Black Hole Grubug

Gua Grubug. Foto diambil dari www.yogyes.com. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta fotonya. Kapan2 upload yang asli...

Gua Grubug. Foto diambil dari www.yogyes.com. Tampak flowstone di bawah tirai cahaya. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta foto-foto Grubugnya. Kapan2 dah diupload yang 'asli'... :-)

Hari belumlah terlalu senja. Sinar matahari masih sanggup menerobos masuk, membias molekul-molekul air yg terperangkap dalam Luweng Grubug sedalam hampir seratus meter. Di dasar gua terdapat aliran sungai deras sepinggang. Di sisi lain, tepat di bawah aven, flowstone berwarna putih tegak berkilau oleh sinar matahari, cahaya headlamp, dan lampu senter.

Di atas kami, puluhan meter tingginya dari flowstone, pintu aven membuka jalan bagi sinar matahari. Bercahaya. Membentuk bulat cahaya. Gelapnya dasar Luweng Grubug seakan menghisap sinar matahari dari atas sana. Juga terhadap seluruh keangkuhan, bahkan kata-kata.

Ini keajaiban, Kawan. Black hole itu tidak hanya ada di luar angkasa. Yang ini, auranya bahkan mampu mengkerutkan segala ke-aku-an. Saya. Kami.

Subhanallah. Semakin saya menyerah.

Demang Lebar Daun, Palembang, 27 Mei 2009

Catatan dari perjalanan bersama kawan-kawan Stapala: Hendy, Fajar, Yusman, Golo, Yeye’, Komaruzzaman, Hatta, Mujur, Ana, dan Denis. Perjalanan menyusuri Gua Seropan, Gua Semuluh, Gua Jlamrong, Gua Sumber Suci, Gua Glatik, Gua Gelung, Gua Jomblang, dan Gua Grubug di Semanu, Gunung Kidul, 30 Maret-1 April 2009.

Perjalanan yang tak terpikirkan sebelumnya. Kawan-kawan yg tak terbayangkan hebatnya. Alam yang tak terkirakan indahnya.

di Gua Jomblang, sebelum menuju ke aven Grubug

Berpose di Gua Jomblang, sebelum menuju aven Grubug (ki-ka: Mujur, Ana, Denis, Hatta, Hendy, Golo, saya, dan Yeyek). Salah satu perjalanan dalam rangkaian 30 titik pengibaran bendera untuk 30 Tahun Stapala. Never ending adventure...

Lihat Palembang, Yuk!

Sudah tiga pekan ini di Palembang. Tidak terasa saja. Mungkin benar saya sudah betah di sini. Tapi, sepertinya memang bisa betah di mana-mana. Jangankan di kota ini; di hutan saja senang rasanya.

Tadi pagi saya lari pagi. Sudah lama tidak olah raga ini. Terakhir kali, kalau tak salah, saat diklat di Kalibata.  Jadinya, badan ini rasanya pegal-pegal sana sini. Badan mestilah fit. Sakit tidaklah enak; makan tak enak, tidur tidak nyaman, dan banyak aturan. Lagipula, siapa tahu dekat-dekat ini bisa naik Dempo. Persiapanlah, setidaknya.

Setelah push up pada hitungan seribu empat puluh, dan badan sudah terasa enak, saya keliling-keliling saja Kota Palembang. Pakai motor pinjaman dari kantor. Kantongi camdig, cuci muka, dan berangkat. Oh ya, saya push up-nya dihitung dari hitungan seribu, Kawan. Jadi, biasa saja kalau saya push up sampai hitungan seribu lebih.

Pertama; mampir ke Taman Kambang Iwak. Ramai sekali. Cocok buat yang ingin cari jodoh di sini. Sebentar saja di sana. Ambil gambarnya, sarapan bubur kacang ijo, bayar seribu di tukang parkir, dan berangkat lagi.

Taman Kambak Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Taman Kambang Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Susuri jalan menuju Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi. Di sana ramai pulo. Sedang ada jalan santai untuk anak sekolah dan para guru, memperingati Hari Pendidikan. Masih kah kau ingat dengan hari Pendidikan, Kawan?

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Di depan benteng, ramai anak-anak yang main bola. Di halaman tepi Sungai Musi, macam-macam lomba diadakan. Yang duduk-duduk saja juga banyak. Yang mengobrol juga hampir semuanya. Tidak ada yang menangis.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu-perahu di tepian menunggu penumpang. Yang di tengah sungai sedang mengangkut penumpang. Hilir mudik di Sungai Musi. Penumpangnya banyak dari anak sekolah dan para guru. Rekreasi kota yang sangat menyenangkan.

menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Bayar seribu lagi di tukang parkir. Kemudian mampir di Masjid Agung Palembang, tak jauh dari Benteng Kuto besak. Masjid yang pembangunan pertamanya pada tahun 1738-1748 ini, arsitekturnya unik, perpaduan gaya China dan Eropa. Bentuk atap yang melengkung mengingatkan kita pada bentuk kelenteng. Bentuk jendela yang besar dan tinggi, serta tiang-tiang yang besar, tentulah ciri dari arsitektur Eropa. Bahkan, pula mendapat pengaruh dari Jawa-Hindu; pada dasar masjid yang berundak-undak.

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

Saat sedang mengambil motor di parkiran, tiba-tiba terdengar ringtone ponsel. SMS masuk. Mbak-mbak yang punya.

Saya: Yu’, itu lagu ST dua belas?

Mbak itu: Ha? Ini kan band itu.

Saya: Oh, ya ya. Ta’ pikir ST dua belas. Malah mirip lagunya Padi, lho, Yu. Bukan lagunya Padi juga?

Mbak itu: Bukan.

Saya: He eh. *nyengir*

Dalam hati saya berucap; saya tahu itu bukan lagunya ST dua belas, apalagi lagunya Padi. Di bus-bus kotanya palembang, di tempat-tempat makan, di counter pulsa, di swalayan, di kantor, di playlist admin warnet, sering benar diputar. Saya hanya becanda saja, Yu‘.

Sampai di kos, Yoga sedang akan menyalakan laptop. Sedang sibuk dia sekarang. Mengurus angka-angka di excel. Tugas auditnya dibawa pulang dari Prabumulih, tempat dia mengaudit. Kasihan dia; sepertinya pikirannya penuh dengan angka-angka. Saya cemas, dia akan lupa dengan nama lengkapnya sendiri.

Saya: Ga, di laptop ada lagunya itu, ga? Ha ha.

Yoga: Oh, ada. Lihat saja, Ris. Muternya pakai windows media player tapi.

Saya: Oke.

Jadi, lirik lagu dari ringtone mbak itu begini:

“Maafkanlah aku lari dari kenyataan.

Bukan karna aku tak punyai rasa sayang.

Maafkan lah aku mencoba tuk berlari.

Karna suatu nanti engkau pasti kan mengerti”

Ha ha, sudah nyambung dengan lagunya? Coba tebak judulnya dan dinyanyikan oleh siapa!

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

Palembang namanya. Inginkah kau sekali waktu berkunjung ke sini, Kawan?”

kamu bilang padang gersang, aku bilang bikin senang

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang ke Sumbawa!

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang di Sumbawa, Kawan!

Alhamdulillah, saya sampai di rumah. Lumayan capai,12 jam di atas bus Mataram-Dompu tanpa AC, di bawah terik langit Pulau Sumbawa. Tapi, semua terbayar. Apalagi yg kurang? Lihat orang-orang rumah sehat wal afiat. Itu kuda juga semakin kekar-kekar badannya, tanda alam untuk sifat ulet, tak pernah menyerah, dan gerak. Bisakah kamu belajar dari mereka, Je’?

Sekarang masih di Dompu untuk pamitan. Kadang berpikir juga, seperti mau ke mana saja saya ini. Padahal Palembang itu dekat saja. Tapi, kalau lihat peta, Dompu-Palembang itu tak kurang empat selat yg harus dilewati. Dan saya harus tinggal di Palembang untuk waktu yang tidak saya ketahui. Dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat. Jauh dekat sama sj, dua ribu rupiah. Loh?

Kemarin-kemarin dari Jogja, pamitan dengan abang saya, dan kawan baik saya, Aang. Terima kasih, Ang. Dari Jogja ke Surabaya, tidak pamitan pada siapa-siapa. Pesawat ke Mataram pagi-pagi soalnya. Sampai Mataram, pamitan sama adik saya, kawan-kawan SMA, dan keluarga-keluarga dekat di sana. Kembali dengar orang mengobrol dengan bahasa Sasak, Mbojo, atau Samawa. Dengar orang bilang lasingan. Mendengar kawan-kawan di Perumnas mengobrol dengan bahasa khas San Murep. Semisal; koya kudud-kudud it inis, Siron. Hadus amal umak kadit ngatad it inis. Kitnat-kitnat kewet-kewet it anas, Ron? Ha ha, ya, itu bahasa Indonesia yang dibalik-balik. Dan hebatnya, itu diucapkan dengan sangat amat lancar. Kana-kana San Murep memang aneh.

Sempat mengobrol dengan kawan-kawan SMA:  Syarif Jago Main Bola, Yogi Calon Dokter, Oky Sedang Susun Skripsi, Halim Petugas Pajak, dan Rudi Anak Akuntansi, empunya rumah yang jadi basecamp semasa SMA dulu. Halim Petugas Pajak sibuk direct selling untuk membujuk kawan-kawan agar mencontreng permen, ehpartai keren sekali, Kamis nanti. Ha ha, PNS mesti netral, Bos. Tapi tak mengapalah, asal kampanyenya tetap damai.

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Ahad siang, jalan-jalan ke Senggigi. Bersepeda motor dengan Kiki, adik saya. Lihat pantai. Jalan-jalan di pasir pantai yang putih. Minum air kelapa muda. Sampai sore.

Pulangnya, Kiki keliatan lelah sekali. Apa sebabnya?

Saya: Ki, kakak punya tebak-tebakan…

Kiki: Apa, Kak?

Saya: Makhluk apa yg badannya kecil kepalanya besar?

Kiki: Hmm, tweety?

Saya: Bukan…

Kiki: Apa dong. Tweetylah…

Saya: Bukan… Hmm, mau tau jawabnya? Ikan teri pake helm!

Kiki: . . .

Saya: Kok nggak ketawa, sih?

Kiki: Kiki lapar…

Saya: Ha ha ha

Kiki: He he he.

Oke, habis pulang ke rumah, kami cari makan. Jalan-jalan dulu sampai Cakranegara, terus berbalik. Makannya di warung ayam taliwang di Gomong. Sedap rasanya. Ayam taliwang plus pelecing kangkung plus beberok. Pedas semua. Pulau Lombok memang berasa Lombok: pedas!

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Aha, kapan-kapan, kalau kakak punya waktu, kita ke Rinjani. Bawa carrier. Bawa jaket tebal. Bawa toblerone yang banyak.

Ini sedang di Dompu. Ingin bertemu kawan-kawan baik di sini; cingi canga, black claw, dan kawan-kawan yang mungkin pulang dari rantau. Kabupaten kecil ini sedang panas-panasnya. Panas karena terik matahari. Panas karena dekat-dekat pemilu. Tapi juga sedang hijau. Adem jadinya lihat pepohonan yang hijau. Kalau sedang kering, tanah ini bisa jadi gersang. Tapi, itulah tanah ini apa adanya. Orang bilang padang gersang, saya bilang bikin senang.

Alhamdulillah.

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

“Ini tulisan dari catatan saya di facebook. Disalin dan disesuaikan sedikit. Ini ditulis saat masih di Dompu, NTB. Tiga hari di sana; tapi sayang tidak sempat ke La Key, pantai di Dompu yang fotonya jadi header blog ini. Kapan-kapanlah ke sana. Ingin lihat pasir putih dan ombak tingginya lagi”.

Samarinda Mellow Mood

Tersenyumlah, bahagialah…

Sungguh engkau, yang melumpuhkan hatiku,

yang melipurkan rinduku

Senyuman itu menyenangkan aku…

(Cahaya Mata, Padi)

Hamparan air meluas di depan mata. Ini bukan hamparan laut. Ini aliran besar air dari hutan-hutan Borneo yang mengalir tenang ke tepi laut. Sungai Mahakam namanya. Saya duduk di tepiannya, menikmati tenangnya senja hari, jingga sinar matahari, dan angin tenang menerpa. Seakan ingin bercerita banyak kepada senja, matahari, dan angin, tentang apa yang saya rasakan. Dalam hening mereka, saya sadari, benda-benda yang tidak bernyawa ini begitu pandai memahami, jauh melampaui manusia yang kerap mengaku memiliki hati.

Samarinda. Akhirnya tiba pula saya di kota ini. Tidaklah karena kotanya yang membuat saya bersenang hati, tapi Kalimantannya. Sudah lama sekali ingin menjejakkan kaki di pulau jamrud ini. Ingin menghirup udaranya, mencicip airnya, dan menghidu bau tanahnya. Ingin melihat hijau luas hutannya, hitam batubaranya, biru langitnya, dan pelabuhan-pelabuhan sungainya. Ingin melihat tanah melimpah anugerah namun masyarakatnya tiada sedikit yang miskin hidupnya.

Telah saya rasakan aroma pulau ini. Tidak semua. Hanya sebagian kecil yang tampak di mata dan terdengar di telinga. Di tepi hamparan air, berbagai macam berita seperti beterbangan di depan mata. Adakah angin membawa berita tentang dia yang tidak pernah berani saya tanyakan kabarnya?

Azan Magrib berkumandang dari menara sebuah masjid yang begitu indah. Saya beranjak menuju suara persuasif itu, mungkin karena semata ingin melarikan diri dari beragam pikiran yang belum semua bisa terjawab. Dalam jawaban yang harus terucap jelas di bibir; tentu tidak ada tempat bagi kata-kata asumsi. Ini bukan soal-soal akuntansi yang bisa kau jawab dengan segala macam asumsi yang nyaman bagi hatimu. Janganlah sekedar untuk mendamaikan resah hati. Karena, bisakah kau mengerti dan mendengar suara hatinya, seperti alam yang memahami suara hatimu?

Wisma Pusdiklat Kalibata, 2009

“Di Samarinda, mobil-mobil doublecabin jadi raja jalanan. Semacam Mazda Falken, Ford Ranger, Mitsubishi Strada (Triton), Toyota Hi Lux dan segala macam merek lain. Kotanya indah, damai, ramai, terbelah oleh Sungai Mahakam. Sebenarnya ingin sekali mengunjungi kampung orang-orang Dayak Kenyah, tapi karena anak magang seperti saya harus bekerja dengan baik dan ini bukan jalan-jalan pribadi, akhirnya tidak bisa ke sana. Mesti segera kembali ke Jakarta. Semoga sekali waktu; bisa berkunjung ke sini lagi.

Islamic Center di tepi Sungai Mahakam. Megah benar masjid ini.

Islamic Center di tepi Sungai Mahakam. Megah benar masjid ini.

Dear Diary

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris2 berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Kalau hujan turun, tak usah lama-lama, maka Sungai Ciliwung itu cepat sekali naik airnya. Bila kebetulan sedang istirahat dari materi di kelas; sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan, kami bisa melihat aliran air coklat dari sungai nan terkenal itu memasuki rumah-rumah di tepinya. Syukurlah, rumah-rumah itu banyak yang berlantai dua. Jadi, biarpun air meninggi hingga ke atas lutut , masih ada cadangan lantai rumah untuk hidup dan bernapas.

Oh ya, pengumuman kecil, sekarang saya sedang ikut diklat di Kalibata; di Pusdiklat yang berdiri di tepi Sungai Ciliwung. Diklat auditor terampil namanya. Namanya saja yang keren, padahal sebenarnya auditor terampil itu pemeriksa yang paling junior di kantor. Bila lulus dari sini, kalau ikut pemeriksaan, saya jadi anggota tim junior. Sudah junior, anggota tim pula. Perjuangan masih panjang rupanya. Ha ha ha.

Sudah satu setengah bulan di sini. Kegiatan tiap hari tidak jauh-jauh dari belajar di kelas, ujian tiap pekan, apel tiap pagi dan malam, makan yang sangat terjadwal, main bola di parkiran, kadang main badminton dan tenis meja, dan senam pagi saat langit masih gelap. Positifnya, hidup saya jadi lebih teratur. Positifnya lagi, saya jadi jarang begadang; kecuali kalau besoknya ujian. Positifnya lagi, saya bisa berkumpul dengan teman-teman angkatan. Negatifnya? Ah, tidak perlu dicari-cari. Saya ingin terbiasa berpikir positif. Bukankah itu baik untuk tubuh dan pikiran?

Pelajaran di kelas rata-rata untuk mengulang pelajaran di kuliahan. Namun saja, kalau di kuliahan; masih banyak yang bersifat teoritis dan ada di awang-awang, di sini sedikit berbeda. Memang masih tetap di awang-awang—namanya juga belum praktik yang senyata-nyatanya—tapi setidaknya bisalah digapai dengan imajinasi. Misalnya, di kuliahan diajarkan pengantar auditing (termasuk audit kinerja), di sini saya belajar praktikum auditnya. Sangat menarik, setidaknya untuk mata pelajaran ini, saya tidak terkantuk-kantuk di kelas.

Kecuali hari Kamis kemarin, saat materi Pedoman Manajemen Pemeriksaan . PARAH. Saya sampai tertidur di kelas. Setelah menulis di flipchart, kelompok saya selesai berpresentasi, saya bisa-bisanya ketiduran saat menyimak kelompok lain berpresentasi. Ternyata saya memang keren. Sudah cara tidurnya seperti filsuf yang sedang memikirkan kenapa banyak sekali acara infotainment di Indonesia, tidur saya ketahuan dosen pula!

Menurut teman-teman kelas, kronologis saya tidur hingga saya bangun adalah seperti ini:

Dosen, SE, Ak, CMA: Ya, kelompok dua, bagaimana tanggapan kalian?

Yovankha dan teman-teman kelompok dua: Wah, no komen, Pak. Belum mengerti benar kita.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ah, nggak ada itu no komen-no komen. Mana anggota kelompok dua? Mm, Muammar Fauzy, apa pendapatmu?

Muammar: (angkat tangan)Saya bukan kelompok dua, Pak.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ok, Nourissafaat. (Hening)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat? (krik…krik…krik…)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat! (sudah meninggi nih nada suaranya…) (ngung…ngung…ngung…)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Noris! Mikir lama bener, boi! (ngeng…ngeng…ngeng)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Yah, dia tidur… Dia tidur, Pak. Ha ha ha… Hoi, Noris… Noris… Bangun woi! Ha ha ha… Parah… Ha ha ha.

Akhirnya ramailah kelas karena saya tidur tanpa sedikit menyadari keramaian itu. Dan pakai ileran pula. Katanya dua menitan saya jadi perhatian seantero kelas, dan tentu saja saya tidak sadar. Ha ha ha. Ok, ok, saya akui, saya memang keren.

Oya, sedikit cerita lagi. Sebentar lagi penempatan diumumkan. Penempatan artinya tempat bertugas, di kantor pusat atau di perwakilan. Saat mengisi formulir penempatan, awal-awal magang di kantor pusat tiga bulan lalu, saya mengisi lima kota. Di antara kota-kota yang wajib dipilih, saya memilih Palembang dan Ternate. Kota-kota favorit, saya memilih Mataram, Denpasar, dan Surabaya. Saya memilih perwakilan semua. Kenapa tidak memilih Kantor Pusat Jakarta? Alasan utamanya; saya ingin memenuhi permintaan ibu saya, agar tidak jauh-jauh dari dia, setidaknya beberapa tahun ini. Kapan lagi saya bisa menyenangkan hatinya? Alasan sampingannya, Jakarta terlalu banyak polusi dan terlalu banyak orang pintar. Yang ada, saya yang tidak pintar ini jadi semakin bodoh di sini; karena hidup di antara para akuntan yang certified dan hidup di antara polusi udara yang membuat otak jadi oon. Dengan konsekuensinya, saya akan kehilangan kesempatan untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya: kuliah di Universitas Indonesia.

Formulir penempatan itu hanyalah untuk mengetahui minat. Jadi, walaupun telah memilih kota-kota itu, tetap saja belum tahu pasti di mana saya ditempatkan. Yang jelas bukan di Mataram; karena , perihal independensi bila ikut dalam tugas pemeriksaan nanti. Mungkin di Denpasar, Surabaya, Ternate, atau Palembang. Mungkin Banda Aceh, Mamuju, atau Manokwari. Mungkin pula di Samarinda, Serang, atau Jayapura. Aha, buat saya pribadi, tidaklah mengapa. Paling-paling Universitas Indonesia akan semakin jauh saja. Saya berdoa; agar di manapun penempatan saya, ibu saya dapat merelakan anaknya ini untuk merantau lagi dan entah kapan kembali. Juga berdoa; dimanapun saya berada, agar bisa bermanfaat bagi orang-orang sekitar, orang-orang yang dari pajaknya saya bisa kuliah tak berbayar.

Ada rasa tidak sabar menunggu SK penempatan. Buat CPNS seperti saya ini, pengalaman berpindah ke daerah barulah—bukan gaji, bukan tunjangan yang tidak seberapa itu—menjadi penghibur diri. Mungkin saya ditempatkan di kota yang susah untuk kuliah lagi karena tidak ada universitas di sana. Mungkin saya ditempatkan di kota yang transportasi mudiknya jarang dan mahal. Mungkin saya ditempatkan di kota yang fasilitasnya minim; dengan listrik yang sering mati, air bersih yang sulit, internet yang tersendat, fasilitas jalan yang rusak. Tapi saya yakin, di sana saya akan mendapatkan hikmah dan pelajaran baru untuk pikiran bebal ini. Bisa melihat budaya masyarakat yang saya akan berbaur di dalamnya. Bisa menikmati pemandangan alam luar biasa dan saya benar-benar hidup di dalamnya. Bisa tetap memanggul carrier, mendaki gunung atau masuk keluar hutan. Bisa memiliki kawan, sahabat, dan keluarga-keluarga baru di sana. Bisa membawa cerita untuk keluarga saya di kampung. Bisa meyakinkan diri; apakah idealisme bisa saya temukan, dibentuk perlahan, mampu bertahan ataukah luntur di tengah jalan. Sederhana saja. Dalam segala hal yang dianggap tidak menyenangkan bagi orang lain, saya tentulah sangat bersyukur atas segala anugerah-Nya ini.

Wisma Pusdiklat Kalibata, Kamar 304, 3 Maret 2009, 23.07

“Hari ini hujan sebentar. Air sungaipun naik sedikit. Semoga tidak banjir, kasihan rumah-rumah ditepinya. Suasana wisma hening. Teman sekamar saya: Miqo, Peppy, dan Yovankha sudah tidur lelap. Teman-teman yang lain sudah masuk dalam kamarnya masing-masing. Tujuhpuluh lima orang angkatan akuntansi lulusan Jurangmangu tahun ini di sini. Mereka, kalaulah tidak istirahat atau bengong, pastilah sedang belajar di kamarnya sekarang. Kalau masalah belajar; mereka itu jagonya. Mereka, bukan saya. He3”.


Murai di Ciremai

Saya dan abang saya, Hairil, di puncak Gunung Ciremai

Saya dan abang saya, Hairil, di puncak Gunung Ciremai 3078 mdpl

Burung kecil bernyanyi

Ku tak tahu jenisnya

Tapi, merdu. Merdu sekali

Oh, merdu. Sampai di hati…

(Alami, Slank)

Teman-teman yang telah mendaki Ciremai selalu membawa kisah tentang cuaca ekstrim gunung itu. Tentang hujan derasnya. Tentang suhu dinginnya. Tentang angin kencangnya. Tentang badai yang sering terjadi di sana. Karena Ciremai itu penuh mistis. Kau buang air kecil dengan posisi berdiri maka sebentar kemudian hutan akan berdesau, pepohonan berderak-derak, fauna-fauna hutan terdiam, suasana mencekam, badai datang. Oleh karenanya, janganlah buang air kecil sambil berdiri, seperti nasihat guru ngaji kita. Atau bersikap tidak percaya saja mitos ini—seperti ajaran agama kita— sambil mempersiapkan diri dan segala peralatan yang memadai; suatu keharusan agar selamat saat mendaki gunung.

Saat saya mendaki Gunung Ciremai berdua bersama abang saya—alhamdulillah—badai tidak terjadi. Hujanpun hanya merintik sebentar. Angin kencang hanya sekali berhembus sebelum kami tidur di Camp Pengasinan. Sekali-kalinya angin kencang, suaranya seperti truk yang mendaki tanjakan, bergemuruh. Saya dan abang saya terdiam berpandang-pandangan, menunggu apakah angin itu akan melemparkan Coleman dalam beberapa detik kemudian. Syukurlah, tenda yang kami tempati cukup kuat menahan angin. Kami pun kembali menikmati sup makaroni kami, kemudian keluar sebentar untuk membangunkan anak-anak SMA di sebelah, yang flysheet tendanya terlepas karena angin satu-satunya itu. Tidak satupun dari mereka yang terbangun, jadi kami segera memasang penutup tenda yang lepas itu. Dengan tenda dome yang tipis tanpa lapisan penutup, adalah berbahaya apabila terjadi angin, hujan, atau sekedar embun sekalipun. Batas hidup mati di atas gunung begitu tipis karena seringkali tidak disadari.

Sebelumnya saya pun cemas bila terjadi badai. Untuk perlengkapan tanggap hujan, kami berdua hanya membawa dua jas hujan tanpa bawahan. Frame tenda salah yang kami bawa, tidak pas dan terlalu kencang saat dipasang pada dome. Sepertinya frame yang kami bawa untuk tenda Eiger, sedang tenda yang terbawa adalah Coleman. Inilah bahayanya bila tidak mengecek terlebih dahulu perlengkapan penting ini. Ditambah lagi, flysheet yang terbawa adalah untuk tenda enam orang. Sedang tenda yang kami bawa adalah yang berukuran tiga orang. Jadinya, flysheet itu kedodoran, yang kemudian kami ikat sana-sini agar pas pada tenda. Entah bagaimana bila datang badai.

Belum lagi cerita orang-orang di kaki gunung bahwa beberapa hari ini badai terus terjadi. Mereka pun meramalkan badai akan datang malam ini. Abang saya pun kemudian bilang, “Tenang saja. Gunung susah diprediksi”. Dan akhirnya, sesuailah dengan harapan kami, badai tidak datang, salahlah prediksi orang-orang. Dalam penampilannya yang sangar, abang saya ternyata pandai menjadi penenang yang baik.

Pagi hari, kami segera naik ke puncak. Angin tenang saja berhembus. Matahari bersinar hangat. Indah pemandangannya. Langit cerah. Tiada awan kelabu. Pemandangan alam melampaui lukisan Mooi Indie manapun. Inilah lukisan Sang Pencipta yang pula melukis pelangi. Bila di bumi ada banyak tempat seperti neraka, seperti medan perang di mana-mana, Tuhanpun memperlihatkan sepotong surga di sana. Walau tanpa sungai susu, tanpa anggur, pula tanpa istana hijau bertahtakan berlian; tapi adakah sesuatu yang cacat dari pemandangan Ciremai di pagi hari yang cerah? Sungguh hampir tiada yang invalid, Kawan.

Di puncak Ciremai, tidak puas rasanya memandang keindahan yang terbentang mengelilingi kami. Laut Jawa di terhampar luas tak terlihat ujungnya. Pemandangan Kota Cirebon dari atas langit. Gunung Slamet berdiri kokoh di kejauhan, berwarna biru, dan sangat anggun. Hutan di sekitar seperti permadani hijau, menyejukkan mata. Kawah Ciremai terbentang seperti menyambut para pendaki yang tak luntur semangatnya.

Seekor burung kecil–yang kemudian saya tahu dari abang saya bahwa itulah burung murai—terus berada di dekat-dekat kami hingga ke puncak. Sejak pos Kuburan Kuda, sekitar delapan jam sebelum puncak, burung itu seperti menuntun jalan. Dia selalu terlihat terbang dan hinggap di dahan-dahan di depan kami berjalan. Di puncak gunung, dia mendekat, melompat-lompat malu-malu, seperti ingin berkenalan, namun tidak tahu caranya untuk berkenalan dengan manusia. Atau sebaliknya, justru kamilah yang tidak mengerti bahwa itulah cara berkenalan bangsa burung. Maafkan kami.

Murai di Ciremai

Murai di Ciremai, sepertinya ingin kenalan. Sejak Pos Kuburan Kuda, dia selalu berada di depan kami.

Kami kembali turun lewat jalur Linggajati lagi, mengejar waktu karena besoknya abang saya harus segera ke Jogjakarta dan saya mesti kembali ke Jakarta. Ini sebuah pendakian yang sangat berkesan. Perencanaannya singkat, berangkat Jumat sore; sambil hunting foto di Monas dan sholat Magrib di Istiqlal, menumpang bus jurusan Purwokerto, diturunkan tengah malam di tengah-tengah tol di Cirebon, menunggu semalaman elf jurusan Kuningan di terminal, mulai mendaki jam 7.30 pagi hari Sabtu dan kembali turun Ahad jam 10.30 pagi.

Saya sangat bersyukur bisa mendaki berdua. Kegemaran kami sama, namun baru dua kali kami mendaki bersama. Pertama kali saat mendaki Penanggungan saat saya berkunjung ke Malang, tempat abang saya kuliah sarjananya. Sebagai balasan, saya mengajak untuk mendaki Ciremai saat dia berkunjung ke tempat saya. Sembilan tahun, kami berpisah kota untuk masing-masing mengejar cita-cita. Susah dan lelah memang; karena tiadalah cita-cita di dunia ini yang gampang diraih. Namun saya tetap meyakinkan diri; suatu waktu cita-cita pun akan lelah dan menyerahkan dirinya untuk ditangkap. Seperti kuda, kambing, ayam, atau burung pipit yang tertempel getah pohon Kerara yang kami kejar-kejar di masa kecil dan tertangkap karena lelah. Mengejar cita-cita hanyalah urusan siapa yang paling lelah dan menyerah, antara pengejar cita-cita dan cita-citanya.

Posko Stapala, 12 Januari 2009

“Perjalanan bisa mendekatkan hati…”

anak-anak Hiparaca. Di gunung, siapapun bisa menjadi teman.

Bergambar dengan tetangga sebelah tenda: anak-anak Hiparaca. Di gunung, siapapun bisa menjadi teman.

hiatus tak lama

Dua bulan lebih saya tidak posting di blog ini; juga tidak di blog mana-mana. Semata-mata akibat perubahan rutinitas yang membuat saya merasa malas untuk menulis di sini. Entah hubungannya apa. Yang jelas, baru sekarang saya punya segala faktor yang mendukung saya untuk meng-update Catatan Kecil ini.

Selama dua bulan belakangan, jadwal saya sedikit teratur. Mandi jam segini, tidur jam segini, makan jam segini, naik kereta api listrik jam segini. Tidak carut marut seperti dulu. Mungkin itu pula yang mebuat saya tidak sempat menulis. Biasanya saya menulis di tengah malam buta, dan jadwal itu sekarang tidak ada.

Dua bulan belakangan saya magang di sebuah instansi pemerintah yang kantornya di depan gedung MPR. Masuk jam 7.30 dan pulang lebih jam lima sore. Terkadang pula lembur dan menginap di kantor. Kalau menyalahi jadwal, maka mesin pemindai tangan di sana akan menganggap saya sebagai manusia pemalas, tidak punya dedikasi, dan pantas dipotong penghasilannya sekian persen per hari per telat.

Sejak jadwal saya berubah, saya menjadi gampang sekali tidur. Sesampai di kos di daerah Jurang Mangu—atau bolehlah disebut Bintaro agar terdengar keren, padahal kos saya di dalam kampung—saya lebih memilih untuk tidur. Selepas jam delapan-sembilan malam saya lebih senang tidur. Ini agar saya tidak begitu lelah saat mengejar kereta pagi-pagi. Kereta Ciujung, Sudirman Ekspress, Depok Ekspress turun d i Palmerah, KRL, dan KRD, jadwalnya relatif tepat. Jadinya, saya mesti menyesuaikan jadwal mandi lebih pagi dibandingkan saat kuliah dulu agar tidak ketinggalan kereta.

Saya masih ada utang di sini. Banyak komentar yang tidak terbalas. Juga tentang award yang mungkin sekarang sudah tidak berjaman lagi. Tapi award itu diberi tiga bulan yang lalu, harusnya saya pasang karena itu adalah hadiah. Sekaranglah saya pasang. Tidak apa-apa sudah kuno, dari pada tidak sama sekali. Terima kasih, Mbak Putri. Rasa-rasanya tidak pantas blog ini mendapat award dari Mbak. Makanya, saya bingung untuk memilih siapa yang harus saya berikan kembali. Blog-blog yang saya kunjungi bagus-bagus sangat; tidak pantas rasanya saya yang memberikan award. Apalah rasa gengsinya mendapat award dari sini. Oh ya, sekali lagi, terima kasih Mbak Putri.

butterfly_award1

Kalibata, 27 Januari 2009, 14.00 WIB

Akhirnya bisa posting lagi. Senang rasanya. Seperti rindu yang terlepaskan. Seperti kasih yang tersampaikan.

Bali Tiga November

Pantai Kuta Bali, 3 November 2008

Pantai Kuta Bali, 3 November 2008

Hamparan sawah selayak permadani, bertingkat-tingkat, bergradasi hijau muda-tua. Tebing karang berdiri kokoh menantang ombak dari Samudera Indonesia. Bukit-bukit hijau, ada pula yang menjadi tambang kapur, yang terbelah sebelah sisinya. Bangunan-bangunan indah tempat pesiar berbagai macam rupa. Dari ketinggian ribuan kaki; pulau yang terkenal di berbagai belahan dunia ini; telah menyampaikan sedikit kesan keindahannya.

Ada tiga jam waktunya untuk transit di NRIA Bali. Saya menimbang, mungkin bisalah saya berjalan-jalan sebentar saja. Aha, bukanlah ide yang buruk. Beberapa kali saya melewati Pulau Bali; tapi hanya sekedar menjejakkan kaki di pelabuhan, bandara, atau di tempat makan untuk para penumpang bus malam. Tidak pernah saya duduk di tepi pantai berpasir putihnya—yang jelas bukan pantai pelabuhan—untuk sekedar memandang horizon langitnya.

Kepada bapak tukang ojek yang menawarkan jasanya, saya minta diantarkan ke pantai yang paling dekat saja. “Iya, pantai Kuta. Cuma sepuluh menit saja dari sini…”, katanya dengan logat khas Bali; dengan pengucapan huruf “T” yang unik. “Ok, kita berangkat ke sana!”, kata saya, setelah tawar menawar harga. Sebelum meninggalkan bandara, saya sempat melambaikan tangan kepada Sandra Dewi. Tapi, karena Sandra Dewi yang saya temui hanya berupa gambar pada iklan SimPati, dia hanya tersenyum terus dan diam saja, tidak membalas lambaian tangan saya. Tidak mengapa, setidaknya senyumnya sangat manis hari itu. :-)

Di atas motor, saya mengajak ngobrol bapak yang namanya Suwita itu. Tentang Bali, juga tentang daerah saya yang dia tanya-tanya. Tentang keluarga dia, atau juga tentang saya yang dia tanya-tanya. Tapi tidak sedikit pun saya menyinggung masalah Bom Bali, Amrozi, Imam Samudera, atau hal-hal yang menuju ke arah ingatan itu. Padahal, topik akan eksekusinya para pelaku Bom Bali itu adalah topik yang sedang marak-maraknya menjadi bahan pembicaraan: pada obrolan warung kopi, di koran, di televisi, hingga dunia maya. Saya rasa, ada banyak hal menarik lainnya yang bisa dibicarakan; tanpa menimbulkan kekecewaan, kesedihan, bahkan mungkin—kebencian.

Saya minta untuk diantarkan ke bagian pantai yang tidak banyak orangnya; kebetulanpun hari itu bukanlah hari libur. Pantai terlihat lengang.

“Tunggu sebentar ya, Pak, saya hanya sebentar saja di sini”. Saya segera ke arah laut, menuju pinggiran ombak untuk menyentuh airnya. Inilah Kuta Bali; pantai terkenal yang turut mengenalkan nama Indonesia di luar negeri sana. Di salah satu titik pada garis pantai itu; pernah terjadi tragedi dahsyat yang membawa pengaruh buruk kepada perekonomian Bali, hingga kepada kepercayaan dunia kepada Indonesia. Banyak yang terhenyak, tidak percaya; namun tragedi tersebut benarlah adanya.

Banyak teori-teori tentang tragedi tersebut diutarakan. Tentang terlibatnya pihak asing. Tentang bom mikronuklir. Tentang keahlian para pembom yang diperoleh dari Taliban. Juga–yang lebih utama– tentang pro kontra tindakan para pelaku pemboman. Apakah ini benar Jihad atau bukan? Apakah ini benar sesuai dengan ajaran agama atau tidak? Sesuaikah dengan hukum syariat? Apakah mereka syuhada atau tidak? Masuk surgakah mereka? Bagaimanakah hubungan antar umat beragama seharusnya, yang telah diajarkan al Quran? Bagaimanakah dengan nasib anak-anak dari korban yang ditinggal mati? Bolehkan menghalalkan cara demi sebuah tujuan?

Saya membasuh wajah dan tangan dengan air laut. Angin yang berhembus memaksa air di wajah untuk menguap pergi. Sebelum perginya; diambilnya sejumlah energi panas dari kulit wajah untuk menguapkan dirinya sendiri; menjadikan wajah saya sejuk walaupun di bawah sengatan terik matahari.

Segera saya beranjak ke tempat Pak Suwita menunggu. Sempat saya mengabadikan foto sambil berjalan ke tempatnya. Pantai ini memang bagus, tapi saya harus beranjak pergi. Tidak apalah saya hanya mampir sebentar; agar saya benar tahu bahwa inilah pantai yang putih pasirnya, tinggi gelombangnya, dan terik mataharinya mengundang banyak orang datang ke sini.

Palmerah, 11 November 2008

“Saya sangat percaya akan kasih sayang dan damai Agama ini…” [di saat orang-orang ramai membicarakan eksekusi...]

-) (3 November 2008)

tupai liar yang cukup jinak, bergaya pula dia di foto :-) (3 November 2008)

Wisuda dan Traktat Integritas

(Balai Sidang Jakarta, 14 Oktober 2008) Siapa bilang, mapala itu mahasiswa paling lama? He3. Alhamdulillah, akhirnya anak2 2005 lulus, ga pakai ujian komprehensif ulang pula. Selamat, kawan...

(Balai Sidang Jakarta, 14 Oktober 2008) Siapa bilang, mapala itu mahasiswa paling lama? He3. Alhamdulillah, akhirnya anak2 2005 lulus, ga pakai ujian komprehensif ulang pula. Selamat, Kawan...

Alhamdulillah, setelah bertahan selama tiga tahun, saya diwisuda juga. Walaupun ini adalah hal biasa di mana-mana; tapi senang saja rasanya. Diwisuda artinya saya lulus kuliah. Siapa pula orang di dunia ini yang tidak senang bila lulus kuliah?

Lagipula, wisuda kemarin sedikit istimewa. Sebabnya, selain Ibu Sri Mulyani Indrawati, hadir juga Haryono Umar, wakil ketua KPK yang juga alumnus STAN 1982. Dia datang mewakili institusi KPK; sebuah lembaga yang ditakuti para koruptor Indonesia dan selalu bisa merekam pembicaraan telepon kapan saja.

Ibu Menteri menyampaikan ceramah-nasihatnya yang menarik didengar. Ada kata-kata pedas—khas dia—juga kata-kata yang memberi semangat dan harapan untuk kami yang diwisuda. Tentang petugas bea cukai yang tertangkap KPK yang katanya, ”Sungguh memalukan”. Candaannya tentang kampus Jurangmangu yang fisiknya jelek bukan main, sampai pernah dilihatnya kambing berkeliaran di depan perpustakaan (hue..he..he..). Juga tentang harapannya pada kami semua, ”Kalian adalah bagian dari solusi Indonesia”. Pelan-pelan saya simak kata-katanya; mencoba mencernanya dalam hati dan pikiran saya.

Sedang Bapak Haryono Umar datang untuk menyampaikan orasi ilmiah tentang korupsi. Korupsi, satu kata yang sering menjadi streotip sebagian orang untuk kampus saya. Juga untuk lulusannya. Tapi, tidak mengapa sebenarnya. Lulusan kampus ini juga tidak sedikit bertugas di KPK.

Setelah berupa-rupa kata sambutan, ceramah, atau orasi namanya; tibalah seorang kawan maju ke depan. Dia—dengan suara lantang—membacakan semacam ikrar atau janji atau pakta tentang integritas anti korupsi. Sebuah peristiwa sederhana namun bersejarah. Ini adalah pertama kalinya janji anti-korupsi dilakukan oleh wisudawan universitas di Indonesia. Saya tentu saja ikut mengucapkannya—dengan ucapan, hati, dan pikiran saya. Saya percaya; dengan mengucapkannya, saya telah memiliki niat baik di hati saya.

Sebelum naik di panggung untuk diwisuda, juga ada semacam janji tertulis yang harus ditandatangani. Apalah beratnya menandatanganinya; sama seperti mengucapkannya. Nanti; saat menghadapai situasi kondisi secara nyata dan sebenar-benarnya; di situlah baru terasa beratnya.

Tapi, tidak usahlah terlalu dipikirkan. Lagi pula yang terpenting adalah perbuatan, bukan semata pikiran. Santai saja. Sambil menunggu acara selesai, lebih asyik becanda dengan kawan-kawan di barisan belakang. Mengejek kawan-kawan yang urutannya di belakang-belakang, yang bernomor urut besar, padahal nomor urut saya juga besar. Atau diejek kawan-kawan yang punya nomor urut kecil. Termasuk juga ikut memberikan aplaus meriah bagi wisudawan paling belakang. Di wisuda STAN, tepuk tangan untuk wisudawan terbaik dan terakhir hampir sama meriahnya. Jadi, ada dua cara agar kamu bisa terkenal; jadi wisudawan terbaik, atau wisudawan terakhir.

Kembali tentang saya yang akhirnya jadi alumnus juga; sangat terasa ini anugerah luar biasa. Saya dulu sempat tidak semangat kuliah di akuntansi. Tapi, tentu saja saya  harus bertanggung jawab. Pada ortu,  juga tentunya kepada Dia Yang Maha Pemurah yang telah memberi waktu, kesempatan, dan segala kebaikan. Tidaklah buruk, setelah dijalani akhirnya terbiasa juga. Saya lulus. Pakai predikat “sangat memuaskan” pula, biarpun IPK tidak seberapa. Sekarang ingin rasanya segera berlari; karena saya percaya ada mimpi yang menunggu di sana; untuk dikejar, tidak menunggu lama.

Rabu, 15 Oktober 2008

“Selamat untuk STAN 2005 yang baru saja diwisuda. Bilapun menapakkan kaki nanti di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Bali, Papua, ataupun Belanda, janganlah lupa atas ikrar yang telah diucapkan kepada negeri ini–Indonesia yang indah ini.”

Ode Malam Lebaran

Saya tidak mudik tahun ini. Kenapa? Tanggung saja waktunya. Sebentar lagi saya ada yudisium soalnya. Jadi aja, waktunya sempit untuk mudik. Biarlah di sini saja; di pinggiran Jakarta sambil menikmati sunyinya hari-hari terakhir Ramadhan.

Tapi syukurlah tidak terlalu sepi di kampus. Lho, kok di kampus? Begini, selama bulan puasa ini saya tinggal di kampus. Di posko mapala kampus saya. Menginap bareng Udik yang orang Solo, Ucup yang orang Bekasi, Jalu yang orang Magelang, Sebastian yang orang Mentawai, Antonius yang orang Sukoarjo, kadang Endji yang orang Surabaya yang datang mentraktir makan—terima kasih banyak untuknya. Jadi, saya tidur, mandi, sahur, berbuka di kampus. Hari-hari terakhir di kampus ini; saya ingin lebih dekat dengan kampus ini. Kalaulah tidak di kampus; di hari-hari terakhir Ramadhan, saya duduk-duduk dan sering tertidur di An Nashr, masjid depan kampus yang baru saja dipasang empat unit Air Conditioner.

Menjelang lebaran, waktu terasa lamban berputar. Saya ingat rumah.Ingat dengan ramainya rumah saat berbuka; oleh keluarga dan orang-orang yang mampir di rumah. Ingat dengan masakan hasil laut yang di gelar di atas tikar pandan. Ingat dengan Sepat—sambal kuah asli Sumbawa—yang tiap berbuka dibuat oleh ibu saya yang orang Sumbawa. Menjelang lebaran begini, seharusnya saya ada di rumah. Tiduran di gazebo belakang rumah sambil mengobrol dengan ibu, bibi, dan paman-paman saya; tentang kuliah, ibukota, sayuran yang baru ditanam, dan ikan lele di kolam. Atau duduk di teras depan, ikut-ikut mengobrol tentang kuda pacuan bersama ayah, abang, sepupu, dan juga paman-paman yang semuanya menggemari pacuan kuda.

Malam lebaran ini tidak demikian. Jalan di depan posko ramai dengan pengendara sepeda motor hilir mudik; dengan pusat keramaiaannya di Bundaran Sektor 9 yang disesaki asap kembang api. Entah mengapa, mereka begitu bahagia saat Ramadhan berakhir. Tengah malam, saya hanya duduk sendirian di depan posko sambil memetik gitar. Mencari-cari chord lagu Home-nya Michael Bubble. Juga saya carikan nada intronya dengan harmonika merek Hero buatan Republik Rakyat China. Tapi, karena tidak ada alat penyangga harmonika yang digantung di leher (apa ya namanya?), saya tidak bisa memainkan keduanya secara bersamaan. Ah, biarlah.

Iseng saya rekam suara saya sambil memetik gitar dengan mode MMS compatible. Ugh, ternyata mendengar rekaman suara sendiri malu rasanya. Nadanya ke sini, suara saya malah entah ke mana. Saya coba rekam beberapa kali. Hasilnya sama saja. Ah sudahlah, tidak usah dipaksa; toh saya tidak dibayar. Saya hapus yang sangat-sangat jelek dan memilih yang saya anggap bagus; yang sedikit mirip dan banyak sekali bedanya dengan suara penyanyi aslinya. Begini syairnya yang saya lompat-lompatkan.

Maybe surrounded by

A million people I

Stilll feel allalone

I just wanna go home

Oh, I miss you, you know

Let me go home

I’m just too far

From where you are

I wanna come home

Saya kirim MMS ke adik saya, dengan rekaman yang menurut saya paling bagus nadanya. Pastilah dia mengerti Michael Bubble, karena dia pernah jadi penyiar radio. Mengerti di sini artinya bukan mengerti watak, kemauan, sampai perilaku si Michael Bubble, tapi artinya tahu kalau Michael Bubble itu penyanyi. MMS-nya buat semua keluarga di rumah, khususnya untuk ibu saya. Beberapa saat kemudian sebuah SMS masuk di ponsel saya. Dari Kiki, adik perempuan saya satu-satunya itu. Begini SMS-nya.

Jelek sekali suaranya,,,

He..he..he.. Ternyata tidak sesuai harapan. Tapi, berpikir positif saja. Mungkin dia sedang tidak berselera mendengar suara yang merdu karena sedang sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru.

Posko Stapala, 13:34, 7 Oktober 2008

“Ingin sekali bertemu Ramadhan tahun depan. Banyak sekali salah yang saya lakukan dalam Ramadhan ini. Bila ada waktu untuk saya”