Seperti Kepada Dirimu Sendiri

Hideyoshi tidak pernah sesedih ini. Padahal, di medan peperangan, nyawa prajurit dan perwira melayang bagaikan daun-daun kering berguguran. Tapi tidak untuk Takenaka Hanbei, guru sekaligus sahabat yang telah pergi untuk selamanya. Biarkanlah air mata ini mengalir, tidak peduli bagi seorang jenderal besar seperti  Toyotomi Hideyoshi.  Belum pernah ada pengikut dan junjungan seperti ini, satu sama lain menganggap pengikut ataupun junjungannya sebagai guru.

Tidak kurang seperti Arai. Lelaki simpai keramat yang begitu ajaib. Adakah sahabatmu yang saat kau bangun tidur kau dapati gula-gula dan mainan ajaib di kantung bajumu? Atau seperti Jimbron, yang dengan segala ketidak peduliannya dari ocehan orang lain, membeli dua tabungan berbentuk kuda. Ini tidak sekedar sifat obsesif kompulsif kepada kuda, tapi tentang persaudaraan. Tidak ada yang menyangka bila tabungan berbentuk kuda itu akan dihadiahkan kepada Arai dan Ikal sebelum keberangkatannya mencari Ciputat dengan bening yang menutupi kornea mata: sekolahlah kalian berdua…

Sekali waktu, sebelum berangkat ke Syiria, ‘Umar bin Khatab meminta kepada Bilal , muazin pertama Islam, untuk mengumandangkan azan. Tidak ada yang tahu apa sebab musababnya, sejak kematian Baginda Rasul, lelaki mulia ini menolak untuk berazan. Para pemimpin segera mendatangi beliau, meminta untuk berazan di momen yang khusus itu. Lelaki Afrika yang telah menua itu setuju, dan ketika suara akrab itu menggema, dengan kualitas yang masih jernih dan nyaring, orang-orang jadi teringat jelas waktu lampau nun jauh di sana ketika Nabi biasa mengimani salat setelah azan Bilal, dan ini membuat seluruh jamaah dan ‘Umar terisak-isak. Itulah sebab Bilal selalu menolak mengumandangkan azan, oleh sebab kesedihannya karena ditinggal seorang manusia yang sangat dicintainya.

Demang Lebar Daun, Palembang, 5 Januari 2010

“Bagaimanakah caranya; agar bisa menyayangi orang lain seperti  menyayangi diri sendiri?”

Catatan:

Tulisan ini pernah diposting di blog Friendster saya, tertanggal 13 Februari 2008. Tadi baca-baca blog friendster itu dan teryata ada postingan seperti ini.🙂

10 Responses to “Seperti Kepada Dirimu Sendiri”

  1. ghea Says:

    hemm pantes kok rada de javu waktu baca ini. hehehe

    “Bagaimanakah caranya; agar bisa menyayangi orang lain seperti menyayangi diri sendiri?”

    *mikir dulu

  2. wi3nd Says:

    caranya shava?
    hemm..apa yan9 kita lakukan pasti menuai diri,maka jan9an mencubit jika tidak in9in sakit,contoh kecil ajah itu,pasti kita nda te9akan menyakiti diri sendiri,nah be9itupun den9an oran9 lain.. **itu aku loch shava..🙂

  3. tutut Says:

    mau nanya, ada postingan baru yang belum sempat saya baca dan sudah dihapus ndak???
    tutut jarang ol lg seh soalnya🙂

  4. ghea Says:

    mungkin… mmm saya ga yakin sih bilangnya tapi.. kayanya dengan nganggep orang itu ga sempurna, sama kaya diri kita. *halah, sok tau..

  5. ghea Says:

    yohe kak. kalau kita benci sama dia, anggep dia manusia, punya kekurangan, maklum. kalau dia itu bikin kita iri, anggep dia juga manusia, punya kekurangan. hehehe ah, saya juga ga terlalu yakin kak. hee

  6. muamdisini Says:

    hmmm..gimana ya…..
    justru menimbulkan pertanyaan baru, bisakah kita menyayangi orang lain melebihi rasa sayang kita terhadap diri sendiri???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: