lupa

Jaket gunung warna merah saya sempat hilang selama satu bulan. Saya tidak tahu pasti di mana hilangnya. Saya baru sadar setelah dua hari, saat hujan turun dan saya butuh jaket. Ketika itulah saya bingung, seperti amnesia.

Saya cuma bisa pasrah. Padahal banyak kenangan bersama jaket itu.

Tapi kemarin saat kami makan di Warung Semarang, dari saran Huda saya tanyakan ke kasirnya: apa pernah ada jaket warna merah yang tertinggal di situ? Kira-kira satu bulan yang lalu. Ternyata ada, Sodara-sodara! Sudah dicuci pula. Benarlah, kalau sudah jodoh, tidak akan kemana.

Setelah agak mereda beberapa waktu, sifat pelupa saya semakin sering muncul sekarang.

Seperti pernah saya datang pagi-pagi dan taruh ransel saya di atas meja di pojok ruang SDM. Padahal kan saya sudah pindah ke ruang seksi di lantai tiga. Meja saya sudah tidak di sana lagi.

Ada lagi. Saat telah menyadari sepenuhnya pindah ke lantai tiga, saya malah pernah lanjut melangkah ke lantai empat. Itu pun sadarnya karena lihat pintu kecil yang tembus ke atap. Di sana tidak ada ruangan, hanya ada tandon air. Sialnya, saat turun kembali, si Saddam—kawan yang di bagian umum—melihat saya. “Lho, ngapain di situ, Mas?”, tanyanya takjub. “Oh, ang, eng, cuma jalan-jalan. Penasaran ada apa di atas”, kata saya setenang mungkin.

Pernah saya parkir mobil dinas dan lupa diparkir di mana sebenarnya. Saat melihat tempat parkir kosong, saya pikir mobilnya hilang. Saya kaget sekali. Jadinya, ketua tim dan mbak-mbak setim itu ketawa cekikikan karena lihat anak muda ini yang sudah pikun di usia dini. Akhirnya saya ingat, mobilnya di parkir di depan gedung, bukan di belakang. Saya malu luar biasa. Tapi juga ikut tertawa sampai perut saya sakit.

Itu kejadian-kejadian belum lama. Baru-baru kemarin, satu-dua bulan yang lalu. Kalau kejadian yang lama-lama lagi, ada beberapa juga.

Seperti dulu waktu di TK, saat saya diajak ibu saya mengiringi muridnya yang lomba gerak jalan tujuh belas agustusan. Awalnya saya menggenggam tangan ibu saya, tapi lama-lama ternyata jadi tangan orang lain. Atau waktu SD Juga waktu di SD, saya pulang sekolah naik benhur (bahasa Dompu untuk delman) dan terlewat dari rumah karena melamun. Itupun baru sadar karena sepupu saya di rumah mengejar delman tadi.

Tapi, waktu kecil juga saya pernah dilupakan. Saat menonton pacuan kuda di Bima, saya malah tertinggal tribun penonton. Ibu saya baru sadar saat akan makan siang. Baru sadar kalau satu anaknya tidak terbawa.

Karena sering begini, banyak kawan yang bilang; bagaimana nanti kalau sudah punya istri. Mungkin nanti saya tidak sadar kalau istri tertinggal di pasar. Kalau membayangkan kejadian seperti ini, lucu sekali, ya. Lucu sekali kalau ada suami yang lupa kalau tadi dia ke pasar bareng isti dan pulangnya malah sendiri.

Iya, saya tahu. Saya mesti punya istri yang tidak pelupa. Yang tidak lelah ingatkan ini-itu. Tapi kalau pelupa juga tidak apa-apa.

Sebenarnya sifat lupa itu bisa bermanfaat. Misalkan, kita tentunya tidak ingin terus dibayangi oleh kenangan-kenangan jelek di masa lampau. Atau kegagalan-kegagalan menyakitkan yang telah lewat. Juga tidak ingin terus mengingat kesalahan orang lain kepada kita.Untuk hal ini, lupa malah memberi efek menenangkan dan menolong untuk memaafkan.

Sifat lupa itulah yang membuat kita tidak sadar punya perbedaan. Sifat yang tidak disukai dan kata-kata yang tidak sengaja menyinggung, tinggal dilupakan saja agar tersampinglah beda itu. Jadilah tidak jadi bertengkar. Tidak jadi berpisah.

Bahkan, kabarnya negeri kita ini bisa bersatu seperti ini karena rakyatnya pelupa. Lupa kalau beda suku, bahasa, agama, adat budaya, kebiasaan, hingga ciri-ciri fisik yang bedanya banyak sekali. Lupa semuanya.

Kemarin saya pulang ke Palembang, Huda teman sekost saya cerita kalau dia kehilangan uang. Hilangnya aneh, karena dia sudah memastikan ada uang di dompetnya sebelum tidur. Tapi, setelah bangun tidur, dia mendapati dompetnya kosong. Uang kertasnyanya yang empat puluh ribu itu lenyap tidak berbekas. Termasuk juga sekeping logam lima ratusan. Begitulah ceritanya sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang sedikit sekali oleh sebab pintu dan jendela kost yang terkunci hingga pagi. Siapa gerangan yang bisa mengambilnya?

Jadi saya bilang ke dia: “Paling-paling kau lupa, Tal. Lupa simpan di mana. Manalah ada duit bisa jalan sendiri”. Itu kata saya sambil berharap agar cepat-cepat lupa cerita itu.

 

Way Hitam, Palembang, 29 November 2010

“Kalau kata Kang Denny Manusia Apa Ikan: Iya euy, beneran lupa. Kan selalu ingat Allah”.

15 Responses to “lupa”

  1. gerie Says:

    pertamaX diamankan!

  2. gerie Says:

    lagilagi aku hrs ngikik sendirian tiap baca tulisanmu je’..
    hahay,,labrador boy..
    spt kata nez yg jg labrador,,’biasanya yg kita lupakan itu krn gak penting’
    benarkah?
    kayaknya utk kasusmu gak je’..
    masak iya,,ibu kmu ga pnting? ihh parah nian..;p

    jd inget crita mb’tien yg hrs slalu ngingetin kmu jadwal kuliah dan ujian…hadoo hadoo -_-“

    • shavaat Says:

      hehehe.
      lupa ya lupa aja, ger. kalau bisa milih lupa yang ga penting-ge penting saja, malah jadi ingat. mana yang penting, mana yang ga penting.
      si nes juga pelupa toh?😀

      iya, si tien dulu berjasa sekali. kalau sy belum muncul di kelas, sering di sms, ingetin lagi kalau ada kuliah.

      lama2 bukan tien saja. eh, kawan yang lain juga pada ingetin. tanya ke mana. hehehe. emangnya saya hilang?

  3. Doski Says:

    Uang ratusan ribu yg ditemukan anak2 di poskost stapala kabarnya punya mu Jeck?
    Kau pernah janji mo bayarin sy ke Tambora. Ah, paling juga kau dah lupa….wkwk

    • shavaat Says:

      iya, pak. duit saya tuh. hehehe.

      masih di simpan, kah?

      weh, yang saya bilang kan makannya, pak. klo transport jakarta-dompu yang bayar sendiri-sendiri. hehehe.

      • Nue Says:

        Ris, saya juga mau ke tambora. Nanti kalo kalian mendaki lagi, ajak-ajak saya ya…^^

        Lupa yang lucu…^^

        Tulisanmu bagus-bagus sodara
        Semangat menulis…^^

      • gerie Says:

        astagaaa kmu lupa jg je?
        kmu kan bilang k coti,,suru aku yg nyimpen…

        *eh aku jd lupa taruh mana,,ato udah aku pake yaaaa…:P

      • shavaat Says:

        @nue: wah, ga tau nih klo ajak cewek. biasanya lama jalannya. hehehe.

        makasih ya, nur. jangan bosan2 berkunjung ke sini…

      • shavaat Says:

        @gerie: oh iya, dulu pernah ditelpon coti.

        disimpan aja ya, ger. jangan dibeliin makanan. hehehe.

  4. ghea Says:

    hahaha jadi inget cerita kak noris yang waktu solat jumat… hmm saya rasa kakak lupa pernah nulis itu.. mehehehe

  5. heidy Says:

    Whahahaaaa… msh kecil dah suka lupa km… naram bonae…😛
    bayar tuh ongkos cuci jaketmu

  6. heidyhe Says:

    jgn byk2 mikirnya, dikit aja…
    pulanglah, walau sebentar…
    jgn melow mlulu, ayo semangat🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: