#random

Samada. Aku begitu merasakannya hari-hari ini. Itu adalah rindu, dalam bahasa kami. Aku mendadak seperti anak kecil yang kangen rumah. Biarlah begitu. Aku benar-benar rindu dengan ibu bapakku, saudara-saudariku itu, dan juga teman-temanku di masa kecil. Ingin aku kirimkan salam terindah nanti. Iya, itu nanti. Sekarang aku benar-benar merindukan mereka. Semoga mereka selalu sehat dan baik-baik saja.

***

“Cantik ya”, kataku sambil menunjuk sebuah gambar di koran kepada seorang teman seangkatanku di kantor. Gambar itu adalah gambar artis Marsha Timothy. Tapi ia (temanku) tidak setuju dengan pendapatku.

“Ah, lebih cantik istriku”, katanya. “Ah, bagaimana bisa?”, aku tak percaya. “Cinta itu membutakan mata, Boi”, jawabnya lalu terkekeh. Itu sebuah pesan universal, yang terkenal sejak dahulu. Cinta benarlah bisa membutakan mata.

Marsha Timothy kalah cantiknya di mata dia.

***

Mengapa kini banyak sekali isu tidak penting yang menguras energi bangsa ini. Tapi biarlah. Itu urusan mereka. Bila aku ingin mengubah dunia, tentulah aku harus mengubah diriku terlebih dahulu.

***

Pernahkah kau merasa takut masuk neraka, Teman? Rasa-rasanya seperti tidak berdaya sama sekali. Kelu. Sekelilingmu hilang makna. Seperti tidak ada realita. Aku takut. Tapi (sayangnya) sering kali hanya sebentar.

***

Beberapa hari lalu aku membaca sebuah novel tentang seseorang yang bermimpi bertemu dengan Sang Nabi. Sebenarnya itu adalah kumpulan surat-surat yang dikirimkan untuk kekasihnya. Walau tak semua idenya aku setujui, aku gerimis membaca novel itu. Benarkah kita benar-benar mengenal lelaki lembut penuh kasih—Rasulullah—itu? Mengapa banyak perbuatan kita yang jauh dari apa yang beliau ajarkan? Termasuk pula penghinaan-penghinaan yang ditujukan padanya?

Kita tak benar-benar mengenalnya.

***

Bila umurku sampai, ingin sekali aku mengintip nama yang tertera di sebuah daun pada pohon takdir di sana. Biarlah sekedar huruf depannya, atau inisialnya saja. Aku penasaran. Siapakah gerangan dirinya?

Maafkan aku, Tuhan, bila ingin tahu. Tidak ada niatku mendahului. Tidak mengapa itu tetap jadi rahasia.

***

Aku sudah betah di kota ini. Aku ingin bisa betah di mana-mana. Setiap tempat hanya dibedakan oleh jarak. Jarak dari rumah. Walau tetap aku ingin sekali dekat dengan rumah. Aku betah karena aku memang harus betah.

***

Ingin sekali aku mendaki gunung bersama abang dan adikku. Ke Rinjani. Walau sekarang itu tidak mudah; karena kami harus menghitung-hitung waktu yang tepat. Agar bisa mendaki sama-sama. Nanti sekali waktu.

***

Penampakan Marley semakin kuno sekarang gara-gara jalan di depan kostku berlumpur terus hingga roda-rodanya berwarna cokelat. Aku dapat beberapa kenalan di jalan karena tertarik dengan sepeda motor itu. Besok-besok, kalau sempat, aku ingin bikin tempelan dan dipasang di belakang: “Jangan Ngaku Wong Kayo Kalu Idak Punyo Motor Tuo”. Atau, “Perhatian: Hanya Untuk Gadis Manis Saja”. Tapi tempelan seperti yang terakhir ini sudah terlalu banyak di sepeda motor orang lain. Tidak asyik lagi.

***

Dari perang melawan terorismenya Amerika, isu nuklir Iran, hulu ledak nuklir yang dimiliki Israel dan Korut, China yang semakin raksasa, dan Rusia yang diam-diam menjual senjata, mungkinkah perang dunia ketiga akan terjadi tak lama lagi? Ada sebuah adagium dari Bangsa Arab. Begini: “Sesuatu yang telah terjadi sekali tidak akan mungkin terjadi dua kali. Namun bila telah terjadi dua kali, maka pasti akan terjadi untuk ketiga kalinya”. Aku belum menikah.

***

Damai, cinta, dan kasih sayang menjadi kata yang gampang sekali diucapkan. Bagaimana bila kata-kata itu tidak pernah ada. Jadi bila seseorang atau sekelompok orang ingin menyatakan cintanya, tidak cukup dengan kata-kata. Sebab itu semua tidak ada kosakata “cinta”, “kasih sayang”, “damai”. Biarlah sampai payah membuktikannya. Pasti indah sekali. Seperti Hello Kitty yang tidak ada mulutnya.

***

Di kostku sudah tidak ada tivi. Jadi kalau ada siaran bola kami ke kantor. Agaknya cuma siaran bola saja yang penting di televisi sekarang. Mungkin ada yang lain; Jejak Petualang dan Kick Andy misalnya. Tapi sedikit nian.

***

Aku mulai mengurangi anggaranku membeli buku akhir-akhir ini. Bila ke toko buku, aku sengaja bawa uang secukupnya. Pegawai negeri (bila tidak ada penghasilan sampingan) harus banyak-banyak berhemat. Tapi, aku ingin sekali membeli buku “Habibie & Ainun”. Mungkin nanti di awal bulan.

***

Mengaudit itu melelahkan. Kuliah juga memecah konsentrasiku. Oh, semangatlah kau diriku, Jackpot!

Palembang, 17 Desember 2010, 00:43 WIB

“Senang sekali tadi Indonesia bisa menang 0-1 atas Filipina. Aneh ya pakai ‘aku’, bukan ‘saya’. :-)”

15 Responses to “#random”

  1. Dosko Says:

    sayang jack, harusnya postingan di atas bisa jadi 14 judul, hehehe

  2. heidyhe Says:

    pulang lah kawan🙂

    ada yg bs kubantu?? akhir ni km melow skali… ayo semangat🙂

  3. gerie Says:

    pulang je’ pulang…^^

    btw,,ternyata ada yg selalu diimpikan uje..>_<
    yaa semoga jiwa kalian terpaut,,dan nama kalian sama2 tertulis d daun pada pohon takdir masing2.. aminn…

  4. nininananunu Says:

    iya ih lebay.😀😀
    tapi boong.

  5. rytuzahra Says:

    lamo dk sanjo.

    ???????????
    seperti membaca isi kepala sendiri.

    #randomvsgado-gado

  6. rytuzahra Says:

    bukan tp note d fb


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: