perlu belajar dari palembang

Itu malam Sabtu yang normal; pabrik pupuk di kejauhan selalu gemerlap dan mengepulkan asap, Jembatan Ampera yang ramai hilir-hulu kendaraan dan manusia, serta kuliah yang kelar jam delapan malam. Saya mengendarai sepeda motor sambil bernyanyi-nyanyi kecil. (Saya suka bersenandung, di mana pun. Apalagi bila di perjalanan naik gunung). Langit begitu cerah dan angin membawa serta aroma sungai; bertiup kencang menderu-deru di telinga.

Saya mampir di Plasa Benteng Kuto Besak, plasa tepi sungai dengan paving-block berpola melingkar-lingkar, kursi-kursi beton, dan bundaran air mancur. Di sana sedang ada pembukaan gelaran tahunan Kota Palembang; Festival Musi 2010. Serupa rangkaian acara budaya, olah raga, serta pasar kuliner dan kerajinan khas Palembang selama 10-12 Desember 2010. Kita bisa melihat iring-iringan perahu motor hias dan balap bidar (perahu) yang dikayuh puluhan orang besok siangnya. Juga International Dragon Boat Race di Minggu siangnya. Tapi malam itu, adalah untuk lagu-lagu dan tarian khas Palembang—yang dinamis dan menghentak itu, tarian barongsai, juga Maliq & D’Essentials.

Saya tidak paham lagu-lagu jazz. Saya hanya tahu beberapa lagu yang mereka bawakan malam itu; One, Dia, Terdiam, Kaulah yang Ada di Hatiku, dan Mata Hati Telinga. Lagu-lagu selebihnya tidak pernah dengar sama sekali. Bukan anak gaul saya ini. Tapi saya suka cara mereka membawakannya; enjoy, dengan gerak-gerak ringan dan serasi, juga musiknya yang empuk dan jernih.

Ngomong-ngomong tentang gelaran itu, saya salut dengan orang Palembang (dan juga Sumsel) dalam memajukan pariwisata mereka. Kabarnya, sebelum tahun-tahun 2000-an, Kota Palembang sering sekali dicitrakan sebagai kota dengan kriminalitas tinggi dan kebersihannya yang kurang terurus. Beberapa tahun silam, Plasa Benteng Kuto Besak tak lebih dari pasar kumuh tempat menjual hasil bumi. Tapi sejak PON 2004 di Sumsel, Palembang sebagai pintu gerbang Sumsel mau tidak mau harus berbenah. Tepian Sungai Musi mulai dirapikan dan sudut-sudut kota rajin dibersihkan. Di jalan-jalan utama, sering terlihat penyapu jalan yang bertugas bergilir dari pagi hingga hari mulai gelap untuk membersihkan setiap sampah yang bercecer. Semuanya agar menciptakan kota yang layak untuk dikunjungi wisatawan.

Adanya klub sepak bola profesional Sriwijaya FC juga turut mengiklankan kota ini; tentu dengan prestasi klub yang layak dibanggakan. Stadion Gelora Jakabaring yang terletak di Seberang Ulu Palembang dikenal sebagai salah satu stadion terbaik di Indonesia, tak jarang menggelar pertandingan bola nasional dan internasional. Saya rasa, itu salah satu cara promosi yang mengena.

Tahun 2010 ini, Palembang memperoleh lagi Piala Adipura. Salah satu taman kota, Taman Kambang Iwak, juga menjadi taman terbaik di Indonesia. Halte-halte Bus Trans Musi dibangun dan akan menggeser dominasi bus-bus kota yang sungguh tak nyaman dan tak sepenuhnya aman.

Dan tidak boleh terlewatkan dalam catatan, tahun 2011, Palembang akan menjadi tuan rumah Sea Games CCC. Venue-venue olah raga sedang gencar-gencarnya dibangun. Rentang setahun ke depan, akan banyak bangunan-bangunan megah yang berdiri di Palembang. Termasuk tambahan hotel berbintang dan pusat perbelanjaan.

Lalu, apa sebenarnya yang Kota Palembang punya ?

Saya sering membayangkan Mataram (dan NTB secara keseluruhan), bisa belajar dari Palembang dalam hal pariwisata. Bila Palembang punya songket, kita juga punya kain tenun yang khas juga—dari Lombok Barat hingga Bima. Lagu-lagu, musik, tarian, dan kerajinan tangan yang tidak kalah pula luhurnya. Makanan khas yang tidak kalah sedapnya dan bikin ketagihan. Dan, Palembang tidak punya pantai dan pemandangan bawah laut yang indah-indah seperti yang kita punya!

Tapi Palembang (baca: Sumsel) punya kilang-kilang minyak, tambang batu bara, dan kebun-kebun karet serta kelapa sawit. Itu jelas menghasilkan banyak sekali uang. Kita tidak punya sumber-sumber uang itu; kecuali cerukan raksasa tambang emas-tembaga tepi selatan Pulau Sumbawa sedalam 1 kilometer.

Tapi kan wisatawan tidak datang untuk menengok kilang minyak dan kebun-kebun karet. Buat apa. Mereka tentunya datang untuk makan yang enak-enak dan lihat pemandangan yang indah.

Palembang mungkin punya sesuatu yang tidak (baca:belum) kita miliki. Perlu belajar kepadanya agar tahu apa sesuatu itu.

Palembang, 13 Desember 2010, 22:47 waktu kosan saya.
“Buka mata, hati, telinga/ Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta/ Yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan/ Mungkin memang yang paling penting…cobalah untuk buka mata hati telinga…” (Mata Hati Telinga-M&D’E)

4 Responses to “perlu belajar dari palembang”

  1. Dosko Says:

    we want pictures! we want pictures! He he he

  2. rytuzahra Says:

    bahkan sampai hari ini, saya blm pernah merasakan trans musi itu.dan saya juga kehilangan sungai dan hutan tempat biasa hiking.bahkan bisa jadi desa sayapun akan ditukar menjadi tambang.

    • shavaat Says:

      jauuuuhhhh lebih nyaman transmusi dibandingkan bis kota. ada AC-nya dan aman; tidak takut ada preman.🙂

      iya ya, saya lihat sepertinya hasil tambang menjadi prioritas. padahal, sampai kapan tambang itu masih menghasilkan? paling lama puluhan tahun saja. tapi, lihat dampaknya. kalau tidak diatur dengan baik, ruginya malah lebih besar.

      katanya dulu, di tahun 70-an, baru 30 tahun yang lalu, sungai musi masih jernih! tapi sekarang keruh ya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

«

%d bloggers like this: