jadi bapak-bapak

Mungkin itu hari yang paling mendebarkan bagi dia—teman seangkatan di Jurangmangu dulu, dan teman samping meja saya sekarang. Katanya, bahkan dia sempat mondar-mandir di lorong rumah sakit saking gugupnya, lupa di mana ruangan istrinya dirawat. Hari itu istrinya akan melahirkan dan ini kelahiran pertama. Di umur yang sebaya dengan saya yang masih suka baca komik ini, dia sudah menghadapi peristiwa yang sangat serius. Sebuah peristiwa yang menyangkut hidup-mati kedua jantung hatinya. (Tapi dia juga suka baca komik dan itulah hebatnya!)

Saat kami menonton televisi di rumah dinas dan ada yang main game DotA; kami tahu, di tempat lain dia sedang berusaha keras menguatkan dirinya mendampingi sang istri. Ya, mendampingi, dari awal sampai akhir proses kelahiran itu. Entah kekuatan dari mana, katanya, hingga dia tidak lemas melihat darah di mana-mana. Dia harus ada di sana, agar ada yang memberi semangat bagi istrinya dan membantu menjaga agar mata istrinya tetap terbuka. Kau tahu, Ris, ibu yang bermata minus 3-5 beresiko kebuataan apabila melahir kan secara normal dan dengan mata tertutup. Sebab itu, matanya harus dibuka. Bila perlu ditahan dengan jari-jemari. “Bila bukan aku, siapa lagi, Ris?”, demikian dia bilang. Oh, boi, kamu keren!

Malam itu saya belum tidur, sambil menonton tivi, dan mengirim sms ke dia: “Bro, di Trans ada film ular”. Itu maksud saya agar dia tidak terlalu gugup, karena di saat dia sedang cemas-cemasnya malah ada temannya yang kirim sms tidak penting. Hampir tengah malam, ketika foto bayi itu diupload di facebook Mbak Ela oleh Mbak Pitri–dua  mbak seruangan yang menemani sedari pagi.

Bayi itu telah lahir dengan selamat, sempurna, tak kurang apapun. Bayi laki-laki yang kalem, tidak banyak menangis. Pipinya halus sekali; harus pelan-pelan menyentuhnya. Sulit mencari pengandaian bagi pipi yang lembut itu. Orang-orang di daerah beriklim empat musim mungkin akan mengatakan pipinya selembut salju. Atau selembut kue marsmallow.

Selamat, Teman. Atas keajaiban yang kamu terima. Juga atas apa yang kami lihat: bahagianya kalian meskipun tak bisa disembunyikan betapa repotnya juga kalian. Biaya yang tidak sedikit, bertaruh nyawa, dan malam-malam selanjutnya yang menyita waktu istirahat—bila bayi itu menangis kapan dia mau. Itu membuat saya terbayang orang tua di rumah. Seorang wanita yang berjuang di ruang bersalin. Seorang lelaki pendiam yang cemas menanti. Saat anaknya lahir, tentulah mereka berkorban banyak. Banyak sekali. Orang tua kalian demikian juga, bukan?

Tanjung Pengharapan-Kenten, Palembang, 22.10 WIB, 19 April 2011

Mas Ariel, Mas Zumi, dan saya baru sempat menjenguk di Sabtu siang. Kami saja yang hanya memilih-milih baju-peralatan bayi saja sudah begitu bingungnya, apalagi dia ya.

16 Responses to “jadi bapak-bapak”

  1. dosko Says:

    huhuhu, ikut merasakan getarannya Jack

    • shavaat Says:

      makanya, pak dosko, ayo lamar siapa gitu. biar nanti lebih terasa nyata getarannya. hehehe.

      iya, pak. ane sedikit terharu, gan, lihat itu teman menyiapkan semua untuk kelahiran bayinya sampai si bayi lahir. antusiasnya bercerita tentang proses persalinan. sampai caranya yang kaku menggendong bayi.🙂

  2. heidy Says:

    Mkx cpatan nikah, bang😀

  3. erwin Says:

    hmm.. o, mata harus terbuka saat melahirkan ya[?] baru tau.. saya berani ga, ya[?] menemani istri, nanti..

  4. harestyafamily Says:

    Salam silaturahim Mas Nuris….Apa kabar??? Kapan nyusul nih biar bisa mengisahkan sendiri…
    Btw tlg blogroll link yg lama diganti blog baru ini ya…

    Salam
    Keluarga Harestya

  5. muamdisini Says:

    hahaha,,,bisa saja ris…kapan kamu menyusul nih..
    menjadi lelaki pendiam cemas yang berusaha menjaga istrinya yang sedang melahirkan putra pertama…
    Nourish Putra..hahahah

  6. shavaat Says:

    @heidy: itu sudah ada yang atur…🙂
    @erwin: pak win, sebentar lagi kan, ya? siap-siap, kuatin mental mendampingi…🙂
    @ahmad: waalaikum salam, ahmad. kabar baik, nih. oke. hehe, sarannya begini semua, euy.
    @muam: lelaki pendiam itu ayah ane, gan. lihat si kawan yang istrinya melahirkan itu, jadi ingat ortu di rumah.🙂

  7. gerie813 Says:

    idem sama saran yg laen je…;p
    pakdosko ud ada calon je,,kmrn dibawa k akadnya uka lho…
    *nyebar berita baik itu bukan fitnah kan yaa?😉

    mlh seringnya ketakutan klo ada kisah2 persalinan gini…-_-”
    aplg pas cek fisik er es kmrn,,diliatin alatnya klo sesar…hiyaaaaa….
    Ampun daah…
    #ngumpet

    • shavaat Says:

      wow, pak dosko? ckckck, akhirnya… (lanjutkan, pak!)

      hehehe. nah lho, ger… <–nakut2in

      kemarin juga cek fisik ke ruang operasi, malah ada yang baru selesai cesar. gemetar sy.

  8. harestyafamily Says:

    Izin memasang link blognya sebagai tetangga kami ya, Bung
    Sangat berterima kasih jika berkenan blog kami juga dipasang linknya di sini…
    hehe
    Salam,
    Keluarga Harestya

  9. whomayrah Says:

    Terharu T.T


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: