Bukittinggi: Perjalanan ke Sana

Cuti bersama di akhir tahun ini adalah saatnya menggalau untuk para perantau yang jauh dari rumah. Misalnya saya. Antara pulang ke rumah atau di Palembang saja, adalah pilihan yang sulit. Sulit karena kalau pulang, butuh banyak biaya. Kalau tidak pulang, sayang juga waktunya bila dihabiskan di Palembang saja. Mungkin ada pilihan yang lain. Oke, bagaimana bila kita menyingkirkan Dompu dan Palembang dari nominasi?

Saya sebenarnya ingin ke Jogjakarta, ke tempat abang saya. Tapi, tiket pesawat sedang mahal-mahalnya sekarang. Saya ingin ke nikahnya Welly, tapi acaranya pas sekali di hari terakhir tugas kantor, jadi tidak bisa. Saya juga ingin naik Dempo, tapi tidak ada teman dan tenda sedang dipakai Bramus dan Asig ke Gunung Kerinci. Saya ingin ikut ke Kerinci, tapi saat mereka berangkat, tugas dari kantor baru selesai hari Sabtu. Manusia memang banyak sekali keinginan.

Akhirnya saya memutuskan ke Bukittinggi, pilihan satu-satunya, saran dari abang saya juga; karena letaknya yang tidak begitu jauh dan nilainya untuk dikunjungi. Bukittinggi tidak begitu jauh dari Palembang, hanya sekitar 20 jam perjalanan naik bus. Sejak dulu, saya ingin sekali barkunjung ke kota itu. Kota yang sering sekali disebut dalam buku-buku sejarah. Tempat lahirnya tokoh-tokoh nasional: Moh. Hatta (akan sulit bila tidak kagum dengan seseorang ini, termasuk saya), Agus Salim, Tulis Sutan Sati, Petrus Kanisius Ojong, dan lainnya. Kota yang cantik, tempat berdirinya Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, dan banyak bangunan tua lainnya, yang harmoni dengan bangunan tradisional Minang. Kota yang sejuk, berdiri tinggi di tepi Ngarai Sianok.

Jadi, di pagi Minggu (23/12), saya ke agen Bus Yoanda Prima, sesuai dengan saran Mbak Rina, teman sekantor yang orang Bukittinggi. Masih ada tiket yang tersisa, tentu saja kelas ekonomi non AC, karena banyak yang ke Bukittinggi karena musim liburan. Itu juga di deretan paling belakang. Tapi tidak ada pilihan lain, karena hari Senin pun kondisinya sama. Lagipula, sepertinya kurang afdol ya, kalau saya naik bus tidak di kursi paling belakang. Hehe.

Sekitar jam 12.45, saya kembali ke agen bus itu, sudah siap dengan ransel dan tas selempang. Serius sekali kelihatannya. Padahal, bus tidak jadi berangkat jam 13.00, karena ada sedikit kerusakan, molor dua jam lamanya. Okesip, bagus sekali kedengarannya.

Jam 15.30, bus mulai berangkat. Magrib, bus sudah tiba di sekitar Musi Rawas, dan pengemudi bus mengingatkan untuk salat magrib dulu. Salatlah kami serombongan bus, di sebuah masjid tepi jalan. Dan di sinilah, sendal saya hilang. Sial. Sedang di perjalanan begini, ada-ada saja kejadiannya. Jadilah saya menyeker di atas bus, dan baru membeli sendal jepit skyway di tempat pemberhentian makan malam. Sendal skyway itu masih saya pakai sekarang ini.

Oh ya, besok saya lanjutkan lagi tulisan ini. Pasalnya, penjaga warnet di sini bilang: “Bang, mau tutuik”. Artinya mau tutup kan warnetnya.

Oke.

Bukittinggi, 24 Desember 2012. Di sebuah warnet yang nyaman.

“Sudah ditutup nih setengah pintunya :D

Sungai Ogan

Urat nadi kehidupan

Di sepanjang dia berpeluh mengalir

Untuk siapapun yang lahir, berbunga, berlari

tersenyum, ditiup angin

 

Duku, durian, karet, kopi, kelapa sawit

Daun-daunnya hijau tua dan hijau muda

Mengkilap seperti lukisan cat minyak

Sehabis hujan dan matahari bersinar di sisa senja

 

Ikan bermacam nama dan gemuk-gemuk

Juga ternak kambing, sapi, dan kerbau

Betapa subur tanah ini

Di Baturaja dan sekitarnya

 

Baturaja, 18 Desember 2012, 00:07 WIB

“Hari-hari terakhir kembali ke Palembang. Hai, Palembang, jangan cemburu, saya sepertinya mulai betah di Baturaja :)

mudik kemarin

Tempat yang jauh memaksa saya, mau tidak mau, mengikuti tradisi itu. Bukan semata ingin menikmati suasana lebaran, tapi memang momen lebaranlah saat yang tepat untuk pulang. Sumatera tidak begitu jauh dari Sumbawa (misalnya, bila dibandingkan dengan Jawa-Papua), tapi biayanya tidak sedikit. Total biayanya mungkin bisa untuk membeli sebuah kamera DSLR Sony Alfa dengan seri paling sederhana. Itu biaya yang cukup besar, tapi dengan mempersiapkan lebaran jauh-jauh hari akan sedikit membantu. Meskipun, di akhir masa liburan, bila biaya lain-lain justru membengkak, kau akan menjumpai neraca keuanganmu akan timpang. Seringkali di kalangan pegawai akan becanda: mulai dari nol ya.

Namun, sesuai dengan rencana, mudikpun dapat terlaksana.

Cuti yang lumayan panjang

Tanggal 17 Agustus yang berselang dua hari dengan 1 Syawal tahun ini, sepertinya membutuhkan sedikit strategi. Sebagai pegawai yang digaji negara, kami wajib mengikuti upacara peringatan kemerdekaan republik ini. Jadi, kemungkinannya adalah tanggal 17 Agustus saya upacara di Palembang, lalu siang atau sorenya berangkat ke Sumbawa. Skenario ini akan mulus bila saya mendapat tiket dengan jam dan harga yang cocok. Tapi, tidak ada lagi tiket untuk hari itu. Kalaupun ada ke Jakarta, tidak ada tiket terusan ke Mataram, dan harganya jangan ditanya. Namun, tidak ada yang bisa disalahkan dalam kondisi ini, kecuali saya menafikan the invisible hand  yang sedang giat bekerja di hari-hari padat penumpang. Atau, mungkin ingin mempertanyakan mengapa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, bukan tanggal 31 Agustus saja.

Jadi, saya berpindah kemungkinan pada sebelum 17 Agustus. Meskipun cuti adalah hak setiap pegawai, tentu saja harus dapat ijin dari atasan. Berita baiknya, atasan kami mengijinkan pegawai untuk cuti sebelum 17 Agusutus, tapi dengan catatan di bawah surat cuti: “agar pegawai ybs mengikuti upacara pada kantor perwakilan terdekat”, dengan tulisan tangan rapi yang jelas sekali terbaca. Saya sebenarnya ingin mengajukan keringanan, mengingat jarak Dompu ke kantor perwakilan terdekat di Mataram itu sepuluh jam perjalanan. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu sudah cukup. Mendapat libur 14 hari adalah sebuah kemewahan!

Perumnas, perumahan belum lunas, perumahan panas

Saya tiba di Mataram lewat sore hari. Oh ya, BIL, bandara Lombok yang baru, sudah lengkap dengan fasilitas pelayanan bus Damri. Ini sangat-sangat membantu penumpang, karena letak bandara yang jauh dari ibukota provinsi. Dengan bus Damri yang nyaman dan infrastruktur jalan yang bagus, jarak BIL-Mataram cukup ditempuh dengan waktu 45 menit-1 jam saja. Tarif bus Damri tidak mahal, Rp15.000,00, dan penumpang langsung bisa dengan mudah menjumpai loketnya di pintu keluar penumpang. Bila ingin langsung ke kawasan wisata Senggigi, pihak Damri juga menyediakan rute ke sana, dengan tambahan biaya Rp10.000,00 per hati (karena tiap orang hanya punya satu hati kan? :-) ).

Saya kemudian naik ojek, karena kata tukang ojek yang menawarkan jasanya, bahwa ada travel yang ke Bima dengan jadwal malam hari. Ternyata, setelah ke sana, rute travel tersebut ke Maluk, Sumbawa Barat. Jadi saya mengubah tujuan ke Perumnas, tempat adik saya tinggal selama kuliahnya di Mataram. Kiki sudah lebih dulu pulang beberapa hari yang lalu.

Di masa SMA, saya tinggal di perumahan itu. Jadi, saya masih punya teman di sana. Tetangga-tetangga juga sudah sangat dekat, karena keluarga kami pernah tinggal di Mataram saat kami masih kecil dan Kiki belum lahir. Saya diberikan makan malam dan untuk sahur, sebuah nampan yang penuh berisi nasi, lauk ikan, sayur, sambal, hingga kerupuk kulit, oleh tetangga kami, Bu Sueb. Saya mengobrol di rumahnya, dengan anak-anaknya, Kak Ema dan Kak Rahmat, juga dengan Pak Sueb. Pak Sueb masih ingat dengan saya, walaupun beberapakali menanyakan lagi. Tentu saja larut malamnya ada Cesar, Andi, Ari, dan Erik. Dulu mereka masih SD dan SMP, dan masih cupu-cupu.

Melihat tembok bekas rumah kami, saya jadi tersenyum sendiri. Dulu, Kak Rahmat, orang paling kocak se-RT satu dan RT tujuh, menulis dengan cat di tembok itu: “Terima kos2an. Malam full AC, siang full bara. Hubungi: Dayat”. Ya, rumah-rumah di perumnas Tanjung Karang versi orisinilnya terbuat dari rangka baja dan asbes, dengan plafon yang pendek, yang mungkin membuat siang hari hawanya panas tak biasa. Apalagi, letaknya juga hanya satu-dua kilometer dari pantai Tanjung Karang. Kami biasa, sore-sore di hari Sabtu atau pagi di hari Minggu, pergi ke pantai untuk berenang, main bola, atau mencari tempenyon (sejenis crustacea yang suka bersembunyi di bawah pasir).

Sekitar jam satu saya kembali ke rumah, tidur, dan tidak lupa meninggalkan sekotak kecil pempek untuk para tetangga. Terima kasih, untuk tetangga-tetangga yang baik di sana. Don’t cry for me, Argentina.

Bangku paling belakang

Pagi-pagi sekali saya ke Terminal Mandalika, untuk mencari tiket pulang. Hari-hari itu adalah masa-masa ramainya mudik. Kau tahu, orang-orang Mbojo dan Sumbawa banyak sekali yang merantau ke Mataram. Di masa-masa liburan, satu perusahaan oto (PO) bisa mengggunakan lebih dari lima bus sekali jalan. Sebenarnya, ada risiko tidak mendapat tiket hari itu. Tapi, pengalaman pulang selama ini, ada saja tersedia satu tiket dan tentu saja paling belakang. Itu tidaklah nyaman, karena selain letaknya paling buncit, juga di samping toilet yang aromanya sangat mengganggu bila dibuka tutup (kecuali keluaran Hino seri Legacy versi terbaru yang toiletnya di tengah bus).

Saya dapat tiket bus, ya di belakang. Empat bangku paling belakang adalah untuk smoking room, dan tiga orang yang duduk satu ruang dengan saya itu tampaknya satu gank, masih mahasiswa tampaknya. Saya sepertinya mendapat teman perjalanan yang cocok. Yang perempuan, duduk di samping saya, mengalami mabuk darat dan rutin muntah sepanjang jalan (akhirnya saya paham kenapa yang ini dibiarkan duduk sendiri). Sedang yang dua laki-laki, temannya, seringkali mengejek kalau hanya orang kampung yang mabuk naik bus ber-AC.

Ayahnya rutin menelpon, cemas dengan keadaan anak perempuannya itu. Saya juga prihatin dengan keadaannya, dan menyodorkan sebotol kecil minyak kayu putih. Tapi, sepertinya saya tidak bisa berharap banyak dari khasiat minyak tersebut, karena tak berapa lama dia muntah-muntah lagi. Membayangkan akan selalu begitu sampai Dompu, membuat saya masygul dan memilih untuk tidur selepas Narmada. Tidak begitu lama rasanya, tiba-tiba sampai di Kayangan, pelabuhan penyeberangan ke Sumbawa! Hore.

(bersambung)

Kenten, Palembang, 10-11-12 23:44 WIB

“Hari Pahlawan?”

Selamat jalan, Soner

Dia sudah menemani sejak Februari dua ribu sepuluh. Sudah dua setengah tahun lebih, sampai dia menghilang dua-tiga minggu yang lalu. Sepertinya dia terjatuh dari jaket parasut saya yang bertulis Kuliah Kerja Nyata UMP, di antara Siti Khadijah dan Simpang Polda. Di kantor, saya masih melihat angka jam di ponsel itu, dan saat makan di sekitar Simpang Polda, saya menyadari dia sudah tidak ada lagi. Saya masih menikmati makan malam saya dengan tenang dan berharap dia tertinggal di kantor. Ternyata setelah kembali ke kantor dan bertanya pada satpam, tidak ada ponsel yang tertinggal. Setelah menyusuri jalan sekali lagi (eh, dua kali), resmi sudah saya anggap dia hilang. Jalanan sedang sangat ramai, bila tidak dipungut orang, mungkin dia sudah berkeping-keping dilindas truk atau bus kota tanpa ampun.

Ponsel saya itu penampakannya jadul sekali (mungkin mirip orang yang punya :D ). Sony Ericsson C702, sepertinya keluaran terakhir. Dibeli di Surabaya, melalui sahabat saya, Kadafi. Fiturnya sudah cukup lengkap dan sesuai kebutuhan, dan itu yang membuat saya betah memakainya. Ada kamera autofokus dengan lampu LED, pemutar musik dengan suara empuk, koneksi 3,5 G, A-GPS, google map, dan diklaim oleh pembuatnya tahan percikan air dan debu. Ponsel itu cocok untuk berkegiatan di alam terbuka. Tapi, tetap saja, karena penampakannya yang sudah tidak cantik lagi, seringkali teman saya menyarankan untuk mengganti yang baru. Tidak jarang mereka memandang dengan rasa prihatin, yang menegaskan bahwa manusia sebenarnya selalu punya rasa empati yang tinggi bahkan kepada benda mati sekalipun.

Pun saat saya mengabarkan bahwa ponsel saya hilang, teman-teman di kantor sepertinya lega dan berkomentar, seperti: “akhirnya hilang juga ya itu hape”, atau “memang saatnya diganti tuh, Ris”, atau “model Sony seperti itu kan waktu aku kuliah”. Hahaha.

Saat mudik dan kembali ke Palembang, ponsel itu hampir hilang dua kali. Pertama di Bandara Internasional Lombok, ponsel saya tertinggal di ujung mesin x-ray. Saya baru menyadarinya saat selesai mengantri untuk check in dan bergegas kembali ke pintu masuk dan menemukannya di meja petugas di sana. Kedua di Bandara Soeta, di hari yang sama, tertinggal di sebuah kursi di ruang tunggu, saat saya keluar untuk membeli makan. Seorang petugas kebersihan menemukannya dan menitipkan ke petugas maskapai penerbangan. Saya tidak tahu pasti hingga saya seberuntung itu, apakah karena petugas kebersihan itu sangat jujur, atau karena penampakan ponsel yang sudah tidak menarik lagi hingga siapapun tidak ada niat untuk mengambilnya dan terbit belas kasihan kepada pemiliknya.

Betapapun itu, ponsel itu sangat berarti bagi saya. Sudah banyak sekali kenangan yang kami alami berdua (#eaaaa). Pernah mendaki Tambora sama-sama, dan kami pernah memanjat pintu masuk Stadion Jakabaring, hingga dia terjatuh dari ketinggian sekitar dua meter sampai menyebabkan belasan piksel di layarnya mati. Saya bersamanya belasan jam dalam satu hari, tujuh hari dalam seminggu. Menggunakannya untuk mengambil foto untuk dipasang di blog, sesekali video call dengan keluarga, berkicau di twitter, mengetahui apa yang baru terjadi melalui situs-situs berita, googling tugas kuliah (atau jawaban kuis :D ), mendengar radio, dan menjadi teman.

Sekarang saya punya ponsel baru dan nomor baru juga. Semoga saya lebih care untuk merawat keduanya. Misalnya tidak lagi menyimpannya di saku jaket parasut, yang struktur sakunya memang membuat barang rentan jatuh. Meskipun ponsel sekarang tidak ada fasilitas video call-nya (yang sesekali sangat penting bagi saya), tapi fitur lainnya saya rasa cukup. Bisa membaca dokumen office, tethering, push email, menyimpan kamus KBBI, bahasa daerah, hingga Merriam-Webster, dan pilihan mendownload ribuan aplikasi. Saya mungkin terdengar begitu antusias dengan fitur-fitur itu. Padahal ini sudah tahun 2012, dan saya baru merasa takjub dengan teknologi ponsel demikian, yang sebenarnya sudah dua-tiga tahun yang lalu menjadi tren di kalangan anak muda! :D

Kenten, Palembang, 00:37 WIB, sambil melihat Chelsea-MU di tivi

“Malam tadi, saya bersepeda untuk melihat Ampera. Sepertinya sudah sebulan lebih saya tidak melihat gemerlap lampu jembatan itu. Bersepeda dengan santai, menikmati udara setelah hujan, dan makan malam di warung Martabak Har. Saya membawa buku gambar ukuran A5 dan mampir di Bundaran Masjid Agung. Sibuk dengan buku gambar dan duduk terpisah jauh dari orang-orang, saya tampak seperti orang aneh. Mungkin itu yang membuat juru parkir di sana menyapa dengan ramah saat saya beranjak pergi setelah selesai. Besok adalah Senin, dan kita harus percaya, setiap hari adalah hari yang baik :)

Bunderan Masjid Agung

Bunderan Masjid Agung Palembang. Bila malam hari, apalagi malam minggu atau minggu malam, tempat ini selalu ramai oleh pengunjung. Malam ini, tidak semua air mancur dinyalakan. Lampu-lampu sorot berganti-ganti warna. Dan pengunjung ada yang berpose seperti foto model dadakan dengan fotografer seperti fotografer profesional pula. :)

93 million miles

Sketsa Kota Jambi

Atap sebuah hotel dan dept. store di Kota Jambi. Pemandangan ini terlihat dari jendela lantai empat tempat saya menginap, sore tadi. Jambi adalah matahari yang nila karena asap, masjid tanpa dinding, Sungai Batanghari di depan kediaman gubernur, dan toko buku Salemba, tempat membeli notes made in China. Menggambar, seringkali bisa membantumu memperbaiki banyak hal.

Pertama adalah, ternyata sangat sedikit waktu yang saya luangkan untuk melihat kembali diri sendiri. Seharusnya saya beri jeda sedikit, mungkin sebelum tidur, dari selepas saya melamun atau main playstation sepulang dari kantor. Ya, sedikit saja untuk kembali memikirkan tujuan hidup, beserta rencana-rencana dan pencapaiannya selama ini. Atau sekedar untuk mencari inspirasi. Ini mungkin tidaklah sulit, namun memulai suatu rencana dari awal (setelah tertidur bertahun-tahun) sangatlah membutuhkan keinginan kuat dan keputusan tepat yang harus dipertimbangkan masak-masak.

Kedua adalah, saya rasa beberapa tahun belakangan hidup saya begitu stagnan. Bukan karena saya terlalu santai. Saya suka sifat saya itu dan saya menikmatinya. Bukan juga karena diukur dari segi materi. Namun, betapa saya merasa sangat nyaman dengan keadaan sekarang. Cita-cita pun seringkali mereduksi menjadi sekedar seperti: punya keluarga kecil dan bisa menyicil rumah. Di saat para pemuda lain bercita-cita berbuat banyak hal untuk orang banyak, saya di sini hanya menyia-nyiakan 1.300-1.500 cc volume otak pemberian Tuhan dan seringkali membiarkannya membeku.

Tapi rasa malas ini begitu kuat. Dia seperti sakit gigi yang membuatmu tidak bisa tidur dan asam mefenamat yang biasa dijual bebas di apotek tidak bisa berbuat banyak.

Jambi, 18 September 2012, 23.50 WIB

“Ketiga adalah, saya ingat Bapak dan Mamak. Memikirkan mereka di rumah jauh di sana, membuat suara-suara kota ini sejenak hening. Semoga Allah menjaga, menyayangi, dan  memberi kesehatan selalu untuk keduanya”.

mudik

Sebenarnya, pulang kampung itu lumayan melelahkan. Misalnya berangkat dari Palembang itu di pagi saat matahari tampak malu-malu, siangnya baru tiba di Mataram. Nah, dari kota itu, saya naik bus malam jurusan Bima, sekitar 10 jam perjalanan lagi. Busnya bagus-bagus. Tapi jalan aspalnya tidak selalu mulus. Beberapa ruas jalan nasional di Pulau Sumbawa ada yang rusak parah: sudah tidak ada lagi lapisan aspalnya.

Tapi, sebuah tas kain jinjing produksi Joger bilang begini: “Ayo pulang kampung, selagi masih ada kampung!”. Tidak terbayang kalau kampung saya hilang.

Dan juga, karena kangen.

Kebetulan di hari pertama perjalanan mudik, Kadafi, teman sedaerah yang kuliah di ITS juga baru tiba di Mataram. Kami berdua, tapi bus malam terakhir sore itu hanya menyisakan satu kursi. Jadinya kami duduk gantian. Awalnya, duduk di bagian depan, di area samping supir. Tapi rasanya jauh dari nyaman, karena tidak ada sandarannya. Barulah kami sadar ada tempat di samping kamar kecil bus, di depan kaca belakang. Di situ bisa rebahan dan tidur sepuasnya. Tapi, tentu saja, goncangannya lebih  besar dibanding bagian bus yang lain. Kepala saya sempat kejedot atap bus saat melewati jalan rusak di sekitar Plampang, Sumbawa. Saya meringis tapi tertawa sendiri; aneh-aneh saja pengalaman pulang kampung ini.

Dompu tidak banyak berubah. Di kabupaten kecil itu, waktu seperti tidak ingin tergesa-gesa. Mungkin dia ingin memberi kesempatan orang-orang untuk tidak kehilangan jejak nostalgia: pada sudut-sudut kota, persawahan, latihan pacuan kuda, dan bukit-bukit sekeliling. Itu menyenangkan bagi sebagian orang dan mungkin membosankan bagi sebagian lainnya.

Bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan baik adalah yang menyenangkan. Mungkin, melihat ketidakrapian kota adalah yang membosankan. (Selalu heran dengan keadaan kota yang tidak rapi. Seakan-akan penduduknya tidak pernah melihat kota orang lain untuk dicontoh. Sumbawa Besar misalnya, yang selalu bersih dan enak dipandang).

Di malam hari, saya biasanya menyelinap ke BCB FM (bukan BBC :) ), sebuah radio lokal yang kini dikelola oleh Farhan, Boe, Yanuar, Fauzi, Teguh, Imam, Ito, dan lain-lain. BCB FM adalah radio legenda di kalangan anak-anak Dompu tahun 90-an. Sempat berhenti beberapa tahun, dan kembali mengudara di tangan kawan-kawan tadi, meski dengan sumber daya seadanya dan penyiar yang tidak digaji. Tapi, radio ini tetap sangat menghibur, dengan acara beragam dan aneh, serta penyiar yang kocak-kocak. Penyiar radio memang selalu menyenangkan.

Bapak senang sekali mengajak kami, anak-anaknya, ke kebunnya di Ginte. Yang disebut kebun ini adalah bidang tanah kering karena sedang kemarau dengan rumah panggung kecil di pojokannya. Tanaman yang ditanam tidaklah banyak. Ada beberapa pohon buah dan sayuran. Ada juga beberapa ekor ayam dan seekor kuda pacu yang masih kecil. Kuda itu dipelihara oleh Papa Rano, kolega kami. Saya lupa nama aslinya, tapi beliau dipanggil demikian karena punya anak namanya Rano.

Tapi sekali waktu kami diajak ke Lanci. Di sana, Bapak menanam beberapa tomat ceri. Buahnya imut-imut. Memetiknya harus sabar karena satu pohon buahnya bisa banyak. Oh ya, juga karena matahari teriknya minta ampun. :)

Kami juga pergi ke Kilo, sebuah kecamatan di sisi Laut Flores. Di sana, pantainya bagus dan berpasir putih dengan latar Gunung Tambora di kejauhan. Tapi kami ke sana bukan sengaja untuk ke pantai, tapi ke rumah Aba Heda, kolega keturunan Arab yang punya beberapa kuda. (Aba adalah panggilan orang sana untuk keturunan Arab. Kalau untuk keturunan Tionghoa, biasa dipanggil baba). Sudah dua kali kami ke sana, dan selalu bawa pulang ikan kering dan buah kelor untuk sayur asam.

Selain itu, tentu saja lihat latihan pacuan kuda. Berbeda dengan Bapak dan abang saya, saya sebenarnya tidak hobi melihat pacuan kuda. Tapi, menonton pacuan kuda di kampung tentulah sayang untuk dilewatkan.

Dan di akhir pekan terakhir itu, saya dengan abang dan adik, pergi ke La Key, sebuah pantai berpasir putih di selatan Dompu. Saya yang menyetir, sebuah “kemampuan” yang saya peroleh di Sumatera Selatan. Di waktu yang sedikit itu, kami mengobrol, membicarakan banyak hal, cerita hal-hal lampau yang kami ingat, karena jarang-jarang bisa berkumpul bersama. Dulu saya pernah belajar menyetir di sekitar La Key, dan kijang super keluaran tahun 90-an yang saya pinjam masuk ke selokan. Kiki yang menceritakan itu tampaknya senang sekali membicarakan kesialan abangnya. Dia sampai ingat di selokan mana kejadian itu terjadi.

Ah, cerita mudik saya semuanya terdengar biasa saja. Karena memang begitu. Mudik yang kemudian mungkin begitu juga, biasa, insya Allah. Tapi entah selalu saja, mudik adalah hal yang paling saya tunggu, selain misalnya, bermain futsal setiap pekan di Momea. Mudik adalah saat kau begitu kuat mengangkat gunung, meskipun tubuhmu kecil atau kurus. Karena gunung itu bukan gunung berbatu, tapi gunung rindu #eaaaaaa.

Kenten, Palembang, 16 Juli 2012

“Ini tulisan sebenarnya saya bikin setahun yang lalu, untuk cerita mudik tahun lalu. Tapi tidak kunjung selesai dan diposting. Nah, dari pada telat lebih dari setahun, diposting saja sekarang :D .”

suatu pagi di kaki Dempo

Secangkir kopi yang hitam dan wangi

Menemaniku duduk di sini

Apakah pelukis impresionisme minum kopi?

Sedang mereka tak sedikitpun melirik warnanya

 

Apa yang ingin aku sampaikan?

Hari-hari ini terasa aneh

 

Padahal ingin aku bercerita tentang semua yang aku lalui

Tentang kebun teh hijau di kaki Gunung Dempo

Tentang puncaknya yang bila menjelang siang akan tertutup kabut

Tentang sungai besar yang sering beriring dengan jalan besar

Tentang kopi ini, yang mungkin saja bubuknya kan kukirim padamu,

melalui jasa juru pos

 

Kau tahu, aku seperti jatuh hati dengan Sumatera Selatan

Aku tak tahu, apakah karena aku telah siap

Ataukah karena kesepian

Aku memang terlalu gampang untuk jatuh hati

 

Apa yang ingin aku sampaikan?

Aku tak tahu

-Pagar Alam, November 2011

Palembang, Sumatera Selatan, 5 Juni 2012

“Siapa yang sabar, beruntunglah dia :)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.