Antara Kopaja 613 dan D 09

deretan angkot D 09 yang mogok beroperasi

Di seberang: deretan angkot D 09 yang mogok beroperasi

“…Early in life, I had learned that if you want something, you had better make some noise”

(Malcolm X)

Entah ada angin apa yang berhembus di Sabtu siang itu; kelakuan supir angkot D09 sedikit berbeda. Sombongnya bukan main. Biasanya dengan isyarat alis saja, supirnya pasti langsung berhenti untuk mengangkut penumpang. Namun, hari itu lain dari biasanya. Beberapa angkot malah lewat begitu saja dan banyak yang menutup pintu tengahnya rapat-rapat. Ada apa ini? Mungkin angkot-angkot itu telah dicarter untuk mengangkut undangan nikahan tetangga sebelah; yang malam sebelumnya memasang layar tancap film India?

Ternyata dugaan saya itu meleset jauh sekali. Sopir angkot D 09 sedang menggelar aksi menolak masuknya Kopaja 613 pada trayek mereka. Seorang kawan mengatakan aksinya berpusat di depan Bintaro Plasa, kira-kira 700 meter dari tempat saya melambai-lambaikan tangan tanpa hasil untuk menyetop sebuah angkot. Hari itu siang begitu panas, hawa udaranya sungguh tidak enak. Panasnya seperti berada di ladang huma yang maranggas karena ganasnya musim kemarau di Pulau Sumbawa, walaupun tentu saja hawa udara di sana lebih segar terasa.

Di antara Kopaja 613 dan angot D 09 memang terjadi konflik mengenai masalah pembagian trayek. Supir D 09 menganggap hadirnya (lagi) Kopaja 613 dalam trayek mereka akan mengurangi pendapatan sehari-hari mereka. Sedang Kopaja yakin bahwa mereka tidak mengambil hak D 09 karena mereka terlebih dahulu melalui trayek itu sebelum D 09 ada; walaupun kemudian Kopaja 613 sempat mengalah. Kopaja memang sempat dilarang untuk masuk sampai ke Sektor 9 Bintaro sekitar pertengahan 2007 yang lalu dan sekarang dibolehkan kembali untuk beroperasi pada trayek tersebut.

Saya sebagai konsumen akan setuju bila Kopaja 613 diijinkan masuk lagi. Kalau diijinkan, biaya transportasi– misalnya ke Blok M–pasti lebih murah. Tidak perlu naik dua kali; tidak harus ke Sektor 2 dengan D 09 dan menunggu lama-lama sampai Kopaja 613 yang ngetem di sana bergerak lambat-lambat. Cukup langsung naik Kopaja saja, langsung di depan kampus. Walaupun saya tahu, dari masalah sederhana tentang nama saja, Kopaja jelas tidak sesuai. Kopaja berarti Koperasi Angkutan Jakarta, sedangkan Sektor 9—juga kampus saya—bukanlah lagi wilayah DKI Jakarta.

Namun dukungan saya kepada Kopaja mungkin karena saya tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, yang tidak tertulis dalam koran manapun. Seperti dari percakapan dengan seorang bapak di tempat parkir depan Plasa Bintaro.

”Bukannya, Kopaja lebih dulu masuk di sini, Pak?”

”Ya, iya, memang dia lebih dahulu masuk. Tapi inikan trayeknya D 09, trayek mereka (Kopaja) sono tuh, suma sampe Sektor Dua”

”Dari dulu di Sektor Dua?”

“Iya, baru kemarin (tahun-tahun sebelum 2007 maksudnya) Kopaja masuk ke mari”.

Sambil menunjuk deretan angkot D 09 yang berderet melakukan aksi mogok, Bapak itu bilang, ”Yang begini nih yang mesti kita bela. Supirnya orang-orang sini. Supir-supir ini orang-orang susah semua, mobilnya mobil orang atau mobil kredit. Mereka (Kopaja) mah enak, orang perusahaan…”

Benarlah kata bapak itu. Tanpa bermaksud meremehkan kesusahan yang juga dialami supir Kopaja, setoran supir angkot biasanya 75 ribu rupiah kepada pemilik mobil. Kalau mereka ingin membawa sejumlah uang untuk orang di rumah, mereka harus bisa mendapatkan pemasukan di atas 75 ribu, belum termasuk bensin yang juga harus mereka tanggung. Dalam posisi ini, adalah salah untuk diam saja bila merasa ada hak yang harus diteriakkan.

Peraturan orang-orang atas malah membolehkan Kopaja masuk kembali. Sempat membaca di Media Indonesia, seorang pejabat yang berwenang mengatakan bahwa masuknya Kopaja tidak akan mempengaruhi pendapatan D 09. Ah kalau pejabat itu tahu kalau saya pribadi akan memilih naik Kopaja 613 walaupun untuk sekedar ke Bintaro Plasa. Harganya hanya seribu perak saja, atau bahkan bisa tidak bayar karena kondekturnya baru menagih di depan Bintaro Plasa, berbeda dengan angkot yang harus seribu limaratus atau dua ribu perak. Tentulah penumpang lain banyak yang berpikiran sama.

Saya sampaikan ke Bapak tadi perihal apa yang tertulis di koran, bahwa Kopaja diijinkan masuk lagi ke Sektor 9 dan itu tidak menyalahi peraturan. Bapak itu bilang, sambil terkekeh, ”Ah, itu akal-akalan orang koran saja. Koran itu mah sudah dibeli (dibeli, mungkin maksudnya: disogok)”.

Saya tidak menyangkal dugaan Bapak tadi. Saya hanya senyum dan menyengir saja. Pendapatnya mungkin benar, mungkin salah. Mungkin juga bukan korannya saja yang dibeli, tapi orang-orang atas yang mengeluarkan peraturan tersebut juga bisa dibeli.

Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, saya kendarai sepeda motor pinjaman, kembali ke kampus setelah mengambil uang bulanan. Tidak sedikit orang-orang berdiri sepanjang jalan, berharap D 09 kembali mengantar mereka ke tempat tujuan. Ah, Ris, masalah begini kok dijadikan beban pikiran…

Senin, 14 Juli 2008

”Tidak jauh dari deretan angkot, terdapat pecahan kaca berserakan di atas jalan aspal. Sebuah Mitsubishi Kuda yang mengawal sebuah Kopaja dibuat penyok dan dipecahkan kaca-kacanya..”

14 Responses to “Antara Kopaja 613 dan D 09”

  1. nestina Says:

    Wah 613 masuk lagi?! Bagus2.. Hemat biaya perjalanan.. Hush!!

    Demo dengan berjajar gitu ternyata sudah ada sejak jaman Majapahit, namanya ‘pepe’ (Berbaring terlentang berjajar di muka istana). . Kalau kawula (rakyat kecil) melakukan ‘pepe’, raja akan mengundang mereka dan mendengarkan curhatan mereka. Tradisi ini dilestarikan Raden Wijaya, diteruskan oleh Jayanegara.
    ^sedang kecanduan Gajahmada^

  2. iyok736 Says:

    Sebenernya case ini sudah lama loh. Mula-mula dulu cuman berupa spanduk-spanduk yang isinya menolak 613 masuk bintaro (mengatasnamakan warga bintaro)

    Beberapa minggu kemudian sewaktu pulang diklat, kawasan perempatan bintaro macet. Gara-garanya 613 disuruh muter sama polisi. Masih kuinget kata-kata polisi waktu itu, “Putar balik!! Putar!! Daripada kamu hancur!!” Dengan tegas dan kerasnya polisi tersebut memperingatkan si sopir.

    Ketika nyampe depan BP, puluhan D 09 berderet menghabiskan jalan. Hanya disisakan satu jalur untuk lewat. Macet sangat. Di kanan kiri kulihat sopir2 berdiri termangu. Beberapa orang menancapkan bendera FBR dengan memamerkan tatto di sekujur badan mereka. Wow… sebuah seni yang disalah arti…

    Jadi inget beberapa bulan silam. Seorang sopir 613 dihajar rame2 di depan BP juga (kawasan D 09 ngetem). Sebabnya cuman si 613 lewat aj. Bisa jadi dicarter kan, karena ga ada penumpangnya. Sedangkan berita di TV, para penumpangnya dipaksa turun dari 613, padahal si kawanan D 09 sendiri sedang mogok. Wih….ngeri…kasihan ma penumpangnya. Jalan kaki or naek ojek yang super mahal. Itu pilihannya

    Klo kabar terakhir, hari sabtu kemaren ya?? bener ga sih ada 613 dibakar ma kawanan D 09?? Masih blur neh kabarnya…

    Jd inget kasus sebelumnya, seorang sopir 613 babak belur dihajar

  3. akupetta Says:

    Waktu hari h saya nganter mbak kos ngirim barang2 k kampung halamannya k tiki pondok aren (dkt stasiun). Berangkat naik taksi, pulangnya jalan k ponjay. Gak terasa euy sambil ngoblor. Kopaja: koperasi angkutan jurangmangu, bukannya?

  4. shavaat Says:

    @black: pertamax mahal, Black🙂
    @nez: Langit Kresna Hariadi, kan? He2, kalau ke sini, bawa bukunya. Biar bisa dipinjem..
    @iyok: Iya Mas, udah urusan perut begini jadi rumit masalahnya. Kalau ga saling habok, ya minimal saling rusak kendaraan. Semoga tidak berlanjut.
    Tentang kopaja itu, kurang jelas benar apa nggak ada yang dibakar…
    @petta: Itu bisa sekilo lebih jauhnya. Sekali2 jalan kaki tidak mengapa lah. KOPAJA, bukannya KalimOngso-PlazA JAlan kaki?

  5. sapimoto Says:

    Makin ruwet aja jakarta…

  6. nia Says:

    sama saja,d t4ku jga sering terjadi hal seperti itu

  7. pembawacerita Says:

    “Harganya hanya seribu perak saja, atau bahkan bisa tidak bayar karena kondekturnya baru menagih di depan Bintaro Plasa, berbeda dengan angkot yang harus seribu limaratus atau dua ribu perak.”

    kalo aku ya Ris, yang namanya ngankot itu ya sudah kewajibannya bayar. walau tidak ditagih. gimana?

    shavaat: setuju Mas. Apa bedanya dengan mencuri kalau nggak bayar. Seribu dua ribu perak yang tidak dibayar tentunya sangat berarti buat para supir…

  8. wi3nd Says:

    loch bukanya 613 sampe binplas?trus jurangmangu?apa daku yg ketinggalan yakh?
    maklum sudah lammmaaa tak berkunjung dan bermain di bintaro heheh..

    shavaat: Sudah nggak lewat lagi..bentrok sama D09…Jurangmangu pakai angkot, kecuali busa Trans Bintaro. Kapan2 berkunjunglah ke sini…

  9. Freddy S Says:

    eh sekarang harga bus trans bintara sekali jalan berapa ya?

  10. farcham Says:

    Salam kenal mas.
    ikutan ngasih comment ah..

    Turut prihatin dh,walo baru sebulan di Bintaro..

  11. Maria Eleonora Says:

    ah, sopir d09 aja yang sampah
    pemerintah tangerang selatan lebih sampah…..

    *dalam hal kek gini harusnya yang dibela adalah pengguna transportasi umum, bukan sopir angkot

    TSnya anak stan sampah

  12. rio surya Says:

    angkutan andalanku jaman masih kuliah di STAN nih..
    dulu th 1992, 613 smp bintaro sektor 5 lho..
    bayar cepek bs smp blok M..
    i miss u 613..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: