mudik kemarin

Tempat yang jauh memaksa saya, mau tidak mau, mengikuti tradisi itu. Bukan semata ingin menikmati suasana lebaran, tapi memang momen lebaranlah saat yang tepat untuk pulang. Sumatera tidak begitu jauh dari Sumbawa (misalnya, bila dibandingkan dengan Jawa-Papua), tapi biayanya tidak sedikit. Total biayanya mungkin bisa untuk membeli sebuah kamera DSLR Sony Alfa dengan seri paling sederhana. Itu biaya yang cukup besar, tapi dengan mempersiapkan lebaran jauh-jauh hari akan sedikit membantu. Meskipun, di akhir masa liburan, bila biaya lain-lain justru membengkak, kau akan menjumpai neraca keuanganmu akan timpang. Seringkali di kalangan pegawai akan becanda: mulai dari nol ya.

Namun, sesuai dengan rencana, mudikpun dapat terlaksana.

Cuti yang lumayan panjang

Tanggal 17 Agustus yang berselang dua hari dengan 1 Syawal tahun ini, sepertinya membutuhkan sedikit strategi. Sebagai pegawai yang digaji negara, kami wajib mengikuti upacara peringatan kemerdekaan republik ini. Jadi, kemungkinannya adalah tanggal 17 Agustus saya upacara di Palembang, lalu siang atau sorenya berangkat ke Sumbawa. Skenario ini akan mulus bila saya mendapat tiket dengan jam dan harga yang cocok. Tapi, tidak ada lagi tiket untuk hari itu. Kalaupun ada ke Jakarta, tidak ada tiket terusan ke Mataram, dan harganya jangan ditanya. Namun, tidak ada yang bisa disalahkan dalam kondisi ini, kecuali saya menafikan the invisible hand  yang sedang giat bekerja di hari-hari padat penumpang. Atau, mungkin ingin mempertanyakan mengapa Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus, bukan tanggal 31 Agustus saja.

Jadi, saya berpindah kemungkinan pada sebelum 17 Agustus. Meskipun cuti adalah hak setiap pegawai, tentu saja harus dapat ijin dari atasan. Berita baiknya, atasan kami mengijinkan pegawai untuk cuti sebelum 17 Agusutus, tapi dengan catatan di bawah surat cuti: “agar pegawai ybs mengikuti upacara pada kantor perwakilan terdekat”, dengan tulisan tangan rapi yang jelas sekali terbaca. Saya sebenarnya ingin mengajukan keringanan, mengingat jarak Dompu ke kantor perwakilan terdekat di Mataram itu sepuluh jam perjalanan. Tapi, setelah dipikir-pikir, itu sudah cukup. Mendapat libur 14 hari adalah sebuah kemewahan!

Perumnas, perumahan belum lunas, perumahan panas

Saya tiba di Mataram lewat sore hari. Oh ya, BIL, bandara Lombok yang baru, sudah lengkap dengan fasilitas pelayanan bus Damri. Ini sangat-sangat membantu penumpang, karena letak bandara yang jauh dari ibukota provinsi. Dengan bus Damri yang nyaman dan infrastruktur jalan yang bagus, jarak BIL-Mataram cukup ditempuh dengan waktu 45 menit-1 jam saja. Tarif bus Damri tidak mahal, Rp15.000,00, dan penumpang langsung bisa dengan mudah menjumpai loketnya di pintu keluar penumpang. Bila ingin langsung ke kawasan wisata Senggigi, pihak Damri juga menyediakan rute ke sana, dengan tambahan biaya Rp10.000,00 per hati (karena tiap orang hanya punya satu hati kan? :-)).

Saya kemudian naik ojek, karena kata tukang ojek yang menawarkan jasanya, bahwa ada travel yang ke Bima dengan jadwal malam hari. Ternyata, setelah ke sana, rute travel tersebut ke Maluk, Sumbawa Barat. Jadi saya mengubah tujuan ke Perumnas, tempat adik saya tinggal selama kuliahnya di Mataram. Kiki sudah lebih dulu pulang beberapa hari yang lalu.

Di masa SMA, saya tinggal di perumahan itu. Jadi, saya masih punya teman di sana. Tetangga-tetangga juga sudah sangat dekat, karena keluarga kami pernah tinggal di Mataram saat kami masih kecil dan Kiki belum lahir. Saya diberikan makan malam dan untuk sahur, sebuah nampan yang penuh berisi nasi, lauk ikan, sayur, sambal, hingga kerupuk kulit, oleh tetangga kami, Bu Sueb. Saya mengobrol di rumahnya, dengan anak-anaknya, Kak Ema dan Kak Rahmat, juga dengan Pak Sueb. Pak Sueb masih ingat dengan saya, walaupun beberapakali menanyakan lagi. Tentu saja larut malamnya ada Cesar, Andi, Ari, dan Erik. Dulu mereka masih SD dan SMP, dan masih cupu-cupu.

Melihat tembok bekas rumah kami, saya jadi tersenyum sendiri. Dulu, Kak Rahmat, orang paling kocak se-RT satu dan RT tujuh, menulis dengan cat di tembok itu: “Terima kos2an. Malam full AC, siang full bara. Hubungi: Dayat”. Ya, rumah-rumah di perumnas Tanjung Karang versi orisinilnya terbuat dari rangka baja dan asbes, dengan plafon yang pendek, yang mungkin membuat siang hari hawanya panas tak biasa. Apalagi, letaknya juga hanya satu-dua kilometer dari pantai Tanjung Karang. Kami biasa, sore-sore di hari Sabtu atau pagi di hari Minggu, pergi ke pantai untuk berenang, main bola, atau mencari tempenyon (sejenis crustacea yang suka bersembunyi di bawah pasir).

Sekitar jam satu saya kembali ke rumah, tidur, dan tidak lupa meninggalkan sekotak kecil pempek untuk para tetangga. Terima kasih, untuk tetangga-tetangga yang baik di sana. Don’t cry for me, Argentina.

Bangku paling belakang

Pagi-pagi sekali saya ke Terminal Mandalika, untuk mencari tiket pulang. Hari-hari itu adalah masa-masa ramainya mudik. Kau tahu, orang-orang Mbojo dan Sumbawa banyak sekali yang merantau ke Mataram. Di masa-masa liburan, satu perusahaan oto (PO) bisa mengggunakan lebih dari lima bus sekali jalan. Sebenarnya, ada risiko tidak mendapat tiket hari itu. Tapi, pengalaman pulang selama ini, ada saja tersedia satu tiket dan tentu saja paling belakang. Itu tidaklah nyaman, karena selain letaknya paling buncit, juga di samping toilet yang aromanya sangat mengganggu bila dibuka tutup (kecuali keluaran Hino seri Legacy versi terbaru yang toiletnya di tengah bus).

Saya dapat tiket bus, ya di belakang. Empat bangku paling belakang adalah untuk smoking room, dan tiga orang yang duduk satu ruang dengan saya itu tampaknya satu gank, masih mahasiswa tampaknya. Saya sepertinya mendapat teman perjalanan yang cocok. Yang perempuan, duduk di samping saya, mengalami mabuk darat dan rutin muntah sepanjang jalan (akhirnya saya paham kenapa yang ini dibiarkan duduk sendiri). Sedang yang dua laki-laki, temannya, seringkali mengejek kalau hanya orang kampung yang mabuk naik bus ber-AC.

Ayahnya rutin menelpon, cemas dengan keadaan anak perempuannya itu. Saya juga prihatin dengan keadaannya, dan menyodorkan sebotol kecil minyak kayu putih. Tapi, sepertinya saya tidak bisa berharap banyak dari khasiat minyak tersebut, karena tak berapa lama dia muntah-muntah lagi. Membayangkan akan selalu begitu sampai Dompu, membuat saya masygul dan memilih untuk tidur selepas Narmada. Tidak begitu lama rasanya, tiba-tiba sampai di Kayangan, pelabuhan penyeberangan ke Sumbawa! Hore.

(bersambung)

Kenten, Palembang, 10-11-12 23:44 WIB

“Hari Pahlawan?”

2 Responses to “mudik kemarin”

  1. rianop Says:

    Rencananya, akhir februari mau ke arah sana, liburan. Semoga tidak batal (lagi).

    Cerita nuris selalu menarik. Berasa ikut dalam ceritanya. Tulisannya apik.

    Terima kasih sudah berbagi cerita dan ditunggu kelanjutannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: