sepeda

Saat itu siang hari, saat kakak saya dan saya sedang mengutak-atik sepeda model BMX yang mereknya Savoy. Ayah saya baru pulang dari kantor, senyum-senyum, dan bilang ada sesuatu yang dia bawa. Kami tidak mengerti benar maksud Bapak—panggilan kami untuknya—tentang apa gerangan itu. Sebab Bapak adalah sosok yang suka memberi sesuatu tanpa bilang-bilang. Dan alangkah terkejutnya kami, saat melihat sebuah sepeda model BMX berdiri tegak di belakangnya. Terkejut bercampur bahagia, itu perasaan saya saat itu.

Tidak ada anak laki-laki yang tidak bahagia bila diberikan hadiah sepeda. Termasuk saya, walaupun sepeda yang diberikan ayah bukanlah dari merek yang mahal. Sepeda selayak lambang eksistensi anak laki-laki. Seorang anak laki-laki bisa dikenal sepenjuru kota oleh sebab sepedanya. Misalnya, teman saya Sigit, yang sekarang kuliah di Bandung, dia dikenal dengan sepedanya yang bermerek Wim Cycle. Pemilik sepeda bermaskot domba itu bisa dihitung dengan jari di kota kecil kami.

Apalagi bila modelnya BMX, terserah mereknya apa. Itu sepeda akan dibawa ke mana-mana: berangkat sekolah, jalan-jalan keliling kota sepulang kelas sore, mengejar layang-layang, pergi mandi di saluran irigasi Lanco—waterboom bagi anak-anak kampung seperti kami, mancing ikan (uta ) karisa di Jalan Baru, dan bila bernyali, sepeda itu akan didaftarkan di lomba sepeda trek tanah. Lomba sepeda ini semacam moto cross, tapi tentu saja pakai sepeda, bukan sepeda motor trail. Dan jawara cross sepeda bisa sangat terkenal dibicarakan orang-orang, semacam ramai orang-orang membicarakan Edi Tansil yang kabur dari penjara.

Kenangan semacam itu kembali teringat sekarang ini. Sebab sekarang saya aktif lagi bersepeda. Hampir ke mana-mana bersepeda. Ke kantor di Demang Lebar Daun yang hanya lima menit mengayuh sepeda, ke Palembang Square yang hanya 10 menit mengayuh sepeda, ke Warung Makan Semarang di Simpang Polda yang sekitar 20 menit bersepeda, juga ke kampus Universitas Muhammadiyah Palembang yang sekitar 45 menit bersepeda. Jadi kalau dihitung-hitung setidaknya kami mengayuh 16 kilometer sehari. Karena, jarak kantor-kampus itu kira-kira delapan kilometer, dan jadwal kuliah kami  dari Senin malam sampai Sabtu malam.

ampera

Ini pemandangan jembatan Ampera di kala malam. Senin malam sampai Sabtu malam kami rutin lewat jembatan ini, pergi-pulang kampus. Sarjana, register, dan magister di Eropa adalah cita-cita kami (ngarep, hehehe). Yosh!

Di Palembang, masih terasa aneh orang bersepeda itu. Apalagi bila lengkap helm pengaman dan lampu-lampu sepeda. Di kantor saja, awalnya orang-orang heran dengan kami—dua orang kawan seangkatan di Jurangmangu dan saya—yang bersepeda.  Tapi, lama-lama ada juga yang ingin bersepeda, walau belum tersampai niatnya sampai sekarang. Di jalan-jalan orang-orang juga memandang aneh dan sering tersenyum. Adapula yang tertarik, dan bertanya-tanya tentang sepeda kami dan jalur yang kami lalui.

Syukurlah saya punya kawan baik, Yoga namanya, yang juga gemar bersepeda. Jadi, saya tidak aneh sendiri di jalan bila berangkat ke kantor, kuliah, atau ke mana. Juga ada rekan-rekan komunitas B2W yang sering mengajak dan mengadakan kegiatan bersepeda; dari peringatan Hari Kemerdekaan, Hari Habitat, hingga Hari Batik dengan bersepeda dengan mengenakan batik di seputaran Palembang. Semakin maraklah kampanye penggunaan kendaraan bebas polusi itu.

ogan ilir

Bersepeda sama kawan karib, Yoga, ke Inderalaya, kota kecil tempat Kampus Unsri. Pulang dari sini, kulit terbakar dan hitam legam. Teman2 di kantor bilang kami gila. Hahaha

tahu sumedang di Inderalaya

Apakah kami bersepeda ke Jatinangor? Jawabnya, bukan. Ini di Inderalaya, ibukota Ogan Ilir, kira-kira 40 KM (angka di google maps) dari kost kami di Palembang. Iseng banged datang ke sini.

offroad jalur karet

Offroad jalur karet Maskarebet. Mantap jaya dah jalurnya. Diajak sama orang2 B2W Palembang, Strada, dan anggota-anggota Brimob yang juga gemar bersepeda.

Bila bersepeda, yang juga aneh itu saat berpapasan dengan anak-anak. Anak-anak senang berteriak-teriak melihat orang berhelm naik sepeda. Mereka melompat-lompat, melambaikan tangan, memanggil-manggil, dan tertawa bahagia. Duhai, betapa sederhananya kebahagiaan yang dimiliki kaum anak-anak. Mereka bisa bahagia hanya dengan melihat orang bersepeda! Kami pun akan membunyikan bel sepeda, melambaikan tangan pada mereka, dan mereka menjadi-jadi tingkah senangnya.

Itulah sebab kami bersepeda. Karena bersepeda itu menyenangkan. Sebab bila tidak dengan hati bahagia, tidak betahlah manusia mengayuh sepeda padahal telah banyak mesin yang bisa membawa manusia ke mana saja.

Demang Lebar Daun Palembang, 1 November 2009, sambil mendengar Titip Rindu Buat Ayah-Ebiet G Ade

Teringat sahabat-sahabat di masa kecil; Ramdan Azhari dengan sepeda BMX kerennya, Farhan Perdana dengan Edison putihnya, Yanuar Arafat yang baru bisa naik sepeda saat SMP, Aang Abdullah ketua OSIS yang naik sepeda ke sekolah, Nauval Arrozi dengan sepeda yang stangnya menceng kiri-kanan, Adetya Warman dengan sepeda Savoy-nya, Agus Fahrizal dengan sepeda rem tromol, tentu saja Sigit Perdana dengan sepeda Wim Cycle ungunya.

 

 

15 Responses to “sepeda”

  1. ghea Says:

    wah kakak, bikin saya iri pengen punya sepeda!
    *mamaa… mau sepedaa..

  2. Black_Claw Says:

    Sepeda donat 8 hasil maen harley?:mrgreen:

  3. neng_nong Says:

    di ogan ilir ada yang jualan tahu sumedang??? cireng ada juga?? hehehe

  4. muamdisini Says:

    aku merindukan sepedaku kawan….
    sudah lama tidak bersepeda…membaca cerita2mu tentang sepeda jadi ingat masa lalu, sampai SMA pun saya tetap setia dengan sepeda meski jadi bahan tertawaan,,,maklum kawan, orang yang sekolah rata2 orang yang berpunya hingga tempat parkirnya habis hanya untuk sepeda motor dan tak ada tempat bagi sepeda…

    di Samarinda pun sebenarnya pernah tercetus niatan untuk menggunakan sepeda, dengan konsekuensi: kemana2 harus sendiri mengayuhnya…(kau tahu sendiri kan bagaimana kawan saya yang disini..)

    tapi niat itu akan tetap ada, ada niat ingin menjelajah bukit Soeharto atau ke bukit Bengkirang dengan sepeda.semoga bisa terwujud..sama dengan cita2 kita bisa menempuh pendidikan di Eropa…semoga bisa terwujud kawan….

  5. barry Says:

    ditempat saya lg musim sepeda2 model harley.disini anak lelakinya ngeceng pake sepeda harley. makin melengkung stang nya maka makin gagah. itulah syarat menjadi anak gaul ditempat saya.

    saya ngesir sepeda lipat. bukan buat dipakai. itu saya senangg lipet2nya. keren aja.

  6. muamdisini Says:

    om, dapet award lagi dari saya….terima kasih atas inspirasinya yah..
    silahkan diambil di http://duniamuam.blogspot.com/2009/11/sepotong-semangat-dan-sebuah-award.html

  7. nina Says:

    Met milad abang j…

    semoga menjadi seseorang yang lebih baik lagi…. amiin.. =)

    ditunggu traktirannya.. (pempek 2 kuintal)

  8. Heidy Says:

    Iya, jd ingat dl km ndak datang les gara2 jatuh dr sepeda wkt balapan ta ncai bou mpe patah tanganmu. heheheeee… klo sy ndak salah ingat sih:)

  9. shavaat Says:

    @ghea: ha3. ayo bersepeda, ghe. keren deh klo bersepeda. *merayu
    @blackclaw: ha3, ingat, blek. tubrukan yang bikin roda sepedanya ramdan sama ade jadi bengkok selayak angka delapan. ha3. gimana kabar edison, black?
    @barry: pengen juga punya sepeda lipat. enak dibawa ke mana2. naik mobil sampai naik pesawat. mantap tuh.
    @muam: iya, am. ayo bersepeda, am. sepertinya samarnda juga cocok buat sepedaan. berangkat kuliah di unmul juga asyik kayaknya pakai sepeda.
    @nin: makasih ya, nin. makasih sangat…
    @heidy: ha3, bukan. bukan saya yang patah tangan. jadi siapa ya? *ingat2

  10. wi3nd Says:

    bike for work,mantebb..

    seru ya sob bersepedanya,pe9el2 nda?

    akumah belum pernah bersepeda kekantor,secara jauu uy..dari timur_utara,bisa makin 9ede betisnya😀

    • shavaat Says:

      bersepedanya hampir ke mana2, mbak. ga cuma ke tempat kerja.

      pegel sih iya. tapi sudah resiko… hehe

      pakai sepeda lipat aja, mbak. kan bisa dibawa2 di kereta, bus, atau di taksi. polygon juga ada keluarin edisi b2w untuk sepeda lipat.

  11. marshmallow Says:

    soal sepeda, aku dukung. itu kan mengurangi polusi juga. konon di jerman dan beberapa negara maju justru dianjurkan penggunaan sepeda. dan berkendaraan sepeda bukanlah sesuatu yang kurang “gaya” dibandingkan naik sepeda motor atau mobil.

    soal eropah, aku doakan. semoga tertempuh cita-citamu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: