Selamat Hari Mamak

Dulu, waktu kecil-kecil, sore hari kami sering berkumpul di ruang tamu. Ada yang bikin PR, baca buku cerita, atau dipotongkan kuku oleh Mamak. Sambil memotongkan kuku kami, Mamak selalu bercerita, mendongeng. Dongengnya banyak, tidak habis-habis. Kami tahu dongengnya dibuat sendiri. Tapi itu sangat menghibur kami. Apalagi Kiki, yang lebih kecil. Dia selalu antusias mendengar cerita Mamak.

***
Kalau kami malas mandi, maka siap-siaplah kena sabetan sapu lidi oleh Mamak. Hehehe. Saya kangen dipukul sapu lidi kalau menunda-nunda mandi sore.

***
Abang saya, Iyek, dulu senang sekali memelihara ayam. Ayamnya banyak. Dari ayam kampung biasa sampai ayam jawa atau ayam bangkok.
Kalau Mamak masak pelecing ayam, sangat besar kemungkinan itu ayamnya Iyek. Nah, kalau kami pulang sekolah dan menemukan ada daging ayam yang sedang dimasak, maka Iyek akan sibuk menanyakan itu ayam siapa. Mamak tentu saja bilang itu ayam dibeli di pasar, atau ayam dibawakan uwak atau paman-paman kami. Kalau sudah dibilang begitu, Iyek akan tenang. Sedang saya dan Kiki, tidak peduli itu ayam siapa. Pelecing ayam buatan Mamak adalah yang terenak di Indonesia.

***
Minuman favorit Mamak adalah fanta merah. Tapi Mamak selalu bilang panta merah. Sebab Mamak orang Sumbawa yang tidak bisa bilang huruf “f”.

***
Cerita yang lucu itu saat Mamak simpan minuman sprite botolan di kulkas. Nah, saat minum itu, Mamak kaget karena rasanya hambar seperti air putih biasa. Ternyata itu ulah Iyek yang menghabiskan isi botol dan menggantinya dengan air putih. Hehehe.

***
Kalau ada teman perempuan yang datang ke rumah, Mamak selalu memuji ke saya kalau teman itu cantik. Siapapun itu. Hehehe.

***
Mamak senang bernyanyi. Kalau lagi beres-beres rumah juga sambil nyanyi. Kalau ada acara nikahan, Mamak maju ke depan untuk bernyanyi. Lagunya lagu-lagu lama; seperti lagunya Erny Johan, Titiek Puspa, Dian Pishesa, atau Dewi Yul. Sering sekali saya dengar Mamak nyanyikan lagu yang liriknya begini:

Tunggu saja kiriman hasil panenku
Daku orang dusun pandai bertani
Hanya pesanku kawan jaga negerimu
Sampai berjumpa nanti salam manisku

Tahu kan itu lagu siapa?

***
Dulu Mamak sering membuat jamu. Nah, ada salah satu bahan bakunya semacam tanaman liar yang sering tumbuh di pinggir jalan. Kami, anak-anaknya, akan mencari tanaman itu sesorean dan pulang dengan ikatan yang besar.

***
Mamak juga sering membuat kopi. Maksudnya, memproses kopi mentah sampai menjadi kopi bubuk. Biji kopi akan digoreng dengan wajan besar, dengan potongan kelapa, buah pala kering, kayu manis, dan jahe, dan ditumbuk dengan lesung. Kopi buatan Mamak rasanya khas.

***
Kampung halaman Mamak adalah Melalo, sebuah dusun kecil di Kecamatan Empang, Sumbawa. Mamak sering bercerita kalau dulu bersekolah dengan jalan kaki berkilo-kilo meter di pagi buta ke ibukota kecamatan. Ini membuat kami malu kalau malas ke sekolah.

***
Kakek kami, H. Ismail, ayah Mamak adalah seorang guru sekolah di Melalo. Kata Bapak yang orang Dompu, untuk mendapatkan Mamak itu susah sekali. Banyak yang ingin menjadikan Mamak, yang baru lulus sekolah keguruan, sebagai menantunya. Saat mendengar Mamak dilamar oleh Bapak, ada orang kampung yang tidak setuju. Bapak pernah menunjukkan sebuah jendela di rumah kakek di Melalo yang pecah kacanya. Itu katanya bekas lemparan orang karena tidak setuju Mamak dilamar oleh Bapak. Bapak sedang tidur di kursi di bawah jendela dan syukurlah pecahan kaca itu tidak mengenai Bapak.

***
Waktu itu musim hujan dan persawahan yang baru panen di samping rumah penuh dengan air, seperti danau. Maka Iyek dan saya mengambil ban dalam truk yang diisi angin dan menempatkan papan di atasnya seperti rakit. Dengan itu kami menyabit pucuk-pucuk padi yang masih tersisa untuk makanan kuda. Kami sering tercebur di sawah dan itu asyik sekali bagi anak-anak. Pulang dari situ badan kami gatal-gatal hebat. Sepertinya, karena di sawah itu ada sekawanan itik yang dipelihara dan kotorannya membuat alergi. Mamak tidak marah dan menaburkan herocyne di badan kami dan menyuruh kami pakai sarung saja semalaman. Paginya, gatal-gatal mereda.

***
Yang paling saya kangenin saat pulang kampung adalah sepat buatan Mamak. Sepat adalah semacam kuah yang dibuat dari air, dengan bumbu: cabai rawit, bawang merah, kemiri yang semuanya dibakar terlebih dahulu, dan dicampur dengan rajangan daun-daunan beraroma wangi serta terong yang dibakar. Sepat yang khas Sumbawa ini adalah teman makan ikan atau ayam bakar.

Sumatera Selatan, 22 Desember 2011
“Kemarin saya telepon Mamak. Saya kira kemarin hari ibunya, ternyata hari ini :hammer”.

21 Responses to “Selamat Hari Mamak”

  1. ghea Says:

    subhanallah… bahkan tanggal yang udah kecantum aja lupa juga kakak.. *geleng2. hahaha selamat hari ibu.. salam buat mamak kak😀

  2. muamdisini Says:

    jhe..sekarang saya tau dari mana bakatmu bercerita itu berasal…
    hehehehehe….
    kisah mamakmu itu unik juga yah jhe,,tapi dimana-mana masakan mamak adalah yang terenak di seluruh dunia…
    apalagi jika beliau memasakkan masakan kesukaan kita//🙂
    oh iya, platform blog saya sekarang udah pindah, sudah gak di blogspot lagi..sekarang saya pakai wordpress..ikut dirimu jhe..😀

    • shavaat Says:

      selain bercerita, mamak dulu suka pinjemin buku cerita di sekolahnya. dulu kecil2 sudah senang baca buku cerita, am.🙂
      pantes saya bingung, perasaan pernah baca beberapa posting baru, pas sy kunjungi malah hiatus itu blogspot. oke, am, saya ganti linknya.

  3. heidy Says:

    sy jg kira hari mamak itu kemarin, bang.
    mamak tak bilang sy cantik, cm manis sj😉
    mamak wkt sy nikah menyanyi tp lagu kebesaran daerah (ndak tau judulnya)
    mamak sangat cerewet, tak habis bahasan klo bicara tp sy suka.

  4. rianop Says:

    Jadi pengen mudik…..

    Kalo di rumah, makanan fav namanya “tehong jeheneh”. Buatan sang emak paling dahsyat. Pernah nyoba buat tapi rasanya kalah jauh.

    Maen pake ban???hhmmm…ditempat sy, biasanya di sungai. Anak2 suka maen sampe ke hilir.

    Menarik…

    • shavaat Says:

      tehong jeheneh apa itu? sambal juga?

      wah, iya, kalau di sumsel sungainya besar2 dan panjang. sepertinya puas sekali bisa “ngarung” pakai ban sampai ke ilir.

      eh ya, terima kasih.

  5. Dhenok Habibie Says:

    nama kakaknya sama kayak nama temen kecil dhe dulu mas, Iyek.. hehe😀
    lagi di Palembang kan yaa?? yuk ah, kopdar bareng.. mau tak?? kan udah jadi blogger Palembang..

  6. Humairah Says:

    Kenapa ya, setiap kali baca postingan k nouris, seakan-akan teringat kisah ikal dan laskar pelanginya di Tetralogi Laskar pelangi.
    Gaya penceritaannya mirip Andrea Hirata,
    dan Era suka…
    Keep Posting🙂

    • shavaat Says:

      😀
      iya, gaya nya mirip2 sama yang laskar pelangi. mungkin sudah terpengaruh kali ya.
      tapi, orang melayu sama orang bima kan beda2 dikit. sama2 suka cerita. sama2 banyak bicara. hehehe.

      kamsia, era.

  7. darisjati Says:

    jack, cerita kakakmu dan ayamnya mirip iklan Mie Sedap, hahaha😀.
    Sumpah Jack, saya pingin bet berkunjung ke kampong mu di Sumbawa sana, siapain pelecing ayam made in mamakmu yaaaa

    • shavaat Says:

      iya, pak dosko. pertama lihat iklan itu, jadi ingat masa kecil dulu.😀
      yah, begitulah orang yang sayang betul sama ayam2nya,

      pelecing ayam bikin emak ane memang mantap, gan. cabenya maknyos. jeruknya juga terasa. ayamnya mesti ayam kampung. dibakar dulu, baru nanti digoreng bersama bumbu2 dengan minyak kelapa.

  8. Sophie Says:

    Saya merasa terhibur n merasa happy saya bisa tertawa kecil membaca ceritanya saya suka.ads cerita baru ngak.trimakasi ya sdh bikin saya terhibur n happy

    • shavaat Says:

      terima kasih sudah berkunjung dan membaca. senang mengetahui kalau tulisan ini membuat orang lain terhibur.

      mungkin nanti ada beberapa tulisan baru lagi🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: