makan malam di rumah Kang Ardi, saya kaget ketika memasuki rumah Kang Sanip untuk bersitirahat. Pasalnya itu tadi, interior rumah-rumah di sana sangat mirip! Saya seperti memasuki rumah yang sama namun beda letaknya.

Di sana, para lelakinya dapat berbahasa Indonesia, sehingga komunikasi pun lancar. Namun, kaum perempuannya biasanya (Atau semuanya? Saya tidak tahu pasti) tidak mengerti bahasa Indonesia. Alhasil, untuk berkomunikasi, bahasa tangan, tubuh, mimik wajah, menjadi satu-satunya cara. Namun, semuanya lancar-lancar saja. Biarpun kami tidak mengerti bahasa mereka, dan mereka tidak mengerti bahasa kami, toh tidak menghalangi terjalinnya keakraban selama di sana.

Letak kampung Cibeo di pinggir aliran sungai kecil berair jernih. Untuk mandi danmengambil air minum, terdapat pancuran di sudut perkampungan. Airnya benar-benar dingin. Saya mencuci muka, tangan, dan kaki saja, tidak berani mengguyur air ke semua badan saat membersihkan diri; saking tidak tahan dengan dinginnya.

Malam harinya, sebelum istirahat, kami berkumpul di alun-alun kampung, untuk memandang langit dan mengobrol dengan penduduk setempat. Unik saja rasanya. Tidak ada penerangan listrik. Tidak ada suara radio. D’Massif tidak sampai di sini, walaupun di Jakarta lagunya dinyanyikan di mana-mana. Tidak juga ada suara tivi. Yang terdengar hanya suara-suara orang bicara dari dalam rumah. Juga ada suara sedikit ramai dari sebuah rumah di samping rumah tempat kami istirahat. ”Pemuda-pemuda itu sedang mengapel”, kata Kang Sanip, saat saya menanyakan apakah ada hajatan di sebelah.

Mungkin karena capai, mungkin juga karena suasana yang hening, kami tidur dengan sangat nyenyak. Saya bemimpi indah dalam tidur, tapi tak ingat mimpi apa. Paginya, kami harus segera bersiap-siap untuk balik ke Bintaro; mengejar kereta jam tiga dari Rangkasbitung. Beberapa kawan ada yang kuliah Senin besok, sehingga kalau tidak dapat kereta jam tiga, tidak ada lagi kereta setelahnya.

Kalimongso, Jurang Mangu, Juni 2008

Ingin rasanya kembali lagi. Mungkin suatu hari nanti untuk bersilaturahim ke sana. Menimati keasrian alam dan kesederhanaan orang-orangnya.

Doa (Calon) PNS

Tuhanku

Bila tenaga, waktu dan pikiranku dapat aku sumbangkan untuk negeri ini

Jadikan tenaga, waktu dan pikiranku benar-benar bermanfaat untuk negeri ini

Tuhanku

Bila tugas negara yang diembankan kepadaku begitu berat

Jadikan itu ringan saja karena aku tahu bahwa waktu, tenaga dan pikiranku bisa bermanfaat untuk negeri ini

Tuhanku

Bila aku ditempatkan pada instansi yang sesuai minatku

Jadikan aku semakin bersemangat dan tiada lupa diri

Tuhanku

Bila aku ditempatkan pada instansi yang bukan minatku

Jadikan aku tiada kehilangan semangat dan tiada frustasi

Tuhanku

Bila aku akan kehilangan semangat dan frustasi karena jauh dari minatku

Pilihkan instansi yang menjadi minatku untuk diriku

Tuhanku

Bila diriku ditugaskan di daerah dan kota yang penuh keramaian

Jadikan diriku tetap tenang dari kebisingan sekitarku

Tuhanku

Bila diriku ditugaskan di tempat terpencil dan jauh dari keramaian

Jadikanlah tempat itu adalah tempat terindah untuk aku diami

Tuhanku

Bila aku diberikan uang suap bertumpuk-tumpuk yang jelas bukan hakku

Maka kuatkan hatiku untuk menolak dan gantikan dengan uang dari jalan lain yang menjadi hakku

Hingga aku tak terpengaruh dengan uang-uang suap itu

Tuhanku

Bila aku digoda oleh wanita cantik nan semlohai agar aku korupsi

Maka kuatkan hatiku untuk menolak dan pilihkan istriku yang solihah dan tak kalah manis

Hingga aku tak terpengaruh oleh bujuk rayu untuk menyuapku

Tuhanku

Inilah doaku

Tiada tempat lain diriku untuk mengadu

Terinsiprasi begitu saja saat menuruni lereng Gunung Merbabu, Jalur Selo, 5 April 2008

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 26 other followers