Plant a Tree Before You Die

Akhir-akhir ini isu tentang global warming ramai dibicarakan, semenjak Konfensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-bangsa mengenai Perubahan Iklim di Bali, Desember silam. Saya sendiri kurang ngerti tentang global warming, malah bingung; global warming atau global warning, sih? Ah, tak taulah. Meminjam kata-kata orang kecil, para pedagang bakso, penjual gorengan, pemulung, dll; yang terpenting beras masih bisa terjangkau, minyak tanah nggak langka, minyak goreng nggak naik lagi, dan air PDAM nggak keruh. Global warming biarlah jadi urusan orang-orang yang ngerti global warming.

 

Ada berjuta-juta hektar hutan kita yang rusak (1,87 juta hutan kita rusak tiap tahun dan akan habis selama 50 tahun bila tidak dihentikan), ada banyak gunung-gunung dan bukit yang gundul, ada banyak daerah hijau kota yang diubah jadi hutan beton. Ini hanya tentang peran kita sendiri. Contoh paling kecil, mungkin menanam pohon, walaupun menanam pohon bukan solusi brilian karena mengurangi emisi adalah solusi mendesak yang harus dipikirkan. Orang Indonesia punya banyak lahan; di desa, di pinggir-pinggir hutan, dan di hutan-hutan yang gundul, tidak sulit untuk menanam pohon. Kalaupun sudah banyak tertutup semen dan beton, orang-orang kota tak hilang akal untuk menanam di pot-pot bekas yang dicat cantik Selain beli atau minta ke tetangga, bibitnya pun bisa kita dapatkan sendiri, disemai, dicangkok, disambung, atau distek begitu saja seperti pohon Tanjung.

 

Untuk mengurangi emisi, biarlah petinggi-petinggi di negara ini yang lakukan. Berbicara tentang mengurangi emisi sama halnya menuntun kita di hadapan foto bisu para CEO perusahaan dengan pabrik-pabrik raksasa dan para pemimpin negeri yang didukung perusahaan-perusahaan penghasil emisi. Untuk skala orang kecil seperti kita, cukuplah kita menanam pohon, menghemat listrik, menghemat BBM, menghemat kertas dan menghemat seluruh kebutuhan kita.

 

Berhubung kita penduduk di negeri agraris, dalam hati kita sebenarnya telah tertanam naluri untuk senang menanam pohon, bahkan jauh sebelum global warming dipopulerkan. Saya yakin almarhum kakek saya, menanam pisang-pisang di samping rumah bukan karena global warming. Ataupun ayah saya yang menanam tujuh pohon mangga arum manis, sebuah pohon mangga madu, belimbing wuluh, jambu bangkok, nangka salak di sekitar rumah bukanlah mempertimbangkan global warming. Mereka menanam pohon karena hobi. Atau kalaupun ditanyakan kepada mereka sebabnya, mereka menjawab: ru’u nggomi doho, ini untuk kalian, untuk anak cucu saya nanti…

 

Sesibuk-sibuknya kita, setidakpedulinya kita, setidakmampunya kita, mari kita tanam cukup satu pohon. Mungkin kecil sekali artinya dibandingkan asap-asap dari cerobong tinggi pabrik-pabrik. Tapi “kecil sekali artinya” tetap berarti “ada artinya”, dan “ada artinya” tentu lebih baik dibandingkan ”tidak ada artinya”. Daun-daun pohon yang kita tanam mungkin kepayahaan menghisap asap di sekitarnya. Kitapun tak bisa langsung merasakan kesejukan udara dari sebuah pohon kecil, tapi dengan melihat daunnya yang indah, minimal kita merasakan kesejukan bentuk lain, kesejukan yang tidak bisa dirasakan paru-paru ataupun syaraf-syaraf sensorik di kulit.

 

Guru agama kita seringkali mengingatkan kita tetang amal kebaikan yang pahalanya dibawa mati. Saya yakin dari pohon yang kita tanam, ada serangga-serangga kecil yang beristirahat di situ, ada laba-laba kecil yang menjalinkan jaringnya di situ, ada cacing yang memakan humus dan ada makhluk-makhluk lain yang kasat mata yang mencari makan di pohon itu. Mungkin mereka berkeluarga di sana dengan dua, sepuluh, seratus, seribu, sepuluh ribu jiwa yang hidup bersama. Pohon itu tumbuh adalah lahir dari kebaikan Anda, yang terus mengalir bahkan setelah Anda mati.

 

Belum lagi bila pohon itu tumbuh besar. Akan banyak binatang yang berteduh di bawahnya, burung-burung yang membuat sarang, ataupun orang-orang yang berteduh, dari tukang ojek yang menunggu penumpang hingga tukang es cincau yang sekedar melepas lelah. Kebaikan Anda semakin mengalir, berefek multiplyer di luar sangkaan Anda.

Belum lagi tiap molekul oksigennya yang dihirup makhluk-makhluk bernyawa.

Belum lagi bunga-bunganya oleh lebah-lebah penghasil madu.

Belum lagi keindahaannya

Belum lagi bila pohon itu bertahan beberapa generasi

Ah, terlalu banyak. Tanamlah sebuah pohon sebelum meninggalkan dunia ini; di halaman rumah, di tempat kerja, di depan kos, di pinggir jalan atau di sejengkal tanah sekolah dan kampus universitas. Untuk kesejukan mata, untuk kelegaan nafas, makanan dan keteduhan. Untuk diri sendiri, juga untuk manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk sekarang dan masa yang akan datang.

4 Responses to “Plant a Tree Before You Die”

  1. Black_Claw Says:

    Di milis Dompu, propesor konandole menulis bahwa menanam pohon bukan solusi global warning. MAKANYA BUKA ITU EMAIL, ketua KOMPLID! Ah, ciken kow!😀
    :))

  2. shavaat Says:

    @black claw:Bukan semata global warming, Black,,,Ada jutaan hutan kita yang rusak, ada banyak bukit kita yang gundul, ada banyak hutan-hutan kota yang diubah jadi gedung2, mari tanam pohon…

  3. endjivanhouten Says:

    ya sudah tanam pohon saja.
    ndak usah banyak debat

  4. shavaat Says:

    yoi, kebetulan moment hari bumi. Hijau jiwaku, hijau bumiku…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: