sepeda

Saat itu siang hari, saat kakak saya dan saya sedang mengutak-atik sepeda model BMX yang mereknya Savoy. Ayah saya baru pulang dari kantor, senyum-senyum, dan bilang ada sesuatu yang dia bawa. Kami tidak mengerti benar maksud Bapak—panggilan kami untuknya—tentang apa gerangan itu. Sebab Bapak adalah sosok yang suka memberi sesuatu tanpa bilang-bilang. Dan alangkah terkejutnya kami, saat melihat sebuah sepeda model BMX bediri gagah di belakang jok mobil yang dilipat. Terkejut bercampur bahagia, itu perasaan saya saat itu.

Tidak ada anak laki-laki yang tidak bahagia bila diberikan hadiah sepeda. Termasuk saya, walaupun sepeda yang diberikan ayah bukanlah dari merek yang mahal. Sepeda selayak lambang eksistensi anak laki-laki. Seorang anak laki-laki bisa dikenal sepenjuru kota oleh sebab sepedanya. Misalnya, teman saya Sigit, yang sekarang kuliah di Bandung, dia dikenal dengan sepedanya yang bermerek Wim Cycle. Pemilik sepeda bermaskot domba itu bisa dihitung dengan jari di kota kecil kami.

Apalagi bila modelnya BMX, terserah mereknya apa. Itu sepeda akan dibawa ke mana-mana: berangkat sekolah, jalan-jalan keliling kota sepulang kelas sore, mengejar layang-layang, pergi mandi di saluran irigasi Sancona—waterboom bagi anak-anak kampung seperti kami, mancing ikan (uta ) karisa di Jalan Baru, dan bila bernyali, sepeda itu akan didaftarkan di lomba sepeda trek tanah. Lomba sepeda ini semacam moto cross, tapi tentu saja pakai sepeda, bukan sepeda motor trail. Dan jawara cross sepeda bisa sangat terkenal dibicarakan orang-orang, semacam ramai orang-orang membicarakan Edi Tansil yang kabur dari penjara.

Kenangan semacam itu kembali teringat sekarang ini. Sebab sekarang saya aktif lagi bersepeda. Hampir ke mana-mana bersepeda. Ke kantor di Demang Lebar Daun yang hanya lima menit mengayuh sepeda, ke Palembang Square yang hanya 10 menit mengayuh sepeda, ke Warung Makan Semarang di Simpang Polda yang sekitar 20 menit bersepeda, juga ke kampus Universitas Muhammadiyah Palembang yang sekitar 45 menit bersepeda. Jadi kalau dihitung-hitung setidaknya kami mengayuh 20 kilometer sehari. Karena, jarak kantor-kampus itu kira-kira delapan kilometer, dan jadwal kuliah kami  dari Senin malam sampai Sabtu malam.

ampera

Ini pemandangan jembatan Ampera di kala malam. Senin malam sampai Sabtu malam kami rutin lewat jembatan ini, pergi-pulang kampus. Sarjana, register, dan magister di Eropa adalah cita-cita kami (ngarep, hehehe). Yosh!

Di Palembang, masih terasa aneh orang bersepeda itu. Apalagi bila lengkap helm pengaman dan lampu-lampu sepeda. Di kantor saja, awalnya orang-orang heran dengan kami—dua orang kawan seangkatan di Jurangmangu dan saya—yang bersepeda.  Tapi, lama-lama ada juga yang ingin bersepeda, walau belum tersampai niatnya sampai sekarang. Di jalan-jalan orang-orang juga memandang aneh dan sering tersenyum. Adapula yang tertarik, dan bertanya-tanya tentang sepeda kami dan jalur yang kami lalui.

Syukurlah saya punya kawan baik, Yoga namanya, yang juga gemar bersepeda. Jadi, saya tidak aneh sendiri di jalan bila berangkat ke kantor, kuliah, atau ke mana. Juga ada rekan-rekan komunitas B2W yang sering mengajak dan mengadakan kegiatan bersepeda; dari peringatan Hari Kemerdekaan, Hari Habitat, hingga Hari Batik dengan bersepeda dengan mengenakan batik di seputaran Palembang. Semakin maraklah kampanye penggunaan kendaraan bebas polusi itu.

ogan ilir

Bersepeda sama kawan karib, Yoga, ke Inderalaya, kota kecil tempat Kampus Unsri. Pulang dari sini, kulit terbakar dan hitam legam. Teman2 di kantor bilang kami gila. Hahaha

tahu sumedang di Inderalaya

Apakah kami bersepeda ke Jatinangor? Jawabnya, bukan. Ini di Inderalaya, ibukota Ogan Ilir, kira-kira 40 KM (angka di google maps) dari kost kami di Palembang. Iseng banged datang ke sini.

offroad jalur karet

Offroad jalur karet Maskarebet. Mantap jaya dah jalurnya. Diajak sama orang2 B2W Palembang, Strada, dan anggota-anggota Brimob yang juga gemar bersepeda.

Bila bersepeda, yang juga aneh itu saat berpapasan dengan anak-anak. Anak-anak senang berteriak-teriak melihat orang berhelm naik sepeda. Mereka melompat-lompat, melambaikan tangan, memanggil-manggil, dan tertawa bahagia. Duhai, betapa sederhananya kebahagiaan yang dimiliki kaum anak-anak. Mereka bisa bahagia hanya dengan melihat orang bersepeda! Kami pun akan membunyikan bel sepeda, melambaikan tangan pada mereka, dan mereka menjadi-jadi tingkah senangnya.

Itulah sebab kami bersepeda. Karena bersepeda itu menyenangkan. Sebab bila tidak dengan hati bahagia, tidak betahlah manusia mengayuh sepeda padahal telah banyak mesin yang bisa membawa manusia ke mana saja.

Demang Lebar Daun Palembang, 1 November 2009, sambil mendengar Titip Rindu Buat Ayah-Ebiet G Ade

Teringat sahabat-sahabat di masa kecil; Ramdan Azhari dengan sepeda BMX kerennya, Farhan Perdana dengan Edison putihnya, Yanuar Arafat yang baru bisa naik sepeda saat SMP, Aang Abdullah ketua OSIS yang naik sepeda ke sekolah, Nauval Arrozi dengan sepeda yang stangnya menceng kiri-kanan, Adetya Warman dengan sepeda Savoy-nya, Agus Fahrizal dengan sepeda rem tromol, tentu saja Sigit Perdana dengan sepeda Wim Cycle ungunya.

cerita mukena

Seperti siang hari biasanya, matahari di langit Kota Palembang bersinar begitu terik. Saya terjebak dalam antrian kendaraan di depan Rumah Sakit Charitas, menunggu lampu lalu lintas nan ajaib itu menyala hijau. Di persimpangan itu, lampu menyala merah dalam tempo dua ratus detik lebih, menyebabkan antrian yang begitu panjang. Siang begitu panas, vespa oranye pinjaman itu tidak pakem remnya dan mesinnya sering mati bila tali gasnya tidak sering ditarik-tarik. Asap dari bus kota membuat pusing kepala. Saat itu menjelang akhir Ramadhan dan siapapun yang berpuasa harus tetap bersabar.

Misi-teramat-penting siang itu adalah mencari mukena untuk ibu, adik, dua sepupu, dan dua nenek saya yang masih enerjik itu. Mukena padang yang terbuat dari katun jepang yang katanya sejuk bila dikenakan. Juga dengan motif yang indah dan beragam, tapi sebenarnya tidak saya mengerti benar. Saya berharap semoga bisa saya dapatkan mukena-mukena itu. Sebab kenyataannya, saya tidak pernah membeli mukena sebelumnya. Sama sekali tidak punya pengalaman beli mukena.

Dan alhamdulillah, misi-teramat-penting siang itu berhasil dengan gemilang!

Tapi, apa yang terjadi tidak mesti seperti apa yang direncanakan. Mukena-mukena itu tidak ditemukan di tempat pengambilan bagasi di Bandara Selaparang. Jelas sudah, mukena-mukena itu tertinggal dan tidak masuk dalam bagasi pesawat. Saya begitu kesal sore itu. Terbayang betapa susahnya mendapatkan oleh-oleh itu dan betapa berartinya bila mukena-mukena itu dikenakan Ahad nanti, saat sholat Aidil Fitri. Sebab bukan karena nilai harganya, tapi karena mukena-mukena adalah hadiah lebaran. Akan kurang nilainya bila diberikan bila lebaran telah lewat. Tapi hari itu masih bulan puasa. Saya tidak ingin menampakkan kekesalan saya pada petugas bandara. Itu bukan salah mereka, dan tak ada gunanya berkesal hati.

Rasa kesal itu akhirnya sedikit terbayar saat bertemu abang, adik, dan sepupu-sepupu yang telah lama menunggu untuk pulang. Sebab karena merekalah saya pulang.  Juga karena ayah dan ibu saya di sana. Saya butuh semangat dan nasihat dari mereka. Apa yang saya temukan di tempat rantau sekarang bukanlah hal yang sederhana.

Sebab dunia kerja yang saya hadapi bukanlah dunia ideal seperti yang terbayang saat di kampus dulu. Saat menjadi mahasiswa yang mudah saja mengangankan sikap idealis, berintegritas, independen, takut Tuhan, dan bermacam sikap lain yang patriotik. Ini adalah dunia yang abu-abu, saat hitam dan putih hanya bisa terlihat dan dipisah oleh hati yang jujur dan berani. Sedang, betapa sulit dan langkanya dua sifat itu.

Saya tahu, orang tua saya begitu cemas saat saya memilih instansi di tempat saya bekerja sekarang. Suatu pagi, saat saya berangkat magang ke Palmerah, ibu tiba-tiba menelepon. Mengingatkan banyak hal; terutama agar tidak tegiur oleh uang dan apapun yang bukan hak saya. Bahwa saya masih muda dan godaan bisa datang dari mana-mana. “Mama mendidik Noris dengan kasih sayang, bukan dengan uang”. Hati saya gerimis saat beliau mengatakan itu. Sungguh, bagi saya, begitu berpengaruhnya kata-kata itu.

Oleh sebab demikian, saya harus pulang. Bercerita banyak kepada mereka. Meminta nasihat mereka. Dari orang tua, ua’, dan paman-paman, yang punya banyak pengalaman dan lebih mengerti.

Dan pulang selalu bisa untuk menenangkan hati dan melupakan sejenak pikiran yang berkecamuk di kepala. Mengobrol dengan ayah, ibu, abang, dan adik, tentang kacang panjang yang baru ditanam, cabai yang sedang berbuah, selada yang hijau muda, pohon kerara yang buahnya bisa menjadi sumber karbohidrat pengganti nasi, dan betapa sejuknya tidur di kebun padahal matahari begitu terik di sana. Mengobrol dengan Pak Tua, pria tujuh puluhan tahun, tetangga sebelah kebun yang hidup berdua saja dengan istrinya yang juga sudah tua dan juga dipanggil Ibu Tua. Bertemu sahabat-sahabat baik, bercengkrama dengan mereka, melihat Blackclaw bermain sulap, dan menyanyikan lagu La Timasa. Duhai, betapa menenangkan memang hidup di sana.

Sekarang saya sudah kembali ke Palembang. Mukena-mukena yang tertinggal telah gagal menjadi hadiah lebaran. Pihak maskapai baru menemukan tas berisi mukena-mukena itu dan mengirimkan kembali setelah lebaran telah lewat. Tapi, itu tadi malam, nenek Mene dengan dibantu Nuratul, mengirim SMS untuk saya. Ratul adalah sepupu perempuan saya yang sedari taman kanak-kanak sampai SMP selalu satu kelas. Dia bilang, kalau nenek ingin bilang terima kasih buat mukenanya dan walau tak bisa untuk Aidil Fitri, nanti pasti dipakai untuk lebaran haji. Saya segera menelepon nenek Mene dan mendengar suaranya yang masih jelas walau terbata-bata. Saya senang mendengar suaranya yang terdengar bahagia.

Aha, ternyata, lebaran tidak benar-benar telah lewat. Saya lupa kalau sebentar lagi akan ada lebaran haji!

Demang Lebar Daun Palembang, 10 Oktober 2009

“Banyak atau sedikit rejeki yang Engkau beri, itu terserah, asalkan itu adalah berkah. Panjang atau pendek umur yang Engkau beri, itu terserah, asalkan itu adalah berkah”.

n-i-k-a-h

“Poda si ne’e diwekiku, Amania.

Hanta ca da pu uma ma sampuru dua ri’i.

Na ini mbua si ri’ina kuhaju ka’a sara’a.

Na ciwi mbua rau si, mada ku londo rai….”

(Sodi Angi, Jhoni Keke)


Itu lagu yang romantis. Tentang dua insan yang saling menanyakan rasa sayang mereka. Tidak sekedar kata-kata cinta, tapi tanggung jawab. Ya, tanggung jawab seorang laki-laki untuk meminang wanita pujaannya.

Judulnya Sodi Angi. Lagu yang bila didengarkan jauh di sini; seketika membawa pikiran menuju kenangan tentang kampung halaman. Bukan karena ada kisah cinta atau semacamnya. Tapi dulu sekali, lagu ini  sering diputar di radio, di toko-toko di Pasar Atas, di angkot-angkot,  juga selalu dinyanyikan di acara-acara pernikahan. Mendengarnya kembali seperti membuka slide-slide kenangan di sana; sebuah kabupaten kecil yang dikenal dengan Gunung Tambora, kuda-kuda, dan padang sabana.

Tapi, seorang kawan tidak menganggap lagu ini romantis. Dia bilang, Sodi Angi itu lagu tentang perempuan yang matre. Perempuan yang hanya mau menikah bila sudah disediakan sebuah rumah panggung bertiang dua belas. Masa-masa itu, jarang yang memiliki rumah panggung bertiangkan dua belas (sampuru dua ri’i). Dan lagi, rumah itupun mesti direnovasi, dibuatkan selasar sebagai tempat musyawarah keluarga untuk persiapan pernikahan. Sungguh syarat yang berat. :-)

Itu pendapat dia. Mungkin berbeda bila sudut pandangnya berbeda. Perempuan dalam lagu Sodi Angi mensyaratkan rumah panggung bertiangkan dua belas. Ini tentu tidak ringan. Tapi,  yang disyaratkan adalah sebuah rumah; tempat tinggal bersama, tempat bernaung untuk keluarga yang kelak dibina. Bukan semata untuk perempuan itu sendiri.

Saya jadi sok tahu begini.

Perempuan itu tidak mensyaratkan gaun-gaun yang cantik atau perhiasan untuk dia sendiri. Meski, si laki-laki pun menjanjikan perhiasan yang indah untuknya, di syair sebelumnya. Karena bagi sebuah keluarga,  rumah itu wajib ada. Entah milik pribadi, ataupun menyewa. Jadi, tak apa ‘kan menyewa rumah, tapi rumah panggung bertiang dua belas? Atau tiangnya lebih sedikit, bertiang sembilan atau bertiang enam, tapi milik sendiri? Atau biarpun menyewa dan bertiang sembilan atau enam, namanya tetap rumah, kan? Namun, dari ketiga-tiga  pilihan solutif ini, si perempuan mau tidak, ya? :-)

Sepekan yang lalu, ada empat teman saya yang menikah. Semuanya satu angkatan di kampus, juga seangkatan di pusdiklat Kalibata. Keempat-empatnya menikah di hari yang sama, dua pernikahan di hari yang sama. Saya sangat senang mendengar kabar ini. Sebelumnya, beberapa bulan yang lalu, sempat tidak menyangka juga. Padahal kata orang, cinta itu sama seperti batuk, tidak bisa disembunyikan. Mereka begitu pandai menahan batuk, hingga kami seangkatan tidak banyak yang tahu, sampai undangan itu resmi dipublish ke khalayak ramai. Selamat untuk Ainal-Ratna dan Aji-Wulan, semoga menjadi keluarga yang tentram, bahagia, dan penuh rasa kasih sayang.

Kata orang, pernikahan itu indah. Ada teman hidup yang sama-sama berbahagia, saling memberi kebahagiaan, dan berusaha membuat pasangannya bahagia. Ada teman hidup sebagai tempat berkeluh kesah bila punya masalah. Ada teman hidup yang berjuang bersama menggapai cita-cita. Semuanya yang membuat banyak orang menyesal telah menikah, menyesal tidak menikah dari dulu.

Katanya juga, pernikahan itu bukanlah hal yang sederhana, bukanlah hal yang mudah. Hidup tidak selalu menghadapi hal-hal yang manis, tapi selalu ada kenyataan yang pahit. Berpuluh-puluh tahun hidup bersama orang yang sama. Apakah keduanya selalu bisa mengerti perasaan pasangannya? Apakah keduanya tidak bosan? Apakah keduanya selalu setia, karena fisik, kecantikan, ketampanan, itu tidaklah abadi?

Saya jadi membicarakan hal yang tidak saya tahu secara pasti. Karena belum menikah, jadi tidak tahu rasanya seperti apa. Tapi, boleh ‘kan bila sudah memikirkannya? Karena Sang Nabi memerintahkan bagi pemuda-pemuda yang mampu untuk segera menyegerakan. Tapi tidak sederhana ternyata. Mesti banyak belajar. Belajar dari siapapun.

Ehm, bagaimana dengan teman-teman; apa pendapat teman-teman tentang pernikahan? Syarat-syarat calon istri atau suami idaman itu seperti apa, ya? *ini dalam rangka belajar :-) *


Demang Lebar Daun Palembang, 29 Juli 2009

Kalau ada yang akan menikah, jangan lupa kirim-kirim undangan, ya… :-)

(nb: buat yang pingin denger lagu Sodi Angi, donlod saja di sini)

gowes jakarta-bandung (18-19 Juli 2009)

Di depan Gedung Sate. Cina, Mas Andec, Grandong, dan saya

Di depan Gedung Sate. Ki-ka: Andika, Mas Andec, Refly, dan saya. Ayo siapa yang mau jadi Sancay? He3

Alhamdulillah, akhirnya tercapai sudah. Berapa kali kami merencanakan bersepeda ke Bandung, beberapa kali selalu gagal. Adalah Mas Andi a.k.a Andec dan Andika a.k.a Cina yang mengajak lagi. Kebetulan saya sedang di Jakarta, ada diklat di Kalibata. Kebetulan lagi ada libur hari Senin, jadi tiga hari liburnya. Kebetulan ada pinjaman sepeda dari Kang Hilman. Kebetulan hari begitu cerah. Semua kebetulan yang membuat saya semakin yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Berempat yang berangkat. Mas Andec, Cina, Refly a.k.a Grandong, dan saya. Jalur yang dipilih adalah jalur Jonggol; bukan jalur Puncak, karena kami begitu sering lewat Puncak walau tidak dengan bersepeda. Dengan melewati jalur ini, kami ingin melihat suasana baru di sepanjang perjalanan nanti.

Start dari kampus STAN di Bintaro, Tangerang, pukul 06.30 pagi. Perjalanan Bintaro-Cibubur kurang lebih dua jam. Di Cibubur kami beristirahat sejenak, sarapan lontong sayur di pinggir jalan.

Dari Cibubur, kami mengambil jalan ke arah Jonggol. Jalannya ramai oleh truk-truk besar dan berdebu. Saya menyesal tidak mempersiapkan kacamata sebelumnya dan meremehkan fungsi alat sederhana itu. Debu dan asap beterbangan ke mana-mana.

Lewati Mekarsari. Jalur naik turun. Matahari mulai meninggi dan mulai terasa teriknya. Kami bersitirahat lagi. Menikmati kelapa muda yang diberi es dan gula merah. Mantap rasanya. Es kelapa muda manis segar menjadi penawar terik matahari.

jonggol

minum es kelapa muda segar di tepi jalan jonggol yang terik. nikmatnya...

Gowes lagi. Masuklah di wilayah Cariu. Medan jalan datar dan mendaki. Istirahat di sebuah musholla dan sholat dhuhur di sana. Panas benar-benar terasa. Cina malah terang-terang membasahi kaos agar adem bila dipakai. Saya pikir itu tidak akan bertahan lama; matahari benar-benar terik. Lagi pula, pakaian telah basah sendiri oleh keringat sendiri.

Selepas dhuhur, perjalanan dilanjutkan lagi. Ini waktunya makan siang. Jadi, sambil gowes sepeda, kami mencari-cari tempat makan sepanjang jalan. Ketemu juga. Ada warung di tepi jalan yang menjual masakankhas Sunda. Syukurlah. Es teh manis, sambel, dan lalapan begitu nikmat terasa. Makan memang terasa sangat nikmat bila perut sedang lapar.

Istirahat lagi, di masjid yang tidak jauh dari warung tadi. Agar perut tidak sakit bila setelah makan langsung bersepeda lagi. Hampir-hampir kami tertidur. Waktu siang-siang setelah makan adalah waktu yang kritis. Waktu kritis untuk mengantuk. Di mana-mana, di Indonesia,  seperti itu.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Medan semakin sering mendaki. Mendekati ashar, masuklah di wilayah Cikalong, Cianjur. Jalur ini benar-benar jalur ujian. Terus menanjak. Jalur datar hanya beberapa titik saja. Di tambah lagi jalur yang banyak yang rusak dan berdebu. Lengkap sudah. Katanya, itu jalur delapan kilo panjang tanjakannya.

Mas Andec memang raja tanjakan. Beda dengan kami yang sesekali turun dari sepeda, tidak sekalipun dia menuntun sepedanya. Mantap. Dia memang biasa berangkat kerja dengan sepeda dari Bintaro ke kantornya di Lapangan Banteng.

Di masjid An-Nur, kami beristirahat lagi, sekalian sholat ashar. Di depan masih ada tanjakan. Tanjakan masih panjang, tapi itu tanjakan terakhir di jalur Cikalong. Jadi, tepatlah kami beristirahat dulu, untuk mengumpulkan tenaga lagi.

Sampai juga di puncak tanjakan itu. Tanjakan pun terbalaskan. Di depan ada turunan panjang; tinggal meluncur saja, tidak perlu dikayuh. Speedometer mas Andec mencatat top speed 60 km/jam di turunan itu. Meluncur dengan sepeda, terasa bebas saja. Melihat-lihat pemandangan sekitar. Gunung, lembah, dan pepohonan hijau. Ini indah namanya.

Magrib tiba di polsek Cikalong. Sholat magrib di sana. Mengambil jalur yang kanan, yang kata polisi di situ, jalur itulah yang ada penerangannya. Tapi ternyata tidak. Terang hanya sebentar; sepanjang rumah-rumah di tepi jalan. Setelah itu berganti hutan. Jalan berubah menjadi gelap gulita. Lampu sepeda menerobos gelap hanya beberapa meter saja.

Tiba dipersimpangan yang membagi jalan menuju Jalan Raya Bandung-Cianjur  dan ke arah Kota Cianjur. Kami memilih ke arah jalan raya. Jalurnya relatif datar.

Kami makan malam di sebuah warung pecel lele di Ciranjang. Makan selalu terasa nikmat. Tanya-tanya di mana masjid terdekat dan boleh dipakai untuk menginap. Kami menyusuri jalan raya. Di tepi kiri jalan, kami temukan sebuah masjid besar. Masjid Musa’adah namanya. Cina meminta ijin kepada pengurus masjidnya untuk menginap. Alhamdulilah, diberi ijin. Kami boleh menginap dan boleh mandi di masjid itu.

masjid musa'adah, ciranjang, cianjur

tempat menginap semalam, masjid musa'adah, ciranjang-cianjur.

Sekitar pukul empat kami sudah terbangun. Masjid itu memang sudah mulai menggeliat sejak hari belumlah subuh. Kami bersih-bersih, sholat subuh, dan sarapan roti yang kami beli di Indomaret dekat situ  malam harinya. Sepertinya Indomaret memang ada di mana-mana.

Jam setengah enam, kami berangkat lagi. Gowes sekitar satu setengah jam. Tiba di titik awal tanjakan Padalarang. Kami putuskan untuk sarapan di warung dekat situ. Nasi hangat, ikan nila dan tempe yang baru digoreng, dan teh hangat. Sungguh, sarapan yang begitu nikmat. Kami beristirahat sekitar satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan.

Mulailah tanjakan sepanjang enam-tujuh kilo itu. Tanjakan terus, tidak ada turunan. Tapi, sepertinya kami lebih fit dibandingkan hari kemarin. Pelan-pelan kami susuri tanjakan. Sepeda tidak dituntun lagi. Tarikan napas lebih teratur.

Tiba di depan Tebing Citatah, kami beristirahat sejenak. Refly bilang, itulah tanjakan terakhir. Di depan sudah turunan. Saya masih sangsi sebenarnya, tanjakan tadi masih lebih mudah dibandingkan dari bayangan semula. Tapi, sebelumnya, Refly memang pernah bersepeda di daerah itu. Dia tentunya lebih paham sama kondisi jalan di sana.

tebing citatah

di depan Tebing Citatah. Tanjakan masih panjang rupanya.

Ternyata, tanjakan masih ada dan masih panjang. Kawan saya Refly itu cuma cengar-cengir menyadari informasinya menyesatkan. Jalan memang masih panjang menanjak, tapi percuma  bila tidak dinikmati. Bukit-bukit hijau berbentuk unik berbatu kapur menjadi hiasan sepanjang jalan. Dari arah lain, banyak pengendara sepeda yang meluncur. Mereka menyapa, mengangkat tangan, membunyikan bel sepeda. Kami juga menyapa, mengangkat tangan, dan membunyikan bel sepeda.

Di depan telah ada turunan. Meluncur dengan kencang dan rasa senang. Ini sudah Padalarang. Sebentar lagi masuk bandung Barat. Sebentar lagi masuk Cimahi. Sebentar lagi masuk Kota bandung. Kami mampir lagi di sebuah Indomaret. Beli softdrink dan es krim untuk merayakan akan sampainya di tempat tujuan.

Masuklah kota Bandung. Naik ke jalan layang Pasteur. Mengambil gambar di situ, sebagai bukti kami pernah ke situ. Turun dan menuju Gedung Sate. Mengambil gambar di sana, sebagai bukti kami pernah di sana. Tak lupa minum es cendol di sana; agar lebih terasa Bandung-nya.

Dari Gedung Sate, kami menuju masjid terdekat, di depan DPRD. Bersih-bersih di sana, sholat dhuhur di sana. Airnya dingin dan segar. Gowes ke ITB dan makan siang di sana. Setelah itu menuju stasiun kereta api Hall. Kami pulang jam lima sore, dengan kereta Parahyangan yang tiketnya telah dibeli oleh Ikbal, anak Stapala yang sedang pulang kampung di Bandung. Bandung-Gambir ditempuh kurang lebih tiga jam oleh Parahyangan, dan kami mesti mengayuh sepeda sekitar 20 kilometer lagi menuju Bintaro.

Ini kali pertama ke Bandung. Berhasil juga. Sesuailah dengan rencana dulu; bahwa tidak akan ke Bandung bila tidak bersepeda.  Juga bisa bertemu dengan sahabat saya, Nin, di Bandung. Tapi saya merasa sangat bersalah karena hanya bertemu dengannya sebentar saja. Maaf sangat dan terima kasih, Nin.

Sekali waktu, ingin ke Bandung lagi. Menyusuri jalan-jalan dengan pepohonan tingginya. Sejuk dan tenang di bawah kanopi-kanopinya. Gedung-gedung tua bercat putih di sela-sela persimpangan jalan. Orang-orang yang ramah.

gaya orang yang senang banged bisa sepedaan ke bandung

gaya orang yang senang banged bisa sepedaan ke bandung :-)

21 Juli 2009, Demang lebar Daun, Palembang.

“Terima kasih Mas Andec-727, Kang Hilman-722 (atas pinjaman sepeda), Andika-799, dan Refly-821. Kapan lagi kita ke mana?

Hari ini, dua tahun lalu

Dua tahun, tapi tidak terasa lamanya. Hari itu, 8 Juli 2007, di Sungai Cidahu, di kaki Gunung Salak. Itu hari yang penting. Keputusan bodoh untuk bergabung pada kelompok pencinta alam di kampus, genap sudah di hari itu.

Ingin saya kenalkan teman-teman saya di sini. Tiga belas jumlahnya. Empat belas dengan saya. Mereka–saya sadari–bukan sekedar teman. Bila ada orang lain yang peduli kepadamu, bisa mengerti dan berani memberi saran, tak sungkan mengejek, senang kalau kamu berhasil, mengkritik bila salah, membantumu bila sedang kesusahan, menghiburmu bila kamu gagal, dan kau selalu merindukan mereka; tentu tak berlebihan bila disebut saudara. Selain keluarga di rumah dan beberapa kawan baik saya sejak kecil, mereka adalah keluarga yang lain. Bersama mereka, saya merasa ada di rumah.

Oke. Ehm.

811/SPA/2007. Hendy Dwi Mandegani. Pajak 2006. Caving.

Dia teman satu bivak selama beberapa hari di Gunung Kencana. Sangat baik, sangat bisa diandalkan, ramah, perhatian, Jogja sekali. Salah satu anggota yang skill teknisnya mumpuni. Kata teman-teman yang perempuan, dia tampan dan banyak yang menyukainya. Bila menyusuri gua, sepertinya dia tak pernah lupa bawa biskuit Togo.


812/SPA/2007. Isma Amalia. Pajak 2005. ORAD.

Salah satu perempuan tangguh yang pernah saya kenal. Apapun yang dihandle olehnya selalu beres. Terkesan jutek. Tapi, bila sudah mengenalnya, dia adalah seorang gadis yang ramah. Nyalinya jangan ditanya, Isma sangat akrab dengan perahu dan sungai berjeram deras. Tapi, dia pernah menangis sesegukan sebelum menuruni gua vertikal. Dia tak suka gelap.


813/SPA/2007. Selly Kuntiardini. Perbendaharaan 2006. Gunung Hutan.

Kami sering mengejeknya seperti anak TK. Carrier yang dibawanya terlihat tidak sebanding dengan posturnya yang mini. Tapi, kami tak pernah mendengar dia mengeluh. Selalu terlihat ceria. Kehadirannya juga membuat suasana jadi ceria. Biasa dipanggil Geri dan sangat menyukai gunung, hutan, dan makanan enak.


814/SPA/2007. Aditya Saputra. Akuntansi 2004. Rock Climbing.

Sekarang dia bertugas di Jambi, tak begitu jauh dari rumahnya di Bengkulu. Abang yang perhatian, baik hati, dan jorok. Nicknamenya sebenarnya sungguh tidak manusiawi, tapi dia senang dipanggil dengan nama itu. Selalu kehilangan barang-barang di hutan. Dan kami sampai sekarang menunggu kabarnya, apakah ada gadis yang mau menikah dengannya.


815/SPA/2007. Noerilham Farhani. Analis Efek. Gunung Hutan.

Dia selalu terlihat diam, dan memang orangnya pendiam. Dia pandai berbicara dari hati ke hati. Saya belajar banyak dari dia; bagaimana bertahan dan bangkit lagi setelah gagal dan jatuh. Skillnya teruji dan merata di semua divisi; gunung hutan, ORAD, caving, dan rock climbing. Semua dia bisa dan tak lengkap bila melihat dia tanpa topi, jaket, dan headset.


816/SPA/2007. Alvin Erlangga. Penilai 2006. ORAD.

Orang paling gokil di angkatan 2007. Tingkah laku dia pasti membuat tawa.  Supel. Dia bisa berbicara dengan orang yang baru dikenal; dari anak kecil, sampai orang tua,  seperti berbicara dengan teman sepermainan saja. Pandai menyadari bila ada teman lainnya sedang punya masalah. Tak seru bila dia tidak hadir. Lehernya pernah terjerat tali di sungai dan dia bilang hampir saja dia mati.


817/SPA/2007. Ernestina Rahmanasari. DIII Khusus Akuntansi. Rock Climbing.

Perempuan yang berkeinginan kuat untuk menembus batas, dan dia melakukannya. Pandai menenangkan hati dan selalu menjadi tempat curahan hati teman-teman yang lain.  Suka menulis dan interest sama desain grafis. Dia pernah bilang, dia bercita-cita ingin ke Jepang. Gadis Semarang tapi bertugas di Liwa, Lampung; dan agaknya dia sangat menikmati hari-harinya.


818/SPA/2007. Made Wira Mahiswara. Pajak 2005. ORAD

Kiper keren dari tim futsal anak pajak. Sering ke mana-mana sama Isma. ORAD-er yang tangguh. Tampangnya cool, selalu rapi, tidak seperti umumnya kawan-kawan lain yang acak-acakan. Bli dari Bali yang tidak banyak bicara.


819/SPA/2007. Muhammad Akbar Mamung. Analis Efek. Caving.

Orang Kalimantan. Anak Taruna Nusantara. Fisiknya kuat. Kalem dan benar-benar tenang. Kalau dia tersenyum atau tertawa; artinya lelucon yang kami dengar benar-benar lucu. Anda sangat hebat bila mampu membuatnya tersenyum. Padahal, tingkahnya sendiri malah sering membuat kami tertawa.


820/SPA/2007. Ryan Rosita Luthfi. Akuntansi 2006. ORAD.

Anak Taruna Nusantara juga. 814 pernah membandingkannya dengan seseorang, dan dia bilang kalau Ryan lebih manis. Beberapa kali menangis begitu saja, bila ada masalah yang entah apa. Dan segera reda setelah teman-teman lain menenangkan. Dia gadis yang ramah, supel, dan bersemangat. Bandung sepertinya  menjadi salah satu kota favoritnya.


821/SPA/2007. Ren Refly Kurniawan. Pajak 2006. Rock Climbing.

Anak Solok, Sumatera Barat sana. Kawan yang sama2 menyukai tetralogi Laskar Pelangi. Dia rajin jogging sama Isma sore2 keliling kampus dan manjat wall di plasma. Punya impian2 tinggi dan senang melakukan hal yang beda.  Kami beberapa kali merencanakan bersepeda Jakarta-Bandung, tapi berulang kali gagal (belakangan akhirnya berhasil, alhamdulillah).  Sekarang dia sekelas sama Hendy; tapi beda nasibnya sama Hendy yang rajin belajar dan bintang kelas.


822/SPA/2007. Tomi Hermanto. Penilai 2005. Gunung Hutan.

Ini dia ketua angkatan 2007. Kuat push-up hingga beratus-ratus kali.  Selalu percaya diri bilang dia cakep. Tidak bisa berenang; berenang menyeberangi Situ Gintung dia yang paling belakang. Itupun setelah ditarik2 kawan yang lain. Kalau naik gunung, sepertinya dia selalu pakai celana jins itu-itu yang dipotong jadi celana pendek. Gunung Lawu, itu dia gunung favorit si Muladi, nama lain dari si Tomi.


823/SPA/2007. Eka Prasetya Ningtyas. Piutang Lelang 2005. Caving.

Satu2nya perempuan angkatan 2007 yang menyukai caving. Masalah teknis caving, dia termasuk yang pandai di antara kawan2 yang lain. Nyalinya bolehlah. Bikin ancor di atas pohon besar depan gedung G, dia tenang-tenang saja. Satu2nya anak piutang lelang di posko sekarang. Jarang pasti yang bisa menggantikannya lagi.


Itu dia kawan-kawan saya. Tidak cukup sebenarnya kata-kata untuk mendiskripsikan mereka. Karena mereka itu manusia. Sedang manusia adalah makhluk yang sangat rumit di alam semesta ini. Dan hanya Tuhan-nya lah yang mengerti sepenuhnya tentang diri manusia itu sendiri.

Ditulis untuk diposting tanggal 8 Juli 2008, tapi baru sekarang selesai. 21 Juli 2009, Demang Lebar Daun Palembang.

Terima kasih buat kalian semua SPA 2007. Juga Cahyana Tri Raharja 591/SPA/1999 yang melantik kami, dan Bustanul Maftuhin 757/SPA/2004, korlak diklat 2007. Kutitipkan salam untuk kalian semua, di mana pun kalian berada. Karena menyerah tidak ada dalam kamus kita.

Black Hole Grubug

Gua Grubug. Foto diambil dari www.yogyes.com. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta fotonya. Kapan2 upload yang asli...

Gua Grubug. Foto diambil dari www.yogyes.com. Tampak flowstone di bawah tirai cahaya. Kalau yang perjalanan kemarin, ketinggalan di Jakarta foto-foto Grubugnya. Kapan2 dah diupload yang 'asli'... :-)

Hari belumlah terlalu senja. Sinar matahari masih sanggup menerobos masuk, membias molekul-molekul air yg terperangkap dalam Luweng Grubug sedalam hampir seratus meter. Di dasar gua terdapat aliran sungai deras sepinggang. Di sisi lain, tepat di bawah aven, flowstone berwarna putih tegak berkilau oleh sinar matahari, cahaya headlamp, dan lampu senter.

Di atas kami, puluhan meter tingginya dari flowstone, pintu aven membuka jalan bagi sinar matahari. Bercahaya. Membentuk bulat cahaya. Gelapnya dasar Luweng Grubug seakan menghisap sinar matahari dari atas sana. Juga terhadap seluruh keangkuhan, bahkan kata-kata.

Ini keajaiban, Kawan. Black hole itu tidak hanya ada di luar angkasa. Yang ini, auranya bahkan mampu mengkerutkan segala ke-aku-an. Saya. Kami.

Subhanallah. Semakin saya menyerah.

Demang Lebar Daun, Palembang, 27 Mei 2009

Catatan dari perjalanan bersama kawan-kawan Stapala: Hendy, Fajar, Yusman, Golo, Yeye’, Komaruzzaman, Hatta, Mujur, Ana, dan Denis. Perjalanan menyusuri Gua Seropan, Gua Semuluh, Gua Jlamrong, Gua Sumber Suci, Gua Glatik, Gua Gelung, Gua Jomblang, dan Gua Grubug di Semanu, Gunung Kidul, 30 Maret-1 April 2009.

Perjalanan yang tak terpikirkan sebelumnya. Kawan-kawan yg tak terbayangkan hebatnya. Alam yang tak terkirakan indahnya.

di Gua Jomblang, sebelum menuju ke aven Grubug

Berpose di Gua Jomblang, sebelum menuju aven Grubug (ki-ka: Mujur, Ana, Denis, Hatta, Hendy, Golo, saya, dan Yeyek). Salah satu perjalanan dalam rangkaian 30 titik pengibaran bendera untuk 30 Tahun Stapala. Never ending adventure...

Lihat Palembang, Yuk!

Sudah tiga pekan ini di Palembang. Tidak terasa saja. Mungkin benar saya sudah betah di sini. Tapi, sepertinya memang bisa betah di mana-mana. Jangankan di kota ini; di hutan saja senang rasanya.

Tadi pagi saya lari pagi. Sudah lama tidak olah raga ini. Terakhir kali, kalau tak salah, saat diklat di Kalibata.  Jadinya, badan ini rasanya pegal-pegal sana sini. Badan mestilah fit. Sakit tidaklah enak; makan tak enak, tidur tidak nyaman, dan banyak aturan. Lagipula, siapa tahu dekat-dekat ini bisa naik Dempo. Persiapanlah, setidaknya.

Setelah push up pada hitungan seribu empat puluh, dan badan sudah terasa enak, saya keliling-keliling saja Kota Palembang. Pakai motor pinjaman dari kantor. Kantongi camdig, cuci muka, dan berangkat. Oh ya, saya push up-nya dihitung dari hitungan seribu, Kawan. Jadi, biasa saja kalau saya push up sampai hitungan seribu lebih.

Pertama; mampir ke Taman Kambang Iwak. Ramai sekali. Cocok buat yang ingin cari jodoh di sini. Sebentar saja di sana. Ambil gambarnya, sarapan bubur kacang ijo, bayar seribu di tukang parkir, dan berangkat lagi.

Taman Kambak Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Taman Kambang Iwak. Tempat joggingnya orang-orang di Kota Palembang.

Susuri jalan menuju Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi. Di sana ramai pulo. Sedang ada jalan santai untuk anak sekolah dan para guru, memperingati Hari Pendidikan. Masih kah kau ingat dengan hari Pendidikan, Kawan?

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Benteng Kuto Besak. Bentengnya Kesultanan Palembang Darussalam.

Di depan benteng, ramai anak-anak yang main bola. Di halaman tepi Sungai Musi, macam-macam lomba diadakan. Yang duduk-duduk saja juga banyak. Yang mengobrol juga hampir semuanya. Tidak ada yang menangis.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu di tepian Sungai Musi. Menunggu penumpang.

Perahu-perahu di tepian menunggu penumpang. Yang di tengah sungai sedang mengangkut penumpang. Hilir mudik di Sungai Musi. Penumpangnya banyak dari anak sekolah dan para guru. Rekreasi kota yang sangat menyenangkan.

menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Menara Masjid Agung Palembang. Setinggi 20 meter. Didirikan pada abad 18.

Bayar seribu lagi di tukang parkir. Kemudian mampir di Masjid Agung Palembang, tak jauh dari Benteng Kuto besak. Masjid yang pembangunan pertamanya pada tahun 1738-1748 ini, arsitekturnya unik, perpaduan gaya China dan Eropa. Bentuk atap yang melengkung mengingatkan kita pada bentuk kelenteng. Bentuk jendela yang besar dan tinggi, serta tiang-tiang yang besar, tentulah ciri dari arsitektur Eropa. Bahkan, pula mendapat pengaruh dari Jawa-Hindu; pada dasar masjid yang berundak-undak.

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

BRIEVENBUS. Masukkanlah uang dalam tjelengan untuk keperluan ini mesjid

Saat sedang mengambil motor di parkiran, tiba-tiba terdengar ringtone ponsel. SMS masuk. Mbak-mbak yang punya.

Saya: Yu’, itu lagu ST dua belas?

Mbak itu: Ha? Ini kan band itu.

Saya: Oh, ya ya. Ta’ pikir ST dua belas. Malah mirip lagunya Padi, lho, Yu. Bukan lagunya Padi juga?

Mbak itu: Bukan.

Saya: He eh. *nyengir*

Dalam hati saya berucap; saya tahu itu bukan lagunya ST dua belas, apalagi lagunya Padi. Di bus-bus kotanya palembang, di tempat-tempat makan, di counter pulsa, di swalayan, di kantor, di playlist admin warnet, sering benar diputar. Saya hanya becanda saja, Yu‘.

Sampai di kos, Yoga sedang akan menyalakan laptop. Sedang sibuk dia sekarang. Mengurus angka-angka di excel. Tugas auditnya dibawa pulang dari Prabumulih, tempat dia mengaudit. Kasihan dia; sepertinya pikirannya penuh dengan angka-angka. Saya cemas, dia akan lupa dengan nama lengkapnya sendiri.

Saya: Ga, di laptop ada lagunya itu, ga? Ha ha.

Yoga: Oh, ada. Lihat saja, Ris. Muternya pakai windows media player tapi.

Saya: Oke.

Jadi, lirik lagu dari ringtone mbak itu begini:

“Maafkanlah aku lari dari kenyataan.

Bukan karna aku tak punyai rasa sayang.

Maafkan lah aku mencoba tuk berlari.

Karna suatu nanti engkau pasti kan mengerti”

Ha ha, sudah nyambung dengan lagunya? Coba tebak judulnya dan dinyanyikan oleh siapa!

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

Palembang namanya. Inginkah kau sekali waktu berkunjung ke sini, Kawan?”

kamu bilang padang gersang, aku bilang bikin senang

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang ke Sumbawa!

Pelabuhan Poto Tano. Selamat datang di Sumbawa, Kawan!

Alhamdulillah, saya sampai di rumah. Lumayan capai,12 jam di atas bus Mataram-Dompu tanpa AC, di bawah terik langit Pulau Sumbawa. Tapi, semua terbayar. Apalagi yg kurang? Lihat orang-orang rumah sehat wal afiat. Itu kuda juga semakin kekar-kekar badannya, tanda alam untuk sifat ulet, tak pernah menyerah, dan gerak. Bisakah kamu belajar dari mereka, Je’?

Sekarang masih di Dompu untuk pamitan. Kadang berpikir juga, seperti mau ke mana saja saya ini. Padahal Palembang itu dekat saja. Tapi, kalau lihat peta, Dompu-Palembang itu tak kurang empat selat yg harus dilewati. Dan saya harus tinggal di Palembang untuk waktu yang tidak saya ketahui. Dekat tapi jauh. Jauh tapi dekat. Jauh dekat sama sj, dua ribu rupiah. Loh?

Kemarin-kemarin dari Jogja, pamitan dengan abang saya, dan kawan baik saya, Aang. Terima kasih, Ang. Dari Jogja ke Surabaya, tidak pamitan pada siapa-siapa. Pesawat ke Mataram pagi-pagi soalnya. Sampai Mataram, pamitan sama adik saya, kawan-kawan SMA, dan keluarga-keluarga dekat di sana. Kembali dengar orang mengobrol dengan bahasa Sasak, Mbojo, atau Samawa. Dengar orang bilang lasingan. Mendengar kawan-kawan di Perumnas mengobrol dengan bahasa khas San Murep. Semisal; koya kudud-kudud it inis, Siron. Hadus amal umak kadit ngatad it inis. Kitnat-kitnat kewet-kewet it anas, Ron? Ha ha, ya, itu bahasa Indonesia yang dibalik-balik. Dan hebatnya, itu diucapkan dengan sangat amat lancar. Kana-kana San Murep memang aneh.

Sempat mengobrol dengan kawan-kawan SMA:  Syarif Jago Main Bola, Yogi Calon Dokter, Oky Sedang Susun Skripsi, Halim Petugas Pajak, dan Rudi Anak Akuntansi, empunya rumah yang jadi basecamp semasa SMA dulu. Halim Petugas Pajak sibuk direct selling untuk membujuk kawan-kawan agar mencontreng permen, ehpartai keren sekali, Kamis nanti. Ha ha, PNS mesti netral, Bos. Tapi tak mengapalah, asal kampanyenya tetap damai.

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Pantai Senggigi. Bareng adik saya, Kiki. Ha3, oke, Ki, ini fotonya dipasang. *benernya ada yang pas di pasir putihnya, tapi ga nahan dah posenya. ha3*

Ahad siang, jalan-jalan ke Senggigi. Bersepeda motor dengan Kiki, adik saya. Lihat pantai. Jalan-jalan di pasir pantai yang putih. Minum air kelapa muda. Sampai sore.

Pulangnya, Kiki keliatan lelah sekali. Apa sebabnya?

Saya: Ki, kakak punya tebak-tebakan…

Kiki: Apa, Kak?

Saya: Makhluk apa yg badannya kecil kepalanya besar?

Kiki: Hmm, tweety?

Saya: Bukan…

Kiki: Apa dong. Tweetylah…

Saya: Bukan… Hmm, mau tau jawabnya? Ikan teri pake helm!

Kiki: . . .

Saya: Kok nggak ketawa, sih?

Kiki: Kiki lapar…

Saya: Ha ha ha

Kiki: He he he.

Oke, habis pulang ke rumah, kami cari makan. Jalan-jalan dulu sampai Cakranegara, terus berbalik. Makannya di warung ayam taliwang di Gomong. Sedap rasanya. Ayam taliwang plus pelecing kangkung plus beberok. Pedas semua. Pulau Lombok memang berasa Lombok: pedas!

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Pelabuhan Khayangan, Lombok Timur. Berlatar belakang Gunung Rinjani. Siapa tak ingin ke sana?

Aha, kapan-kapan, kalau kakak punya waktu, kita ke Rinjani. Bawa carrier. Bawa jaket tebal. Bawa toblerone yang banyak.

Ini sedang di Dompu. Ingin bertemu kawan-kawan baik di sini; cingi canga, black claw, dan kawan-kawan yang mungkin pulang dari rantau. Kabupaten kecil ini sedang panas-panasnya. Panas karena terik matahari. Panas karena dekat-dekat pemilu. Tapi juga sedang hijau. Adem jadinya lihat pepohonan yang hijau. Kalau sedang kering, tanah ini bisa jadi gersang. Tapi, itulah tanah ini apa adanya. Orang bilang padang gersang, saya bilang bikin senang.

Alhamdulillah.

Demang Lebar Daun, Palembang, Ahad, 3 Mei 2009

“Ini tulisan dari catatan saya di facebook. Disalin dan disesuaikan sedikit. Ini ditulis saat masih di Dompu, NTB. Tiga hari di sana; tapi sayang tidak sempat ke La Key, pantai di Dompu yang fotonya jadi header blog ini. Kapan-kapanlah ke sana. Ingin lihat pasir putih dan ombak tingginya lagi”.

Samarinda Mellow Mood

Tersenyumlah, bahagialah…

Sungguh engkau, yang melumpuhkan hatiku,

yang melipurkan rinduku

Senyuman itu menyenangkan aku…

(Cahaya Mata, Padi)

Hamparan air meluas di depan mata. Ini bukan hamparan laut. Ini aliran besar air dari hutan-hutan Borneo yang mengalir tenang ke tepi laut. Sungai Mahakam namanya. Saya duduk di tepiannya, menikmati tenangnya senja hari, jingga sinar matahari, dan angin tenang menerpa. Seakan ingin bercerita banyak kepada senja, matahari, dan angin, tentang apa yang saya rasakan. Dalam hening mereka, saya sadari, benda-benda yang tidak bernyawa ini begitu pandai memahami, jauh melampaui manusia yang kerap mengaku memiliki hati.

Samarinda. Akhirnya tiba pula saya di kota ini. Tidaklah karena kotanya yang membuat saya bersenang hati, tapi Kalimantannya. Sudah lama sekali ingin menjejakkan kaki di pulau jamrud ini. Ingin menghirup udaranya, mencicip airnya, dan menghidu bau tanahnya. Ingin melihat hijau luas hutannya, hitam batubaranya, biru langitnya, dan pelabuhan-pelabuhan sungainya. Ingin melihat tanah melimpah anugerah namun masyarakatnya tiada sedikit yang miskin hidupnya.

Telah saya rasakan aroma pulau ini. Tidak semua. Hanya sebagian kecil yang tampak di mata dan terdengar di telinga. Di tepi hamparan air, berbagai macam berita seperti beterbangan di depan mata. Adakah angin membawa berita tentang dia yang tidak pernah berani saya tanyakan kabarnya?

Azan Magrib berkumandang dari menara sebuah masjid yang begitu indah. Saya beranjak menuju suara persuasif itu, mungkin karena semata ingin melarikan diri dari beragam pikiran yang belum semua bisa terjawab. Dalam jawaban yang harus terucap jelas di bibir; tentu tidak ada tempat bagi kata-kata asumsi. Ini bukan soal-soal akuntansi yang bisa kau jawab dengan segala macam asumsi yang nyaman bagi hatimu. Janganlah sekedar untuk mendamaikan resah hati. Karena, bisakah kau mengerti dan mendengar suara hatinya, seperti alam yang memahami suara hatimu?

Wisma Pusdiklat Kalibata, 2009

“Di Samarinda, mobil-mobil doublecabin jadi raja jalanan. Semacam Mazda Falken, Ford Ranger, Mitsubishi Strada (Triton), Toyota Hi Lux dan segala macam merek lain. Kotanya indah, damai, ramai, terbelah oleh Sungai Mahakam. Sebenarnya ingin sekali mengunjungi kampung orang-orang Dayak Kenyah, tapi karena anak magang seperti saya harus bekerja dengan baik dan ini bukan jalan-jalan pribadi, akhirnya tidak bisa ke sana. Mesti segera kembali ke Jakarta. Semoga sekali waktu; bisa berkunjung ke sini lagi.

Islamic Center di tepi Sungai Mahakam. Megah benar masjid ini.

Islamic Center di tepi Sungai Mahakam. Megah benar masjid ini.

Dear Diary

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris2 berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Kalau hujan turun, tak usah lama-lama, maka Sungai Ciliwung itu cepat sekali naik airnya. Bila kebetulan sedang istirahat dari materi di kelas; sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan, kami bisa melihat aliran air coklat dari sungai nan terkenal itu memasuki rumah-rumah di tepinya. Syukurlah, rumah-rumah itu banyak yang berlantai dua. Jadi, biarpun air meninggi hingga ke atas lutut , masih ada cadangan lantai rumah untuk hidup dan bernapas.

Oh ya, pengumuman kecil, sekarang saya sedang ikut diklat di Kalibata; di Pusdiklat yang berdiri di tepi Sungai Ciliwung. Diklat auditor terampil namanya. Namanya saja yang keren, padahal sebenarnya auditor terampil itu pemeriksa yang paling junior di kantor. Bila lulus dari sini, kalau ikut pemeriksaan, saya jadi anggota tim junior. Sudah junior, anggota tim pula. Perjuangan masih panjang rupanya. Ha ha ha.

Sudah satu setengah bulan di sini. Kegiatan tiap hari tidak jauh-jauh dari belajar di kelas, ujian tiap pekan, apel tiap pagi dan malam, makan yang sangat terjadwal, main bola di parkiran, kadang main badminton dan tenis meja, dan senam pagi saat langit masih gelap. Positifnya, hidup saya jadi lebih teratur. Positifnya lagi, saya jadi jarang begadang; kecuali kalau besoknya ujian. Positifnya lagi, saya bisa berkumpul dengan teman-teman angkatan. Negatifnya? Ah, tidak perlu dicari-cari. Saya ingin terbiasa berpikir positif. Bukankah itu baik untuk tubuh dan pikiran?

Pelajaran di kelas rata-rata untuk mengulang pelajaran di kuliahan. Namun saja, kalau di kuliahan; masih banyak yang bersifat teoritis dan ada di awang-awang, di sini sedikit berbeda. Memang masih tetap di awang-awang—namanya juga belum praktik yang senyata-nyatanya—tapi setidaknya bisalah digapai dengan imajinasi. Misalnya, di kuliahan diajarkan pengantar auditing (termasuk audit kinerja), di sini saya belajar praktikum auditnya. Sangat menarik, setidaknya untuk mata pelajaran ini, saya tidak terkantuk-kantuk di kelas.

Kecuali hari Kamis kemarin, saat materi Pedoman Manajemen Pemeriksaan . PARAH. Saya sampai tertidur di kelas. Setelah menulis di flipchart, kelompok saya selesai berpresentasi, saya bisa-bisanya ketiduran saat menyimak kelompok lain berpresentasi. Ternyata saya memang keren. Sudah cara tidurnya seperti filsuf yang sedang memikirkan kenapa banyak sekali acara infotainment di Indonesia, tidur saya ketahuan dosen pula!

Menurut teman-teman kelas, kronologis saya tidur hingga saya bangun adalah seperti ini:

Dosen, SE, Ak, CMA: Ya, kelompok dua, bagaimana tanggapan kalian?

Yovankha dan teman-teman kelompok dua: Wah, no komen, Pak. Belum mengerti benar kita.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ah, nggak ada itu no komen-no komen. Mana anggota kelompok dua? Mm, Muammar Fauzy, apa pendapatmu?

Muammar: (angkat tangan)Saya bukan kelompok dua, Pak.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ok, Nourissafaat. (Hening)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat? (krik…krik…krik…)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat! (sudah meninggi nih nada suaranya…) (ngung…ngung…ngung…)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Noris! Mikir lama bener, boi! (ngeng…ngeng…ngeng)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Yah, dia tidur… Dia tidur, Pak. Ha ha ha… Hoi, Noris… Noris… Bangun woi! Ha ha ha… Parah… Ha ha ha.

Akhirnya ramailah kelas karena saya tidur tanpa sedikit menyadari keramaian itu. Dan pakai ileran pula. Katanya dua menitan saya jadi perhatian seantero kelas, dan tentu saja saya tidak sadar. Ha ha ha. Ok, ok, saya akui, saya memang keren.

Oya, sedikit cerita lagi. Sebentar lagi penempatan diumumkan. Penempatan artinya tempat bertugas, di kantor pusat atau di perwakilan. Saat mengisi formulir penempatan, awal-awal magang di kantor pusat tiga bulan lalu, saya mengisi lima kota. Di antara kota-kota yang wajib dipilih, saya memilih Palembang dan Ternate. Kota-kota favorit, saya memilih Mataram, Denpasar, dan Surabaya. Saya memilih perwakilan semua. Kenapa tidak memilih Kantor Pusat Jakarta? Alasan utamanya; saya ingin memenuhi permintaan ibu saya, agar tidak jauh-jauh dari dia, setidaknya beberapa tahun ini. Kapan lagi saya bisa menyenangkan hatinya? Alasan sampingannya, Jakarta terlalu banyak polusi dan terlalu banyak orang pintar. Yang ada, saya yang tidak pintar ini jadi semakin bodoh di sini; karena hidup di antara para akuntan yang certified dan hidup di antara polusi udara yang membuat otak jadi oon. Dengan konsekuensinya, saya akan kehilangan kesempatan untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya: kuliah di Universitas Indonesia.

Formulir penempatan itu hanyalah untuk mengetahui minat. Jadi, walaupun telah memilih kota-kota itu, tetap saja belum tahu pasti di mana saya ditempatkan. Yang jelas bukan di Mataram; karena , perihal independensi bila ikut dalam tugas pemeriksaan nanti. Mungkin di Denpasar, Surabaya, Ternate, atau Palembang. Mungkin Banda Aceh, Mamuju, atau Manokwari. Mungkin pula di Samarinda, Serang, atau Jayapura. Aha, buat saya pribadi, tidaklah mengapa. Paling-paling Universitas Indonesia akan semakin jauh saja. Saya berdoa; agar di manapun penempatan saya, ibu saya dapat merelakan anaknya ini untuk merantau lagi dan entah kapan kembali. Juga berdoa; dimanapun saya berada, agar bisa bermanfaat bagi orang-orang sekitar, orang-orang yang dari pajaknya saya bisa kuliah tak berbayar.

Ada rasa tidak sabar menunggu SK penempatan. Buat CPNS seperti saya ini, pengalaman berpindah ke daerah barulah—bukan gaji, bukan tunjangan yang tidak seberapa itu—menjadi penghibur diri. Mungkin saya ditempatkan di kota yang susah untuk kuliah lagi karena tidak ada universitas di sana. Mungkin saya ditempatkan di kota yang transportasi mudiknya jarang dan mahal. Mungkin saya ditempatkan di kota yang fasilitasnya minim; dengan listrik yang sering mati, air bersih yang sulit, internet yang tersendat, fasilitas jalan yang rusak. Tapi saya yakin, di sana saya akan mendapatkan hikmah dan pelajaran baru untuk pikiran bebal ini. Bisa melihat budaya masyarakat yang saya akan berbaur di dalamnya. Bisa menikmati pemandangan alam luar biasa dan saya benar-benar hidup di dalamnya. Bisa tetap memanggul carrier, mendaki gunung atau masuk keluar hutan. Bisa memiliki kawan, sahabat, dan keluarga-keluarga baru di sana. Bisa membawa cerita untuk keluarga saya di kampung. Bisa meyakinkan diri; apakah idealisme bisa saya temukan, dibentuk perlahan, mampu bertahan ataukah luntur di tengah jalan. Sederhana saja. Dalam segala hal yang dianggap tidak menyenangkan bagi orang lain, saya tentulah sangat bersyukur atas segala anugerah-Nya ini.

Wisma Pusdiklat Kalibata, Kamar 304, 3 Maret 2009, 23.07

“Hari ini hujan sebentar. Air sungaipun naik sedikit. Semoga tidak banjir, kasihan rumah-rumah ditepinya. Suasana wisma hening. Teman sekamar saya: Miqo, Peppy, dan Yovankha sudah tidur lelap. Teman-teman yang lain sudah masuk dalam kamarnya masing-masing. Tujuhpuluh lima orang angkatan akuntansi lulusan Jurangmangu tahun ini di sini. Mereka, kalaulah tidak istirahat atau bengong, pastilah sedang belajar di kamarnya sekarang. Kalau masalah belajar; mereka itu jagonya. Mereka, bukan saya. He3”.