Selamat Hari Mamak

Dulu, waktu kecil-kecil, sore hari kami sering berkumpul di ruang tamu. Ada yang bikin PR, baca buku cerita, atau dipotongkan kuku oleh Mamak. Sambil memotongkan kuku kami, Mamak selalu bercerita, mendongeng. Dongengnya banyak, tidak habis-habis. Kami tahu dongengnya dibuat sendiri. Tapi itu sangat menghibur kami. Apalagi Kiki, yang lebih kecil. Dia selalu antusias mendengar cerita Mamak.

***
Kalau kami malas mandi, maka siap-siaplah kena sabetan sapu lidi oleh Mamak. Hehehe. Saya kangen dipukul sapu lidi kalau menunda-nunda mandi sore.

***
Abang saya, Iyek, dulu senang sekali memelihara ayam. Ayamnya banyak. Dari ayam kampung biasa sampai ayam jawa atau ayam bangkok.
Kalau Mamak masak pelecing ayam, sangat besar kemungkinan itu ayamnya Iyek. Nah, kalau kami pulang sekolah dan menemukan ada daging ayam yang sedang dimasak, maka Iyek akan sibuk menanyakan itu ayam siapa. Mamak tentu saja bilang itu ayam dibeli di pasar, atau ayam dibawakan uwak atau paman-paman kami. Kalau sudah dibilang begitu, Iyek akan tenang. Sedang saya dan Kiki, tidak peduli itu ayam siapa. Pelecing ayam buatan Mamak adalah yang terenak di Indonesia.

***
Minuman favorit Mamak adalah fanta merah. Tapi Mamak selalu bilang panta merah. Sebab Mamak orang Sumbawa yang tidak bisa bilang huruf “f”.

***
Cerita yang lucu itu saat Mamak simpan minuman sprite botolan di kulkas. Nah, saat minum itu, Mamak kaget karena rasanya hambar seperti air putih biasa. Ternyata itu ulah Iyek yang menghabiskan isi botol dan menggantinya dengan air putih. Hehehe.

***
Kalau ada teman perempuan yang datang ke rumah, Mamak selalu memuji ke saya kalau teman itu cantik. Siapapun itu. Hehehe.

***
Mamak senang bernyanyi. Kalau lagi beres-beres rumah juga sambil nyanyi. Kalau ada acara nikahan, Mamak maju ke depan untuk bernyanyi. Lagunya lagu-lagu lama; seperti lagunya Erny Johan, Titiek Puspa, Dian Pishesa, atau Dewi Yul. Sering sekali saya dengar Mamak nyanyikan lagu yang liriknya begini:

Tunggu saja kiriman hasil panenku
Daku orang dusun pandai bertani
Hanya pesanku kawan jaga negerimu
Sampai berjumpa nanti salam manisku

Tahu kan itu lagu siapa?

***
Dulu Mamak sering membuat jamu. Nah, ada salah satu bahan bakunya semacam tanaman liar yang sering tumbuh di pinggir jalan. Kami, anak-anaknya, akan mencari tanaman itu sesorean dan pulang dengan ikatan yang besar.

***
Mamak juga sering membuat kopi. Maksudnya, memproses kopi mentah sampai menjadi kopi bubuk. Biji kopi akan digoreng dengan wajan besar, dengan potongan kelapa, buah pala kering, kayu manis, dan jahe, dan ditumbuk dengan lesung. Kopi buatan Mamak rasanya khas.

***
Kampung halaman Mamak adalah Melalo, sebuah dusun kecil di Kecamatan Empang, Sumbawa. Mamak sering bercerita kalau dulu bersekolah dengan jalan kaki berkilo-kilo meter di pagi buta ke ibukota kecamatan. Ini membuat kami malu kalau malas ke sekolah.

***
Kakek kami, H. Ismail, ayah Mamak adalah seorang guru sekolah di Melalo. Kata Bapak yang orang Dompu, untuk mendapatkan Mamak itu susah sekali. Banyak yang ingin menjadikan Mamak, yang baru lulus sekolah keguruan, sebagai menantunya. Saat mendengar Mamak dilamar oleh Bapak, ada orang kampung yang tidak setuju. Bapak pernah menunjukkan sebuah jendela di rumah kakek di Melalo yang pecah kacanya. Itu katanya bekas lemparan orang karena tidak setuju Mamak dilamar oleh Bapak. Bapak sedang tidur di kursi di bawah jendela dan syukurlah pecahan kaca itu tidak mengenai Bapak.

***
Waktu itu musim hujan dan persawahan yang baru panen di samping rumah penuh dengan air, seperti danau. Maka Iyek dan saya mengambil ban dalam truk yang diisi angin dan menempatkan papan di atasnya seperti rakit. Dengan itu kami menyabit pucuk-pucuk padi yang masih tersisa untuk makanan kuda. Kami sering tercebur di sawah dan itu asyik sekali bagi anak-anak. Pulang dari situ badan kami gatal-gatal hebat. Sepertinya, karena di sawah itu ada sekawanan itik yang dipelihara dan kotorannya membuat alergi. Mamak tidak marah dan menaburkan herocyne di badan kami dan menyuruh kami pakai sarung saja semalaman. Paginya, gatal-gatal mereda.

***
Yang paling saya kangenin saat pulang kampung adalah sepat buatan Mamak. Sepat adalah semacam kuah yang dibuat dari air, dengan bumbu: cabai rawit, bawang merah, kemiri yang semuanya dibakar terlebih dahulu, dan dicampur dengan rajangan daun-daunan beraroma wangi serta terong yang dibakar. Sepat yang khas Sumbawa ini adalah teman makan ikan atau ayam bakar.

Sumatera Selatan, 22 Desember 2011
“Kemarin saya telepon Mamak. Saya kira kemarin hari ibunya, ternyata hari ini :hammer”.

tentang dompu

Spanduk ucapan selamat hari lebaran itu sedikit lain dari biasanya. Lazimnya, ucapan berasal dari kepala daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan anggota dewan yang tentunya tidak lupa memasang foto diri ukuran besar. Tapi, spanduk yang ini seakan menabrak pakem dengan memuat ucapan selamat dari rakyat jelata. Rakyat jelata mana yang begitu tulus (karena tentu saja tidak punya kepentingan pencitraan) memasang spanduk ucapan selamat hari raya?

Adalah “ulah”  Blackclaw, Cingicanga, Sinchi, Fauzi, Teguh, Budiman, dll memasang spanduk itu di gerbang Lapangan Beringin, tempat dihelatnya salat Idul Fitri tahun ini. Mereka memang mengaku sekelompok orang yang kurang kerjaan. Spanduk itu hanyalah satu dari sekian hasil kerja kurang kerjaan mereka. Lalu, hasil yang lain? Santabe*, kita kunjungi karya-karya “kurang kerjaan” mereka di bawah ini. :)

dompu.info|Portal Informasi Dompu

dompu.info

portal informasi Dompu

visit.dompu.info|Visit Dompu

visit dompu

Visit Dompu

foto.dompu.info|DompuGraphy

DompuGraphy

DompuGraphy

aksara.dompu.info|Aksara Dompu

Aksara Dompu

Aksara Dompu

7summits.dompu.info|Bukan gunung yang aku taklukkan…

Tujuh puncak gunung di Dompu

Tujuh puncak gunung di Dompu

seko.ramen.dompu.info|Seko Ramen: The Best Ramen in Town

Sekoramen: The Best Ramen in Town

Sekoramen: The Best Ramen in Town

48.dompu.info|DMP48 Official Site

DMP48

DMP48, mewujudkan cita-cita remaja Indonesia!

tukang.las.dompu.info|selama masih ada api las, apapun bisa…

"Selama masih ada api las, apapun bisa..."

"Selama masih ada api las, apapun bisa..."

kejarkuda.dompu.info|Kejar Kuda!

kejar kuda

kejar kuda!

bcb.dompu.info|BCB FM: Bersama Kami Dompu Mengudara

BCB FM: Bersama Kami Dompu Mengudara

BCB FM: Bersama Kami Dompu Mengudara

galau.dompu.info|Galau: Dikala Hati Beku dan Mati

Dompu Galau

Untuk hati yang sedang galau :)

event.dompu.info|Dompu dalam event!

event di dompu

Dompu dalam event!

Selamat berkunjung dan selamat menyelami alam, adat, dan budaya salah satu suku dari sekian ratus suku di Indonesia! :)

Palembang, 7 Desember 2011, Demang Lebar Daun

“Kalau lagi kangen kampung, syukurlah ada internet, jadi bisa lihat-lihat walau jauh dari sini”.

Ket:

*)Santabe= silakan, tabik, dalam bahasa halus.

geri dan nesting ke palembang

Oke. Jangan bayangkan ada seekor siput yang naik priuk berbentuk kotak mengarungi sungai atau samudera. Geri di sini bukan Gary, kucing peliharaannya Spongebob. Nesting di sini juga bukan wadah masak dari alumunium itu. Tapi, Geri adalah Selly. Dan Nesting adalah Ernest.

Juli kemarin mereka datang ke Palembang. Rencananya, ingin hadir di acara pernikahan Mas Rahmat dengan seorang gadis Palembang nian. Mas Rahmat adalah senior kami di Stapala. Sekarang dia jadi teman sekampusnya Ernest di ITS.

Mereka datang tanpa bilang-bilang ke Mas Rahmat. Mungkin maksudnya biar Mas Rahmat-nya kaget. Semacam surprise begitu. Kan seru, bila kamu menikah di tempat yang jauh, tapi teman baikmu datang, tanpa kasih tahu sebelumnya.

Tapi, tidak sesuai rencana. Yang mau dikasih kejutan siapa, yang terkejut siapa.

Saat saya dan Hudha berniat memesan kamar di Penginapan Demang Lebar Daun untuk mereka, malah di sana ada Mas Rahmat. Keluarganya yang datang dari Jogja ternyata menginap di sana. Jadi saja, rencana Geri dan Nesting untuk datang membawa kejutan pupus sudah.

Kami tidak bilang-bilang tentang Mas Rahmat saat kami menjemput mereka berdua di bandara. Jadi bayangkan yang terjadi. Malah mereka berdua yang takjub. Ah, banyak sekali kebetulan hari itu. Kebetulan pula kamarnya tidak perlu dibayar lagi karena sepertinya sudah dibayar calon mempelai pria. Itu kabar baiknya bagi mereka berdua. Hehe.

Malam itu, kami langsung cari makan. Kata Geri, dia mesti mencicipi makanan-makanan khas Palembang. Dia memang demikian. Senang dan banyak makan. Tapi tidak tinggi-tinggi. Hehe.

Jadi kami makan Martabak Har di depan Masjid Agung. Makan sambil berbincang-bincang. Baru saya sadar, ternyata sudah lama tidak bertemu mereka. Sama Nesting mungkin sejak saya lulus dari Jurang Mangu. Itu kira-kira dua-tiga tahun yang lalu. Kalau sama Geri, kira-kira satu tahun yang lalu. Saat kami sama-sama menyaksikan keajaiban dunia di Jambi: saat Bang Adit menikah. Tidak banyak yang berubah.
Habis dari Martabak Har, kami keliling-keliling. Biasa, mampir di Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Juga menyusuri jalan-jalan kota, taman tepi jalan, dan lalu lalang kendaraan yang mulai sepi.

Pagi hari kami sudah siap-siap ke acara akad nikah. Kami jemput mereka ke Penginapan Demang dan menuju lokasi acara dengan mengikuti mobil rombongan keluarga. Ternyata, tempat akad nikahnya tidak jauh dari rumah dinas di Kenten.

Acara akad berlangsung dengan kidmat. Mas Rahmat berjas hitam dan mbaknya pakai kebaya brokat warna putih. Ini kali pertama saya lihat orang mengucap janji secara live. Ternyata tidak rumit. Acara pun lancar dan kami ikut makan.

Resepsinya langsung dilakukan hari itu juga, di lokasi yang berbeda. Seperti biasanya acara nikahan orang Palembang, selalu ada tari-tarian dan lagu-lagu Palembang. Kalau nikahan biasanya ada tari Tanggai dan lagu Ya Saman. Juga sering ada es. Hari itu ada es krim.

Habis dari nikahan, kami masih pakai batik langsung ke Plasa Benteng Kuto Besak. Dari sana, kami akan naik perahu ke Pulau Kemaro. Di benteng sudah menunggu Bang Godwin, teman sekantor Ernest dulu, yang pernah bertugas di Mataram dan sekarang tugas di Palembang. Ada juga Riya, teman satu kost Geri di kampus dulu yang juga teman sekelas saya di 3B Akuntansi di Jurang Mangu. Juga ada Diar dan adiknya. Diar itu anak Palembang yang sekampus sama Ernest di ITS. Juga ada bapak pengemudi perahu, beliau pasti punya teman dan keluarga.

Bang Godwin jago betul tawar-menawar tarif perahu dengan pengemudi perahu. Angkat topi dah.

Kami naik perahu, membelah sungai, lewat kolong Jembatan Ampera, dan menikmati derasnya angin. Bila ada perahu lain lewat, perahu kami bergoyang naik turun oleh sebab gelombang sungai. Itu menyenangkan, atau setidaknya, anggaplah begitu.

Tiba di Pulau Kemaro, kami tentu saja jalan-jalan, lihat-lihat pemandangan pulau. Di pulau kecil itu ada pagoda berwarna terang dan menjulang tinggi. Pulau itu cocok untuk piknik bersama keluarga.

Kami mengambil gambar dan pulang dengan perahu yang tadi.

huda stapala bimbang memilih

Si Huda bimbang memilih di antara empat hati. :D

rombongan di depan jembatan Ampera

rombongan di depan jembatan Ampera

Malamnya, walau agak telat, kami jadi juga makan di RM Sri Melayu. Makan pindang, makanan khas Palembang. Sehabis dari situ, Bang Godwin mengajak kami ke warung kopi (apa ya namanya?) di dekat Kambang Iwak Kecik. Di sana, tentu saja kami minum kopi. Kopinya tinggal pilih dan sudah dibayar oleh yang ajak, seperti halnya ongkos perahu tadi yang juga gratis. Hehe.

****

Pagi hari Minggu, kami sarapan di Taman Kambang Iwak. Jauh-jauh ke Palembang, malah sarapan surabi bandung :hammer. Di minggu pagi, Kambang Iwak sangat ramai oleh orang-orang yang jogging dan komunitas-komunitas anak muda di Palembang.

817, 813, 810, dan 844

817, 813, 810, dan 844

Agak siang, kami ke Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Padahal sudah dua tahun di sini, tapi baru hari itu masuk museum :malu. Di sana, pengunjung bisa membaca kisah-kisah sejarah Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Palembang di papan display, melihat diaroma, senjata tradisional, pakaian adat, maket rumah limas, dan tentu saja macam-macam songket. Sayang sekali, kami datang terlalu siang. Kami tidak sempat masuk di ruang singgasana sultan karena keburu ditutup. Sayang sekali.

Peta Keraton Kuto Gawang dan barikade kayu yang memotong sungai. Sekarang bangunan keraton sudah tidak ada dan berdiri pabrik Pusri di bekas lokasi.

Peta Keraton Kuto Gawang dan barikade kayu yang memotong sungai untuk menghalangi kapal-kapal penyerang. Sekarang bangunan keraton sudah tidak ada dan berdiri pabrik Pusri di bekas lokasi.

Diorama penyerbuan Belanda pada Keraton Kuto Gawang-Palembang

Diorama penyerbuan Belanda pada Keraton Kuto Gawang-Palembang. Peperangan dahsyat yang menyebabkan keraton luluh lantak.

Songket di Museum Mahmud Badaruddin II

Songket di Museum Mahmud Badaruddin II

Miniatur Rumah Limas, rumah adat Palembang

Miniatur Rumah Limas, rumah adat Palembang

Mata uang yang digunakan di masa lalu di Palembang

Mata uang yang digunakan di masa lalu di Palembang

Sebelum menuju bandara, kami keliling sebentar, ke Stadion Jakabaring. Lihat wisma atlet yang terkenal itu, selayak kami ini anggota DPR yang meninjau proyek. Setelah pembangunan dan renovasi besar-besaran, kompleks Stadion Jakabaring bisa jadi sekeren itu. Banyak trek jogging, pohon-pohon, rumput, dan fasilitas olah raga yang macam-macam. Semoga pembangunannya lancar dan sukses menunjang pelaksanaan Sea Games nanti.

Kami tiba di bandara menjelang magrib dan duduk menunggu pesawat. Malam itu banyak sekali anak-anak kecil yang berlari-lari sana-sini. Lucu-lucu seperti boneka. Kami ingin sekali mengambil satu dan memeriksa punggungnya, jangan-jangan ada putaran pegas atau tempat baterai seperti di robot-robotan. Dan Si Geri senang sekali karena ketemu teman-temannya.

Palembang, 7 September 2011

“Buat Nest dan Geri, semoga membawa kesan yang baik dari kota ini. Sampai jumpa lain waktu. Salam diklat! :D ”. (oh ya, foto-foto menyusul)

jalan-jalan ke teluk gelam

Bumi Perkemahan Teluk Gelam

Bumi Perkemahan Teluk Gelam

Sebenarnya tidak ada rencana ke sana. Tapi pagi itu, Yani, teman SMP saya dulu kirim SMS. Dia tanya kabar dan kasih kabar kalau sudah di Teluk Gelam, lokasi Jambore Nasional tahun ini. Saat itu sudah jam sepuluh pagi, dan dengan santainya saya kirim SMS: Oke, nanti saya ke sana. Dari internet, ternyata jarak Palembang-Teluk Gelam itu lumayan jauh, 92 kilometer. Tapi saya sudah janji, jadi saya berangkat saja.

Jam 11 lewat saya berangkat dari rumah, naik angkot Perumnas-Ampera, dan mampir di Larissa, toko buah di Jln Sukamto. Pilih-pilih buah tangan di sana sampai jam 12-an. Siang shoma dulu di dekat itu, karena yakin nanti tidak akan sempat. Jam satu siang naik bus kota dan turun di Internasional Plasa, ada agen tiket di dekat situ. Seminggu lalu saya booking tiket untuk mudik dan saya ingin memperpanjang lagi bookingan tadi. Syukurlah, harga tiketnya hanya berubah 70 ribu rupiah.

Jadi saya naik buskota lagi ke Pangkal, di kuping Jembatan Ampera sebelah ulu. Maksud Pangkal di sini, mungkin dari kata pangkal jembatan. Di sana ada banyak travel yang melayani perjalanan ke daerah-daerah di Sumatera Selatan. Saya tanya-tanya travel yang jurusan OKI (Kab. Ogan Komering Ilir) yang beribukota di Kayu Agung. Kebetulan ada yang hampir penuh, dengan ongkos Rp20.000,00 sampai kayu Agung, dan supirnya bersedia mengantar sampai ke Teluk Gelam dengan tambahan ongkos Rp20.000,00 lagi. Travel berangkat sekitar jam 14.15.

Segera saya memilih posisi yang paling pewe untuk perjalanan 2,5-3 jam ini. Ternyata pewenya cuma sebentar. Pasalnya, sepanjang perjalanan Palembang-Indralaya tempat saya duduk kena sinar matahari terus. Ya, lumayan bikin badan keringatan.

Biarpun tidak terlalu pewe, saya sempat buka-buka buku yang saya bawa: The Journeys. Buku catatan perjalanan dari 12 penulis muda. Ceritanya memikat dan kertasnya enak dilihat. Itu membuat imajinasi saya ke mana-mana. Tubuh saya di atas travel Isuzu Panther tanpa AC di jalan yang kiri-kanannya rawa-rawa, tapi pikiran saya malah berputar-putar di komplek istana Alhambra, di Spanyol Selatan.

Karena baca buku di kendaraan itu bikin pusing, saya berubah menikmati pemandangan sepanjang jalan saja. Selepas Palembang-Inderalaya yang satu jam perjalanan, pemandangan rawa-rawa berganti dengan rumah-rumah penduduk, pasar, kebun, dan sawah pada jalur Inderalaya-Kayu Agung. Rumah-rumah penduduk sangat unik, berupa rumah panggung dengan atap berbentuk limas demikian rupa. Dan yang lebih menarik lagi, ukurannya itu, Boi, besar-besar. Saya lihat, deretan rumah-rumah itu seperti melambangkan kesejahteraan (entah masa lalu atau sekarang) penduduk lokal yang diperoleh dari hasil bumi (khususnya karet) di sana.

Jam 16.20 tiba di Kayu Agung. Ternyata, Teluk Gelam itu nama kecamatan. Sekitar jam lima saya diturunkan di depan gerbang Bumi Perkemahan Teluk Gelam, dengan lahan berkelapa sawit dan danau. Dari luar, terlihat banyak sekali manusia berpakaian cokelat dan tenda-tenda berwarna warni.

Saya pikir, perkara menemukan tenda dari Kabupaten Dompu itu mudah saja. Kan tinggal tanya ke anak-anak pramuka di sana. Ternyata tidak gampang, Saudara-Saudari. Memang, anak-anak pramukanya ramah dan mau mengantarkan. Tapi, jumlah peserta yang banyak, sekitar 400-an kabupaten, dan letaknya yang tersebar, pasti membuat mereka sulit untuk menghafal letak semuanya. Setelah putus asa karena berputar-putar selama 20 menit, saya telpon Yani saja. Itu pun sulit juga, karena misalkan saya bilang: Saya di depan tenda Kota Mamuju. Lah, si Yani juga bingung di mana letak tenda Kota Mamuju. Juga pas Yani bilang, coba ke Jalan Yogyakarta. Saya mana tahu itu jalan di mana. Tapi akhirnya, saya lihat Yani yang muncul dari belokan. Halo, saya di sini!

Yani sekarang jadi ibu guru dan aktif di kegiatan kepanduan, jadinya dia ikut Jamnas di sana. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan teman sekolah di Dompu dulu. Ini menyenangkan, karena saya bisa bertanya tentang kabar kampung halaman dan mengobrol macam-macam, biasanya tentang kabar teman-teman yang lain. Termasuk tentang Yadi, si kawan yang baru saja menikah. Itu mengherankan, sebab Yadi terkenal tidak serius dan punya banyak pacar (hoho, piss, Bro).

Saya makan jinta, itu kue kering khas Dompu, bentuknya jajargenjang kecil-kecil dan ada biji jinten hitamnya. Wah, sudah lama sekali tidak makan kue itu. Kata Yani, itu sengaja dibawa, untuk peserta dari daerah lain bila berkunjung ke tenda.

Sampai jam tujuh malam saya di sana. Saya juga sempat bertemu Pak Yan, guru pramuka di SD dulu yang suka bercerita. Saya masih ingat dengan kisahnya tentang bule yang masuk ke lift yang ada tulisan OPEN di pintunya. Secara orang Sumbawa tidak bisa bilang “F” atau “V”, dikira itu OVEN, alat pemanggang kue itu, dan diperingatilah ke bule agar tidak masuk. Tapi si bule telanjur masuk, dan seperti telah diatur, yang keluar dari lift sesaat kemudian adalah turis Negro. Jadilah si orang Sumbawa jadi yakin kalau itu benar-benar oven. Cerita ini sukses membuat kelas 5A menjadi ramai dan kalau ada Pak Yan, mereka pasti menagih cerita lagi.

Jam tujuh malam saya pamitan. Sebenarnya jam segitu sudah tidak ada lagi angkutan menuju Kayu Agung. Tapi, tadi di travel syukurlah ada yang menawarkan untuk ikut mobilnya sampai Kayu Agung. Jam 19.20 saya sudah di mobil itu dan turun di sebuah pos polisi sebelum masuk kota. Oleh Pak Polisinya, saya dicarikan mobil menuju Palembang. Tidak lama, ada sebuah mobil Avanza berplat putih yang dibawa oleh sopir ekspedisi. Mobil tadi sempat menghindar, mungkin dikira mau dirazia. Ternyata si Pak Polisi hanya minta tolong agar temannya bisa menumpang di mobil itu sampai Palembang. Temannya itu siapa lagi kalau bukan saya. Hoho. Maju terus Kepolisian Republik Indonesia!

Pak supirnya tidak banyak mengobrol tapi itu baik agar saya bisa tidur. Jam 22.00 saya tiba di Palembang, di Simpang Empat Musi II. Dari sana saya naik ojek ke Kenten. Jam 22.30 saya sudah di rumah dan sebentar kemudian sudah tidur dengan nyenyaknya.

Palembang, 7 Juli 2011

“Maju terus Praja Muda Karana!”

kembali ke titik nol

kembali ke titik nol ya

dari titik nol ya, jek :D

Palembang, 21 Juni 2011, 18:10 WIB

“Gambar diambil di sini…”

akhirnya tidak salah datang

Saya sempat berpikir mbak-mbak tetangga kost kami mungkin punya nama yang lain. Mbak tetangga kost kami itu namanya Ayu, tapi kenapa di karangan bunga namanya Titi?

Saya tidak enak bila tidak datang di acara resepsi hari itu. Soalnya, Mbak Ayu dan ibunya itu baik sekali sama kami, Yoga dan saya. Dulu, sering sekali kami dibagi makanan dan kue-kue. (Kami kadang-kadang saja membantu memasangkan lampu di plafon rumah) Bahkan, undangannya pun diantarkan langsung ke kantor kami oleh beliau berdua. Tentunya, bila tidak ada halangan, kami harus datang.

Saya masih bingung, jadinya saya perhatikan lamat-lamat layar LCD yang di luar ruangan utama Gedung Dharma Wanita itu. Make up memang bisa membuat orang pangling, tapi wajah pengantinnya terlihat beda sekali. Mungkin saya telat datang dan ini acara pernikahan orang berbeda. Mana amplopnya sudah saya masukkan pula. Juga tidak ada es krim. Jadinya saya pulang saja.

Siang itu panas sekali dan saya naik angkot. Sebelumnya, saya jalan beberapa ratus meter karena angkotnya tidak lewat jalan itu. Sial. Perut lapar dan tidak ada ojek yang lewat.

Tiba di kantor saya segera memeriksa undangan yang tergeletak di atas meja. Hari itu tanggal 8 Mei, dan tanggal yang tertulis di undangan itu 15 Mei. Pantas saja pengantinnya beda!

***

15 Mei kemarin akhirnya saya tidak salah datang. Ada es puter di sana. Juga, tentu saja siang itu saya makan. Saya bertemu teman kuliah, dan saya sempat pangling.

Prabumulih, 18 Mei 2010, baru tiba tadi pagi

“Minggu-minggu ini suhu di Palembang panas nian…”

bekerja adalah ibadah (copas)

Bismillahirrohmaanirrohiim,,

“Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan” (At-Taubah: 105)

Sahabatku, kita sering mengira orang yang ahli agama, ahli ibadah adalah orang yang paling banyak shalat sunnahnya, banyak puasanya, atau rajin tilawahnya. Betul memang, hal itu adalah sebagian dari ciri-ciri orang yang ahli ibadah. Namun orang yang giat bekerja, tekun dalam mencari nafkah untuk keluarga, jujur dalam berusaha, jarang kita masukkan sebagai ciri dari orang yang ahli ibadah. Padahal, sifat-sifat tersebut juga harus dipunyai oleh seorang muslim yang baik.

Negara kita, yang mayoritas muslim, masih jauh tertinggal dari Negara lain dalam memiliki sifat-sifat teladan seperti ini. Penduduk kita masih dicap sebagai penduduk yang pemalas, tidak disiplin, suka mementingkan kepentingan pribadi, dan tidak mau bekerja keras. Mereka hanya memberlakukan agama sebagai aktifitas rutin saja, ya sholat, ya puasa Romadhon, namun tidak menjadikan agama Islam sebagai jalan hidup di dunia. Kadang sudah haji, namun tetap saja masih korupsi.

Sahabat, kita harus bekerja. Agar pekerjaan kita memiliki nilai ibadah, sudah selayaknya kita mengetahui kriterianya agar kita tidak salah dalam bekerja dan berusaha. Kriteria itu adalah motivasi bekerja, cara kerja, bidang kerja dan hasil kerja.

Kriteria yang pertama, motivasi bekerja. Sebagaimana hadist pertama dalam Arbain Nawawi, niat adalah hal yang penting. Niat karena mencari ridho Alloh semata.

Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa; pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW sedang berjalan bersama dengan para sahahat, tiba-tiha mereka menyaksikan seorang pemuda yang nampak gagah perkasa sedang bekerja keras membelah kayu bakar. Dan para sahahat pun berkomentar: “Celakalah pemuda itu. Mengapa keperkasaannya itu tidak digunakan untuk Sabilillah (jalan Allah)?” Lantas, Rasulullah SAW bersabda “Janganlah kalian berkata demikian. Sesungguhnya bila ia bekerja untuk menghindarkan diri dari meminta-minta (mengemis), maka ia berarti dalam Sabilillah. Dan jika ia bekerja untuk mencari nafkah serta mencukupi kedua orang tuanya atau keluarganya yang lemah, maka iapun dalam Sabilillah. Namun jika ia bekerja hanya untuk bermnegah-megahan serta hanya untuk memperkaya dirinya, maka ia dalam Sabilisy syaithan (jalan setan)”.

Kriteria yang kedua, cara kerja. Setelah niat, maka kita harus bekerja dengan baik, dengan professional (itqan). Bukan asal jadi, tidak tepat waktu dan hanya menyuruh orang lain. Seseorang yang bekerja dengan baik, akan memperoleh hasil yang baik pula. Agar bekerja bernilai ibadah, maka orang itu harus mempunyai keterampilan yang memadai. Kita lihat misalnya Nabi Syuaib dan Nabi Musa. Nabi Musa melamar kepada orang kaya (Nabi Syuaib), lalu anak orang kaya itu mengatakan: “Jadikanlah dia orang yang bekerja kepada kita, karena ia orang yang kuat dan dapat dipercaya”.

Dalam Al-Quran surat Al-Qashas ayat 26, mengenai permohonan Nabi Yusuf dapat disimak dalam ayat ini, berkata Yusuf: “Jadikanlah aku bendaharawan negara (negara Mesir). Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan berpengetahuan.” Cara melamar seperti itu, apabila ditanyakan kepada kita, katakan: “Saya bisa” kalau sekarang memakai persyaratan formal, maksudnya untuk menjajaki kemampuan pelamar tersebut. Dalam sebuah hadits tegas sekali Rasulullah saw. Mengatakan: “Bila sesuatu pekerjaan diserahkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Kriteria yang ketiga, bidang kerja. Islam tidak pernah membeda-bedakan pekerjaan itu halus atau kasar, pekerjaan otot atau pekerjaan otak. Yang penting, halal dan memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan. Diriwayatkan dulu Nabi pernah berjabat tangan lalu mencium tangan Saad bin Muadz, seorang yang pekerjaannya memecah batu, dan mengatakan “Inilah dua tangan yang dicintai Allah Ta’ala!”.

Dalam sebuah hadist juga dikatakan, Nabi bersabda, “Demi Allah, jika seseorang di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian dipikul ke pasar untuk dijual, itu lebih baik daripada ia meminta-minta kepada orang lain, terkadang ia dapat atau terkadang ia ditolak. (HR. Bukhari & Muslim).

Kriteria yang keempat, hasil kerja. Apapun pekerjaan kita, harus menghasilkan sesuatu yang bermafaat bagi sesama, untuk kesejahteraan, karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Nabi juga pernah menyolatkan seorang wanita yang pekerjaannya adalah membersihkan masjid. Disebutkan dalam satu hadist: Ada seorang perempuan yang senantiasa menyapu masjid, kemudian mati. Nabi SAW lalu menanyakan tentang perem­puan itu. Dijawab bahwa dia telah wafat. Nabi bersabda: “Mengapa kalian tidak mem­beritahukannya kepadaku?” Maka beliau mendatangi kubu­rannya lalu mensalatkannya. (HR. Asy-Syaikhani, Abu Daud, dan Ibn Majah). Meski hanya membersihkan masjid, tapi dengannya orang bisa sholat dan mengaji dengan tenang. Hasil pekerjaannya amatlah berguna bagi banyak orang.

Sahabat, dengan keempat kriteria di atas, maka insya Alloh pekerjaan yang kita geluti selama ini menjadi amal ibadah, setiap ayunan langkah dihitung sebagai dzikir dan setiap tulisan tangan menjadi penambah pahala bagi kita semua. Semoga pekerjaan kita yang akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Alloh akan selalu berada di atas rel kebenaran dan kebajikan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat, bukan hanya untuk diri kita, tapi juga keluarga, agama dan Negara kita. Janganlah sekalipun menghalalkan yang haram, karena setiap daging yang tumbuh dari barang haram tempatnya adalah neraka.

Wallahu a’lam.

Disarikan dari khutbah Jum’at di Masjid Telkom Pettarani, 25 Februari 2011.

Senin yang dingin di ruangan, 9 Mei 2011, Demang Lebar Daun

“Diambil dari catatan kawan saya Nurudin Hanif di FB. Kenal beberapa orang yang namanya Hanif dan semuanya pendiam”.

jadi bapak-bapak

Mungkin itu hari yang paling mendebarkan bagi dia—teman seangkatan di Jurangmangu dulu, dan teman samping meja saya sekarang. Katanya, bahkan dia sempat mondar-mandir di lorong rumah sakit saking gugupnya, lupa di mana ruangan istrinya dirawat. Hari itu istrinya akan melahirkan dan ini kelahiran pertama. Di umur yang sebaya dengan saya yang masih suka baca komik ini, dia sudah menghadapi peristiwa yang sangat serius. Sebuah peristiwa yang menyangkut hidup-mati kedua jantung hatinya. (Tapi dia juga suka baca komik dan itulah hebatnya!)

Saat kami menonton televisi di rumah dinas dan ada yang main game DotA; kami tahu, di tempat lain dia sedang berusaha keras menguatkan dirinya mendampingi sang istri. Ya, mendampingi, dari awal sampai akhir proses kelahiran itu. Entah kekuatan dari mana, katanya, hingga dia tidak lemas melihat darah di mana-mana. Dia harus ada di sana, agar ada yang memberi semangat bagi istrinya dan membantu menjaga agar mata istrinya tetap terbuka. Kau tahu, Ris, ibu yang bermata minus 3-5 beresiko kebuataan apabila melahir kan secara normal dan dengan mata tertutup. Sebab itu, matanya harus dibuka. Bila perlu ditahan dengan jari-jemari. “Bila bukan aku, siapa lagi, Ris?”, demikian dia bilang. Oh, boi, kamu keren!

Malam itu saya belum tidur, sambil menonton tivi, dan mengirim sms ke dia: “Bro, di Trans ada film ular”. Itu maksud saya agar dia tidak terlalu gugup, karena di saat dia sedang cemas-cemasnya malah ada temannya yang kirim sms tidak penting. Hampir tengah malam, ketika foto bayi itu diupload di facebook Mbak Ela oleh Mbak Pitri–dua  mbak seruangan yang menemani sedari pagi.

Bayi itu telah lahir dengan selamat, sempurna, tak kurang apapun. Bayi laki-laki yang kalem, tidak banyak menangis. Pipinya halus sekali; harus pelan-pelan menyentuhnya. Sulit mencari pengandaian bagi pipi yang lembut itu. Orang-orang di daerah beriklim empat musim mungkin akan mengatakan pipinya selembut salju. Atau selembut kue marsmallow.

Selamat, Teman. Atas keajaiban yang kamu terima. Juga atas apa yang kami lihat: bahagianya kalian meskipun tak bisa disembunyikan betapa repotnya juga kalian. Biaya yang tidak sedikit, bertaruh nyawa, dan malam-malam selanjutnya yang menyita waktu istirahat—bila bayi itu menangis kapan dia mau. Itu membuat saya terbayang orang tua di rumah. Seorang wanita yang berjuang di ruang bersalin. Seorang lelaki pendiam yang cemas menanti. Saat anaknya lahir, tentulah mereka berkorban banyak. Banyak sekali. Orang tua kalian demikian juga, bukan?

Tanjung Pengharapan-Kenten, Palembang, 22.10 WIB, 19 April 2011

Mas Ariel, Mas Zumi, dan saya baru sempat menjenguk di Sabtu siang. Kami saja yang hanya memilih-milih baju-peralatan bayi saja sudah begitu bingungnya, apalagi dia ya.

resolusi 2011

Resolusi saya untuk 2011 ini biasa saja. Saya ingin berat badan saya naik. Itu saja. Agar nanti pulang lebaran, keluarga di rumah tidak cemas melihat saya kurus melulu.

Semoga terlaksana. Amin.

Kenten, 30 Januari 2011, 23:52 WIB

“Sekarang saya pindah kost di Kenten. Lumayan jauh dari tempat kerja. Tapi asyik kalau sekali-kali bersepeda”

dua puluh tahun

Dua puluh tahun. Itu umur yang bukan remaja lagi. Saya memutar ingatan saat Kiki dulu masih kecil sekali. Kalau teman-teman perempuannya tidak datang bermain di rumah atau dia tidak main ke rumah temannya,  Kiki akan ikut kami: kakak-kakaknya dan para sepupu yang laki-laki, untuk main layangan di bukit samping rumah, mancing ikan di saluran irigasi persawahan, bersepeda, main kelerang, atau main bola di lapangan Kantor Dinas Kesehatan.

Cepat sekali. Tidak terasa.

Apa yang cocok dihadiahi untuk dia dalam umurnya itu?

Saya berusaha tidak lupa, agar tidak lupa tanggal 15 Januari yang silam. Walau hampir-hampir saya terlewat tanggal tersebut. Pergilah saya naik sepeda ke PIM. (Sepeda motor saya masih di bengkel). Ingin membeli sesuatu.

Saya tidak sepandai ayah dan abang saya dalam hal memberi hadiah.

Sepatu? Ya, dulu, Kiki pernah bilang ingin dibelikan sepatu. Ada merek yang dia sangat suka. Saya pernah lihat, ada tokonya di PIM. Masuk ke sana dan bertanya pada mbak-mbaknya, manakah model sepatu yang bagus. Yang paling baru, setidaknya, biar gampang. Sepatu cewek banyak sekali modelnya. Membuat bingung.

Saya beli cokelat juga di swalayan Hypermart. Tidak lupa kertas kado di Toko Buku Kharisma.

Pagi harinya tanggal 14, sebelum ke kantor saya bungkus kadonya. Sempat satu kado saja. Satunya saya bungkus sekitar jam 10. Tidak lupa pakai pita merah agak orens yang saya beli mampir di jalan. Biar begini-begini, kalau masalah prakarya, saya lumayan bisalah bikin kado begitu.

Sebelum Jumatan, mengejar waktu, segera saya ke TIKI (apa JNE ya?) di depan PIM. Minta yang sehari sampai. Tapi mbaknya bilang tidak bisa. Paling cepat tanggal 17 sampainya. Ya sudahlah kalau begitu. Sedikit kecewa sebenarnya, kecewa sama diri sendiri. Selalu saja tergesa-gesa begini.

Entah berapa kali saya ini tergesa-gesa padahal urusan penting. Naik gunung malam hari, saya baru siap-siap sorenya. Saat pertama kali ke Palembang, saya beli tiket pesawat baru malamnya, padahal besok harus berangkat.

Ini urusan yang tak kalah penting…

***

Sabtu tanggal 15 Januari 2010, siangnya, ada sms dari Kiki:

“Kak, trima kasih hadiahnya…”

Hah? Paket yang baru dikirim kemarin? Cepat sekali. Palembang-Mataram hanya semalam. Tidak sesuai dengan janji mbaknya, kalau paling cepat hari Senin paket diterima.

“Oh, iya, Ki. Hehe, maaflah kalau modelnya gak bagus. Bingung…”

“Ah… terima kasih banyak, Kak…”

“Hehe… iya…”

***

Hmm, hati saya tenang sekali siang itu.

Palembang, 20 Januari 2010, 02:06 WIB

“Jam dua pagi saya belum tidur. Bukan karena pusing memikirkan sesuatu. Tapi, teman kerja kasih saya file serial drama Korea. Jadi ditonton sampai malam walau tidak tahu judulnya. [update] Kata teman saya tadi, judulnya Delightful Girl Chun Hyang.”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.