Seandainya Warteg Tidak Ada…

Ruangan sederhana itu dipenuhi dengan aroma masakan. Meja etalase dari kaca atau plastik bening, jejeran piring-piring berisi lauk serta sayur berkuah, meja-meja dan bangku-bangku panjang menjadi properti wajib di dalamnya. Juga termasuk kaleng berisi kerupuk dengan jendela kaca di salah satu sisinya, lengkap dengan merek kerupuk yang ditulis dengan cat semprot. Dindingnya bisa dipastikan terpajang kalender promosi, juga lap tangan. Sederhana saja. Tapi jangan pernah meremehkan perannya, Kawan. Perannya tidaklah sesederhana nama dan tampilan fisik bangunannya.

Disebut warteg, yang merupakan akronim dari warung tegal. Sekarang istilah warteg mungkin telah diterima umum, tidak hanya bagi warung yang pemiliknya orang Tegal. Kata warteg juga telah berarti berarti warsun (warung Sunda) dengan masakan-masakan khas Sunda-nya, warjaw (warung Jawa) dengan masakan khas Jawa, warung Betawi dengan masakan khas Betawi dan warung-warung lain yang pemiliknya dari suku mana-mana. Kecuali untuk masakan Padang, tetap tidak disebut warteg. Juga untuk masakan Menado yang tidak pernah ada bentuk warungnya; karena selalu berbentuk Restauran Menado.

Mendengar kata warteg, tentu langsung terbayang pada sebuah warung makan yang begitu sederhana, dengan masakan-masakan yang terjangkau harganya. Warteg memang lekat dengan kesederhanaan, tempat makan para pekerja, kuli, mahasiswa, pegawai negeri, orang-orang dalam perjalanan, hingga anak-anak sekolah yang mampir untuk makan siang. Belakangan sering diberitakan, aktor-aktrispun sering makan di warteg, juga para calon pejabat dan pejabat; dari para peserta kampanye pemilihan kepala daerah hingga para menteri dan negarawan—yang membuat para pelayan warteg kebingungan untuk berpakaian seperti apa bila mereka datang.

Entah bagaimana bila warteg tidak ada. Saya sendiri pasti sangat bingung untuk memenuhi tuntutan perut yang rutin minta diisi. Alih-alih dapat membuat masakan seperti di rumah, pastinya nanti lebih sering memasak mie instan saja. Paling rumit mungkin memasak sayur sop; cukup membeli paket sayur sop di swalayan dan bumbu masak instan beraroma ayam. Belum lagi dengan waktu yang dibutuhkan, bisa-bisa saya jadi lebih sering tidak mandi untuk berangkat kuliah karena menunggu nasi matang terlebih dahulu. Dan pulangnya mesti menahan lapar dahulu berpuluh-puluh menit hingga perut serasa menempel di punggung, karena lamanya menanak nasi. Belum lagi harus mencari gas atau minyak tanah—bila tidak ingin membuat listrik satu kost padam karena banyak kompor listrik, setrika, dan komputer yang menyala. Sungguh, betapa repotnya bila warteg tidak ada.

Bisa-bisa saja makan di rumah makan atau di foodcourt. Tapi harganya itu yang kurang bersahabat untuk dikonsumsi tiga kali sehari. Untuk satu porsi makanan paling murah dua puluh-tiga puluh ribu. Sedangkan fastfood, satu porsinya belasan ribu. Memang telah lengkap porsinya: ada nasi, potongan ayam, dan segelas minuman bersoda. Tapi porsinya itu, Kawan, kalaulah tidak ada minuman bersoda, tentulah tidak bikin kenyang. Belum lagi bila dilihat dari nilai gizinya. Sedangkan bila di warteg, dengan uang belasan ribu bisa memesan dua porsi, lengkap dengan sayuran, es teh manis, buah, dan bisa memesan segelas Ovaltine hangat.

Di dekat kampus saya, diantara sekian banyak warung makan, setahu saya ada dua warteg yang bisa dibilang sangat murah untuk ukuran daerah seramai ini. Warteg pertama disebut Vegas, singkatan dari Las Vegas. Mengapa disebut Las Vegas? Karena saban hari ada saja orang-orang yang main kartu dan main catur di depan warung itu. Kesannya seperti pusat judi saja. Entah, apakah pemiliknya tahu bahwa warungnya terkenal dengan sebutan nyentrik seperti itu.

Warung kedua, sering disebut Warung Kuli, dengan masakan khas Sunda. Diberi julukan Warung Kuli karena porsi yang disediakan adalah porsi kuli, porsi bagi orang-orang yang telah lelah bekerja dan memerlukan banyak energi. Jarang ada yang memesan porsi setengah nasi di warung ini. Paling banyak justru yang memesan nasinya atau sayurnya yang diperbanyak. Selain disebut Warung Kuli, juga disebut PLG (baca: pe el ge), yang merupakan singkatan dari “pa lagi?” (maksudnya: apa lagi?). Pelayan warungnya selalu menanyakan “pa lagi?” kepada pembeli. Bukannya apa-apa, di warung ini, pembeli bisa mendapatkan lebih dari satu jenis lauk dan sayur lengkap dengan es teh manis dengan dana yang minim. Makanya, selalu ditanyakan: “Pa lagi? Pa lagi?”, hingga piring terisi penuh dan terlihat crowded. Di warung ini masih ada harga makanan semisal 2800 perak, 3300 perak, atau 3700 perak—berbeda dengan warung lain, logam seratus-dua ratus perak masih berguna di sini.

Memang rasa menjadi nomor dua di kedua warung itu, tapi bagi banyak orang, rasa hanyalah urusan lidah yang hanyalah kesan sekejap saja. Oleh sebab itu, pelanggannya memang kalangan yang tidak terlalu mendewakan cita rasa. Kalangan yang terdiri dari pekerja proyek padat karya, mahasiswa hemat, dan para pedagang kecil yang rutin lewat. Pelanggannya pun bertambah bila akhir bulan; beberapa rekan berpindah tempat makan favoritnya di kedua warung itu bila telah tanggal tua. Tidak mengapalah rasanya bercampur aduk, kurang bumbu dan tidak nendang, lagipula perutlah yang mengaturnya.

Tidaklah berlebihan bila berpendapat bahwa warteg berperan sangat penting bagi perekonomian masyarakat kita. Bahkan kabarnya, warteg adalah usaha yang terus menemani masyarakat dan bertahan di masa krisis. Bisa dibayangkan bagaimana peranannya. Silakan juga mengandai-andai bagaimana nasibnya para mahasiswa, para pekerja proyek berupah minim hingga pedagang keliling, bila warteg tidak ada. Demikian juga halnya pada tukang ojek, supir angkot hingga supir truk ekspedisi, yang biasanya bekerja jauh dari rumah.. Warteg—betapapun sederhananya—telah memberikan peran penting bagi negeri ini dengan caranya sendiri. Bayangkan bila warteg tidak ada, Kawan.

Kalimongso, 15 Juni 2008

“Ucapkan terima kasih setulus2nya setelah makan di bangku panjangnya…”

7 Responses to “Seandainya Warteg Tidak Ada…”

  1. iyok736 Says:

    Pertamax!!!

    Hehehehe….

    waktu gw kuliah, warung itu namanya warung Sumedang, Jhe. Kok ganti nama jadi PLG??
    Dulu hampir setahun indekos di belakang warung itu, bareng Hill 722, Asenk 733, Pavit 734. Kadang klo gi bokek, makan di situ bisa bayar belakangan kemudian. Itupun klo ga lupa…ahahahahaha…
    Mangkanya musti ada rekening kayak di Cafe Akang…xixixixi

    shavaat: Iya nama resminya warung sumedang. Tapi lebih sering disebut Kuli atau PLG sm kwn2. Lagipula, ga ada papan nama resminya itu warung. Gokil benar harga makanannya😀

  2. Black_Claw Says:

    dua-duanya jatah langganan saya. =))

    shavaat: Yoi Black…h3

  3. mezzalena Says:

    kan masih ada rumah makan padang😆
    salam kenal, terimakasih sudah meninggalkan jejak diblog saya.
    shavaat: rumah makan padang mahal Mbak. Ada sih yang serba 7000, tapi itu belum sama es teh manis. Kalo di warteg, 7000 bisa komplid banget, lengkap sama buah juga🙂

  4. cingi_canga Says:

    esaya juga pernah loh akan disitu…
    malanag makannya jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh lebih murah 1.200 sudah sama es teh, SUMPAH!!!
    shavaat: Malang mah gila2an harga makanannya. Bersahabat sekali…

  5. heidy Says:

    Caru caru caru..!!!

  6. geri813 Says:

    klo aQ,jhe..
    urusan makan dmana-mana sama..
    yg penting makan..
    hehehe..
    ^_^
    shavaat: kalo itu, Ger, saya tahu betul… H3

  7. rhakateza Says:

    JAdi ingat, pengalaman Kerja Praktek di Ibukota negara tahun lalu. Saat kantong hampir jebol lantaran saban hari makan siang di kantin kantor, Warteg jadi sang penyelamat dengan menawarkan 1/4 harga di kantin.
    Walaupun dengan kualitas murah meriah, tapi ternyata makanannya gak kalah lho, dengan tempat yang lebih lux…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: