tragedi yanni

Saya tidak menduga dia semarah itu. Saya ini memang payah kalau bercanda. Kurang bisa menebak interpretasi orang. Tidak berniat untuk menyinggung hati, hanya ingin melucu, malah dianggap begitu serius. Maafkan saya, Sobat, seperti permintaan maaf saya saat itu.

Sekali waktu, dalam obrolan di waktu istrahat kelas, saya hanya bilang:

”Ah, Dimas, tidak terlalu hebat Yanni itu. Kalaulah tidak ada pemain musik yang menjadi pengiringnya, tidak bisalah dia jadi konduktor dan komposer yang hebat. Belum juga peran supir yang mengantar dia ke tempat pertunjukan, peran juru masak yang membuatkan makanan yang enak dan bergizi, juga peran penjahit yang menjahitkan baju yang pantas dipakainya”.

Dan kau tahu reaksinya? Dia marah besar, tersinggung berat, dan tidak mengajak saya bicara selama berhari-hari. Saya jadi sadar, candaan saya itu benar-benar tidak berselera humor, kampungan, dan norak. Saya salah bicara.

Sebab, kawan saya itu sangat menyukai musik orkestra, musik klasik, musik-musik yang dimainkan dengan biola, piano, atau solo gitar. Dia mengerti lagu-lagunya mbak-mbak Bond. Dia punya koleksi compact disk Vanessa Mae. Perhatiannya tertuju penuh ke televisi bila ada Mailaffaiza Permata Fitri Wiguna muncul di sana. Dan yang tidak boleh terlupa, dia sangat mengagumi Yanni Chrysomallis! Jadi patutlah dimaklumi, saya menjelek-jelekkan Yanni di depannya sama halnya seseorang menjelek-jelekkan AC Milan di hadapan milanisti, walaupun milanisti yang itu orang Indonesia. Itu semacam hal yang sakral bagi dia.

Setelah berhari-hari tidak bertegur sapa, saya pun berinisiatif meminta maaf. Sungguh permintaan maaf yang begitu telat. Tapi, tidak apalah telat, daripada tidak sama sekali. Karena tidak bertegur sapa itu tidak enak. Kami adalah kawan semeja—walaupun moving class—dan sama-sama menyukai biologi. Betapa buruknya kenyataan itu, teman semejapun tidak saling bicara.

Akhirnya, pertemanan kami baik kembali. Sungguh rugilah bila tidak. Dimas, saya, dan Ardiyah, seorang murid berkerudung penyuka kimia, adalah sebuah tim yang kompak. Kami pernah secara dadakan mengikuti suatu lomba akademis, dan masuk final di Bali. Walaupun kalah di sana tapi kami senang. Kami kan hanya tim dadakan. Lagipula, dari Bali kita bawa pulang kaset Yanni Live at Acropolis! Itu rekaman Yanni saat konser di Acropolis, Yunani.

Pertemanan dengan Dimas pun berlanjut karena akhirnya kami di terima di kampus yang sama. Sebenarnya, kami berangkat ke Jakarta dengan setengah hati. Dia sudah kuliah di Farmasi Unair dan dilepas demi kampus—yang pertama kali kami lihat bangunan fisiknya—sungguh kurang layak menjadi kampus. Kampus yang secara fisik sangat berbeda dari Airlangga, sangat berbeda dari Brawijaya. Saat pertama kali menjejakkan kaki di Jurang Mangu, dia terpekur dan bilang:”Firasat saya bilang, kita tidak akan lebih dari setahun di sini”.Tapi Dimas bukanlah dukun dan juga bukan Marcel. Firasatnya salah. Kami bertahan sampai lulus.

Pertama datang ke Jakarta, saya bisa dibilang tidak punya siapa-siapa. Sebab, saya punya saudara jauh, tapi terasa sangat jauh. Entah di mana rumahnya. Jadi, Dimas lah jadi sahabat baik. Berangkat ke Jakarta pertama kalipun tidak akan kami lupa. Kami sempat singgah di Surabaya untuk mengambil barang-barang Dimas di bekas kostnya, tidak jauh dari RS Dr. Soetomo. Naik taksi tanpa argo yang angin dari lubang pendinginnya malah terasa panas. Langit Surabaya terlihat keruh. Supir taksi sangat tidak ramah dan seperti mencoba memeras kami. Dari Bandara Juanda sampai depan RS Dr. Soetomo kami dipaksa bayar 120 ribu! Oh, tidak. Saya bayar dia 80 ribu dan bilang tidak ada duit lagi. Dan Jefry, kawan yang kuliah di FKG Unair pun terpingkal-pingkal tertawa dan bilang kami ditipu. Perjuangan kita ke Jakarta tidaklah mudah, Heb*.

Di suatu pagi, kami naik angkot bertuliskan Blauran untuk ke Pasar Turi, beli ikat pinggang hitam, sepatu kets hitam, celana panjang, dan kemeja putih lengan panjang yang masih saya ingat mereknya. Itu semua kebutuhan ospek di kampus antah berantah di Jakarta. Karena kami harus mempersiapkan segala sesuatunya. Biar tidak repot di sana. Kita harus selalu siap. Kita kan calon penjaga keuangan negara, nagara dana rakca katanya, seperti kata spanduk yang menyambut kita ketika tiba di kampus antah berantah kelak. Tapi entah di pasar itu, wajah-wajah yang kami temui seperti wajah susah semua. Itu mungkin cobaan bagi kami, suatu visualisasi dari niat yang setengah hati, agar kami lebih menguatkan niat.

Sekarang Dimas bertugas di lapangan Banteng. Dialah salah satu kawan baik saya di ibukota. Kawan yang selalu membangunkan saya untuk sholat Subuh di masjid Al Barkah, kalau saya terlalu nyenyak tidur di kasur empuk kost Graha Satria.

Orang butapun diwajibkan Nabi untuk pergi ke masjid untuk sholat, walaupun harus merangkak, apalah lagi kita yang sehat ini.

Sholat Subuh itu lebih bernilai dari dunia dan isinya.

Demikian kata-katanya sambil mengutip sabda Nabi. Oh, kau tahu, Dimas? Sekarang kawanmu ini sudah jarang berjamaah lagi. Entah, alasan pekerjaan sering menjadi kambing hitam. Tapi kawanmu ini akan berusaha untuk seperti dulu lagi. Rindu seperti dulu, bareng-bareng ke masjid di setiap waktu sholat, walaupun terkantuk-kantuk dan banyak godaannya.

Bila sekali waktu saya bisa ke ibukota lagi, insya Allah akan saya bawakan pempek asli Palembang. Yang terbuat dari ikan asli Sungai Musi. Lebih lezat rasanya dibanding pempek di depan gereja. Saya pun ingin tahu perkembangan permainan biolamu. Kau tahu, dulu saat kau pertama kali beli biola dan berlatih secara otodidak, yang suara gesekan biola sungguh fals dan membuat tertawa seisi kost itu, saya tidak ikut terang-terangan tertawa. Saya tidak ingin kau marah lagi karena menertawakanmu, seperti dulu saat saya bilang Yanni tidak hebat. Tapi sungguh, saya tertawa keras-keras juga bila tidak sanggup menahannya. Menahan tawa bisa bikin sakit perut. Namun saya salut karena akhirnya kau bisa memainkan biola itu dan cukup terasa merdu di telinga. Apakah mbak Maylaffaiza telah datang khusus untuk mengajarimu? Ah, pasti tidak. Maylaffaiza tentu tidak tahu letak kost kita. Dan juga pastinya tidak niat.

Demang Lebar Daun, Palembang, 01:06 WIB, 9 Januari 2010

”Oh ya, kau telah mendengar kabar? Gadis manis yang kau taksir di masa SMA dulu sekarang telah menikah dan sudah punya anak satu. Kita harus mengunjunginya sekali waktu”.

Catatan:

*)Heb adalah singkatan dari sohib/soheb. Sohib/soheb adalah panggilan untuk teman, yang jamak digunakan di Mataram. Seperti boi di Sumatera Selatan.

21 Responses to “tragedi yanni”

  1. wi3nd Says:

    buat dimas yah..🙂

    aku suka yanni,klu la9is epi dan menjelan9 ridur menden9ar biolanya terasa sahdu,tapi itu dulu..

  2. gerie813 Says:

    je,,,jadi pengen tau kamu dulu semasa sekolah….^^
    nulis lagi ttg pengalaman mu yg dulu2 je….

    • shavaat Says:

      ha3, apa yang mesti dituliskan ya? saya di sma dulu tipe anak yang baik, ger. ga macam2. jadi kehidupannya biasa saja.

      tapi, siap, dipertimbangkan. saya ingat2 dulu, siapa tau ada pengalaman saya dulu yang sedikit bermakna. hehehe

  3. suzannita Says:

    salam kenal, hmmmm… cerita yang menarik…😀

  4. tutut Says:

    subhanallah..
    cerdas nian orang ini mempadupadankan katakata🙂
    rajinrajinlah menulis,kak!

  5. marshmallow Says:

    sebenarnya kamu lagi kangen sama dimas, kan?
    terasa sekali dalam tulisan ini.
    itu kalau aku tak salah.
    sebab aku juga bukan dukun.

    ah, tulisan ini indah…

    • shavaat Says:

      iya, uni, kangen (kayak nama band, hehe) sama sahabat. dituliskan di sini. semoga bermanfaat bagi siapa yang membacanya.

      makasih, uni. uni kan memang bukan dukun, tapi dokter. hehehe

  6. muamdisini Says:

    dimas yang mana yah?…ah, mungkin gak perlu tau…
    yang ku perlukan hanya memaknai ceritamu..heb?..:)

    rasa rindu akan masa lalu benar-benar menjadi inspirasi yah at…

  7. ghea Says:

    wow, kak dimas keren sekali! pasti orangnya ganteng! lho?
    sama juga ternyata dia sama saya, sama-sama nyoba main biola otodidak. tapi beda nasib. dia bisa mainin sekarang, saya nggak. hah.. nasib.

    • shavaat Says:

      hahahhaha. kumat si ghea. klo tentang ‘ganteng’!

      ga tau ah, ganteng apa tidak. saya tidak peduli dengan tingkat kegantengan seseorang. tidak punya kepentingan soalnya. hehehe

      berarti kita sama, ghe. sama2 coba otodidak biola, tapi ga bisa2 sekarang nyanyiin lagu yang merdu. susah nian itu alat musik. hehehe

  8. Heidy Says:

    Tumben, ris.😉

  9. Heidy Says:

    Iya, tumben

  10. Black_Claw Says:

    Si dimas emo. TAEK.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: