Saya Orang Indonesia

Tentang darah yang mengalir di tubuh ini, hanya satu hal yang bisa saya pastikan, bahwa darah ini adalah darah Indonesia. Memang benar, ayah orang Dompu-Bima, ibu orang Sumbawa, tapi siapa yang menjamin bila darah saya tidak bercampur dengan suku bangsa lain? Bukankah, Pulau Sumbawa berada di antara Lombok, Bali, Pulau Flores, Sulawesi, Maluku. Bukankah catatan sejarah mengatakan orang-orang Sumatera pernah datang ke Pulau Sumbawa, beberapa abad yang lampau? Atau mungkin saja ada prajurit Panglima Nala yang tidak kembali ke Pulau Jawa usai menyerang Kerajaan Dompo. Kampung kelahiran ayah saya bahkan bernama Kampung Bali.

Bukan bermaksud menyinggung SARA. Saya mungkin kadang merasa aneh, bila tiba-tiba orang berbicara kepada saya dengan bahasa daerah yang tidak saya mengerti. Namun, tentulah masih bisa saya terima dan tidak masalah. Saya masih memaklumi, bukankah orang lebih senang berbicara dengan bahasa dan dialek daerahnya sendiri? Saya coba belajar sedikit-sedikit bahasa Jawa. Juga sedikit-sedikit untuk mengerti bahasa Sunda. Minang-pun begitu, mungkin karena kekaguman saya terhadap Bung Hatta dan Moh. Natsir. Seringkali saya harus mengganti saya dengan gua bila berbicara dengan orang Betawi. Tidak jarang, kata-kata “Bengak Kau “menjadi familiar di bibir dan telinga. Tapi yang tetap sulit; adalah mengeti bahasa Mandarin–selain kamsia, hopeng, dan cincay, kata-kata yang lain sangat susah dimengerti.

Seringkali, suku di bawa ke mana-mana. Dia suku inilah, suku itulah. Kelakuannya memang begitu-begini, khas suku ini. Mana bisa bekerja sama dengan dia yang bersuku itu. Dia suku itu, tidak cocok dengan kita. Memang di mana-mana suku itu sifatnya sama saja. Dan yang sungguh mematahkan harapan bagi sebagian orang; kita tidak sesuku, sulit untuk berjodoh. Arghhh…

Kenapa harus mengedepankan suku? Bukankah semuanya bisa melebur, tanpa meninggalkan ciri khas kebaikannya masing-masing? Oleh cinta misalnya. Kita mungkin sangat susah menemukan nama Siliwangi sebagai nama jalan di Jawa Timur. Kita juga pasti kesulitan untuk menemukan nama Hayam Wuruk sebagai nama jalan di Jawa Barat. Namun kenyataannya, kita tidak kesulitan menemukan orang Jawa dan Sunda berjodoh dan menikah. Sejarah Majapahit-Padjajaran tentu bukanlah pertimbangan untuk menjalin hubungan pernikahan. Biarkan itu urusan raja-raja zaman dahulu, kenapa sampai sekarang harus dijadikan beban pikiran?

Kita semua sungguh sangat menyesal dengan ketidakadilan Jakarta kepada Serambi Mekah. Siapa yang tidak sakit hati bila dijadikan anak tiri, sedang pesawat terbang pertama Indonesia saja berasal dari sumbangan rakyat Aceh. Wajar saja bila Daud Baeureuh mengangkat senjata. Sekarang, biarkan saudara-sadara kita di Aceh menutup dan mengobati lukanya. Bila masih sensitif mengenai suku, itu adalah harga yang harus dibayar atas ketidakadilan itu. Namun, adalah bijak untuk yakin bahwa perasaan itu akan segera memudar dan menghilang. Saling memaafkan. Amien.

Hilangkan chauivinisme ekstrim di dalam diri. Bukankah di mata Tuhan semua sama, hanya ibadah dan kebaikannya saja yang membedakan. Menyandang nama suku tentu merupakan sebuah kebanggaan. Saya bangga dengan Dompu-Samawa saya. Namun saya selalu berusaha tiada pernah memandang rendah. Karena saya sangat merasakan betapa indahnya berinteraksi dengan suku-suku lain. Sungguh senang rasanya saat bercanda bebas dengan orang Batak dan Jawa Timur, kau bilang bengak atau jan**k pun mereka tidak marah, bahkan menjadi bahan canda-ria. Sungguh damai rasanya berbicara dengan orang Solo yang lembut-gemulai. Sungguh unik rasanya berbincang dengan orang Sunda yang dialeknya begitu khas dan menarik. Dan frekuensi suara yang masuk di telinga terdengar berirama, naik-turun, dan punya nada, saat berbicara dengan orang Sasak dan Makassar.

Seringkali saya merenung dan sadar, betapa menariknya interaksi ini. Interaksi antara suku-suku yang berbeda bahasa ibu, lentik mata, rambut ikal, alis tebal, kulit gelap nan eksotis, hingga tingkat kepedesan makanan yang bisa ditoleril oleh lidah. Kesemuanya ini membuat saya berbangga hati untuk menjadi rakyat negeri ini; menjadi rakyat Indonesia, menjadi orang Indonesia.

Ya… Saya orang Indonesia.

3 Responses to “Saya Orang Indonesia”

  1. nestina Says:

    Makasih dah mengingatkan Nez..
    kadang orang suku tertentu memang rasis dan merasa lebih,
    sering diomong2in lagi.
    Ortu Nez juga pernah berpesan “sebaik2nya orang ‘luar’ masi lebih baik orang (suku) sendiri”. Kata Nez “sebaik2nya orang, ya orang Islam, yg takwa”
    Jadi inget pas waktu mau berangkat ke Sumatera dari terminal Kalideres, pas mau masuk terminal antar pulau, suasananya horor. Kami ditarik2, diseret2, digiring calo2, ke tempat tiket, dengan kasar, omongannya pun kasar pula. Terus terang Nez s4 nangis waktu itu, ko bisa2nya orang berbuat dan berbicara kasar seperti itu.
    Untungnya Grandong tenang bgt, udah biasa, katanya.
    Belum habis ketakutan Nez, ketika dy memberi pesan dengan berbisik
    “disana, jangan terlalu bangga jadi orang jawa”

  2. shavaat Says:

    iya Nez, tergantung ke pribadinya masing2. Contohnya, banyak juga kan orang Batak yang halus, orang Jawa juga ada yang kasar. Daerah saya juga, ada yang halus tak terperi, ada juga yang kasarnya minta ampun (h3). Itu tipe orang2, pasti beda2.
    Yang penting kan kebaikannya. Orang Indonesia itu baik2…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: