Selamat Jalan, Kawan

Tadi—pagi-pagi sekali—Jatmiko berangkat ke Pematang Siantar, sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Medan. Keberangkatannya tentulah bukan untuk berwisata, melainkan menjalankan tugas negara. Selang dua jam kemudian, giliran Bonju yang meninggalkan kampus—meninggalkan ibukota—menuju Palu. Hanya dekap hangat dari sahabat-sahabat dekat mengantarkan kepergian mereka berdua. Entah, mungkin karena mereka berangkat dengan memanggul carrier di punggung, serasa kepergian mereka bukan untuk bertahun-tahun, mereka seakan hanya pergi mendaki sebuah gunung.

Kemarin lusa, Bustanul yang berpamitan untuk pulang sebentar ke Tuban, juga untuk berpamitan dengan keluarganya di rumah. Mungkin Butho akan mampir lagi di kampus, mungkin juga tidak, sebelum keberangkatannya menuju Mamuju, ibukota propinsi Sulawesi Barat. Seorang pecinta alam yang tidak merokok ini akan berangkat ke sebuah kota yang jauh dari kampus, dari posko, pun jauh dari kampung halamannya. Namun, inilah mozaik hidup yang harus dijalani. Sebuah efek hukum kasualitas dari pilihan beberapa tahun yang lalu; untuk memilih kampus ini sebagai tempat menuntut ilmu.

Saya, dan kami semua, pastilah tidak akan melupakan mereka bertiga. Melupakan mereka samalah halnya dengan melupakan cerita kebersamaan selama ini; dalam perjuangan, kegagalan yang menyesakkan, canda tawa, konflik, kekonyolan yang tidak wajar, penggojingan yang tanpa alasan, saling mengejek tanpa perasaan, julukan-nama entah dari mana, teamwork yang solid. Melupakan mereka sama halnya dengan menafikan gambar-gambar kami yang pernah kami abadikan: di puncak gunung, di dalam gua, di tengah rintik hujan saat menanam pohon dan bunga, di dalam tenda saat malam menyelimuti belantara. Melupakan mereka sama halnya dengan melupakan slayer merah kami, melupakan nomor anggota kami, dan melupakan lambang apa yang tersemat di lengan kiri baju biru-langit kami.

Jatmiko ke Pematang Siantar, Bonju ke Palu, Butho ke Mamuju. Sudah berapa kawan yang pergi; Adit ke Jambi, Jabay ke Palu, Ernest ke Liwa, Mbak Gadis ke Riau, Fidel ke Papua, Amir ke Banda Aceh. Mereka menyebar bagaikan benih padi yang disebarkan oleh seorang petani; juga mengandung harapan akan tumbuh, terus tumbuh, berbulir padi, dan menunduk seiring dengan saratnya manfaat pada tanah di mana akarnya menghujam bumi. Seperti halnya Tuhan telah menitahkan manusia untuk menjelajahi bumi, mencari rejeki dari kemurahan Ar-Rahman yang tiada bertepi.

Selamat jalan, Kawan. Terima kasih banyak atas bimbingan dan pengalaman selama ini. Maafkan bila banyak salah dalam kata dan perbuatan. Bilapun ada kesalahan kalian, pastilah telah dimaafkan sedari melihat senyum kalian. Tidak banyak pesan yang saya bisa berikan; karena belumlah mengalami seperti apa yang sedang kalian rasakan. Saya hanya bisa mengutip kata-kata Bung Hatta, sebuah kalimat sederhana yang memberi semangat di tempat perantauan: “di mana tempat berpijak, di situlah tanah air kita”. Pesan yang sangat bijak bagi para petualang seperti kita—jikapun kita benar-benar berani menasbihkan diri sebagai petualang dunia. Suatu hari nanti kawanmu ini akan menyusul; menjelajahi negeri dan dunia ini, entah di mana nanti.

Kalimongso, Sabtu, 18.30 WIB

“Perpisahan adalah awal dari pertemuan, seperti halnya pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan”

5 Responses to “Selamat Jalan, Kawan”

  1. nestina Says:

    Yaah… dah keduluan _lagi-lagi_

    shavaat: tulis saja dari sudut pandang beda Nez. Di atas itu kan dari yang “ditinggalkan”, tulis saja dari yang “meninggalkan”. Yang jelas, ditinggalkan dan meninggalkan sama2 sedih pasti

  2. heidy Says:

    Hiks hiks hiks…:(
    Smangat!!

  3. watakushi Says:

    Seperti halnya tak ada perjumpaan yang abadi
    Perpisahan pun tak abadi

    shavaat: ya, semoga bisa bertemu kembali

  4. pukon Says:

    rasanya pengen kembali ke masa lalu, mengulang kembali….tapi gak mungkin. terpisah sama jarak, entah kapan bertemu lagi…hiks

  5. shavaat Says:

    @pukon: gimana kabar, pak auditor?
    Saya ingat betul sama teman sekamar kost ini. Gimana kabar Jambi? Sekali2 datanglah lagi ke sini, Kon. Ke posko lagi, h2
    Salam lestari, bro…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: