Gunung Gede: Sampahnya Bukan Main (25 Juli)

Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Senja di Suryakencana

Ketakjuban mengalahkan lelah kaki ini

Ketika mataku menyapu hamparan luas di depanku

Hamparan lembah yang dihiasi ribuan pohon eidelweis:

Alun-alun Surya Kencana

Hmm, setapak demi setapak kujejakkan kaki

Eidelweis-eidelweis itu seperti membicarakan kedatanganku

Seperti para gadis mengerling manja yang membicarakan pangeran pujaannya

Ah bukan, kalianlah para putrid dan aku pemuda yang tak henti-henti berdecak kagum

Antara ketakjuban dan ungkapan syukur yang meresap di hati

dan tak sepenuhnya aku mengerti

Air bening mengalir di tengah lembah

Gemericik air dari dinding tanah adalah alunan nada-nada harmoni

yang partiturnya masih menjadi rahasia besar manusia

Desir angin tenang menyapu dedaunan

Seperti tenang kepakan sayap malaikat penyemai eidelweis putih

dan buah arbei merah segar yang menjuntai gemulai

Kita tak segera ke puncak bukan?

Aku belum pernah melihat yang seperti ini

Aku ingin lebih lama menikmati keindahan ini

Kita tak segera ke puncak bukan?

Jangan kau ceritakan dulu apa yang akan kutemukan di atas sana

Pastilah ada lagi ribuan ketakjuban di sana

M N Juna Putra

Alun-Alun Suryakencana, Juni 2007

Alun-Alun Surya Kencana basah oleh hujan, air mengalir di tengah-tengah lembah, Eidelweiss-Eidelweiss seakan menyambut kedatangan para pendaki, arbei-arbei sedang ramai berbuah dengan buatnya yang asem-segar, gemericik air di pancuran di tengah lembah, dan cahaya sore terbiaskan oleh awan-awan. Saya rasa, orang yang hatinya paling kasar, liar, bebal, dan tidak sensitif sama sekalipun akan termenung kagum saat itu.

Begitulah suasana saat pertama kali saya menginjakkan kaki di Alun-Alun Suryakencana, Gunung Gede, kurang lebih satu tahun yang lalu. Perjalanan bersama Reman-796, Andika-799, Akbar-819, dan Rian-820 saat itu adalah pengalaman naik gunung yang cukup berkesan buat saya. Jumat lalu, untuk ketiga kalinya saya mendaki Gede. Sabtu sore, saya kembali melihat Alun-Alun Surya Kencana. Syukurlah hari tidak hujan. Langit cerah dan matahari bersinar hangat.

Untuk pendakian kali ini, Mas Iyok-736, Reza-836, dan saya, bertugas menjadi pendamping (guide) bagi peserta Pendakian Umum STAPALA. Pesertanya ada 60-an orang. Kelompok kami pesertanya tujuh orang: Mas Taufik, Mbak Dian, Kanda Ardi (Kanda, karena orang Makassar), Guntur (anak Mafos—komunitas fotografi di STAN), Ana (kawan di KSR Over), Diaz, dan Mas (Kanda?) Yoyon-591 (orang Jogja, tapi lima tahun penempatan di Makassar). Walaupun banyak peserta yang kesulitan menghadapi trek pendakian, namun perjalanan dapat dibilang begitu menyenangkan karena pemandangan yang indah, serta semangat para peserta yang pantang berpatah arang.

Apalagi bila saatnya istirahat dan memasang tenda. Acara masak-masak adalah yang paling ditunggu-tunggu; ramai, penuh joke, dan dengan cerita-cerita menarik yang bisa menghangatkan suasana. Kopi, teh, susu coklat hangat begitu lezat di tengah udara yang begitu dingin. Karena saya tidak begitu suka makanan kaleng, saya begitu senang ketika mengetahui Kanda Ardi membawa satu stoples teri tempe yang disambal goreng.

Acara masak dan makan menjadi ramai ketika Reza-836 a.k.a Carok mengajak bermain Truth or Dare. Dan dia sukses menjadikan saya sebagai korban yang patut dicencengin sepanjang malam. Tapi, syukurlah, ada juga Mas Iyok yang turut menjadi korban, bahkan saya rasa lebih parah karena diberi pertanyaan—yang menurutnya—begitu memalukan.

Mungkin beginilah menariknya naik gunung. Hubungan pertemanan, kalaulah berlebihan bila disebut persaudaraan, akan terjalin semakin erat. Kita bisa tahu lebih tentang kawan kita; apa kesukaannya, bagaimana pengalaman-pengalamannya, hingga siapa gadis tidak beruntung yang dia taksir hingga bertahun-tahun. Belum lagi bila tolong-menolong; membuat minuman hangat untuk kawan yang baru bangun tidur, sekedar meringankan beban ransel, berbagi air minum, atau membantu kawan lain ketika melewati sebuah pijakan yang licin. Kesemua ini menciptakan tali hubungan yang mungkin bisa dijadikan kenangan bertahun-tahun kemudian.

Gunung Gede tetap indah. Pemandangannya tetap menabjubkan. Namun, sangat disayangkan, banyaknya sampah anorganik membuat lukisan alam ini seperti terkena percikan tinta noda. Di Alun-Alun Suryakencana, sampah yang bertumpuk-tumpuk tersebar pada camping ground. Di Puncak Gede, saya seperti melihat Tempat Pembuangan Sampah di mulut gang kost saya. Di sepanjang jalur pendakian; sampahnya tidak usah ditanya. Hampir bisa dikata, tidak ada semeterpun jalur yang bebas dari sampah plastik dan semacamnya.

Untuk apa naik gunung kalau tidak pandai menjaganya? Bila dosa merusak trek, membuat jalur-jalur di hutan, dan membuat para hewan menyingkir, sebegitu membuat kita merasa bersalah; begitu susahkah untuk tidak menambah dosa kepada alam dengan membawa turun kembali sampah yang kita bawa?

”Ah, Rik, percuma saja sepertinya kerjaan kita ini”, ucap saya sambil berselojor kaki. Beristirahat sejenak.

Ga’ masalah, Je. Biarpun sedikit, yang penting ada”. Erik, dengan tidak mengenal mengeluh, terus memungut sampah sepanjang jalur turun. Sudah setengah trashbag sampah yang dia kumpulkan sedari puncak. Sampah yang saya pungut hanya setengah dari plastik sedang saja. Tidak sampai seperlima dari yang dia bawa.

Seperti menggarami air laut, perumpamaan itu mungkin cocok ditujukan pada pekerjaan memungut sampah sepanjang jalur pendakian. Hampir tidak ada pengaruhnya. Sampah yang berhasil dipungut tidak sebanding dengan sampah yang masih tercecer. Apalagi letaknya tersebar. Punggung jadi pegal-pegal karena sebentar-sebentar harus berjongkok untuk memungut sampah.

Kadang teringat kata-kata Bang Jauhari, senior saya di kampus, ”Seandainya Gede ditutup sepuluh tahun saja, betapa indahnya gunung itu”. Memang, pendaki adalah salah satu faktor yang membuat hutan rusak dan habitat hewan terganggu. Padang edelweiss di Alun-Alun Suryakencana pernah terbakar hebat dan melenyapkan banyak vegetasi, dikarenakan oleh ulah pendaki yang membuat api unggun. Owa Jawa, sudah jarang terlihat lagi di habitatnya di TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Hal ini dicurigai karena akitivitas pendaki yang semakin ramai. Beberapa pendaki malah sangat bangga karena berhasil membawa pulang bunga edelweiss (Anaphalis Javanica) ; yang saya tidak melihat letak kebanggaannya ada di mana.

Tidak semua pendaki memang. Saya menyaksikan Erik yang mau repot memungut sampah untuk dibawa turun. Juga Reman—kawan, angkatan di atas saya—yang begitu ketat tentang masalah lingkungan. Mendaki bersama dia harus siap-siap untuk memungut sampah dan teliti terhadap jumlah bungkus plastik, kaleng, tali, dan semacamnya yang harus dibawa turun kembali. Juga kawan-kawan lain yang tidak berkeberatan untuk melakukan Operasi Semut, memungut sampah sepanjang jalur pendakian.

Kalau melihat sampah di gunung-gunung, saya jadi menyadari sifat-sifat manusia. Mungkin benar kata orang-orang; di gunung kita bisa melihat sifat asli diri kita. Saya kira ungkapan ini benar. Di gunung kita bisa melihat; manusia memang bersifat asli sebagai perusak.

Kamis, Agustus 2008, Kalimongso

“aku tak tega memetikmu, cukuplah gambar2 yang bisa ku abadikan, tuk ku bawa pulang”

sepatu di puncak gede

Sepatu All Star bulukan di Puncak Gede. Karena percaya isu bahwa All Star makin keren kalau semakin bulukan, saya pakai terus sepatu ini. Naik gunung (sudah 4 puncak gunung), juga buat kuliah. Rencananya, kalau lulus kuliah, sepatu warisan Jabay ini mau saya bawa ke tempat penempatan. Fisiknya sangat memiriskan hati siapapun yang melihatnya.

ini di sumber mata air panas Cibodas

ini di sumber mata air panas Cibodas

13 Responses to “Gunung Gede: Sampahnya Bukan Main (25 Juli)”

  1. nestina Says:

    Pertamax!!
    -sebenernya kata2 ini artinya apaan c??-

    Kalian harus dengar eh baca, pengalaman Nez di gunung Rinjani 7362 mdpl, TNGR adalah gunung yang PALING BERSIH, selain paling indah dan menggetarkan hati, yang pernah Nez daki..
    -blum selesai ditulis, sih hehe..-

    shavaat: pertamax, pertama kali (x), Nez…
    Ha2, iri Nez…Rinjani…Kapan bisa ke sana ya?
    Sudah saya bilang, Nes. Gunung itu indah benar. Bersih pula.*sotoy nih*. Selamat yang sudah ke sana…
    *Saya jadi ingat Rinjani Jangkaru, h2*

  2. iyok736 Says:

    Keduax!!

    Setahun lagi Nez, target…
    Gunung Rinjani dan gunung Agung kan kudaki…

    shavaat: semoga tercapai Mas…🙂

  3. adinda widyastari Says:

    Wah anak STAPALA…
    Sayang banget deh, orang2 yang ngaku cinta alam cuma suka main2 sama alam doang…
    tapi ga ada niat buat menjaga alam…

    gunung itu bukan cuma buat senang2an didaki…
    tapi juga dijaga keindahannya…

    masa buang sampah sembarangan di gunung…
    kalo gitu mending ga usah ikut2 daki gunung deh…

    haduh, kok jadi saya yang sewot…
    salam kenal!

    shavaat: ga smua yang punya label pencinta alam di bajunya, Din, yang merusak alam. Biasanya kebanyakan yang naik gunung adalah penikmat alam. Apalagi Gede, namanya juga gunung wisata. Dari mana2 orang datang untuk mendaki.
    Tapi saya setuju, daripada buang sampah dan merusak gunung, mending nggak daki gunung…

  4. tHa_aDzeL Says:

    Gede,,
    hm,,
    aku merindukan saat saat itu,,

    masihkan hangat air yang mengalir dsana?
    masihkah sejuk di daerah yang dsebut kandang badaknya??
    masihkah ramah para Polisi HUtannya??
    masihkan berkabut puncaknya??
    masihkan bersemi edelweis di alunalunnya?

    hmhm,,

    perjalanan dan kebersamaan adalah pelekat yang kuat bagi persahabatan,,
    terlebih jika perjalanan yang sulit dan penuh bebatuan dan keterjalan pendakian,,

    jadi ingat hukum berhubungan dengan alam yang didapat waktu materi mountaineering,, kayaknya kurang lebih gini deyh isinya :

    take nothing but pictures
    kill nothing but time
    leave nothing but footsteps

    am I rite??

    shavaat: Gede masih indah..Airnya masih hangat, Kandang Badaknya masih sejuk, rangernya selalu ramah, puncaknya masih berkabut, eidelweissnya terus bersemi…
    Ya, jangan ambil sesuatu selain gambar, jangan bunuh apapun kecuali waktu, dan jangan meninggalkan apa-apa kecuali jejak..

  5. asri Says:

    yeah, asri jg pnh k Gn Gede
    terkenal bgt tnyata ni gunung😀

    shavaat: Iya, gunungnya indah soalnya. Masih asri. Pas ke sana, indah, bukan?

  6. afraafifah Says:

    anak MAPALA kah? keren banget foto2nya subhanallah🙂

    shavaat: Mm, begitulah. Bukan fotonya yang keren, tapi alamnya memang diciptakan dengan sangat keren *sudah dari sononya :-)*

  7. redesya Says:

    Udah pernah ke lawu belum? Itu gunung paling rendah di jawa tengah tapi yang paling dingin. Sampah menyebalkan, mereka lupa “jangan tinggalkan sesuatu,kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu, jangan ambil sesuatu kecuali gambar”, menyedihkan sekali…

    shavaat: Belum, cuma sempat ke kakinya saja. Itulah sayangnya; sampah2 itu membuat keindahan gunung jadi berkurang. Padahal, apa susahnya, buat dibawa turun…

  8. wi3nd Says:

    kadang tak habis berfikir,mereka yang mendaki tapi kenapa masih meninggalkan sampah,terlalu bertkah untuk dibawa kembali hmmm..entahlah

    shavaat: kadang juga berpikir untuk ditinggal saja itu sampah. Daripada dibawa pulang, ribet2in saja. Toh, selain Allah, tidak ada yang melihat. Ranger-nya pun tidak memeriksa. Tapi, syukurlah selalu dibawa turun kembali…

  9. Heidy Says:

    Hai kawan, sepatumu tu kurang mandi. kasian…
    ha ha ha…..

    shavaat: tapi sangat keren, bukan?😀

  10. musafir kecil Says:

    wah jadi kangen gede-pangrango
    kapan kembali kesana ya….??

    sajaknya bagus bro…..

    Kalian harus dengar eh baca, pengalaman Nez di gunung Rinjani 7362 mdpl, TNGR adalah gunung yang PALING BERSIH, selain paling indah dan menggetarkan hati, yang pernah Nez daki..
    -blum selesai ditulis, sih hehe..-

    *gak salah tuh rinjani 7362 mdpl???

    anak MAPALA kah? keren banget foto2nya subhanallah🙂

    *eh ada afra…..kaifa haluqi….??

  11. yusiyu Says:

    chu pengen decth ikut komunitas kayak pecinta alam,,di sekolah chu nggggak ada!!
    chu suka banget edelweis,,
    chu juga nyesel dah pernah metik bunga edelweiss buat jadi kenang2an!!
    minta kontak person anak2 mapala dong?? ya buat berbagi cerita……….
    udah berapa kali ngemping di gunung gede?????????????????
    chu belum pernah kemping di gunung pangrangonya?!?!?!?!?

  12. neng_nong Says:

    sepatunya masih ada bang shavaat? beneran jadi dibawa ke penempatan…?

    *jangan2 udah dijual…. *

  13. shavaat Says:

    @yusiyu: naik gunung ga perlu kok ikutan PA. tapi klo ikut juga, ya ga apa2. coba kunjungi http://www.stapala.com, buat berbagi cerita.
    @nengnong: sepatunya sudah melapuk duluan. hehe. dia rusak entah kapan itu. jadi ga terbawa ke palembang…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: