23 Juli: Hari Anak Nasional, Bukan? (bagian pertama)

Ini cerita setahun yang lalu. Seorang kawan baik baru saja pulang dari Bukit Sentul, Bogor. Sehabis cari duren katanya. Duren? Mungkin benar dia baru saja mencari duren, di tivi-tivi juga diberitakan Presiden SBY berwisata sejenak menikmati kekhasan rasa durian Bogor. Beberapa saat kemudian, saya sadar kalau dia hanya bercanda *ah, kapan dia serius?*.

Ternyata duren yang dia maksud adalah ”kupu-kupu malam”–yang dia pun tidak menyangka awalnya, hingga akhirnya diberitahu oleh supir angkot di sana.

Cantik-cantik, Ois. Saya rasa mereka masih seumuran anak SMP”.

Kenapa nggak diajak jalan-jalan? Satu saja. Daripada jomblo begini terus…”

Eh, kamu kira saya orang apaan?”, detik itu tawa kami meledak bersamaan.

Kasihan…”

”Ya, kasihan…”

”Malam begini, harusnya mereka sibuk dengan PR sekolah…”

Saya, walaupun tidak dan belumlah pantas masuk ke dalam golongan manusia baik dan mulia, tentulah punya sedikit rasa sedih. Demikian pula kawan saya, tentu rasa simpatinya tidaklah kecil mengenai hal ini. Kami berdua sama-sama punya adik perempuan. Bahkan, saya tahu betul, kawan saya ini begitu sayang dengan kedua adiknya. Kenyataan memiriskan hati bahwa anak-anak perempuan telah dijadikan barang dagangan menimbulkan rasa cemas di hati.

Jagapu ari siwemu re…”, katanya dengan tampang terbijak yang pernah saya lihat. Jagalah adik perempuanmu, artinya.

Ah, itu hanya satu potret anak-anak di negeri gemah ripah loh jinawi ini. Negeri yang makmur, hingga orang tua tega menjual anaknya. Negeri yang sentosa, hingga sejak kecil, anak-anak perempuan didoktrin untuk tidak takut menjadi PSK. Negeri yang damai, hingga tidak ada yang berani mengganggu gugat atas kekeliruan akibat lingkaran setan kemiskinan ini. Negeri yang beradab, hingga laki-laki pun sesuka hati menghianati kesetiaan kepada agama dan keluarga.

Ayo kita teriak tentang komersialisasi anak-anak perempuan dan saya yakin mulut ini akan terbungkam saat melihat mereka berdiri-berderet di pinggir jalan. Dengan make up tebal dan lipstick merah menyala. Dengan lambaian tangan kepada laki-laki yang membuat remaja-remaja berumur belasan ini semakin terjebak dan tidak terbebaskan. Dengan tekanan kemiskinan yang memaksa mereka pulang dengan sejumlah uang di tangan. Apa yang bisa kita lakukan? Ingat, mereka tidak bisa disalahkan, Kawan.

Semoga kita bersama menyadarinya. Agar segera menyelamatkan tiang-tiang negara ini. Menyelamatkan kuntum-kuntum mawar negeri ini. Menyelamatkan pucuk-pucuk melati bangsa ini. Bagaimana caranya? Jujur, saya sendiri tidak mengetahuinya.

Kalimongso, Ahad, 21 Juli 2008
Saya hanya pernah melihat di sepanjang Jalan Raya Parung dan Cikarang. Ah, saudariku, belilah sebuah belati. Untuk menjaga diri dari laki-laki yang menghampirimu. Agar tidak ada lagi yang datang. Agar tidak lagi membuat wajahmu pucat karena terus begadang. Tidakkah bangku sekolah merayumu? Ah, aku tahu, biaya sekolah begitu mahal, ya aku tahu. Bahkan untuk menghidupi dirimu, keluargamu–khususnya saudara laki-lakimu yang pemalas itu–adalah sangat berat untukmu.

14 Responses to “23 Juli: Hari Anak Nasional, Bukan? (bagian pertama)”

  1. boy Says:

    Nice Post!

    shavaat: selamat berkunjung Boy!

  2. Yari NK Says:

    Kemiskinan dan himpitan hidup sehari2 membuat seseorang bisa berbuat apa saja demi menyambung hidup…… sementara yang seharusnya dapat mencari pekerjaan malah enak2an berleha2…. terkadang hidup bukan saja kejam tapi terlihat “tidak adil”…..

    shavaat: Ya Pak Yari, kadang mereka punya saudara laki2–yang seharusnya bekerja buat keluarga. Eh, malah enak2, tinggal menunggu hasil kerja saudarinya

  3. Black_Claw Says:

    Eh.. itu anak dompu ya temannya pakek bahasa dompu? cou si? lenga smp?
    shavaat: Teman tk, sd, smp, sma. Yang sering datang ga bilang2 dan tiba2 muncul di pintu kamar🙂

  4. fenny Says:

    bukan hari anak nasional aja, tapi jg ultah sayah😀

    shavaat: selamat ulang tahun…🙂

  5. pencuri kode Says:

    waduh payah tuh kasian anak kecil moga aja di tempat sayaga seperti ini😀

    shavaat: tentu saja kita nggak berharap demikian. Semoga…

  6. sapimoto Says:

    Kampanye yang dapat dilakukan adalah dengan tidak ikut “menggunakan” mereka.
    Mohon maaf, saya kurang setuju dengan beberapa kalimat, seperti “hingga orang tua tega menjual anaknya”, karena tidak terjadi pada semua orang tua, dan banyak juga yang merupakan keinginan sendiri tanpa sepengetahuan orang tua.
    Mohon maaf apabila kurang berkenan.

    shavaat: Maksud saya, tentu saja nggak semua orangtua. Tapi, pernah baca di brosur sebuah LSM; malah nggak sedikit yang dipaksa sama orang tuanya, diijon*digadaikan* lebih dulu malah. Mendengar ini pasti bikin bulu kuduk merinding. Sungguh begitu bahayanya kemiskinan itu.
    Oy, trima kasih sudah berkunjung, Pak..

  7. ksemar Says:

    Ya.. Kemiskinan. Sebuah kata yang paling sering diucapkan para calon pemimpin untuk menarik simpati rakyat di negeri ini. Ironis, kemiskinan tersebut juga selalu dijadikan alat untuk memperkaya diri bagi para pejabat di negeri yang semakin sekarat ini. salam kenal.

  8. rhakateza Says:

    Fenomena yang sudah menjadi gambaran kebanyakan daerah di Indonesia….
    Pola hidup konsumtif yang diteladani dari televisi dan majalah, membuat nafsu membeli tak terkendali, ketika alat pembeli telah habis, apapun rela di jual, dan
    Kalau tak ada lagi yang bisa di jual, diri sendiri pun rela di jual

    shavaat: semoga wati ipi ndedena di rasa ndai…

  9. Black_Claw Says:

    Oiyo… nahu romo pala. wahahahahahah. nefa lako romo. Waur perna nahu carita ka nggomi rupanya. =))

  10. iyok736 Says:

    Gimana klo kita liat dari sisi kebalikannya Jhe…
    Dengan segala godaan konsumsi di Indonesia saat ini, dengan menggilanya budaya konsumtif bangsa kita saat ini, juga dengan menjamurnya acara-acara di media yang menjual “mimpi”…
    Adalah salah satu pengaruh terbesar untuk terjerumus ke lembah itu…

    Klo sepemahaman saya, tindakan menjual diri memang tindakan yang bertujuan mendapatkan uang secara instan, itu juga pastinya sangat ditentukan dengan tingkat kualitas “wajah” dan “body” serta usia.

    Klo memang mind-setting orang itu sudah “bekerja keras dan bekerja cerdas”, tentunya tindakan itu bakalan dihindari dan bukan merupakan alternatif.

    Lain ceritanya kalau anak-anak itu korban penculikan untuk selanjutnya diperdagangkan. Kalihatan kok dari mata-mata mereka. Karena mata susah berbohong kawan… apakah itu keterpaksaan dan apakah itu pilihan… dan yang parah adalah apakah itu kenikmatan…wow…

    Jadi inget perjalanan ke tabing Ciampea. Sepanjang jalan Parung, kita digoda…ahahaha

  11. nia Says:

    memang bikin bulu kuduk merinding…
    Ya,saudara laki2 memang bukan jaminan utk mjd pelindung.
    Setelah bkunjung,g menyesal rasanya tdk memiliki brother.
    terus berkarya y k….

  12. morinawa Says:

    D.NoriS,kaya’nya fika bisa menduga orang aneh mana yg bisa nyasar nyari duren ampe Bogor….. Hahahahahahaha!
    Kasian banget ya anak-anak perempuan itu T-T,,, mudah-mudahan jumlahnya g makin bertambah.
    Jadi bersyukur punya kakak cowok,walopun aneh,suka seenaknya sendri,:b tapi tetap aja dia udah ngejagain fika,,, walopun dengan cara yang aneh,oh kakakku sayang. :-*

    shavaat: O o Siapa dia…? *diucapkan dengan gaya Koes Hendratmo*
    Bersyukurlah *atau tabahlah? khe3* mendapatkan abang seperti itu. Biar aneh, tapi bisa ngejagain saudara perempuannya.

  13. Black_Claw Says:

    saya kok merasa gatel-gatel…

  14. akupetta Says:

    Kalo k mesjid lewat jalan belakang ponjay msh jauh lg, saya biasa bw piso dapur kos an.
    Walau saya ga tw, itu bwt apa & cara makenya gimana..

    shavaat: taekwondoin ga butuh pisau, bukan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: