Ayat-Ayat Cinta: mengapa harus difilmkan?

Sekitar pertengahan 2005 lalu, saya dipinjami novel sama teman satu kosan. Warna kuning krem, judulnya unik: Ayat-Ayat Cinta, ada testimoni dari orang-orang terkenal, ditambah lagi perkataan teman yang sedikit maksa: “Lo harus baca, Ris!. Gue saja sampai gerimis” membuat saya langsung tertarik. Selanjutnya, begitu tertariknya saya pada novel ini dan ingin orang lain juga membacanya, empat jilid telah saya beli untuk saya hadiahkan kepada adik, teman dan perpustakaan SMA saya dulu. Adik saya jadi ketularan suka sama novel Ayat-Ayat Cinta, seringkali dalam obrolan kami, yang dibicarakan adalah tentang baik hatinya Fahri, tentu juga tentang Aisha. Betapapun imajinatifnya kedua tokoh tersebut, kami mengobrolkannya seperti membicarakan orang benar-benar ada di dunia; seakan tetangga kami yang tiap hari kami lihat, atau begitu nyatanya, seperti saudara-saudari jauh kami yang kami sangat tahu seluk beluk tentang mereka.

Menurut saya, adik saya, dan ribuan orang lainnya, novel ini bagus, terlepas dari kekurangannya: tokoh Fahri yang benar-benar sempurna dan beruntung dan tokoh Aisha yang juga benar-benar sempurna. Di luar kekurangannya ini, yang justru menjadi keunikan cerita, novel ini tentulah berhasil—seperti maksud penulisnya—sebagai novel pembangun jiwa, memberi inspirasi kepada banyak orang tentang cinta, kesabaran, usaha keras, dan menjadi muslim yang benar-benar muslim. Lebih dari itu, novel ini sekaligus memuat ajaran-ajaran agama tentang hubungan kepada penganut agama lain dan perlakuan agama kepada perempuan. Istimewanya, novel ini tidak hanya dibaca oleh kalangan muslim saja namun dari kalangan non muslim juga.

Ketika novel ini benar-benar ingin dijadikan film, saya adalah pembaca yang kurang setuju. Menurut saya, biarlah alur cerita dalam novel tersebut di dalam angan-angan pembaca saja. Bukan karena apa-apa, sosok Fahri dan Aisha tentu sangat sulit dibuat nyata. Ini bukan masalah fisik, bukanlah tentang mencari pemeran yang mirip. Fahri dibuat tidak ganteng pun tidak masalah (dalam novel tidak dijelaskan ciri-ciri wajah Fahri, kecuali sekali waktu disebut ”mirip bintang film Hongkong”), mencari orang cantik untuk mewakili Aisha yang keturunan Asia-Eropa tentulah tidak sulit. Namun, adakah yang sanggup memerankan keindahan hati mereka? Sehingga para penonton terhanyut, seakan membaca novel, dan tidak menganggap bahwa itu hanya akting belaka?

11 Responses to “Ayat-Ayat Cinta: mengapa harus difilmkan?”

  1. Lina Says:

    Huk huk hukkk…trnyata dikau mmbahasnya d sini to?!

  2. gerie_813 Says:

    yupz, kmu benar..
    ayat-ayat cinta terlalu sempurna utk d filmkan…

    ^_^
    gerie_813

  3. Black_Claw Says:

    Lebih sempurna dan mudah diwatakkan adalah ayat-ayat homok yang disutradarai oleh saya, tentu saja. Hahahahahahahaa!!!😀

  4. morinawa Says:

    betul….. ayat-ayat homok yamg dibuat bang blek kan pemerannya tinggal dicomot dari sekitar.

  5. conandole Says:

    filmnya dah kluar…
    dah nonton….

    kloanesihsetujusetujuajadifilmkanlumayanbuathilanginbosendikos

  6. shavaat Says:

    @black: kacau,, begitu terobsesikah dirimu dengan kehidupan para homok?, h3
    @fika: he3, asal comot saja
    @aang: yoi, cuma ceritanya beda sama di novel. juga ada sedikit yang tidak sesuai sebenarnya dengan maksud penulis dan mengganjal di hati penonton. Ternyata benar, klo novelnya karyanya habiburahman, filmnya karyanya Hanung,,,

  7. darari Says:

    iya mas uje, contohnya vj cathy yng peranin aisha, ga cocok sepertinya. truz, pas walimahan, pake standing party segala, emang bole?
    betewe, mas uje,,ada ga ya yang seperti fahri di dunia ini??

  8. shavaat Says:

    @darari: ya, contohnya seperti itu. Syukurlah novelnya bagus.
    Kalo seperti Fahri, banyak kok, Ri. Banyak teman saya di kampus yang seperti tokoh Fahri: baik, pintar agamanya, jago hafalannya, prestasi kuliahnya juga bagus, halus perasaannya, pokoknya ga bisa diragukan lagi dah…

  9. darari Says:

    Ya,,ya,,Riri percaya kok, di kampus mas uje ada,,Uda ada contohx..

    Klo aisha?

  10. morinawa Says:

    kalo yang kayak Fahrinya mungkin banyak, tapi yang punya nasib kayak sih fahri tuwh yang harus dicari.
    Oh ya ralat dikit mbak darari bukan VJ Cathy yang meranin Aisha tapi VJ Rianti dan emang gak cuocuok bangetz… ngetz….

  11. shavaat Says:

    @morinawa: ya, yang punya nasib kayak fahri yang susah dicari, h2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: