dua puluh tahun

Dua puluh tahun. Itu umur yang bukan remaja lagi. Saya memutar ingatan saat Kiki dulu masih kecil sekali. Kalau teman-teman perempuannya tidak datang bermain di rumah atau dia tidak main ke rumah temannya,  Kiki akan ikut kami: kakak-kakaknya dan para sepupu yang laki-laki, untuk main layangan di bukit samping rumah, mancing ikan di saluran irigasi persawahan, bersepeda, main kelerang, atau main bola di lapangan Kantor Dinas Kesehatan.

Cepat sekali. Tidak terasa.

Apa yang cocok dihadiahi untuk dia dalam umurnya itu?

Saya berusaha tidak lupa, agar tidak lupa tanggal 15 Januari yang silam. Walau hampir-hampir saya terlewat tanggal tersebut. Pergilah saya naik sepeda ke PIM. (Sepeda motor saya masih di bengkel). Ingin membeli sesuatu.

Saya tidak sepandai ayah dan abang saya dalam hal memberi hadiah.

Sepatu? Ya, dulu, Kiki pernah bilang ingin dibelikan sepatu. Ada merek yang dia sangat suka. Saya pernah lihat, ada tokonya di PIM. Masuk ke sana dan bertanya pada mbak-mbaknya, manakah model sepatu yang bagus. Yang paling baru, setidaknya, biar gampang. Sepatu cewek banyak sekali modelnya. Membuat bingung.

Saya beli cokelat juga di swalayan Hypermart. Tidak lupa kertas kado di Toko Buku Kharisma.

Pagi harinya tanggal 14, sebelum ke kantor saya bungkus kadonya. Sempat satu kado saja. Satunya saya bungkus sekitar jam 10. Tidak lupa pakai pita merah agak orens yang saya beli mampir di jalan. Biar begini-begini, kalau masalah prakarya, saya lumayan bisalah bikin kado begitu.

Sebelum Jumatan, mengejar waktu, segera saya ke TIKI (apa JNE ya?) di depan PIM. Minta yang sehari sampai. Tapi mbaknya bilang tidak bisa. Paling cepat tanggal 17 sampainya. Ya sudahlah kalau begitu. Sedikit kecewa sebenarnya, kecewa sama diri sendiri. Selalu saja tergesa-gesa begini.

Entah berapa kali saya ini tergesa-gesa padahal urusan penting. Naik gunung malam hari, saya baru siap-siap sorenya. Saat pertama kali ke Palembang, saya beli tiket pesawat baru malamnya, padahal besok harus berangkat.

Ini urusan yang tak kalah penting…

***

Sabtu tanggal 15 Januari 2010, siangnya, ada sms dari Kiki:

“Kak, trima kasih hadiahnya…”

Hah? Paket yang baru dikirim kemarin? Cepat sekali. Palembang-Mataram hanya semalam. Tidak sesuai dengan janji mbaknya, kalau paling cepat hari Senin paket diterima.

“Oh, iya, Ki. Hehe, maaflah kalau modelnya gak bagus. Bingung…”

“Ah… terima kasih banyak, Kak…”

“Hehe… iya…”

***

Hmm, hati saya tenang sekali siang itu.

Palembang, 20 Januari 2010, 02:06 WIB

“Jam dua pagi saya belum tidur. Bukan karena pusing memikirkan sesuatu. Tapi, teman kerja kasih saya file serial drama Korea. Jadi ditonton sampai malam walau tidak tahu judulnya. [update] Kata teman saya tadi, judulnya Delightful Girl Chun Hyang.”


11 Responses to “dua puluh tahun”

  1. Dosko Says:

    penggemar drama korea ternyata kau Jack. Namamu jadi Uje Korea dwong, wkwkwk

  2. Heidy Says:

    Wkwkwkwkk… ntanda film korea rau na pala sia
    Film korea jadul poda re…
    sy jg bela2in buat ingat tgl ultahnya kikio, eh malah klewatan… btw, masa’ kikio br 20 tahun seh, ris???

  3. nininananunu Says:

    my girlfriend is gumiho baguuuuuus. ;D

  4. whomayrah Says:

    i like your post..🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: