Dari Lomba Orienteering Brahmahardika XIV: Semangat, Stamina, dan Adrenalinmu, Kawan! (Solo, 9-10 Agustus)

Ini kali pertama saya ikut lomba orienteering. Stapala (kelompok pencinta alam di kampus saya) mengirimkan dua tim. Sebenarnya saya sebagai peserta cadangan saja. Tapi, berhubung beberapa rekan tim inti berhalangan ikut, saya yang iseng ini, diberangkatkan juga. Lumayan, kapan lagi bisa jalan-jalan ke Solo tanpa membayar biaya apa-apa?

Saya satu tim dengan Brilian a.k.a Chekong, sebagai tim kedua. Tim pertama Stapala diemban oleh Reza a.k.a Reman dan Antonius a.k.a Semut. Selain dua tim, ada seorang offisial yang dipegang oleh Cahyo a.k.a Mbah Terong. Kami ke Solo menumpang kereta Senja Utama yang tiba jam 7 pagi di Stasiun Balapan Solo. Kami tidak mendapatkan tiket bernomor kursi, jadilah kami duduk berhimpit-himpitan di bordes kereta. Tapi tidak masalah, karena menganut prinsip ”bisa tidur kapanpun dan di manapun”, kami yang semuanya bergolongan darah B ini, tetap tidur lelap walaupun sesekali saya sendiri terbangun karena jari-jari kaki terinjak sepatu boot seorang polisi yang menjaga gerbong kereta.

Sebelum menuju sekretariat Brahmahardika (Mapala FKIP UNS Solo), kami sempatkan sarapan nasi liwet di depan stasiun. Rasanya enak dan gurih. Mbah Terong sepertinya hafal benar dengan letak warung nasi liwet itu. Agaknya, dia punya kenangan tersendiri di kota yang damai itu.

Setelah mendaftar, kami istirahat di sektetariat Brahmahardika di Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret. Tidur dua-tiga jam. Siangnya ada technical meeting yang diadakan secara resmi dengan mengundang jajaran kampus dan dari Bidang Topografi TNI setempat. Dilakukan pengundian untuk menentukan nomor dada dan nomor urut tim. Tim Chekong dan saya dapat nomor dada 46, nomor yang bagi kami sangat berat karena sudah dikenal seantero dunia sebagai nomor motor tunggangan Valentino Rossi.

ini petanya

ini petanya

Oh ya, mungkin orinteering belum banyak dikenal. Orienteering adalah salah satu cabang olah raga yang mempertandingkan kecepatan dan ketepatan waktu untuk mencapai titik-titik yang telah ditentukan dalam peta. Tidak jarang, titik-titik tersebut harus digambar (di-plot) sendiri oleh peserta karena hanya disediakan petunjuk angka titik koordinatnya saja. Dalam lomba ini dibutuhkan fisik yang prima karena medan yang digunakan umumnya berbukit-bukit, lembah, danau, hutan, ladang, sungai, persawahan hingga perkampungan. Karena waktu adalah sangat penting, peserta dituntut untuk bergerak cepat, artinya berlari melewati medan hingga berjam-jam. Peserta hanya dibolehkan membawa kompas prisma/silva, peta dan jam tangan, tentu saja dengan air minum dan logistik secukupnya.

Lomba dilaksanakan di Tawangmangu, kecamatan yang terkenal sebagai objek wisata, kira-kira 2,5 jam dari kota Solo. Tim 1 Stapala start pada urutan 2 bersama tim-tim lainya. Sedangkan saya dan Chekong start pada urutan 7, juga dengan peserta lainnya. Jumlah peserta laki-laki kurang lebih 34 tim. Sedangkan perempuan, belasan tim saja. Peta diberikan beberapa detik sebelum bendera start dikibarkan. Jadi, peserta tidak bisa langsung berlari karena harus menentukan posisi saat itu dan titik-titik manakah yang ingin dicapai terlebih dahulu.

semangat, Bro!

semut, chekong, dan reman: semangat, Bro!

Setelah sebentar mempelajari peta untuk menentukan posisi dan jalur titik-titik, Chekong dan saya segera berlari menuju titik terdekat. Titik 22. Letaknya disebuah persimpangan jalan kecil perkampungan. Tidak terlalu susah menemukannya. Kami segera mengisi kartu kontrol yang ada di titik tersebut dengan informasi nama tim, waktu tiba, tanda tangan, dan tidak lupa dibubuhi stempel tim. Kami juga membubuhi stempel titik tersebut pada kartu kontrol yang kami bawa.

Titik kedua yang kami incar adalah titik 18, di jembatan di tengah lembah. Ke sananya kami harus menuruni lembah yang kemiringannya lumayan. Prosedur pada titik 22 yang sama kami lakukan pada titik tersebut.

Setelahnya adalah titik 16 yang ada di perkampungan puncak bukit. Artinya setelah tadi menuruni lembah, sekarang harus menaiki bukit, dengan jalan panjang berkelok-kelok. Ya Tuhan, sebenarnya ngapain saya ikut lomba ini?

medan orienteering

medan orienteering di kaki Gunung lawu

Titik di tengan perkampungan dapat kami raih. Setelahnya di pekuburan di puncak bukit sebelah. Kami segera berlari ke bukit itu. Beberapa tim lain ada di sana, tapi tidak ada tanda-tanda sebuah tanda titik. Ternyata, ada dua pekuburan dan hanya satu yang tergambar di peta. Pekuburan yang sebenarnya adalah di bukit yang sebelahnya lagi. Ya Tuhan, berikanlah ketabahan pada kaki-kaki ini…

Dapat titiknya. Kepuasan di hati ini tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Kemudian ke titik 5 jauh di tengah lembah sebelah. Nilainya lumayan, 150. Letaknya dipinggir tikungan jalan, mudah saja terlihat. Tapi titik-titik setelahnya yang lumayan tinggi, Kawan. Titik-titik 3, 4, 6 memang dekat saja terlihat dari titik lima tapi beda ketinggiannya sampai 100 meter. Tim kami memutuskan mengambil titik 6 saja, walau harus menaiki puncak bukit, karena sebelahnya ada titik-titik 7,8,9, dan 10.

Titik 7 yang sedikit ekstrim. Letaknya di tepi jurang dalam. Dan kami harus menaiki sisi jurang untuk mencapainya. Memandang keasrian hutan di sana, membuat kami sedikit melupakan lelah yang membuat kaki bergetar seperti jarum mesin jahit Butterfly. Pemandangannya benar-benar indah. Sungai kecil mengalir di tengah dan bendera titik 7 yang melambai-lambai di puncak tebing di atas sana begitu merayu-rayu.

Aha, bila saya ceritakan semuanya, tentu butuh banyak halaman. Hasil akhir kami memang kalah, walaupun berhasil mengambil 9 titik. Tim satu berhasil mendapatkan 10 titik, dari 23 titik. Tapi, puas rasanya setelah 4,5 jam berlari-lari ke sana kemari; naik turun bukit, menerobos semak-semak, meniti punggungan bukit dan menyusuri lembah. Setidaknya kami sudah berusaha dengan keras, sampai kami tidak sanggup berlari lagi. Juaranya, Dinamik FT UMS Solo, berhasil mendapatkan 18 titik. Sungguh fantastis. Setelah mencari-cari rahasianya, kabarnya atlit mereka terbiasa berlatih berlari endurance paling sedikit dua jam.

Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?

Pertunjukkan Reog di kaki Lawu. Bukan budaya negara lain, bukan?

Kami pulang kembali ke Tangerang, dengan pengalaman baru yang membuat kami penasaran. Minggu depan ada Makopala Orienteering, 16-17 Agustus, di Bogor. Chekong yang masih sangat penasaran sudah digadang-gadang untuk ikut lagi. Reman dan Semut pun agaknya turun lagi. Saya? Entah, tapi saya sepertinya masih penasaran juga.

Kalimongso, Senin, 11 Agustus 2008

“Terima kasih buat rekan-rekan Brahmahardika yang telah menyelenggarakan kompetisi ini. Kapan-kapan datanglah ke Bintaro, ke posko kami tercinta. Pasti kami sambut dengan tangan terbuka :-)”

20 Responses to “Dari Lomba Orienteering Brahmahardika XIV: Semangat, Stamina, dan Adrenalinmu, Kawan! (Solo, 9-10 Agustus)”

  1. afwan auliyar Says:

    wah baru tau ada olahraga kek begituan….
    tapi seru euy, travelling + pegel2 karena jalan yak !?!?

  2. nestina Says:

    Seru…
    Jadi inget ngerjain ank Diklat 2007 kedua [Chekong cs] disuruh orienteering muter2 Bintaro, Nes ma Geri yg jaga dua titik malah asik2 ngobrol ma nge-es teh, haha..
    Bedanya mereka gak disulitkan dengan kontur.
    Selamat deh buat STAPALA, yg penting turut ngeramein, hehe…

    Btw, Reog itu dari Ponorogo, Jatim kali.. -asal Ibu Nes-
    gak tau kalo skrg dah diaku2 Malaysia

  3. agungfirmansyah Says:

    wah…, seru..seru…

    Jadi pingin ke pantai lagi… ke gunung lagi… ke hutan lagi…
    Btw, nama2 anak mapalany pasti ada aliasnya ya?

  4. shavaat Says:

    @afwan: baru sekali ikut sih. tapi seru.. bukan capek karan jalan, tapi karena lari terus..ha3
    @nez: cobalah Nez, seru rasanya. Minggu ini ada MOC (Makopala Orienteering Competition) di Tajur. Kita ikut. Ketum juga ikut.
    @agung: ke alam terbuka memang ngangenin. Iya, biasanya anak mapala punya nama alias atau nama rimba. Nama pemberian pas diklat atau nama yang didapat selama persahabatan. Aneh-aneh lagi, seperti: Kadal (nama hewan), Bantal (benda), Rawon(makanan), Nesting(alat masak), tapi ada juga yang keren, kayak Edelweiss, Angin, dll. Terasa benar keakraban karna nama2 aneh itu, ha2

  5. pukon Says:

    orientering…kalo melihat yang juara, mereka kok hebat2 ya jek.18 point! makan apa ya?

    shavaat: Makannya biasa saja, sepertinya. Tapi, kayaknya sudah pengalaman sangat mereka navigasi. Perlu belajar kita…

  6. wi3nd Says:

    jadi inget lomba ituh,tapi daku panityanya heheh..seruu..yang pasti fun:)

  7. ciput Says:

    Salam Lestari………..!!
    terima kasih buat temen2 STAPALA untuk partisipasinya di Lomba Orienteering Brahmahardhika XIV Tingkat Nasional 2008…kami tunggu ya di LOB selanjutnya
    salam buat Cahyo,,,, jangan lupa kalo pulang ke Gemolong mampir ke Sekretariat, juga Gatot lebih di perdalam ya Navigasinya…. dan mudah – mudahan Untuk temen2 STAPALA dapat tetap sehat2 dan dapat membawa STAPALA lebih maju dan eksis.
    Terima kasih

    shavaat: sama-sama, Mas/Mbak. Nanti ta’ sampein salamnya buat Cahyo sama Gatot. Tahun depan, semoga bisa ikutan lagi. Jangan lupa, kalau2 datang ke ibukota, mampirlah ke posko kami…

  8. iyok736 Says:

    Hyaa…sedihnya ga bisa turut serta, banyak sebab dan prioritas pilihan. Juga karena tandem ga ikut juga, pak Dosco 802 (haha) Tapi alhamdulillah….sepertinya kompor dari kami memanaskan adrenalin kalian buat turut serta….

    Seperti yang sering kubilang ke anak2 RC, “Pokoknya ikut aja, menang ga menang itu konsekuensi dari usaha. Nikmati aja pengalamannya.”

  9. lauhan Says:

    ok.
    tetep semangat trus…. pantang menyerah.
    terima kasih banyak atas partisipasinya dalam LOB XIV.
    insya allah taun depan akan kita selenggarakan LOB XV.
    terus belajar, berlatih, berkarya dan berjuang.

  10. purwo adi nugroho Says:

    BRAHMAHARDHIKA teruslah jaya…
    Ku menanti apakah ku bisa jadi bagian darimu….

  11. sandung riwut Says:

    weleh2….

  12. sandung riwut Says:

    kok brahmahardhika oreneringe sangarmen tow…
    mbok q di ajari…

  13. pipit Says:

    BRAHMAHARDIKA TOP BGT ga pernah absen ngadain orientering…..

    tapi klo pendakian kartini masih berlanjut terus ga ?

    klo bisa adain juga dong ikatan alumni BMH di jakarta biar alumni yang di jakarta bisa pada kumpul lagi, inipun hanya sekedar saran

    terima kasih………

  14. Fandi kaluhara Says:

    sy jg pernah adakan orienteering di sulsel 2006 lalu. klo ada undangan lomba ajak kita ya.

  15. DINAMIK Says:

    WAH BENER BGT TU CUY…..KITA LARI 2 JAM TU DGN RINCIAN 1 JAM ISTRHAT HEHEHEHE…. 1 JAM LARI… TP JGN DIPAKSAKAN…HEHEHEHE JUZT KDG BROO

  16. DINAMIK Says:

    JAYO…….TRUS………….!

  17. isfiadi Says:

    VIVA ORIENTEERING………………….
    jangan lupa DOC IV 25-26 Juli 2008 pada datang yaaa…..
    dijamin beda dengan lomba2 orienteering yang sudah ada
    NEW SYSTEM……….TWO STAGE ONE DAY


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: