gowes jakarta-bandung (18-19 Juli 2009)

Di depan Gedung Sate. Cina, Mas Andec, Grandong, dan saya

Di depan Gedung Sate. Ki-ka: Andika, Mas Andec, Refly, dan saya. Ayo siapa yang mau jadi Sancay? He3

Alhamdulillah, akhirnya tercapai sudah. Berapa kali kami merencanakan bersepeda ke Bandung, beberapa kali selalu gagal. Adalah Mas Andi a.k.a Andec dan Andika a.k.a Cina yang mengajak lagi. Kebetulan saya sedang di Jakarta, ada diklat di Kalibata. Kebetulan lagi ada libur hari Senin, jadi tiga hari liburnya. Kebetulan ada pinjaman sepeda dari Kang Hilman. Kebetulan hari begitu cerah. Semua kebetulan yang membuat saya semakin yakin bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Berempat yang berangkat. Mas Andec, Cina, Refly a.k.a Grandong, dan saya. Jalur yang dipilih adalah jalur Jonggol; bukan jalur Puncak, karena kami begitu sering lewat Puncak walau tidak dengan bersepeda. Dengan melewati jalur ini, kami ingin melihat suasana baru di sepanjang perjalanan nanti.

Start dari kampus STAN di Bintaro, Tangerang, pukul 06.30 pagi. Perjalanan Bintaro-Cibubur kurang lebih dua jam. Di Cibubur kami beristirahat sejenak, sarapan lontong sayur di pinggir jalan.

Dari Cibubur, kami mengambil jalan ke arah Jonggol. Jalannya ramai oleh truk-truk besar dan berdebu. Saya menyesal tidak mempersiapkan kacamata sebelumnya dan meremehkan fungsi alat sederhana itu. Debu dan asap beterbangan ke mana-mana.

Lewati Mekarsari. Jalur naik turun. Matahari mulai meninggi dan mulai terasa teriknya. Kami bersitirahat lagi. Menikmati kelapa muda yang diberi es dan gula merah. Mantap rasanya. Es kelapa muda manis segar menjadi penawar terik matahari.

jonggol

minum es kelapa muda segar di tepi jalan jonggol yang terik. nikmatnya...

Gowes lagi. Masuklah di wilayah Cariu. Medan jalan datar dan mendaki. Istirahat di sebuah musholla dan sholat dhuhur di sana. Panas benar-benar terasa. Cina malah terang-terang membasahi kaos agar adem bila dipakai. Saya pikir itu tidak akan bertahan lama; matahari benar-benar terik. Lagi pula, pakaian telah basah sendiri oleh keringat sendiri.

Selepas dhuhur, perjalanan dilanjutkan lagi. Ini waktunya makan siang. Jadi, sambil gowes sepeda, kami mencari-cari tempat makan sepanjang jalan. Ketemu juga. Ada warung di tepi jalan yang menjual masakankhas Sunda. Syukurlah. Es teh manis, sambel, dan lalapan begitu nikmat terasa. Makan memang terasa sangat nikmat bila perut sedang lapar.

Istirahat lagi, di masjid yang tidak jauh dari warung tadi. Agar perut tidak sakit bila setelah makan langsung bersepeda lagi. Hampir-hampir kami tertidur. Waktu siang-siang setelah makan adalah waktu yang kritis. Waktu kritis untuk mengantuk. Di mana-mana, di Indonesia,  seperti itu.

Perjalanan dilanjutkan lagi. Medan semakin sering mendaki. Mendekati ashar, masuklah di wilayah Cikalong, Cianjur. Jalur ini benar-benar jalur ujian. Terus menanjak. Jalur datar hanya beberapa titik saja. Di tambah lagi jalur yang banyak yang rusak dan berdebu. Lengkap sudah. Katanya, itu jalur delapan kilo panjang tanjakannya.

Mas Andec memang raja tanjakan. Beda dengan kami yang sesekali turun dari sepeda, tidak sekalipun dia menuntun sepedanya. Mantap. Dia memang biasa berangkat kerja dengan sepeda dari Bintaro ke kantornya di Lapangan Banteng.

Di masjid An-Nur, kami beristirahat lagi, sekalian sholat ashar. Di depan masih ada tanjakan. Tanjakan masih panjang, tapi itu tanjakan terakhir di jalur Cikalong. Jadi, tepatlah kami beristirahat dulu, untuk mengumpulkan tenaga lagi.

Sampai juga di puncak tanjakan itu. Tanjakan pun terbalaskan. Di depan ada turunan panjang; tinggal meluncur saja, tidak perlu dikayuh. Speedometer mas Andec mencatat top speed 60 km/jam di turunan itu. Meluncur dengan sepeda, terasa bebas saja. Melihat-lihat pemandangan sekitar. Gunung, lembah, dan pepohonan hijau. Ini indah namanya.

Magrib tiba di polsek Cikalong. Sholat magrib di sana. Mengambil jalur yang kanan, yang kata polisi di situ, jalur itulah yang ada penerangannya. Tapi ternyata tidak. Terang hanya sebentar; sepanjang rumah-rumah di tepi jalan. Setelah itu berganti hutan. Jalan berubah menjadi gelap gulita. Lampu sepeda menerobos gelap hanya beberapa meter saja.

Tiba dipersimpangan yang membagi jalan menuju Jalan Raya Bandung-Cianjur  dan ke arah Kota Cianjur. Kami memilih ke arah jalan raya. Jalurnya relatif datar.

Kami makan malam di sebuah warung pecel lele di Ciranjang. Makan selalu terasa nikmat. Tanya-tanya di mana masjid terdekat dan boleh dipakai untuk menginap. Kami menyusuri jalan raya. Di tepi kiri jalan, kami temukan sebuah masjid besar. Masjid Musa’adah namanya. Cina meminta ijin kepada pengurus masjidnya untuk menginap. Alhamdulilah, diberi ijin. Kami boleh menginap dan boleh mandi di masjid itu.

masjid musa'adah, ciranjang, cianjur

tempat menginap semalam, masjid musa'adah, ciranjang-cianjur.

Sekitar pukul empat kami sudah terbangun. Masjid itu memang sudah mulai menggeliat sejak hari belumlah subuh. Kami bersih-bersih, sholat subuh, dan sarapan roti yang kami beli di Indomaret dekat situ  malam harinya. Sepertinya Indomaret memang ada di mana-mana.

Jam setengah enam, kami berangkat lagi. Gowes sekitar satu setengah jam. Tiba di titik awal tanjakan Padalarang. Kami putuskan untuk sarapan di warung dekat situ. Nasi hangat, ikan nila dan tempe yang baru digoreng, dan teh hangat. Sungguh, sarapan yang begitu nikmat. Kami beristirahat sekitar satu jam, sebelum melanjutkan perjalanan.

Mulailah tanjakan sepanjang enam-tujuh kilo itu. Tanjakan terus, tidak ada turunan. Tapi, sepertinya kami lebih fit dibandingkan hari kemarin. Pelan-pelan kami susuri tanjakan. Sepeda tidak dituntun lagi. Tarikan napas lebih teratur.

Tiba di depan Tebing Citatah, kami beristirahat sejenak. Refly bilang, itulah tanjakan terakhir. Di depan sudah turunan. Saya masih sangsi sebenarnya, tanjakan tadi masih lebih mudah dibandingkan dari bayangan semula. Tapi, sebelumnya, Refly memang pernah bersepeda di daerah itu. Dia tentunya lebih paham sama kondisi jalan di sana.

tebing citatah

di depan Tebing Citatah. Tanjakan masih panjang rupanya.

Ternyata, tanjakan masih ada dan masih panjang. Kawan saya Refly itu cuma cengar-cengir menyadari informasinya menyesatkan. Jalan memang masih panjang menanjak, tapi percuma  bila tidak dinikmati. Bukit-bukit hijau berbentuk unik berbatu kapur menjadi hiasan sepanjang jalan. Dari arah lain, banyak pengendara sepeda yang meluncur. Mereka menyapa, mengangkat tangan, membunyikan bel sepeda. Kami juga menyapa, mengangkat tangan, dan membunyikan bel sepeda.

Di depan telah ada turunan. Meluncur dengan kencang dan rasa senang. Ini sudah Padalarang. Sebentar lagi masuk bandung Barat. Sebentar lagi masuk Cimahi. Sebentar lagi masuk Kota bandung. Kami mampir lagi di sebuah Indomaret. Beli softdrink dan es krim untuk merayakan akan sampainya di tempat tujuan.

Masuklah kota Bandung. Naik ke jalan layang Pasopati. Mengambil gambar di situ, sebagai bukti kami pernah ke situ. Turun dan menuju Gedung Sate. Mengambil gambar di sana, sebagai bukti kami pernah di sana. Tak lupa minum es cendol di sana; agar lebih terasa Bandung-nya.

Dari Gedung Sate, kami menuju masjid terdekat, di depan DPRD. Bersih-bersih di sana, sholat dhuhur di sana. Airnya dingin dan segar. Gowes ke ITB dan makan siang di sana. Setelah itu menuju stasiun kereta api Hall. Kami pulang jam lima sore, dengan kereta Parahyangan yang tiketnya telah dibeli oleh Ikbal, anak Stapala yang sedang pulang kampung di Bandung. Bandung-Gambir ditempuh kurang lebih tiga jam oleh Parahyangan, dan kami mesti mengayuh sepeda sekitar 20 kilometer lagi menuju Bintaro.

Ini kali pertama ke Bandung. Berhasil juga. Sesuailah dengan rencana dulu; bahwa tidak akan ke Bandung bila tidak bersepeda.  Juga bisa bertemu dengan sahabat saya, Nin, di Bandung. Tapi saya merasa sangat bersalah karena hanya bertemu dengannya sebentar saja. Maaf sangat dan terima kasih, Nin.

Sekali waktu, ingin ke Bandung lagi. Menyusuri jalan-jalan dengan pepohonan tingginya. Sejuk dan tenang di bawah kanopi-kanopinya. Gedung-gedung tua bercat putih di sela-sela persimpangan jalan. Orang-orang yang ramah.

gaya orang yang senang banged bisa sepedaan ke bandung

gaya orang yang senang banged bisa sepedaan ke bandung🙂

21 Juli 2009, Demang lebar Daun, Palembang.

“Terima kasih Mas Andec-727, Kang Hilman-722 (atas pinjaman sepeda), Andika-799, dan Refly-821. Kapan lagi kita ke mana?

38 Responses to “gowes jakarta-bandung (18-19 Juli 2009)”

  1. ghea Says:

    waw! kakak memang bolaang!!! mangstabs!!
    kok kayanya indomaret ada di mana2 ya??? hehehe

    • shavaat Says:

      wah, ghe, semakin banyak saja yang bilang saya ini bolang. asal benar bocah petualang. bukan bocah ilang. ha3.

      selama perjalanan kemarin; kami keluar masuk di tiga indomaret. serasa deja vu saja. indomaret memang ada di mana2…

  2. mangkum Says:

    Wah wah seru sekali….
    Ga pegel tuh mas?

  3. wi3nd Says:

    seru abisss neeh🙂
    pas ada turunan kaya bonus yaaa.. [jadi in9eT klu pas pendakian :D] rasanya senen9 ban9eeeddd,..

    aku belum pernah neh sepedaan ke bandun9 ato kemanapun,kira2 bisa nda yaa??

    mantraabb at !!

    • shavaat Says:

      serunya nggak habis-habis, mbak. he3. seperti tanjakan yang seperti ga habis-habis.
      klo turunan, senang rasanya. sepeda ga perlu dikayuh. tinggal meliuk2 saja di jalan raya yang berkelok-kelok. bebas. lepas.

      ayo, dong, mbak. sepedaan. yang dekat2 aja dulu; ke pasar, ke tempat kerja, ke tempat kuliah, atau kemana gitu. seru sepedaan itu; apalagi jalurnya bagus.

      sip…

  4. ~Nur'Aini~ Says:

    wahhhhh keren, terbayang asyiknya bersepeda bersama teman
    asyikna, kapan ya devi bisa sepedaan seperti itu…
    hoooo nurish kemarin temen2 yang ke tempat ratna maen ke bromo menikmati sunrise yang begitu indahnya…

    minggu depan devi mau ke palangkaraya tapi mau berkunjung sekalian ke banjarbaru lewat jalur darat, ada referensi jalur yang asyik untuk dilewati dan tempat-tempat asyik yang bisa dikunjungi…
    berangkat ke palangkaraya hari sabtu pagi, rencananya sampai sana langsung ke banjarmasin pulang ke palangkaraya hari senin…
    ada saran…

    • shavaat Says:

      iya, dev, seru sangat sepedaan bareng teman2. capek, pegel2 memang, tapi dinikmati. pemandangan sepanjang jalan berganti-ganti. seperti daki gunung lah, dev…

      sayang banged ga bisa berangkat ke pasuruan. rencananya sih, ke pandeglang aja. maunya, kelar dari bandung, terus ke pandeglang. ternyata ke bandungnya ga bisa sehari semalam. nyesel.

      wah, bromo. belum pernah juga ke sana, dev. keren pasti. naik sampai di puncaknya, dev? mahameru keliatan ga?

      klo ke banjarmasin, apa ya. pasar terapung muara kuin, terus masjid raya di tepi sungai martapura. viewnya bagus katanya. klo palangkaraya, itu, penangkaran orang utan. liat orang utan di habitat aslinya.

      wah, ke banjarmasin ketemu sama pengantin baru dong, he3.

  5. adi isa Says:

    so? apakah brother shavaat juga percaya yang namanya kebetulan?
    hehehehe..
    but its oke, saya salut dengan kegemaran anda.

    • shavaat Says:

      he3. itulah; banyak ‘kebetulan’ yang membuat kita semakin yakin bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini.

      trima kasih, bung. ayo bersepeda, bung adi!

  6. asri Says:

    indomaret emang dimana2, bukan kayaknya lagi😛

    ada yg ke bandung gak bilang2, ckckck😦

    kirain pulangnya bakal nyepeda lagi, hihihi

    siph lah, smgt bro!🙂

    • shavaat Says:

      iye, indomaret memang ada di mana2 ya. syukur juga, jadi ke mana2 ga repot. tapi, kasian juga ya, kios2 kecil yang lain.

      ke bandungnya sebentar. ga sempat juga ke banyak tempat. bilang ke kawan2 di bandung juga nggak.

      ha3, kalau sepedaan balik lagi, ga ada waktunya. juga sudah ga asyik lagi pasti. nyiksa itu mah namanya.🙂

      • asri Says:

        klo kasian, ya jangan beli di indomaret donk, beli aja di warung kecil itu🙂

        *getok kepala sendiri, emg lo ga nyari alfamart klo d jln kehausan, ga jelas deh😀 *

  7. syelviapoe3 Says:

    Vaat…
    Jakarta-Bandung pake sepeda ???
    *twotumbsup*
    Salut…salut….!!

    btw…
    theme blog kita sama lagi,ya ? he..he,..

    • shavaat Says:

      kurang kerjaan ya, sepedaan ke bandung… he3

      iya, mbak. sama ya. soalnya sudah bosen yang lama, trus yang cocok yang ini. ini yang bagus. simple. cerah. benernya sih ga pengen benar2 sama, syukurlah mbak putri warna hijau. ini warna biru. tak apa ya, mbak? he3

  8. Yari NK Says:

    Wah bagus deh…. sehat lagi…. ini namanya bukan Tour de France lagi, tapi namanya Tour de Java de l’ouest. Hehehe…

  9. muamdisini Says:

    waah..shavaat ganti template…
    (loh…gak nyambung ya?ntar dikira spam…)

    waah..kau main2 sepeda gak ngajak2….sudah lama tak bersepeda at…
    gile,,ke Bandung dgn mengayuh sepeda..ck..ck..ck..
    sehari semalam ya at?…
    dulu saya bersepeda cuma di sekitar Bekasi, itu juga tanpa teman..😦
    ingin ke Kalimantan naik sepedah…

    • shavaat Says:

      ha3, saya memang kurang kerjaan, am. ke bandung malah sepedaan. sehari semalam. tapi pakai tidur lah…

      ajak tuh si pepy, biar bobotnya turun, he3. gowes keliling samarinda sore2. asyik, am. semilir angin di tepi mahakam. asoy ga tuh?

  10. alfaroby Says:

    mantap nih.. pengen banget aku merasakan bagaimana serunya bersepeda sejauh mungkin, yang aku pernah pecahkan rekor adalah naik motor dari malang ke lombok, trus pernah juga gerak jalan mojokerto – surabaya, sekitar 7 jam perjalanan… seru deh pokoknya…

    • shavaat Says:

      ha3. ini juga kurang kerjaan bung ini. naik motor ke lombok, padahal ada bus yang nyaman. jalan kaki ke surabaya, padahal ada angkutan lain yang ga perlu capek2. wahaha, salut dengan anda.

      kurang kerjaan seperti itu memang seru, bung!

  11. morishige Says:

    keren. niat saya sepedaan jogja-solo belum tercapai. someday lah ya.. hehe..

    • shavaat Says:

      dulu waktu ke tebing siung, gunung kidul, ketemu orang yang sepedaan dari solo. padahal sepedanya sepeda biasa. mantap itu orang!🙂

  12. marshmallow Says:

    ya ampuuun… plok! plok! plok! *menikmati membaca petualangan bersepeda mas shavaat dan sahabat*

    mas shavaat dan c4 (tambah sinchan aja jangan sancay) memang hebat! lagian niat banget sih, nggak bakal ke bandung kecuali didului oleh bersepeda? saluuuutt!!!

    dan lebih salut lagi, mas shavaat masih ingat secara detil perjalanan selama dua hari satu malam itu. wah! *masih tepuk tangan*

    • shavaat Says:

      ha3. iya nih, sancaynya ga ada. c4 itu bahan pembuat bom, ya? hehe

      iya, dulu sempat berjanji ga akan (pertama kali) ke bandung, klo ga bersepeda. syukurlah, terlaksana juga. hehe. alhamdulillah…

      selama perjalanan, dicatat juga di hp. jadi, tinggal ditulis ulang jadi tulisan saja, uni.

  13. radesya Says:

    Wuih.., kak Juna keren deh, bisa sepedaan ke bandung, padahal kemaren aku juga dari bandung lho, sayangnya kita nggak ketemu ya😀

  14. mahardhika Says:

    sepertinya nikmat banget, uda gitu sehat lagi….top deh, salutt.. kapan2 bonceng aku naik sepeda dong hehehe

  15. didien Says:

    aku jga mau dong iktan dibonceng😀
    Ikutan 4th IBSN award yuk..
    Informasi dan ketentuan silahkan baca di sini
    IBSN= Karena Berbagi Tak Pernah Rugi..

    Trimakasih…^_^

  16. Dhimas L N ---- (^-^)v Says:

    serius nih sepedaan dari jakarte ke bandung? manteb kali pun
    pegel-pegelnya berape lama?

    • shavaat Says:

      iye, serius. ane kemarin juga mampir di kampus ente, itb. sungguh kampus yang sejuk. *pengen jadi anak itb T_T*
      pegel2nya ga begitu. soalnya sepedaannya nggak terlalu dipaksakan. santai yang penting sampai…

  17. neng_nong Says:

    ayo bang lah…
    gowes teruss…
    selanjutnya gowes kemana??

    susuri sungai musi di kalimantan aja.. seru tuh..
    hehehe T_T

  18. Dimaz Pakerteh Says:

    …………. (nothing to say), I wish I could do at least the same as your wonderful trip.
    Nourish, I’m your fans now. For sure, no joke!

    Amazing!

    • shavaat Says:

      hmm, itu hanya jalan2, pak erte. malah, kurang kerjaan kata orang.
      trima kasih, dimas. semoga sekali waktu bisa jalan2 bareng kita. sungguh banyak teman baik, hikmah, dan pelajaran yang bisa kita petik dalam setiap perjalanan…

  19. dika799 Says:

    thanks sobat,.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: