Selamat jalan, Soner

Dia sudah menemani sejak Februari dua ribu sepuluh. Sudah dua setengah tahun lebih, sampai dia menghilang dua-tiga minggu yang lalu. Sepertinya dia terjatuh dari jaket parasut saya yang bertulis Kuliah Kerja Nyata UMP, di antara Siti Khadijah dan Simpang Polda. Di kantor, saya masih melihat angka jam di ponsel itu, dan saat makan di sekitar Simpang Polda, saya menyadari dia sudah tidak ada lagi. Saya masih menikmati makan malam saya dengan tenang dan berharap dia tertinggal di kantor. Ternyata setelah kembali ke kantor dan bertanya pada satpam, tidak ada ponsel yang tertinggal. Setelah menyusuri jalan sekali lagi (eh, dua kali), resmi sudah saya anggap dia hilang. Jalanan sedang sangat ramai, bila tidak dipungut orang, mungkin dia sudah berkeping-keping dilindas truk atau bus kota tanpa ampun.

Ponsel saya itu penampakannya jadul sekali (mungkin mirip orang yang punya :D). Sony Ericsson C702, sepertinya keluaran terakhir. Dibeli di Surabaya, melalui sahabat saya, Kadafi. Fiturnya sudah cukup lengkap dan sesuai kebutuhan, dan itu yang membuat saya betah memakainya. Ada kamera autofokus dengan lampu LED, pemutar musik dengan suara empuk, koneksi 3,5 G, A-GPS, google map, dan diklaim oleh pembuatnya tahan percikan air dan debu. Ponsel itu cocok untuk berkegiatan di alam terbuka. Tapi, tetap saja, karena penampakannya yang sudah tidak cantik lagi, seringkali teman saya menyarankan untuk mengganti yang baru. Tidak jarang mereka memandang dengan rasa prihatin, yang menegaskan bahwa manusia sebenarnya selalu punya rasa empati yang tinggi bahkan kepada benda mati sekalipun.

Pun saat saya mengabarkan bahwa ponsel saya hilang, teman-teman di kantor sepertinya lega dan berkomentar, seperti: “akhirnya hilang juga ya itu hape”, atau “memang saatnya diganti tuh, Ris”, atau “model Sony seperti itu kan waktu aku kuliah”. Hahaha.

Saat mudik dan kembali ke Palembang, ponsel itu hampir hilang dua kali. Pertama di Bandara Internasional Lombok, ponsel saya tertinggal di ujung mesin x-ray. Saya baru menyadarinya saat selesai mengantri untuk check in dan bergegas kembali ke pintu masuk dan menemukannya di meja petugas di sana. Kedua di Bandara Soeta, di hari yang sama, tertinggal di sebuah kursi di ruang tunggu, saat saya keluar untuk membeli makan. Seorang petugas kebersihan menemukannya dan menitipkan ke petugas maskapai penerbangan. Saya tidak tahu pasti hingga saya seberuntung itu, apakah karena petugas kebersihan itu sangat jujur, atau karena penampakan ponsel yang sudah tidak menarik lagi hingga siapapun tidak ada niat untuk mengambilnya dan terbit belas kasihan kepada pemiliknya.

Betapapun itu, ponsel itu sangat berarti bagi saya. Sudah banyak sekali kenangan yang kami alami berdua (#eaaaa). Pernah mendaki Tambora sama-sama, dan kami pernah memanjat pintu masuk Stadion Jakabaring, hingga dia terjatuh dari ketinggian sekitar dua meter sampai menyebabkan belasan piksel di layarnya mati. Saya bersamanya belasan jam dalam satu hari, tujuh hari dalam seminggu. Menggunakannya untuk mengambil foto untuk dipasang di blog, sesekali video call dengan keluarga, berkicau di twitter, mengetahui apa yang baru terjadi melalui situs-situs berita, googling tugas kuliah (atau jawaban kuis :D), mendengar radio, dan menjadi teman.

Sekarang saya punya ponsel baru dan nomor baru juga. Semoga saya lebih care untuk merawat keduanya. Misalnya tidak lagi menyimpannya di saku jaket parasut, yang struktur sakunya memang membuat barang rentan jatuh. Meskipun ponsel sekarang tidak ada fasilitas video call-nya (yang sesekali sangat penting bagi saya), tapi fitur lainnya saya rasa cukup. Bisa membaca dokumen office, tethering, push email, menyimpan kamus KBBI, bahasa daerah, hingga Merriam-Webster, dan pilihan mendownload ribuan aplikasi. Saya mungkin terdengar begitu antusias dengan fitur-fitur itu. Padahal ini sudah tahun 2012, dan saya baru merasa takjub dengan teknologi ponsel demikian, yang sebenarnya sudah dua-tiga tahun yang lalu menjadi tren di kalangan anak muda!😀

Kenten, Palembang, 00:37 WIB, sambil melihat Chelsea-MU di tivi

“Malam tadi, saya bersepeda untuk melihat Ampera. Sepertinya sudah sebulan lebih saya tidak melihat gemerlap lampu jembatan itu. Bersepeda dengan santai, menikmati udara setelah hujan, dan makan malam di warung Martabak Har. Saya membawa buku gambar ukuran A5 dan mampir di Bundaran Masjid Agung. Sibuk dengan buku gambar dan duduk terpisah jauh dari orang-orang, saya tampak seperti orang aneh. Mungkin itu yang membuat juru parkir di sana menyapa dengan ramah saat saya beranjak pergi setelah selesai. Besok adalah Senin, dan kita harus percaya, setiap hari adalah hari yang baik :)”

Bunderan Masjid Agung

Bunderan Masjid Agung Palembang. Bila malam hari, apalagi malam minggu atau minggu malam, tempat ini selalu ramai oleh pengunjung. Malam ini, tidak semua air mancur dinyalakan. Lampu-lampu sorot berganti-ganti warna. Dan pengunjung ada yang berpose seperti foto model dadakan dengan fotografer seperti fotografer profesional pula.🙂

6 Responses to “Selamat jalan, Soner”

  1. ghea Says:

    Mau pamer baru ganti android ya kak?? Hahaha turut berduka buat soner. Semoga dia tenang di sana.. amiiiin :”)
    Gambarnya cakeep! Mehehe

    • shavaat Says:

      haha, iya, meskipun androidnya yang cupu.
      gambar itu sebenarnya ga cakep (saya berusaha keras bikin yang cakep, tapi ternyata tidak bisa). ya, karena bukan pelukis atau bukan juga arsitek. hehehe. tapi, menggambar bukan untuk menjadi seniman, tapi gambar aja biar nanti bisa diliat-liat lagi.

  2. Refli Says:

    Kehilangan hape pun bisa bagus ceritanya
    apalagi hilang masa muda

    • shavaat Says:

      hehe. walaupun hanya ponsel, kita perlu memberi penghargaan padanya. atas jasa-jasanya. jasa buruh pembuatnya. energi yg terpakai untuk membuatnya. hahaha, apaan ini.

  3. dosko Says:

    saya yakin itu HP tidak terjatuh, tapi sampeyan lupa menaruhnya, weheheh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: