BBM dan APBN: Benarkah kenaikan harga BBM untuk rakyat kecil?

“Get up stand up
Get up for your right
Get up stand up
Don’t give up your fight”

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Saat mulai menulis tentang masalah ini, saya sadar bahwa saya tidak memiliki kompetensi apa-apa, bukanlah pakar ataupun ahli yang sangat mengerti. Namun, betapapun bukan siapa-siapa, setidaknya saya adalah warga negara ini yang turut merasakan dampak dari kenaikan harga bahan bakar minyak. Merasakan tarif angkutan yang rata-rata naik lima ratus rupiah, merasakan kenaikan harga makanan di warteg yang naik tiba-tiba, sampai kebutuhan apapun yang hampir semua naik harganya.

Saya bukanlah termasuk orang-orang miskin atau orang-orang yang mengaku miskin untuk mendapatkan Bantuan Langsung Tunai. Hingga tidaklah pantas rasanya menulis atas nama rakyat karena untuk kenaikan harga setiap kebutuhan lima ratus hingga seribu perak, saya masih bisa mencukupinya. Masih ada kiriman uang dari rumah. Masih ada pekerjaan sampingan yang biarpun sedikit namun cukup membantu untuk membiayai kegemaran jalan-jalan murah saya. Saya mungkin masih bisa membeli buku dan pakaian tiap bulan, juga menonton film di twenty one sekali-kali. Saya bukan di antara orang-orang miskin yang menjerit tercekik lehernya akibat harga-harga yang semakin tinggi.

Namun, ketika mendengar pemerintah benar-benar menaikkan harga BBM, sungguh terserbak aroma ketidakadilan yang semena-mena. Di sini saya berkedudukan sebagai rakyat; jadi wajar bila berpendapat demikian. Saya sebagai rakyat tentu tidak harus mengerti alasan apa gerangan hingga pemerintah menaikkan harga BBM. Terlalu rumit dan terlalu ditutup-tutupi. Saya sebagai rakyat, hanya perlu tahu pembelaan yang seharusnya didengar pemerintah; untuk tidak mengambil keputusan tidak populis itu. Naluri merasa dihianati begitu membuncah saat mendengar pendapat-pendapat para ekonom-ekonom pro rakyat: bahwa kenaikan BBM tidaklah perlu! Itu hanya semakin menyusahkan rakyat yang hidupnya telah susah!

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya—mungkin ada ekonom-ekonom pemerintah yang membaca tulisan ini—dan ingin mendapatkan jawaban yang terasa kian samar ini. Saya hanya ingin tanyakan kebenaran alasan-alasan pemerintah, dengan argumen-argumen yang saya kutip dari ekonom-ekonom pro rakyat dan juga dari nalar sederhana saya. Bila argumen-argumen ini salah, tolong luruskan dan dicerahkan. Memahami alasan kenaikan harga BBM terlalu sulit bagi saya yang apalah ini.

Saya hanya ingin menulis, sekaligus bertanya:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel)? Bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?, dan

Ketiga, untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Dan agar saya tidak sekedar bertanya, saya akan lampirkan argumen-argumen dari para cerdik pandai juga dari nalar sederhana saya, di tiap pertanyaan tersebut:

Pertama, benarkah harga BBM bersubsidi naik karena kenaikan harga minyak dunia (hingga 120 dollar per barrel atau bahkan diperkirakan lebih nantinya)? Dan bila tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi?

Dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359-360 disebutkan:

”Harga minyak ICP mempengaruhi APBN pada sisi pendapatan negara dan sisi belanja negara. Pada sisi pendapatan negara, kenaikan harga minyak ICP akan mengakibatkan kenaikan pendapatan negara dari kontrak production sharing (KPS) minyak dan gas melalui PNBP. Peningkatan harga minyak dunia juga akan meningkatkan pendapatan dari PPh Migas dan penerimaan lainnya. Pada sisi belanja negara, peningkatan harga minyak dunia akan meningkatkan belanja subsidi BBM dan dana bagi hasil ke Pemerintah daerah. Untuk tahun 2007, apabila harga minyak dunia meningkat sebesar US$1, maka defisit APBN diperkirakan akan berkurang sekitar Rp48 miliar sampai dengan Rp50 miliar, yaitu sebagai akibat peningkatan pendapatan negara sekitar Rp3,24 triliun sampai dengan Rp3,45 triliun dan peningkatan belanja negara sekitar Rp3,19 triliun sampai dengan Rp3,4 triliun.”

Jadi memang benar, bila harga minyak dunia meningkat maka akan meningkatkan pula anggaran subsidi. Akan tetapi, pendapatan pemerintah turut meningkat dari hasil ekspor minyak bumi. Selisih antara pendapatan dan beban sebesar 48-50 miliyar setiap satu dollar kenaikan harga minyak, yang akan mengurangi defisit APBN. Jelas, negara tidak merugi, malah untung sebesar 48-50 milyar. Di tahun 2007 ketika pemerintah telah menjadi net importer minyak. Ingat, ini informasi dari pemerintah sendiri.

Dalam RINGKASAN APBN 2007, RAPBN-P 2007 dan RAPBN 2008, halaman II-49 dapat dilihat bahwa anggaran seluruh subsidi sejumlah 92,6 trilyun rupiah dan PNBP dari sektor migas sejumlah 112,3 trilyun rupiah. Jadi lebih besar pendapatannya. Ingat, belanja subsidi di sini tidak hanya subsidi BBM, namun juga subsidi lain-lain (misalnya pupuk dan obat-obatan pertanian).

Lalu, sebenarnya dimanakah letak ruginya pemerintah?

Mengenai hal ini Kwik Kian Gie mengatakan, ”Tak ada subsidi BBM. Pemerintah mengambil minyak bumi milik rakyat secara gratis dengan biaya hanya US$ 10/barrel. Tapi karena hanya bisa menjualnya seharga US$ 77/barrel pemerintah merasa rugi jika harga minyak Internasional lebih dari harga itu”.

Logika sederhananya, misalkan saya seorang pedagang kemudian membeli barang seharga 10 ribu dan menjualnya dengan harga 20 ribu kepada sanak famili saya. Namun, di tempat lain barang semisal yang saya jual dibeli orang dengan harga 40 ribu. Bila saya serakah maka saya akan merasa rugi sejumlah 20 ribu (selisih 40 ribu dengan 20 ribu). Padahal biarpun saya menjualnya seharga 20 ribu saja, saya telah untung 10 ribu, apalagi kepada sanak famili saya.

Untuk rakyat, kita tentu tidak patut berbicara tentang opportunity cost (biaya peluang yang hilang) di sini.

Kedua, benarkah kenaikan BBM untuk orang miskin (karena orang-orang kayalah yang menikmati harga murah BBM)?

Tarif angkutan kota di sekitar kampus saya telah naik rata-rata 500 perak sejak sehari kenaikan BBM. Kopaja dan metrominipun demikian. Padahal kita semua sama-sama paham, penumpang kendaraan publik ini bukanlah orang-orang kaya. Lagipula, lebih banyak mana antara BMW dan bajaj? Lebih banyak mana Mercy dengan Metromini?

Bagaimana dengan tukang ojek (bukan orang kaya)? Bagaimana dengan supir taksi (bukan orang kaya)? Nelayan apalagi; sungguh sangat memiriskan hati bila mendengar kabar golongan ini. Harga solar yang melambung semakin tinggi membuat banyak nelayan tidak bisa melaut. Bagaimana mereka memberi makan anak istri mereka?

Biaya-biaya distribusi semakin tinggi karena jasa trukpun bergantung pada harga BBM. Kita mungkin tidak pernah merasakan bagaimana beratnya orang miskin menghadapi harga-harga kebutuhan yang naik karena biaya distribusi barang yang semakin meningkat. Kita mungkin tidak bisa merasakan karena tidak pernah berada dalam posisi mereka.

Pertanyaan tadi cobalah dibalik menjadi: bukankah kenaikan BBM menguntungkan orang-orang kaya?

Belajarlah dari pengalaman tahun 2005: Sampai dengan 31 Desember 2005, nilai SU-002 dan SU-004 setelah diindeks dengan inflasi telah meningkat menjadi masing-masing sebesar Rp31,23 triliun (naik ±56% dari nilai nominal awal) dan Rp80,48 triliun (naik ±50% dari nilai nominal awal) akibat inflasi yang tidak terkendali pada beberapa tahun sebelumnya. Sedangkan tunggakan bunga sampai dengan 31 Desember 2005 telah mencapai Rp16,9 triliun, dengan rincian tunggakan bunga untuk SU-002 sebesar Rp4,6 triliun dan tunggakan bunga untuk SU-004 sebesar Rp12,3 triliun.

Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Negara Tahun 2008, halaman 359 menyebutkan: Tingkat suku bunga yang dijadikan dasar dalam asumsi APBN adalah tingkat suku bunga SBI 3 Bulan. Perubahan tingkat suku bunga SBI 3 bulan hanya akan berdampak pada sisi belanja negara. Dalam hal ini, peningkatan tingkat suku bunga SBI 3 bulan akan berakibat pada peningkatan belanja pembayaran bunga utang domestik. Untuk tahun 2007, apabila tingkat suku bunga SBI 3 bulan lebih tinggi 1 persen dari yang diasumsikan, maka defisit APBN akan meningkat sekitar Rp1,6 triliun sampai dengan Rp2 triliun sebagai akibat peningkatan belanja pembayaran bunga utang.

Adakah orang miskin yang membeli surat utang negara? Adakah tukang ojek, supir angkot, hingga penjual sayuran di pasar tradisional memilki surat utang negara? Bukankah hanya orang-orang kayalah yang mampu membelinya?

Jangan pernah dilupakan, kenaikan harga BBM telah membuat jumlah orang miskin di Indonesia semakin meningkat. Dalam Suara Islam Edisi 44 disebutkan pada tahun 2005 jumlah orang miskin 31,1 juta jiwa, di tahun 2006 kemudian meningkat menjadi 39,3 juta jiwa. Inipun masih menggunakan standar Indonesia bahwa orang miskin adalah orang yang pendapatan perharinya kurang dari 0,6 dollar perhari. Belum bila menggunakan versi Bank Dunia sebesar 2 dollar perhari. Bisakah Anda bayangkan menghidupi diri dan keluarga perhari dengan sejumlah uang 4800 perak?

Ketiga, lalu untuk siapakah sebenarnya kenaikan harga BBM ini?

Mungkin ini terlalu menduga-duga. Mengapa pemerintah menaikkan harga BBM hingga mendekati (dan nantinya akan sama dengan harga internasional)? Bukankah pemerintah hanya menjual kepada rakyat sendiri. Tidak perlu dijual dengan harga 77 dollar perbarel, sedang biaya produksi minyak kita hanya 10 dollar perbarel (tentu harus dengan ditambah kompensasi impor minyak), pemerintah telah untung?

Kalaupun pendapatan per kapita kita sebesar warga AS yang sebesar Rp 37 870, tentulah tidak mengapa untuk menaikkan harga bensin hingga Rp 8464 seperti di AS. Namun, pendapatan perkapita kita hanya Rp 810 dan bensin dijual dengan harga Rp 4500 (tahun 2005). Kita mungkin tidak tahu bahwa di Iran harga bensin sebesar Rp 828 perliter dengan GNP per kapita sebesar Rp 2010 (tahun 2005). Atau seperti di Malaysia dengan GNP perkapita sebesar Rp 3880 dan harga bensin sebesar Rp 4876 (tahun 2005). Akankah kita harus mengikuti harga internasional sana di tengah keadaan kita yang seperti ini?

Saya (dan kita) menjadi sangat cemas bila alasan kenaikan harga BBM benar-benar untuk liberalisasi di sektor hilir migas. Bukan tidak mungkin nantinya pemerintah akan menaikkan harga BBM lagi bila beralasan dengan ini.

Di dekat kampus, Bintaro Sektor 9, bahkan tidak lebih dari 58 kali kayuhan sepeda dari SPBU Pertamina, baru mulai dibangun SPBU Petronas (Malaysia). Letaknya berdekatan. SPBU-SPBU asing lainpun telah banyak yang bermunculan, bak cendawan di musim hujan.

Saya dulu sempat tidak habis pikir dengan manajemen SPBU-SPBU asing, termasuk juga Shell (Belanda), yang menjual minyak jauh lebih tinggi dari harga premium di SPBU Pertamina. Mereka memang tidak menjual Premium, namun menjual minyak sekelas Pertamax dengan harga Pertamax pula. Saya jadi curiga bahwa manajernya baru saja patah hati hingga tidak bisa berpikir jernih; bagaimana mungkin barangnya laku bila harganya jauh lebih mahal dari Pertamina? SPBU-SPBU asing lebih sering terlihat kosong, kontras dengan bangunannya yang megah, terang benderang, terdiri dari belasan pompa, dan lengkap dengan minimarket mewah. Namun dugaan saya salah, itulah hebatnya orang asing, Kawan. Bahkan keputusan apa yang akan dikeluarkan oleh presiden sebuah negeri mampu diramalkannya.

Tengoklah perkataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro: ‘Liberalisasi sektor hilir migas membuka kesempatan bagi pemain asing untuk berpartisipasi dalam bisnis eceran migas…. Namun, liberalisasi ini berdampak mendongkrak harga BBM yang disubsidi pemerintah. Sebab kalau harga BBM masih rendah karena disubsidi, pemain asing enggan masuk.” (Kompas, 14 Mei 2003).

Jadi untuk mengundang para perusahaan asing untuk bermain di sektor hilir, pemerintah harus menyamakan harga BBM bersubsidi dengan harga internasional. Alasan liberalisasi migas ini sungguh sangat sulit dipahami. Sedang kita semua tahu, 84% minyak Indonesia di sektor hulu dikuasai oleh asing, dan sisanya berupa sumur-sumur tua yang dikelola Pertamina (Media Indonesia, 3 Juni 2008). Entah bagaimana nasib Pertamina, setelah sektor hulu didominasi asing, sektor hilirpun demikian pula nasibnya nanti. Kita tidak yakin Pertamina akan menang dalam persaingan ini. Perusahaan minyak kebanggaan rakyat Indonesia ini pasti kalah. SPBU Petronas, SPBU Shell dan puluhan perusahaan minyak asing lain terlalu megah untuk dilawan. Melihat hal ini, saya jadi takut bila kabar burung yang mengatakan bahwa negeri ini sedang dijual ke pihak asing adalah benar adanya.

You can fool some people sometimes,
But you cant fool all the people all the time.
So now we see the light (what you gonna do? ),
We gonna stand up for our rights! (yeah, yeah, yeah!)

(Get Up Stand Up, Bob Marley)

Sampai sekarang, saya masih tidak mengerti mengapa pemerintah kita mengambil keputusan menaikkan harga BBM. Terlalu gelap. Namun, tolong luruskan dan cerahkan atas kesalahan saya dalam mengambil argumen orang dan berpendapat sekenanya terlalu parah, serta terlalu jauh dari sifat ilmiah. Wallahu a’lam.

Kalimongso 00.30 am, 1 Juni 2008
”Sudah uzur begini, gigi geraham saya malah baru ada yang mau tumbuh. Rasanya sungguh tidak nyaman”

6 Responses to “BBM dan APBN: Benarkah kenaikan harga BBM untuk rakyat kecil?”

  1. Black_Claw Says:

    buang pikiran itu jauh-jauh nak, karna sampai kapanpun dengan pikiran seperti itu, nggak bakal jadi mentri keuangan ente.

    shavaat: wah, siapa yang mau jadi menkeu? *emang bisa? he3*

  2. infogue Says:

    Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com
    http://ekonomi-indonesia-bisnis.infogue.com/bbm_dan_apbn_benarkah_kenaikan_harga_bbm_untuk_rakyat_kecil_

  3. ariyo Says:

    yang sudah naek ga mungkin turun, kalo ” Susah Bbm Ya Jalan Kaki” hayo apa ?

    shavaat: kalau pemerintah kita niat, kenapa enggak. Kan ada alternatif lain selain kenaikan harga BBM sbg jalan keluar APBN yang defisit. Mis: belanja utang yang mesti ditinjau lagi. Tapi, sudah telanjur begini, memang ga mungkin turun lagi
    Wah, Yo, dari SMA sampai sekarang saya banyak jalan kaki Yo😀

  4. nestina Says:

    Baca yg ne, jadi gak enak nih Jek..
    Kantor kami, pemerintah, bulan ini memberikan gaji ke-13 untuk semua PNS/Polri
    dan rencananya Nez mau make buat mengabulkan impian beli sepeda..
    Duh bener2 ngerasa bersalah..

    shavaat: ga perlu merasa bersalah Nez. Nez beli sepeda, kan? Bukannya sepeda menghemat BBM…

  5. cingi_canga Says:

    @atas : apalagi sepedanya kasih ke saya..

  6. ksemar Says:

    Untuk Rakyat kecil ? Koq rasanya tidak. Pemerintah juga bilang bahwa listrik di indonesia ini disubsidi. Tapi nyatanya, berdasarkan penelitian (saya lihat di TV) tarif dasar listrik di negeri ini masuk kategori termahal di dunia. Benar tidak ya mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: