Susur Gua Cikenceng (4 Juli 2008)

foto bareng

Sebastian, Semut, Edel, Uka, Conan, Udik, dan saya

Sudah lama sekali saya tidak ikut menyusuri gua. Jadi bisa ditebak, ketika anak-anak divisi Susur Gua mengajak untuk ikut, saya langsung saja mengiyakan. Perjalanan hemat, cukup mengisi bensin sepuluh ribu saja, bisa menusuri gua semalaman.

Gua Cikenceng terletak di daerah Tajur, Bogor. Daerah yang terdapat pabrik semen Cibinong ini memang surganya para caver, peneliti, pecinta alam, penikmat alam, dan orang-orang yang gemar eksplorasi gua. Di Tajur, terdapat puluhan gua yang memiliki ciri dan karakter yang berbeda. Cikenceng adalah salah satu gua horisontal; ini juga sebabnya saya ikut. Karena menyusuri gua horisontal biasanya tidak membawa kernmantel(tali) dan alat logam yang berat-berat, yang sangat malas untuk membawa, memasang, melepas, dan membersihkannya dari lumpur.

Kami berdelapan: Udik, Ucup, Sebastian (ketiganya sudah sangat sering dan berpengalaman masuk gua), Edel, Semut, Uka, Conan, dan saya, dengan Conan sebagai koordinator lapangannya. Ucup sudah pernah menyusuri Gua Cikenceng sebelumnya, dia memilih untuk tidak masuk dan menjaga tenda dan logistik di luar. Jadi yang masuk ke gua ketujuh orang lainnya. Kami mulai mengeksplor selepas sholat Isya.

Kami bertujuh melakukan pemetaan sederhana; sekedar praktik pemetaan gua. Hanyalah lima belas stasiun yang kami ukur. Stasiun adalah titik di mana karakter lorong gua berubah, misalkan dari lorong lurus kemudian tiba-tiba membelok. Nah, di titik inilah kami harus mengukur segala jenis jarak dan sudut yang diperlukan untuk menggambar peta gua nantinya.

Edel sebagai pencatat, Semut dan Conan yang mengukur jarak dan sudut

Edel sebagai pencatat, Semut dan Conan yang mengukur jarak dan sudut

Pelajaran penting, mengendarai sepeda motor di jalan silakan saja tidak memakai helm. Namun di gua, helm adalah barang wajib, kalau tidak mau menanggung resiko kepala lecet, atau bocor karena terantuk atap gua dan terkena batu-batu yang mungkin saja jatuh dan menimpa kepala.

Pintu masuk Cikenceng sangat sempit, hanya cukup di lewati satu orang. Untuk masuknya pun harus merangkak. Di beberapa tempatpun harus tetap merangkak untuk melangkah terus. Namun, di sela-sela celah sempit biaasnya terdapat lorong luas atau chamber, yaitu ruangan yang bisa diisi oleh beberapa orang dengan posisi berdiri.

Beberapa lubang sempit malah mengejutkan kami. Seperti sebuah lubang sempit bebrapa meter dari pintu masuk. Lubangnya kecil saja dan tergenang air. Memasukinya bisa dipastikan akan basah sampai ke dada. Namun, ternyata di dalamnya terdapat lorong panjang bercabang-cabang yang bisa dilalui dengan merangkak, berjongkok, dan berdiri. Di akhir lorong terdapat chamber besar yang bisa diisi puluhan orang.

Udik terjepit, ha3. Kadang beruntung orang yang bertubuh kecil seperti saya

Udik terjepit, ha3. Kadang beruntung orang yang bertubuh kecil seperti saya

Beberapa ornamen gua kami temui. . Beberapa yang saya ambil fotonya seperti stalaktit, stalakmit, colom, flor stone, soda straw, gordyn dan ornamen lain yang saya tidak tahu namanya. Di tempat kami bergambar bersama malah ada air terjun kecil dengan kolam yang terisi air bening, takjub saja melihatnya. Fauna yang kami temui; khas penghuni gua: kalilawar, jangkrik dengan kedua antena sepanjang beberapa kali panjang tubuhnya, udang dan kalajengking.

Gordyn adalah ornamen gua yang seperti gorden jendela. Stalaktit tipis dan memanjang

Melihat Gordyn. Gordyn adalah ornamen gua yang seperti gorden jendela. Merupakan stalaktit yang tipis dan memanjang

Kami masuk tepat jam 8.10 malam dan keluar jam 12.30. Setelah makan dan minum minuman hangat, kami segera beres-beres; membongkar tenda dan packing alat-alat. Jam tiga pagi kami segera bertolak ke kampus. Karena jalan sepi saya terus tancap gas saja; juga untuk mengusir rasa kantuk yang sangat hebat. Beberapa menit sebelum azan shubuh, kami sudah tiba di kampus, menempuh satu setengah jam saja dari waktu normal dua setengah jam.

Badan terasa capai. Namun keunikan pemadangan di dalam bumi tentulah mampu menggantikannya. Saya sering kali memikirkan kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, bila sedang berada dalam gua. Ketiganya berdoa kepada Allah, agar batu yang menyumbat mulut gua bergeser. Orang pertama yang memelihara seekor kambing upah pelayannya, hingga berkembang menjadi beratus-ratus ekor ternak. Pelayan yang dulu menghilang kemudian datang dan orang tadi memberikan semua ternak hasil dari seekor kambing tadi kepada pelayan itu. Orang kedua yang mampu menolak ajakan seorang wanita untuk melakukan hubungan layaknya suami istri, sebagai balas jasa karena telah berbuat baik kepada wanita itu. Orang ketiga yang berbuat baik dan merawat sepenuh hati orang tuanya yang telah tua renta. Sungguh kebaikan-kebaikan luar biasa. Dan batu yang menutupi gua bergeser sedikit demi sedikit memberi jalan.

Seandainya saya (tentu semoga saja tidak) yang terjebak, apalah kebaikan saya yang bisa saya adukan kepada Tuhan. Rasa-rasanya susah sekali menemukannya. Memang tidak ada yang bisa memastikan kisah itu benar-benar terjadi atau tidak. Namun, hikmahnya begitu mendalam. Manusia mengingat Tuhan ketika berada dalam kondisi terdesak, dan berdoa memohon pertolongannya. Bagi sebagian orang, hikmahnya mungkin sebagai ajakan untuk memiliki kebaikan unggulan. Apa kebaikan dan amalan unggulan yang bisa ditunjukkan kepada Tuhan.

11 Responses to “Susur Gua Cikenceng (4 Juli 2008)”

  1. nestina Says:

    Terakhir kali di Cikarai, gua horizontal, di Tajur juga ya, Jek..
    Nambahin buat fauna gua, uniknya kebanyakan dari serangganya buta , sehingga indra perabanya sangat panjang. Kalau mau coba membuktikan, coba sentuh, sebelum tangan benar-benar menyentuh dia tak kan lari..
    Trus hewan air di gua, misalnya ikan, udang, berwarna transparan karena tidak berpigmen, tidak terkena sinar matahari.
    Wow… makasih Ucup, Udik, Kadal, buat pengetahuannya yang luas..

    shavaat: Ya, karena mata tidak berguna di dalam gua. Dari jangkrik, laba-laba, sampai ikan tidak memiliki mata (atau kalau ada, matanya tidak berfungsi).
    Btw, beruntung banget waktu di Cikarai bisa ketemu “si Karai”. Katanya Kadal, jarang-jarang orang bisa melihatnya. Beruntung kita waktu itu.

    ket: Gua Cikarai, salah satu gua horisontal di Tajur yang terdapat aliran air di dalamnya. Dalam bahasa Sunda, Ci artinya air atau sungai, sedang Karai-nya menunjuk pada jenis ikan seperti ikan gabus yang hidup di aliran air itu. Penduduk sekitar menyebutnya Karai.

  2. ghe ghe Says:

    waw.. petualang sejati.🙂

    shavaat: hanya penikmat alam…

  3. nestina Says:

    Iya, beruntung banget..
    Keluar dari mulut Cikarai, habis rigging Nez sama Gery balik lagi ke gua itu
    Gak disangka ada lilin yang -kelihatan seperti- melayang tepat di depan mulut gua..
    Padahal -setahu kami- gak ada yang datang/ pergi setelah kita rigging..
    Masih kata Kadal, ini berkaitan dengan mitos daerah setempat
    Pengalaman mistis lain juga dialami Odah-823 -lebih seram-
    Hii…

    shavaat: anggap saja rejeki, Nez. Bisa liat yang seperti itu. Tapi kalo Odah, itu mistisnya sudah serem benar…
    ket: waktu ke Cikarai, teman kami, Odah melihat sebuah rumah di dekat gua. Memang di situ ada bekas pondasi rumah panggung*jelas rumahnya udah ga ada lagi*, lahannya pun sudah ditanami singkong. Odah malah lihat rumah di situ, dan baru sadar ketika sampai di kampus…Believe it or not

  4. dora_caver Says:

    cikenceng emang bagus banget yang bikin saya bengong adalah oranamen2 dalam gua yang keren2 banget dan saya ga nyangka ternyata di bawah bumi yang saya injak terdapat ruang kosong yang penuh dengan keindahan yang luar biasa.

  5. miqoazura Says:

    Jadi pengen susur gua juga ris.. ajak2 ya kapan2

  6. CHAIRONI Says:

    WAH PENGEN KESANA NIE………………….

  7. POPPY CALVINA Says:

    uh… sEru donx…. !!!
    klo bLeh tw, tips bUat biar bErani d dLem go’a gmna ??!!

    uUhhh bEncii bed ma yg nMa’y kLelawar…..

    inSyaaLLah dr pEncinta aLam kami akn mEngdakan pEngembaraan, bagi anggota mUda’y….

    sLah satU’y d goa ci kenceng….
    mka’y, w pEngen tw bYnx, ttg goa-goa…..

  8. shavaat Says:

    @dora caver: betul; itu gua tampangnya serem dan jelek dr luar. Tp, dalamnya, subhanallah, apik tenan.. padahal br cikenceng, entah bagaimana indahnya interior gua2 d pacitan, gua2 d karst gunung kidul…
    @chaironi: ayok! jgn lupa pake helm. he2.
    @miko: wah, kpn y. naik gunung sj blm qt rame2..
    @calvina:
    Sy bkn divisi caving; jd jarang k gua. G tw bnyak…
    Perlu sharing2 nih. Maen kampus stan bintaro yuk, k posko stapala. Di sana bnyak teman2 yg mirip kelelawar, he3, jago caving maksudnya…

  9. waprez Says:

    mwantap bang jack, kok cepeet kali pulang ke palembang/
    kami mau ke gua kraton, mau maping dan SRT-an 80 meter, yuk bang jack………..
    tanggal 8-9 agustus kami tunggu di tajur

  10. shavaat Says:

    @wapres: wah, mesti ngantor hari selasa, pres. ah, kangen saya susur gua lagi.

    gile SRT-an 80 meter? wah, wah, seru tuh. liat aje ntar, pres.
    makin rame aja anak2 caving ya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: