Dear Diary

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris2 berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Sebagian dari 75 orang, di Pusdiklat Kalibata. Di sela2 latihan baris berbaris di bawah arahan Pak Kamto dan Pak Pangat, tentara dari Rindam Jaya. Foto diambil dari Dunia Muam (www.duniamuam.blogspot.com).

Kalau hujan turun, tak usah lama-lama, maka Sungai Ciliwung itu cepat sekali naik airnya. Bila kebetulan sedang istirahat dari materi di kelas; sambil menikmati teh hangat dan makanan ringan, kami bisa melihat aliran air coklat dari sungai nan terkenal itu memasuki rumah-rumah di tepinya. Syukurlah, rumah-rumah itu banyak yang berlantai dua. Jadi, biarpun air meninggi hingga ke atas lutut , masih ada cadangan lantai rumah untuk hidup dan bernapas.

Oh ya, pengumuman kecil, sekarang saya sedang ikut diklat di Kalibata; di Pusdiklat yang berdiri di tepi Sungai Ciliwung. Diklat auditor terampil namanya. Namanya saja yang keren, padahal sebenarnya auditor terampil itu pemeriksa yang paling junior di kantor. Bila lulus dari sini, kalau ikut pemeriksaan, saya jadi anggota tim junior. Sudah junior, anggota tim pula. Perjuangan masih panjang rupanya. Ha ha ha.

Sudah satu setengah bulan di sini. Kegiatan tiap hari tidak jauh-jauh dari belajar di kelas, ujian tiap pekan, apel tiap pagi dan malam, makan yang sangat terjadwal, main bola di parkiran, kadang main badminton dan tenis meja, dan senam pagi saat langit masih gelap. Positifnya, hidup saya jadi lebih teratur. Positifnya lagi, saya jadi jarang begadang; kecuali kalau besoknya ujian. Positifnya lagi, saya bisa berkumpul dengan teman-teman angkatan. Negatifnya? Ah, tidak perlu dicari-cari. Saya ingin terbiasa berpikir positif. Bukankah itu baik untuk tubuh dan pikiran?

Pelajaran di kelas rata-rata untuk mengulang pelajaran di kuliahan. Namun saja, kalau di kuliahan; masih banyak yang bersifat teoritis dan ada di awang-awang, di sini sedikit berbeda. Memang masih tetap di awang-awang—namanya juga belum praktik yang senyata-nyatanya—tapi setidaknya bisalah digapai dengan imajinasi. Misalnya, di kuliahan diajarkan pengantar auditing (termasuk audit kinerja), di sini saya belajar praktikum auditnya. Sangat menarik, setidaknya untuk mata pelajaran ini, saya tidak terkantuk-kantuk di kelas.

Kecuali hari Kamis kemarin, saat materi Pedoman Manajemen Pemeriksaan . PARAH. Saya sampai tertidur di kelas. Setelah menulis di flipchart, kelompok saya selesai berpresentasi, saya bisa-bisanya ketiduran saat menyimak kelompok lain berpresentasi. Ternyata saya memang keren. Sudah cara tidurnya seperti filsuf yang sedang memikirkan kenapa banyak sekali acara infotainment di Indonesia, tidur saya ketahuan dosen pula!

Menurut teman-teman kelas, kronologis saya tidur hingga saya bangun adalah seperti ini:

Dosen, SE, Ak, CMA: Ya, kelompok dua, bagaimana tanggapan kalian?

Yovankha dan teman-teman kelompok dua: Wah, no komen, Pak. Belum mengerti benar kita.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ah, nggak ada itu no komen-no komen. Mana anggota kelompok dua? Mm, Muammar Fauzy, apa pendapatmu?

Muammar: (angkat tangan)Saya bukan kelompok dua, Pak.

Dosen, SE, Ak, CMA: Ok, Nourissafaat. (Hening)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat? (krik…krik…krik…)

Dosen, SE, Ak, CMA: Nourissafaat! (sudah meninggi nih nada suaranya…) (ngung…ngung…ngung…)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Noris! Mikir lama bener, boi! (ngeng…ngeng…ngeng)

Adrian, Ilham, Reka, dan teman-teman sekelas: Yah, dia tidur… Dia tidur, Pak. Ha ha ha… Hoi, Noris… Noris… Bangun woi! Ha ha ha… Parah… Ha ha ha.

Akhirnya ramailah kelas karena saya tidur tanpa sedikit menyadari keramaian itu. Dan pakai ileran pula. Katanya dua menitan saya jadi perhatian seantero kelas, dan tentu saja saya tidak sadar. Ha ha ha. Ok, ok, saya akui, saya memang keren.

Oya, sedikit cerita lagi. Sebentar lagi penempatan diumumkan. Penempatan artinya tempat bertugas, di kantor pusat atau di perwakilan. Saat mengisi formulir penempatan, awal-awal magang di kantor pusat tiga bulan lalu, saya mengisi lima kota. Di antara kota-kota yang wajib dipilih, saya memilih Palembang dan Ternate. Kota-kota favorit, saya memilih Mataram, Denpasar, dan Surabaya. Saya memilih perwakilan semua. Kenapa tidak memilih Kantor Pusat Jakarta? Alasan utamanya; saya ingin memenuhi permintaan ibu saya, agar tidak jauh-jauh dari dia, setidaknya beberapa tahun ini. Kapan lagi saya bisa menyenangkan hatinya? Alasan sampingannya, Jakarta terlalu banyak polusi dan terlalu banyak orang pintar. Yang ada, saya yang tidak pintar ini jadi semakin bodoh di sini; karena hidup di antara para akuntan yang certified dan hidup di antara polusi udara yang membuat otak jadi oon. Dengan konsekuensinya, saya akan kehilangan kesempatan untuk mewujudkan salah satu cita-cita saya: kuliah di Universitas Indonesia.

Formulir penempatan itu hanyalah untuk mengetahui minat. Jadi, walaupun telah memilih kota-kota itu, tetap saja belum tahu pasti di mana saya ditempatkan. Yang jelas bukan di Mataram; karena , perihal independensi bila ikut dalam tugas pemeriksaan nanti. Mungkin di Denpasar, Surabaya, Ternate, atau Palembang. Mungkin Banda Aceh, Mamuju, atau Manokwari. Mungkin pula di Samarinda, Serang, atau Jayapura. Aha, buat saya pribadi, tidaklah mengapa. Paling-paling Universitas Indonesia akan semakin jauh saja. Saya berdoa; agar di manapun penempatan saya, ibu saya dapat merelakan anaknya ini untuk merantau lagi dan entah kapan kembali. Juga berdoa; dimanapun saya berada, agar bisa bermanfaat bagi orang-orang sekitar, orang-orang yang dari pajaknya saya bisa kuliah tak berbayar.

Ada rasa tidak sabar menunggu SK penempatan. Buat CPNS seperti saya ini, pengalaman berpindah ke daerah barulah—bukan gaji, bukan tunjangan yang tidak seberapa itu—menjadi penghibur diri. Mungkin saya ditempatkan di kota yang susah untuk kuliah lagi karena tidak ada universitas di sana. Mungkin saya ditempatkan di kota yang transportasi mudiknya jarang dan mahal. Mungkin saya ditempatkan di kota yang fasilitasnya minim; dengan listrik yang sering mati, air bersih yang sulit, internet yang tersendat, fasilitas jalan yang rusak. Tapi saya yakin, di sana saya akan mendapatkan hikmah dan pelajaran baru untuk pikiran bebal ini. Bisa melihat budaya masyarakat yang saya akan berbaur di dalamnya. Bisa menikmati pemandangan alam luar biasa dan saya benar-benar hidup di dalamnya. Bisa tetap memanggul carrier, mendaki gunung atau masuk keluar hutan. Bisa memiliki kawan, sahabat, dan keluarga-keluarga baru di sana. Bisa membawa cerita untuk keluarga saya di kampung. Bisa meyakinkan diri; apakah idealisme bisa saya temukan, dibentuk perlahan, mampu bertahan ataukah luntur di tengah jalan. Sederhana saja. Dalam segala hal yang dianggap tidak menyenangkan bagi orang lain, saya tentulah sangat bersyukur atas segala anugerah-Nya ini.

Wisma Pusdiklat Kalibata, Kamar 304, 3 Maret 2009, 23.07

“Hari ini hujan sebentar. Air sungaipun naik sedikit. Semoga tidak banjir, kasihan rumah-rumah ditepinya. Suasana wisma hening. Teman sekamar saya: Miqo, Peppy, dan Yovankha sudah tidur lelap. Teman-teman yang lain sudah masuk dalam kamarnya masing-masing. Tujuhpuluh lima orang angkatan akuntansi lulusan Jurangmangu tahun ini di sini. Mereka, kalaulah tidak istirahat atau bengong, pastilah sedang belajar di kamarnya sekarang. Kalau masalah belajar; mereka itu jagonya. Mereka, bukan saya. He3”.


Wisuda dan Traktat Integritas

(Balai Sidang Jakarta, 14 Oktober 2008) Siapa bilang, mapala itu mahasiswa paling lama? He3. Alhamdulillah, akhirnya anak2 2005 lulus, ga pakai ujian komprehensif ulang pula. Selamat, kawan...

(Balai Sidang Jakarta, 14 Oktober 2008) Siapa bilang, mapala itu mahasiswa paling lama? He3. Alhamdulillah, akhirnya anak2 2005 lulus, ga pakai ujian komprehensif ulang pula. Selamat, Kawan...

Alhamdulillah, setelah bertahan selama tiga tahun, saya diwisuda juga. Walaupun ini adalah hal biasa di mana-mana; tapi senang saja rasanya. Diwisuda artinya saya lulus kuliah. Siapa pula orang di dunia ini yang tidak senang bila lulus kuliah?

Lagipula, wisuda kemarin sedikit istimewa. Sebabnya, selain Ibu Sri Mulyani Indrawati, hadir juga Haryono Umar, wakil ketua KPK yang juga alumnus STAN 1981. Dia datang mewakili institusi KPK; sebuah lembaga yang ditakuti para koruptor Indonesia dan selalu bisa merekam pembicaraan telepon kapan saja.

Ibu Menteri menyampaikan ceramah-nasihatnya yang menarik didengar. Ada kata-kata pedas—khas dia—juga kata-kata yang memberi semangat dan harapan untuk kami yang diwisuda. Tentang petugas bea cukai yang tertangkap KPK yang katanya, ”Sungguh memalukan”. Candaannya tentang kampus Jurangmangu yang fisiknya jelek bukan main, sampai pernah dilihatnya kambing berkeliaran di depan perpustakaan. Juga tentang harapannya pada kami semua, ”Kalian adalah bagian dari solusi Indonesia”. Pelan-pelan saya simak kata-katanya; mencoba mencernanya dalam hati dan pikiran saya.

Sedang Bapak Haryono Umar datang untuk menyampaikan orasi ilmiah tentang korupsi. Korupsi, satu kata yang sering menjadi streotip sebagian orang untuk kampus saya. Juga untuk lulusannya. Tapi, tidak mengapa sebenarnya. Lulusan kampus ini juga tidak sedikit yang mampu bersikap jujur dan berintegritas, di instansi pemerintah tempat mereka ditugaskan; juga di tempat lain di mana mereka dibutuhkan.

Setelah berupa-rupa kata sambutan, ceramah, atau orasi namanya; tibalah seorang kawan maju ke depan. Dia—dengan suara lantang—membacakan semacam ikrar atau janji atau pakta tentang integritas anti korupsi. Sebuah peristiwa sederhana namun bersejarah. Ini adalah pertama kalinya janji anti-korupsi dilakukan oleh wisudawan universitas di Indonesia. Saya tentu saja ikut mengucapkannya—dengan ucapan, hati, dan pikiran saya. Saya percaya; dengan mengucapkannya, saya telah memiliki niat baik di hati saya.

Sebelum naik di panggung untuk diwisuda, juga ada semacam janji tertulis yang harus ditandatangani. Apalah beratnya menandatanganinya; sama seperti mengucapkannya. Nanti; saat menghadapai situasi kondisi secara nyata dan sebenar-benarnya; di situlah baru terasa beratnya.

Tapi, tidak usahlah terlalu dipikirkan. Lagi pula yang terpenting adalah perbuatan, bukan semata pikiran. Santai saja. Sambil menunggu acara selesai, lebih asyik becanda dengan kawan-kawan di barisan belakang. Mengejek kawan-kawan yang urutannya di belakang-belakang, yang bernomor urut besar, padahal nomor urut saya juga besar. Atau diejek kawan-kawan yang punya nomor urut kecil. Termasuk juga ikut memberikan aplaus meriah bagi wisudawan paling belakang. Di wisuda STAN, tepuk tangan untuk wisudawan terbaik dan terakhir hampir sama meriahnya. Jadi, ada dua cara agar kamu bisa terkenal; jadi wisudawan terbaik, atau wisudawan terakhir.

Kembali tentang saya yang akhirnya jadi alumnus juga; sangat terasa ini anugerah luar biasa. Saya dulu sempat tidak semangat kuliah di akuntansi. Tapi, tentu saja saya  harus bertanggung jawab. Pada ortu,  juga tentunya kepada Dia Yang Maha Pemurah yang telah memberi waktu, kesehatan, dan segala kebaikan. Tidaklah buruk, setelah dijalani akhirnya terbiasa juga. Saya lulus. Pakai predikat “sangat memuaskan” pula, biarpun IPK tidak seberapa. Sekarang ingin rasanya segera berlari; karena saya percaya ada mimpi yang menunggu di sana; untuk dikejar, tidak menunggu lama.

Rabu, 15 Oktober 2008

“Selamat untuk STAN 2005 yang baru saja diwisuda. Bilapun menapakkan kaki nanti di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Bali, Papua, ataupun Belanda, janganlah lupa atas ikrar yang telah diucapkan kepada negeri ini–Indonesia yang indah ini.”

Ode Malam Lebaran

Saya tidak mudik tahun ini. Kenapa? Tanggung saja waktunya. Sebentar lagi saya ada yudisium soalnya. Jadi aja, waktunya sempit untuk mudik. Biarlah di sini saja; di pinggiran Jakarta sambil menikmati sunyinya hari-hari terakhir Ramadhan.

Tapi syukurlah tidak terlalu sepi di kampus. Lho, kok di kampus? Begini, selama bulan puasa ini saya tinggal di kampus. Di posko mapala kampus saya. Menginap bareng Udik yang orang Solo, Ucup yang orang Bekasi, Jalu yang orang Magelang, Sebastian yang orang Mentawai, Antonius yang orang Sukoarjo, kadang Endji yang orang Surabaya yang datang mentraktir makan—terima kasih banyak untuknya. Jadi, saya tidur, mandi, sahur, berbuka di kampus. Hari-hari terakhir di kampus ini; saya ingin lebih dekat dengan kampus ini. Kalaulah tidak di kampus; di hari-hari terakhir Ramadhan, saya duduk-duduk dan sering tertidur di An Nashr, masjid depan kampus yang baru saja dipasang empat unit Air Conditioner.

Menjelang lebaran, waktu terasa lamban berputar. Saya ingat rumah.Ingat dengan ramainya rumah saat berbuka; oleh keluarga dan orang-orang yang mampir di rumah. Ingat dengan masakan hasil laut yang di gelar di atas tikar pandan. Ingat dengan Sepat—sambal kuah asli Sumbawa—yang tiap berbuka dibuat oleh ibu saya yang orang Sumbawa. Menjelang lebaran begini, seharusnya saya ada di rumah. Tiduran di gazebo belakang rumah sambil mengobrol dengan ibu, bibi, dan paman-paman saya; tentang kuliah, ibukota, sayuran yang baru ditanam, dan ikan lele di kolam. Atau duduk di teras depan, ikut-ikut mengobrol tentang kuda pacuan bersama ayah, abang, sepupu, dan juga paman-paman yang semuanya menggemari pacuan kuda.

Malam lebaran ini tidak demikian. Jalan di depan posko ramai dengan pengendara sepeda motor hilir mudik; dengan pusat keramaiaannya di Bundaran Sektor 9 yang disesaki asap kembang api. Entah mengapa, mereka begitu bahagia saat Ramadhan berakhir. Tengah malam, saya hanya duduk sendirian di depan posko sambil memetik gitar. Mencari-cari chord lagu Home-nya Michael Bubble. Juga saya carikan nada intronya dengan harmonika merek Hero buatan Republik Rakyat China. Tapi, karena tidak ada alat penyangga harmonika yang digantung di leher (apa ya namanya?), saya tidak bisa memainkan keduanya secara bersamaan. Ah, biarlah.

Iseng saya rekam suara saya sambil memetik gitar dengan mode MMS compatible. Ugh, ternyata mendengar rekaman suara sendiri malu rasanya. Nadanya ke sini, suara saya malah entah ke mana. Saya coba rekam beberapa kali. Hasilnya sama saja. Ah sudahlah, tidak usah dipaksa; toh saya tidak dibayar. Saya hapus yang sangat-sangat jelek dan memilih yang saya anggap bagus; yang sedikit mirip dan banyak sekali bedanya dengan suara penyanyi aslinya. Begini syairnya yang saya lompat-lompatkan.

Maybe surrounded by

A million people I

Stilll feel allalone

I just wanna go home

Oh, I miss you, you know

Let me go home

I’m just too far

From where you are

I wanna come home

Saya kirim MMS ke adik saya, dengan rekaman yang menurut saya paling bagus nadanya. Pastilah dia mengerti Michael Bubble, karena dia pernah jadi penyiar radio. Mengerti di sini artinya bukan mengerti watak, kemauan, sampai perilaku si Michael Bubble, tapi artinya tahu kalau Michael Bubble itu penyanyi. MMS-nya buat semua keluarga di rumah, khususnya untuk ibu saya. Beberapa saat kemudian sebuah SMS masuk di ponsel saya. Dari Kiki, adik perempuan saya satu-satunya itu. Begini SMS-nya.

Jelek sekali suaranya,,,

He..he..he.. Ternyata tidak sesuai harapan. Tapi, berpikir positif saja. Mungkin dia sedang tidak berselera mendengar suara yang merdu karena sedang sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru.

Posko Stapala, 13:34, 7 Oktober 2008

“Ingin sekali bertemu Ramadhan tahun depan. Banyak sekali salah yang saya lakukan dalam Ramadhan ini. Bila ada waktu untuk saya”

Konsekuensi Cinta

Kau ingat saat-saat itu?

Saat-saat yang kau bilang tak ‘kan pernah terlupa olehmu

Saat-saat ketika kulihat rona merah di pipimu

Saat-saat ketika dadaku membuncah

Karena benih-benih cinta ini begitu indah


Aku tahu kebahagianmu lebih mencemaskanmu

Kau cemas bahwa kebahagiaan ini

akan hilang darimu

Aku maklum,

karena itu adalah naluri alami

dari makhluk anggun sepertimu


Aku hanya bilang:

”Aku cinta padamu”

Namun tidak kah kau sadar,

apakah makna dari kata-kata itu?

Ataukah kau telah menyadari,

hingga inilah yang membuat hatimu cemas?


Aku sendiri tak yakin mampu,

menanggung beban ucapanku


Ketika aku bilang aku cinta padamu

Maka sejak itulah aku harus rela bahwa kedudukanku

menjadi pemberi, yang tidak mengharap pemberian

Sejak itulah aku harus rela untuk memberikan perhatianku kepadamu

Sejak itulah aku harus rela untuk merawatmu dengan segenap kasih sayangku

Sejak itulah aku harus rela untuk selalu melindungimu

Sejak itulah aku harus rela memberikan kesetiaanku kepadamu


Tapi ini begitu berat, Sayangku

Konsekuensi kata-kataku begitu berat

Aku sendiri tak yakin mampu

Menanggung beban ucapanku


M N Juna Putra

13.00 WIB, Kalimongso, Enam September Dua Ribu Enam

Dibuat di siang hari yang panas; yang sanggup membuat kipas angin nyaris tiada berguna, di sebuah kamar kos sempit, oleh pemuda yang berlagak menjadi seniman

lagi (sok) sibuk

Saat-saat menghadapi uts terakhir. Sekaligus, lagi bikin TA: sebenarnya saya mau ambil bidang pajak, gara-gara akuntansi pajak saya kemarin nilainya parah, mau balas dendam ceritanya. Tapi saya putuskan ambil sistem akuntansi pemerintah saja. Objeknya pasti bisa ditebak: ya, Pemda Dompu. Judulnya: Evaluasi Laporan Keuangan Pemeritah Daerah Dompu Tahun 2006. Setidaknya kalau saya pulang ke kampung tidak blank begitu saja kalau ditanya tentang laporan keuangan pemda seharusnya seperti apa… :)

Setelah TA ada ujian kompre yang jelas bikin pusing kepala. Doakan saya, kawan…