hiatus tak lama

Dua bulan lebih saya tidak posting di blog ini; juga tidak di blog mana-mana. Semata-mata akibat perubahan rutinitas yang membuat saya merasa malas untuk menulis di sini. Entah hubungannya apa. Yang jelas, baru sekarang saya punya segala faktor yang mendukung saya untuk meng-update Catatan Kecil ini.

Selama dua bulan belakangan, jadwal saya sedikit teratur. Mandi jam segini, tidur jam segini, makan jam segini, naik kereta api listrik jam segini. Tidak carut marut seperti dulu. Mungkin itu pula yang mebuat saya tidak sempat menulis. Biasanya saya menulis di tengah malam buta, dan jadwal itu sekarang tidak ada.

Dua bulan belakangan saya magang di sebuah instansi pemerintah yang kantornya di depan gedung MPR. Masuk jam 7.30 dan pulang lebih jam lima sore. Terkadang pula lembur dan menginap di kantor. Kalau menyalahi jadwal, maka mesin pemindai tangan di sana akan menganggap saya sebagai manusia pemalas, tidak punya dedikasi, dan pantas dipotong penghasilannya sekian persen per hari per telat.

Sejak jadwal saya berubah, saya menjadi gampang sekali tidur. Sesampai di kos di daerah Jurang Mangu—atau bolehlah disebut Bintaro agar terdengar keren, padahal kos saya di dalam kampung—saya lebih memilih untuk tidur. Selepas jam delapan-sembilan malam saya lebih senang tidur. Ini agar saya tidak begitu lelah saat mengejar kereta pagi-pagi. Kereta Ciujung, Sudirman Ekspress, Depok Ekspress turun d i Palmerah, KRL, dan KRD, jadwalnya relatif tepat. Jadinya, saya mesti menyesuaikan jadwal mandi lebih pagi dibandingkan saat kuliah dulu agar tidak ketinggalan kereta.

Saya masih ada utang di sini. Banyak komentar yang tidak terbalas. Juga tentang award yang mungkin sekarang sudah tidak berjaman lagi. Tapi award itu diberi tiga bulan yang lalu, harusnya saya pasang karena itu adalah hadiah. Sekaranglah saya pasang. Tidak apa-apa sudah kuno, dari pada tidak sama sekali. Terima kasih, Mbak Putri. Rasa-rasanya tidak pantas blog ini mendapat award dari Mbak. Makanya, saya bingung untuk memilih siapa yang harus saya berikan kembali. Blog-blog yang saya kunjungi bagus-bagus sangat; tidak pantas rasanya saya yang memberikan award. Apalah rasa gengsinya mendapat award dari sini. Oh ya, sekali lagi, terima kasih Mbak Putri.

butterfly_award1

Kalibata, 27 Januari 2009, 14.00 WIB

Akhirnya bisa posting lagi. Senang rasanya. Seperti rindu yang terlepaskan. Seperti kasih yang tersampaikan.

Ode Malam Lebaran

Saya tidak mudik tahun ini. Kenapa? Tanggung saja waktunya. Sebentar lagi saya ada yudisium soalnya. Jadi aja, waktunya sempit untuk mudik. Biarlah di sini saja; di pinggiran Jakarta sambil menikmati sunyinya hari-hari terakhir Ramadhan.

Tapi syukurlah tidak terlalu sepi di kampus. Lho, kok di kampus? Begini, selama bulan puasa ini saya tinggal di kampus. Di posko mapala kampus saya. Menginap bareng Udik yang orang Solo, Ucup yang orang Bekasi, Jalu yang orang Magelang, Sebastian yang orang Mentawai, Antonius yang orang Sukoarjo, kadang Endji yang orang Surabaya yang datang mentraktir makan—terima kasih banyak untuknya. Jadi, saya tidur, mandi, sahur, berbuka di kampus. Hari-hari terakhir di kampus ini; saya ingin lebih dekat dengan kampus ini. Kalaulah tidak di kampus; di hari-hari terakhir Ramadhan, saya duduk-duduk dan sering tertidur di An Nashr, masjid depan kampus yang baru saja dipasang empat unit Air Conditioner.

Menjelang lebaran, waktu terasa lamban berputar. Saya ingat rumah.Ingat dengan ramainya rumah saat berbuka; oleh keluarga dan orang-orang yang mampir di rumah. Ingat dengan masakan hasil laut yang di gelar di atas tikar pandan. Ingat dengan Sepat—sambal kuah asli Sumbawa—yang tiap berbuka dibuat oleh ibu saya yang orang Sumbawa. Menjelang lebaran begini, seharusnya saya ada di rumah. Tiduran di gazebo belakang rumah sambil mengobrol dengan ibu, bibi, dan paman-paman saya; tentang kuliah, ibukota, sayuran yang baru ditanam, dan ikan lele di kolam. Atau duduk di teras depan, ikut-ikut mengobrol tentang kuda pacuan bersama ayah, abang, sepupu, dan juga paman-paman yang semuanya menggemari pacuan kuda.

Malam lebaran ini tidak demikian. Jalan di depan posko ramai dengan pengendara sepeda motor hilir mudik; dengan pusat keramaiaannya di Bundaran Sektor 9 yang disesaki asap kembang api. Entah mengapa, mereka begitu bahagia saat Ramadhan berakhir. Tengah malam, saya hanya duduk sendirian di depan posko sambil memetik gitar. Mencari-cari chord lagu Home-nya Michael Bubble. Juga saya carikan nada intronya dengan harmonika merek Hero buatan Republik Rakyat China. Tapi, karena tidak ada alat penyangga harmonika yang digantung di leher (apa ya namanya?), saya tidak bisa memainkan keduanya secara bersamaan. Ah, biarlah.

Iseng saya rekam suara saya sambil memetik gitar dengan mode MMS compatible. Ugh, ternyata mendengar rekaman suara sendiri malu rasanya. Nadanya ke sini, suara saya malah entah ke mana. Saya coba rekam beberapa kali. Hasilnya sama saja. Ah sudahlah, tidak usah dipaksa; toh saya tidak dibayar. Saya hapus yang sangat-sangat jelek dan memilih yang saya anggap bagus; yang sedikit mirip dan banyak sekali bedanya dengan suara penyanyi aslinya. Begini syairnya yang saya lompat-lompatkan.

Maybe surrounded by

A million people I

Stilll feel allalone

I just wanna go home

Oh, I miss you, you know

Let me go home

I’m just too far

From where you are

I wanna come home

Saya kirim MMS ke adik saya, dengan rekaman yang menurut saya paling bagus nadanya. Pastilah dia mengerti Michael Bubble, karena dia pernah jadi penyiar radio. Mengerti di sini artinya bukan mengerti watak, kemauan, sampai perilaku si Michael Bubble, tapi artinya tahu kalau Michael Bubble itu penyanyi. MMS-nya buat semua keluarga di rumah, khususnya untuk ibu saya. Beberapa saat kemudian sebuah SMS masuk di ponsel saya. Dari Kiki, adik perempuan saya satu-satunya itu. Begini SMS-nya.

Jelek sekali suaranya,,,

He..he..he.. Ternyata tidak sesuai harapan. Tapi, berpikir positif saja. Mungkin dia sedang tidak berselera mendengar suara yang merdu karena sedang sibuk-sibuknya jadi mahasiswa baru.

Posko Stapala, 13:34, 7 Oktober 2008

“Ingin sekali bertemu Ramadhan tahun depan. Banyak sekali salah yang saya lakukan dalam Ramadhan ini. Bila ada waktu untuk saya”

Ayat-Ayat Cinta: mengapa harus difilmkan?

Sekitar pertengahan 2005 lalu, saya dipinjami novel sama teman satu kosan. Warna kuning krem, judulnya unik: Ayat-Ayat Cinta, ada testimoni dari orang-orang terkenal, ditambah lagi perkataan teman yang sedikit maksa: “Lo harus baca, Ris!. Gue saja sampai gerimis” membuat saya langsung tertarik. Selanjutnya, begitu tertariknya saya pada novel ini dan ingin orang lain juga membacanya, empat jilid telah saya beli untuk saya hadiahkan kepada adik, teman dan perpustakaan SMA saya dulu. Adik saya jadi ketularan suka sama novel Ayat-Ayat Cinta, seringkali dalam obrolan kami, yang dibicarakan adalah tentang baik hatinya Fahri, tentu juga tentang Aisha. Betapapun imajinatifnya kedua tokoh tersebut, kami mengobrolkannya seperti membicarakan orang benar-benar ada di dunia; seakan tetangga kami yang tiap hari kami lihat, atau begitu nyatanya, seperti saudara-saudari jauh kami yang kami sangat tahu seluk beluk tentang mereka.

Menurut saya, adik saya, dan ribuan orang lainnya, novel ini bagus, terlepas dari kekurangannya: tokoh Fahri yang benar-benar sempurna dan beruntung dan tokoh Aisha yang juga benar-benar sempurna. Di luar kekurangannya ini, yang justru menjadi keunikan cerita, novel ini tentulah berhasil—seperti maksud penulisnya—sebagai novel pembangun jiwa, memberi inspirasi kepada banyak orang tentang cinta, kesabaran, usaha keras, dan menjadi muslim yang benar-benar muslim. Lebih dari itu, novel ini sekaligus memuat ajaran-ajaran agama tentang hubungan kepada penganut agama lain dan perlakuan agama kepada perempuan. Istimewanya, novel ini tidak hanya dibaca oleh kalangan muslim saja namun dari kalangan non muslim juga.

Ketika novel ini benar-benar ingin dijadikan film, saya adalah pembaca yang kurang setuju. Menurut saya, biarlah alur cerita dalam novel tersebut di dalam angan-angan pembaca saja. Bukan karena apa-apa, sosok Fahri dan Aisha tentu sangat sulit dibuat nyata. Ini bukan masalah fisik, bukanlah tentang mencari pemeran yang mirip. Fahri dibuat tidak ganteng pun tidak masalah (dalam novel tidak dijelaskan ciri-ciri wajah Fahri, kecuali sekali waktu disebut ”mirip bintang film Hongkong”), mencari orang cantik untuk mewakili Aisha yang keturunan Asia-Eropa tentulah tidak sulit. Namun, adakah yang sanggup memerankan keindahan hati mereka? Sehingga para penonton terhanyut, seakan membaca novel, dan tidak menganggap bahwa itu hanya akting belaka?