mudik

Sebenarnya, pulang kampung itu lumayan melelahkan. Misalnya berangkat dari Palembang itu di pagi saat matahari tampak malu-malu, siangnya baru tiba di Mataram. Nah, dari kota itu, saya naik bus malam jurusan Bima, sekitar 10 jam perjalanan lagi. Busnya bagus-bagus. Tapi jalan aspalnya tidak selalu mulus. Beberapa ruas jalan nasional di Pulau Sumbawa ada yang rusak parah: sudah tidak ada lagi lapisan aspalnya.

Tapi, sebuah tas kain jinjing produksi Joger bilang begini: “Ayo pulang kampung, selagi masih ada kampung!”. Tidak terbayang kalau kampung saya hilang.

Dan juga, karena kangen.

Kebetulan di hari pertama perjalanan mudik, Kadafi, teman sedaerah yang kuliah di ITS juga baru tiba di Mataram. Kami berdua, tapi bus malam terakhir sore itu hanya menyisakan satu kursi. Jadinya kami duduk gantian. Awalnya, duduk di bagian depan, di area samping supir. Tapi rasanya jauh dari nyaman, karena tidak ada sandarannya. Barulah kami sadar ada tempat di samping kamar kecil bus, di depan kaca belakang. Di situ bisa rebahan dan tidur sepuasnya. Tapi, tentu saja, goncangannya lebih  besar dibanding bagian bus yang lain. Kepala saya sempat kejedot atap bus saat melewati jalan rusak di sekitar Plampang, Sumbawa. Saya meringis tapi tertawa sendiri; aneh-aneh saja pengalaman pulang kampung ini.

Dompu tidak banyak berubah. Di kabupaten kecil itu, waktu seperti tidak ingin tergesa-gesa. Mungkin dia ingin memberi kesempatan orang-orang untuk tidak kehilangan jejak nostalgia: pada sudut-sudut kota, persawahan, latihan pacuan kuda, dan bukit-bukit sekeliling. Itu menyenangkan bagi sebagian orang dan mungkin membosankan bagi sebagian lainnya.

Bertemu dengan keluarga dan kawan-kawan baik adalah yang menyenangkan. Mungkin, melihat ketidakrapian kota adalah yang membosankan. (Selalu heran dengan keadaan kota yang tidak rapi. Seakan-akan penduduknya tidak pernah melihat kota orang lain untuk dicontoh. Sumbawa Besar misalnya, yang selalu bersih dan enak dipandang).

Di malam hari, saya biasanya menyelinap ke BCB FM (bukan BBC :)), sebuah radio lokal yang kini dikelola oleh Farhan, Boe, Yanuar, Fauzi, Teguh, Imam, Ito, dan lain-lain. BCB FM adalah radio legenda di kalangan anak-anak Dompu tahun 90-an. Sempat berhenti beberapa tahun, dan kembali mengudara di tangan kawan-kawan tadi, meski dengan sumber daya seadanya dan penyiar yang tidak digaji. Tapi, radio ini tetap sangat menghibur, dengan acara beragam dan aneh, serta penyiar yang kocak-kocak. Penyiar radio memang selalu menyenangkan.

Bapak senang sekali mengajak kami, anak-anaknya, ke kebunnya di Ginte. Yang disebut kebun ini adalah bidang tanah kering karena sedang kemarau dengan rumah panggung kecil di pojokannya. Tanaman yang ditanam tidaklah banyak. Ada beberapa pohon buah dan sayuran. Ada juga beberapa ekor ayam dan seekor kuda pacu yang masih kecil. Kuda itu dipelihara oleh Papa Rano, kolega kami. Saya lupa nama aslinya, tapi beliau dipanggil demikian karena punya anak namanya Rano.

Tapi sekali waktu kami diajak ke Lanci. Di sana, Bapak menanam beberapa tomat ceri. Buahnya imut-imut. Memetiknya harus sabar karena satu pohon buahnya bisa banyak. Oh ya, juga karena matahari teriknya minta ampun.🙂

Kami juga pergi ke Kilo, sebuah kecamatan di sisi Laut Flores. Di sana, pantainya bagus dan berpasir putih dengan latar Gunung Tambora di kejauhan. Tapi kami ke sana bukan sengaja untuk ke pantai, tapi ke rumah Aba Heda, kolega keturunan Arab yang punya beberapa kuda. (Aba adalah panggilan orang sana untuk keturunan Arab. Kalau untuk keturunan Tionghoa, biasa dipanggil baba). Sudah dua kali kami ke sana, dan selalu bawa pulang ikan kering dan buah kelor untuk sayur asam.

Selain itu, tentu saja lihat latihan pacuan kuda. Berbeda dengan Bapak dan abang saya, saya sebenarnya tidak hobi melihat pacuan kuda. Tapi, menonton pacuan kuda di kampung tentulah sayang untuk dilewatkan.

Dan di akhir pekan terakhir itu, saya dengan abang dan adik, pergi ke La Key, sebuah pantai berpasir putih di selatan Dompu. Saya yang menyetir, sebuah “kemampuan” yang saya peroleh di Sumatera Selatan. Di waktu yang sedikit itu, kami mengobrol, membicarakan banyak hal, cerita hal-hal lampau yang kami ingat, karena jarang-jarang bisa berkumpul bersama. Dulu saya pernah belajar menyetir di sekitar La Key, dan kijang super keluaran tahun 90-an yang saya pinjam masuk ke selokan. Kiki yang menceritakan itu tampaknya senang sekali membicarakan kesialan abangnya. Dia sampai ingat di selokan mana kejadian itu terjadi.

Ah, cerita mudik saya semuanya terdengar biasa saja. Karena memang begitu. Mudik yang kemudian mungkin begitu juga, biasa, insya Allah. Tapi entah selalu saja, mudik adalah hal yang paling saya tunggu, selain misalnya, bermain futsal setiap pekan di Momea. Mudik adalah saat kau begitu kuat mengangkat gunung, meskipun tubuhmu kecil atau kurus. Karena gunung itu bukan gunung berbatu, tapi gunung rindu #eaaaaaa.

Kenten, Palembang, 16 Juli 2012

“Ini tulisan sebenarnya saya bikin setahun yang lalu, untuk cerita mudik tahun lalu. Tapi tidak kunjung selesai dan diposting. Nah, dari pada telat lebih dari setahun, diposting saja sekarang😀.”

8 Responses to “mudik”

  1. darisjati Says:

    “Mudik adalah saat kau begitu kuat mengangkat gunung, meskipun tubuhmu kecil atau kurus. Karena gunung itu bukan gunung berbatu, tapi gunung rindu #eaaaaaa”
    eaaaaa, mo lamaran ya Jack, anaknya pak Bupati Dompu yaaa, wkwkwk

  2. Ghea Says:

    eaaaaaa he he he

  3. muamdisini Says:

    waahh…gapapa jhe biarpun ini cerita setahun yang lalu…
    yang pasti setiap pulang kampung akan selalu menyimpan kisah tersendiri..🙂

    • shavaat Says:

      benar, am, pulang kampung itu biarpun capek dan tidak sedikit biaya, entah kenapa harus dilakukan. dasar kita ini orang indonesia. karena itu, karena setiap pulang kampung ada saja ceritanya.

  4. heidy Says:

    mudik mudik mudik…. tgl piro??
    liat ponaan eee…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: