jalan-jalan ke teluk gelam

Bumi Perkemahan Teluk Gelam

Bumi Perkemahan Teluk Gelam

Sebenarnya tidak ada rencana ke sana. Tapi pagi itu, Yani, teman SMP saya dulu kirim SMS. Dia tanya kabar dan kasih kabar kalau sudah di Teluk Gelam, lokasi Jambore Nasional tahun ini. Saat itu sudah jam sepuluh pagi, dan dengan santainya saya kirim SMS: Oke, nanti saya ke sana. Dari internet, ternyata jarak Palembang-Teluk Gelam itu lumayan jauh, 92 kilometer. Tapi saya sudah janji, jadi saya berangkat saja.

Jam 11 lewat saya berangkat dari rumah, naik angkot Perumnas-Ampera, dan mampir di Larissa, toko buah di Jln Sukamto. Pilih-pilih buah tangan di sana sampai jam 12-an. Siang shoma dulu di dekat itu, karena yakin nanti tidak akan sempat. Jam satu siang naik bus kota dan turun di Internasional Plasa, ada agen tiket di dekat situ. Seminggu lalu saya booking tiket untuk mudik dan saya ingin memperpanjang lagi bookingan tadi. Syukurlah, harga tiketnya hanya berubah 70 ribu rupiah.

Jadi saya naik buskota lagi ke Pangkal, di kuping Jembatan Ampera sebelah ulu. Maksud Pangkal di sini, mungkin dari kata pangkal jembatan. Di sana ada banyak travel yang melayani perjalanan ke daerah-daerah di Sumatera Selatan. Saya tanya-tanya travel yang jurusan OKI (Kab. Ogan Komering Ilir) yang beribukota di Kayu Agung. Kebetulan ada yang hampir penuh, dengan ongkos Rp20.000,00 sampai kayu Agung, dan supirnya bersedia mengantar sampai ke Teluk Gelam dengan tambahan ongkos Rp20.000,00 lagi. Travel berangkat sekitar jam 14.15.

Segera saya memilih posisi yang paling pewe untuk perjalanan 2,5-3 jam ini. Ternyata pewenya cuma sebentar. Pasalnya, sepanjang perjalanan Palembang-Indralaya tempat saya duduk kena sinar matahari terus. Ya, lumayan bikin badan keringatan.

Biarpun tidak terlalu pewe, saya sempat buka-buka buku yang saya bawa: The Journeys. Buku catatan perjalanan dari 12 penulis muda. Ceritanya memikat dan kertasnya enak dilihat. Itu membuat imajinasi saya ke mana-mana. Tubuh saya di atas travel Isuzu Panther tanpa AC di jalan yang kiri-kanannya rawa-rawa, tapi pikiran saya malah berputar-putar di komplek istana Alhambra, di Spanyol Selatan.

Karena baca buku di kendaraan itu bikin pusing, saya berubah menikmati pemandangan sepanjang jalan saja. Selepas Palembang-Inderalaya yang satu jam perjalanan, pemandangan rawa-rawa berganti dengan rumah-rumah penduduk, pasar, kebun, dan sawah pada jalur Inderalaya-Kayu Agung. Rumah-rumah penduduk sangat unik, berupa rumah panggung dengan atap berbentuk limas demikian rupa. Dan yang lebih menarik lagi, ukurannya itu, Boi, besar-besar. Saya lihat, deretan rumah-rumah itu seperti melambangkan kesejahteraan (entah masa lalu atau sekarang) penduduk lokal yang diperoleh dari hasil bumi (khususnya karet) di sana.

Jam 16.20 tiba di Kayu Agung. Ternyata, Teluk Gelam itu nama kecamatan. Sekitar jam lima saya diturunkan di depan gerbang Bumi Perkemahan Teluk Gelam, dengan lahan berkelapa sawit dan danau. Dari luar, terlihat banyak sekali manusia berpakaian cokelat dan tenda-tenda berwarna warni.

Saya pikir, perkara menemukan tenda dari Kabupaten Dompu itu mudah saja. Kan tinggal tanya ke anak-anak pramuka di sana. Ternyata tidak gampang, Saudara-Saudari. Memang, anak-anak pramukanya ramah dan mau mengantarkan. Tapi, jumlah peserta yang banyak, sekitar 400-an kabupaten, dan letaknya yang tersebar, pasti membuat mereka sulit untuk menghafal letak semuanya. Setelah putus asa karena berputar-putar selama 20 menit, saya telpon Yani saja. Itu pun sulit juga, karena misalkan saya bilang: Saya di depan tenda Kota Mamuju. Lah, si Yani juga bingung di mana letak tenda Kota Mamuju. Juga pas Yani bilang, coba ke Jalan Yogyakarta. Saya mana tahu itu jalan di mana. Tapi akhirnya, saya lihat Yani yang muncul dari belokan. Halo, saya di sini!

Yani sekarang jadi ibu guru dan aktif di kegiatan kepanduan, jadinya dia ikut Jamnas di sana. Saya tidak menyangka bisa bertemu dengan teman sekolah di Dompu dulu. Ini menyenangkan, karena saya bisa bertanya tentang kabar kampung halaman dan mengobrol macam-macam, biasanya tentang kabar teman-teman yang lain. Termasuk tentang Yadi, si kawan yang baru saja menikah. Itu mengherankan, sebab Yadi terkenal tidak serius dan punya banyak pacar (hoho, piss, Bro).

Saya makan jinta, itu kue kering khas Dompu, bentuknya jajargenjang kecil-kecil dan ada biji jinten hitamnya. Wah, sudah lama sekali tidak makan kue itu. Kata Yani, itu sengaja dibawa, untuk peserta dari daerah lain bila berkunjung ke tenda.

Sampai jam tujuh malam saya di sana. Saya juga sempat bertemu Pak Yan, guru pramuka di SD dulu yang suka bercerita. Saya masih ingat dengan kisahnya tentang bule yang masuk ke lift yang ada tulisan OPEN di pintunya. Secara orang Sumbawa tidak bisa bilang “F” atau “V”, dikira itu OVEN, alat pemanggang kue itu, dan diperingatilah ke bule agar tidak masuk. Tapi si bule telanjur masuk, dan seperti telah diatur, yang keluar dari lift sesaat kemudian adalah turis Negro. Jadilah si orang Sumbawa jadi yakin kalau itu benar-benar oven. Cerita ini sukses membuat kelas 5A menjadi ramai dan kalau ada Pak Yan, mereka pasti menagih cerita lagi.

Jam tujuh malam saya pamitan. Sebenarnya jam segitu sudah tidak ada lagi angkutan menuju Kayu Agung. Tapi, tadi di travel syukurlah ada yang menawarkan untuk ikut mobilnya sampai Kayu Agung. Jam 19.20 saya sudah di mobil itu dan turun di sebuah pos polisi sebelum masuk kota. Oleh Pak Polisinya, saya dicarikan mobil menuju Palembang. Tidak lama, ada sebuah mobil Avanza berplat putih yang dibawa oleh sopir ekspedisi. Mobil tadi sempat menghindar, mungkin dikira mau dirazia. Ternyata si Pak Polisi hanya minta tolong agar temannya bisa menumpang di mobil itu sampai Palembang. Temannya itu siapa lagi kalau bukan saya. Hoho. Maju terus Kepolisian Republik Indonesia!

Pak supirnya tidak banyak mengobrol tapi itu baik agar saya bisa tidur. Jam 22.00 saya tiba di Palembang, di Simpang Empat Musi II. Dari sana saya naik ojek ke Kenten. Jam 22.30 saya sudah di rumah dan sebentar kemudian sudah tidur dengan nyenyaknya.

Palembang, 7 Juli 2011

“Maju terus Praja Muda Karana!”

7 Responses to “jalan-jalan ke teluk gelam”

  1. Baju Wanita Says:

    Salam Pramuka, wah swmangat sekali mas, biar lelah tetap menyenangkan🙂

  2. heidy Says:

    alaeeee… heba ja sia🙂

  3. Tutut Says:

    wah, jalanjalan lagi k’ois?
    sudah lama tidak dengar kabar kk ois ini.. sudah lama tidak ngeblog juga sepertinya.
    17an kemarin mendaki kemana,kak?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: